20.2.15

Serangan

Aku tidak jadi berangkat ke pesta pernikahan teman. Tidak ada alasan khusus, hanya aku tidak ingin berangkat, itu saja. Balkon adalah tempat favorit sore hari. Terbaring sendiri, menonton film pikiran yang berjalan secepat kilat. Kadang, aku takut dengan pikiranku. Mereka berjalan cepat, tak terkontrol dari gambar-gambar bahagia sampai tangis pilu yang tak tertahan. Aku bisa melihat jelas pikiranku, berloncat-loncat membawa banyak pesan. Mengelabuiku, mengajak bermain dan kadang meneror dengan banyak tudingan. Aku tak mau melawannya, aku menontonnya. Tidak, tidak mau berkomentar.

Sudah jam lima lebih sedikit, seorang teman mengajak ke pantai Serangan. Sepanjang perjalanan kami diam. Hijau pohon-pohon di kanan kiri jalan menyeret pikiranku menuju nostalgia. Rasanya? penuh kejutan. Saat mau belok ke Serangan, temanku mengeluarkan suara. Kita akan sampai, sebentar lagi. Aroma laut tercium, tahi sapi berceceran, hari sabtu pantai tidak terlalu ramai. Setelah parkir, kami berjalan mendekat ke bibir pantai. Surut, kami melepas baju memilih untuk berendam di sebelah timur. Airnya hangat, matahari memeluk erat. Aku tidak mau banyak bicara. Langit sore ini tidak terlalu biru, awan-awan bergerak pelan-pelan ke arah barat. Aku mengikutinya sampai memiringkan kepala. Tidak ada apa-apa, tapi aku suka.

Apakah tahun ini berat ?

Iya

Aku meninggalkan temanku, mengambil handuk kecil mengeringkan rambutku. Ayo kita pulang, kataku. Jalan kaki di pasir, sedikit berat tapi harus jalan, supaya bisa segera pulang. Temanku terburu-buru, aku berubah pikiran. Aku meminta waktu untuk balik arah. Aku berjalan memunggungi temanku, menghampiri sapi di dekat rumah bambu, Sapi-sapi itu asyik menunduk, tak ada rumput hanya ranting-ranting kering. Aku mendekat, satu sapi menatapku lekat. Aku berdiri di depannya, pikiranku bergerak cepat,  kudengar suara lenguh sapi dalam sepi menyerang.