3.10.14

Nasi goreng

Perempuan itu berhenti di warung nuansa merah. Lalu masuk saja, meletakkan tas di kursi. Dua lembar menu disajikan pramusaji. Membaca beberapa detik, menarik napas, ia tersadar masuk ke tempat yang salah. Berderet-deret menu, semuanya adalah nasi goreng. Dia selalu menghindari menu ini dari kecil. Sampai ayahnya tidak kehilangan akal. Beberapa kali kesempatan di akhir pekan, ayahnya memasak nasi goreng sederhana rasa manis pedas dengan telur dadar sempurna. Kebiasaan nasi goreng akhir pekan adalah semacam terapi bagi perempuan itu. Pikiran-pikiran berjalan cepat, lalu dia menutup lembar menu. Dia mengatakan kepada pramusaji, yang manis pedas dengan telur dadar. Sudah 15 menit lebih entah, pesanan baru saja datang. Sepiring nasi goreng masih panas di meja nomor tiga. Beberapa memori menyerang, nasi goreng di meja seperti  kumpulan duka dengan ayahnya, pertengkaran yang panjang dan satu telpon doa yang manis dan pedas. Dia memberanikan diri memakan satu sendok lalu satu sendok lagi lalu seterusnya. Iya, tidak dilawan, dirasakan saja dukanya sampai habis, tak tersisa. Apakah dia baik-baik saja? Tentu tidak, ngelu luar biasa, menahan tangis dimeja makan. Sudah, katanya perempuan itu pergi kekasir dan ingin membayar menu yang baru saja dinikmatinya. Saat kasir bertanya menu apa yang dia makan, perempuan itu menjawab mantap yang manis dan pedas dengan telur dadar. Si kasir tersenyum dan menyodorkan nota, menu manis pedas itu ternyata bernama nasi goreng Godfather. Dia berbalik arah menuju kasir dan menanyakan apakah menu yang dia bayar sama dengan yang ia makan. Jawaban secepat kilat menamparnya, iya itu Godfather, yang manis pedas.

Antasura, 23 September 2014

No comments: