3.10.14

Hafiz Maulana



Aku menunggu lift terbuka, terlihat  angka 2 di atas pintunya. Perempuan dan lelaki mesra bergandengan tangan di sampingku. Aku menyembunyikan kedua tangan di saku. Lift terbuka, tak ada perbincangan apapun. Pasangan romantis tetap bergandengan tangan, keluar dari lift sebelum giliranku. Selalu berulang seperti lonceng terdengar di telingaku, tapi aku mengabaikan saja. Ada wajah yang kurindukan datang. Suara-suara mesin di lantai dasar kantorku meninju tengkuk. Setiap hari aku mencuri-curi waktu untuk sendiri, mendengarkan lalu lalang pikiranku. Setiap menit, setiap detik kecemasan-kecemasan berdetak. Kemelekatan pikiranku, kebisingan jalan, ingatan hari kemarin, ingatan sebulan lalu, ingatan tahun lalu, ingatan bertahun-tahun lalu terus menerus berjalan. Aku tak melawan, pikiran riuh menjadi aus dengan sendirinya. Lorong panjang kantorku seperti duka. Mesin-mesin yang keras, air mata yang aku tahan, kematian begitu dekat. Setiap menit, setiap detik segala sesuatu aus dengan sendirinya. Tidak, aku tak mau melawannya. 

Aku berhenti tepat di  depan ruang binatu karyawan, hari sudah malam. Hanya satu dua orang lalu lalang. Ada kotak cermin, tergantung baju-baju bersih rapi gantungan baju, satu kotak terisi berantakan baju-baju, mungkin baju kotor. Seorang lelaki paruh baya menyapaku, "Kenapa belum pulang? " 

"Iya, sebentar lagi". Kataku.

Kesendirian tak tercemari, anggap saja pertanyaan tadi seperti alarm. Aku selalu suka dengan binatu,mengenali kesendirianku dalam suara -suara mesin cuci, aroma pengharum dan gemericik air seperti terbaca inilah situasi sekarang, ini bukan pelarian. Batin yang kacau, dengarkan. Aku sudah terbiasa dengan kabar buruk, dalam nyala kesadaran diri sampai terbakar habis. Seperti dua hari yang lalu saat aku mendengar kabar kamu koma di rumah sakit, diam-diam aku takut. Takut, tak bisa menyadari kemelekatanku. Setiap hari aku siap mendengar kabar tentangmu. setiap hari aku rapalkan doa baik untuk kesembuhanmu. Setiap hari aku memelukmu dari jauh. Kuat, kuatlah. 

Hariku yang berantakan, mencoba merapikan hidup menjadi orang normal. Tidak bisa tidur berhari-hari. Sendiri dalam kesedihan berlipat ganda. Hari ini sudah empat hari kamu tidak sadarkan diri. Aku melewati pintu besar, pembatas ruang yang bisa dibuka dengan satu tangan tanpa kode satu pun. Energi kebaikan aku kirimkan dari kabel-kabel listrik kantorku, binatu  yang berantakan, suara mesin-mesin yang mengelabui pikiranku tertiup melalui udara ke arahmu. Doaku untukmu setiap hari, tanpa batas. 

Antasura, 4 Oktober 2014

Nasi goreng

Perempuan itu berhenti di warung nuansa merah. Lalu masuk saja, meletakkan tas di kursi. Dua lembar menu disajikan pramusaji. Membaca beberapa detik, menarik napas, ia tersadar masuk ke tempat yang salah. Berderet-deret menu, semuanya adalah nasi goreng. Dia selalu menghindari menu ini dari kecil. Sampai ayahnya tidak kehilangan akal. Beberapa kali kesempatan di akhir pekan, ayahnya memasak nasi goreng sederhana rasa manis pedas dengan telur dadar sempurna. Kebiasaan nasi goreng akhir pekan adalah semacam terapi bagi perempuan itu. Pikiran-pikiran berjalan cepat, lalu dia menutup lembar menu. Dia mengatakan kepada pramusaji, yang manis pedas dengan telur dadar. Sudah 15 menit lebih entah, pesanan baru saja datang. Sepiring nasi goreng masih panas di meja nomor tiga. Beberapa memori menyerang, nasi goreng di meja seperti  kumpulan duka dengan ayahnya, pertengkaran yang panjang dan satu telpon doa yang manis dan pedas. Dia memberanikan diri memakan satu sendok lalu satu sendok lagi lalu seterusnya. Iya, tidak dilawan, dirasakan saja dukanya sampai habis, tak tersisa. Apakah dia baik-baik saja? Tentu tidak, ngelu luar biasa, menahan tangis dimeja makan. Sudah, katanya perempuan itu pergi kekasir dan ingin membayar menu yang baru saja dinikmatinya. Saat kasir bertanya menu apa yang dia makan, perempuan itu menjawab mantap yang manis dan pedas dengan telur dadar. Si kasir tersenyum dan menyodorkan nota, menu manis pedas itu ternyata bernama nasi goreng Godfather. Dia berbalik arah menuju kasir dan menanyakan apakah menu yang dia bayar sama dengan yang ia makan. Jawaban secepat kilat menamparnya, iya itu Godfather, yang manis pedas.

Antasura, 23 September 2014