27.5.14

Saku

Hati-hati adalah pesan terakhirmu sebelum aku menuju ke bandara sendiri. Diam-diam aku mencari-cari permen di saku, hanya untuk mendalami riwayat beberapa pemakaman yang terjadi di keluargaku. Kamu tahu, bahwa sebenarnya aku tidak menyukai permen warna warni itu. Ingatanku berjalan lebat menuju upacara pemakaman dan penantian prosesi panjang yang jatuh pada manis permen, tergeletak di piring pola bunga-bunga kuno. Perbincangan mata yang terjadi berkali-kali, kamu bertanya kepadaku berkali-kali , "apakah aku sedih? apakah aku capek?."  Dengan secepat kilat aku jawab "tidak". Dan aku tahu pasti, aku tidak akan pernah menemukan permen-permen itu di saku. Aku tetap saja memasukan tanganku ke saku, menanti pemakamanku sendiri, tanganku lama disitu.

Tumpukan piringan hitam di rumah Santa memberitahuku tentang beberapa potongan sejarah tentang kekasih lama, hening menabrak jantungku. Ada bunga-bunga berjalan dari arah lain. Terdengar satu lagu kesukaanmu, kamu bernyanyi pelan. Di pikiranku terdengar hujan deras yang mengalir dari mata, tak terbendung jatuh menuju cerita. Aku ingin berlari ke saku,  tanganku siap menangkap lemparan permen-permen untuk pemakamanku sendiri. Yang terjadi adalah tanganku asyik memainkan beberapa piringan hitam pilihanmu. Permen-permen itu terperosok ke dalam saku.

Jalanan terang, lampu-lampu kota membuat kita bungkam. Malam itu kita berhenti sebentar di toko waralaba Kemang. Aku duduk di kursi panjang di depan, kamu mencari kretek ke dalam. Punggungmu berbicara tentang jarak dan kemustahilan. Ada bunga-bunga berjalan meninjumu dari arah lain. Aku ingin menghilang dan berlari dari punggungmu. Ketika aku berdiri, aku dengar suara dari sampingku mengalir pelan "kamu capek,  kamu perlu tidur." Dan aku tetap bertahan pada "tidak". Lalu yang terdengar adalah bunyi klakson berkali-kali, kita padam dan suara langkah kaki dikalahkan deru kendaraan malam yang membuat jantung lebam. 

Selanjutnya adalah lalu lintas di dalam otakku, aku membaca tentang sofa kegelisahan. Duduk berdampingan terjun menuju labirin yang tercipta berulang kali.  Malam raya ingatan berisi cerita-cerita kebetulan, obrolan pemusnah insomnia, dengkul yang tersengat musik, mata kegelisahan hingga ketenangan super tinggi yang terjadi akibat keriuhan pikiran. Lalu, jalan kaki yang tak terdengar langkahnya, hanya deru kendaraan menyeruak telinga. Tapi sentuhan pelanmu di pundakku menjalar hangat menuju mesin waktu. 

Aku mengeluarkan catatan, kamu menatap ulah tanganku yang tak bisa dikendalikan. Aku menulis beberapa kata yang perang dalam pikiranku. Bergerak cepat menggali luka-luka yang tertimbun di bawah sana, kata-kata tak kumengerti datang secepat kilat. Ini terapiku, aku mencoba berkali-kali dalam hidupku. " Iya harusnya tak ada obat penunda rasa sakit lagi, semuanya harus dimusnahkan, " begitu katamu meninju jantungku. Kita lupakan riwayat ini, aku akan melewati jalanku. Pelukan hangatmu sebelum aku pulang mengantarkan pesan hati-hati. Aku berlalu, memasukan tangan ke saku. Menanti pemakamanku, sendiri.

Antasura, 27 Mei 2014

5.5.14

Istirahat

a: lagi dimana?
b: di pinggir jalan
a: sejak kapan?
b: 2 jam yang lalu
a: ngapain?
b: tidak tahu, pikiranku gerak cepat
a: balik ke kos, istirahat, minum coklat
b: ......................
a: kapan terakhir tidur?
b: 2 hari yang  lalu
a: istirahat
b: iya

1.5.14

Nangis

b: Halooo..
a: kamu nangis ya?
b: nggak
a: hey..nangis aja, gpp
…………
…………