24.11.14

Damai

Untuk terjun bisa aku lakukan dengan mudah, langit-langit berbentuk wajah-wajah lama melupakan kenangan. Tubuh gemetar, nyeri yang datang setiap malam, sejarah tak akan hilang pada lembaran-lembaran catatan. Lantai dua, anginnya tidak terlalu kencang, lantai dingin, kering. Pesan-pesan duka berturutan dalam sehari. Tak kuat membuka jendela, korden merah muda bergerak-gerak karena angin kecil. Empat tembok adalah teman meringkuk, nyeri yang kukenal datang.  Sejarah panjang membelah kepalaku. Berjalanlah tegap, rasakan irisannya ditiup angin. Lampu yang padam, nama-nama yang terbaca berjalan pelan dalam pikiran. Aku berhenti  dalam perjalanan riuh kepalaku. Aku mendengar suaramu.

Hafiz Maulana
Talinya harus diikat kuat, tawamu riang di halaman rumah depan. Aku mengambil dua kaleng bekas yang aku jadikan telpon mainan. Kamu tertawa terus sore itu dan sering memanggil namaku. Jangan keseringan, nanti bosan. Kamu tak peduli, kamu senang dan teriak memanggil nama seisi rumah. Kalau tidak ada yang keluar, kamu kesal. Talinya mungkin tidak kuat, jadi tidak bisa menelpon seisi rumah. Kalau kamu sudah kesal, kaleng dibantinglah. Lalu, kamu duduk diam di pojok ruang tamu. Tidak ada yang boleh membuat suara, tv tidak boleh menyala. Rumah kecil ini memang dihuni sekumpulan pendiam yang riuh dengan pikiran-pikiran. Sudah berlalu cerita itu, pintu kamarku setengah terbuka. Ayahku menelpon, membawa berita yang menenggelamkanku pada kota asing, memahami kehilanganmu.

Maria Magdalena Maryati
Sore itu, suara-suara menghabisiku sampai dingin. Terdengar suara pintu gerbang dibuka. Langkah kaki menuju pintu utama. Tiba-tiba dialog di teras keramik merah terhenti. Ketakutan datang melahapku. Tak ada perbincangan, rasa hormat yang teduh untuk ibu yang menyimpan sejarah kerinduan.  Aku bisa saja membawa lari horor di kepalaku, tanpa dialog lagi. Tapi ia selalu menyusup  dalam bayang-bayang yang tak bisa dihentikan. Damai, reda untuk Ibu. 

Namamu aku hirup dalam-dalam, satu tarikan napas, lalu lembut aku hembuskan lagi. Menghamburlah di udara dalam damai kita semua.

Denpasar, 24 November 2014


3.10.14

Hafiz Maulana



Aku menunggu lift terbuka, terlihat  angka 2 di atas pintunya. Perempuan dan lelaki mesra bergandengan tangan di sampingku. Aku menyembunyikan kedua tangan di saku. Lift terbuka, tak ada perbincangan apapun. Pasangan romantis tetap bergandengan tangan, keluar dari lift sebelum giliranku. Selalu berulang seperti lonceng terdengar di telingaku, tapi aku mengabaikan saja. Ada wajah yang kurindukan datang. Suara-suara mesin di lantai dasar kantorku meninju tengkuk. Setiap hari aku mencuri-curi waktu untuk sendiri, mendengarkan lalu lalang pikiranku. Setiap menit, setiap detik kecemasan-kecemasan berdetak. Kemelekatan pikiranku, kebisingan jalan, ingatan hari kemarin, ingatan sebulan lalu, ingatan tahun lalu, ingatan bertahun-tahun lalu terus menerus berjalan. Aku tak melawan, pikiran riuh menjadi aus dengan sendirinya. Lorong panjang kantorku seperti duka. Mesin-mesin yang keras, air mata yang aku tahan, kematian begitu dekat. Setiap menit, setiap detik segala sesuatu aus dengan sendirinya. Tidak, aku tak mau melawannya. 

Aku berhenti tepat di  depan ruang binatu karyawan, hari sudah malam. Hanya satu dua orang lalu lalang. Ada kotak cermin, tergantung baju-baju bersih rapi gantungan baju, satu kotak terisi berantakan baju-baju, mungkin baju kotor. Seorang lelaki paruh baya menyapaku, "Kenapa belum pulang? " 

"Iya, sebentar lagi". Kataku.

Kesendirian tak tercemari, anggap saja pertanyaan tadi seperti alarm. Aku selalu suka dengan binatu,mengenali kesendirianku dalam suara -suara mesin cuci, aroma pengharum dan gemericik air seperti terbaca inilah situasi sekarang, ini bukan pelarian. Batin yang kacau, dengarkan. Aku sudah terbiasa dengan kabar buruk, dalam nyala kesadaran diri sampai terbakar habis. Seperti dua hari yang lalu saat aku mendengar kabar kamu koma di rumah sakit, diam-diam aku takut. Takut, tak bisa menyadari kemelekatanku. Setiap hari aku siap mendengar kabar tentangmu. setiap hari aku rapalkan doa baik untuk kesembuhanmu. Setiap hari aku memelukmu dari jauh. Kuat, kuatlah. 

Hariku yang berantakan, mencoba merapikan hidup menjadi orang normal. Tidak bisa tidur berhari-hari. Sendiri dalam kesedihan berlipat ganda. Hari ini sudah empat hari kamu tidak sadarkan diri. Aku melewati pintu besar, pembatas ruang yang bisa dibuka dengan satu tangan tanpa kode satu pun. Energi kebaikan aku kirimkan dari kabel-kabel listrik kantorku, binatu  yang berantakan, suara mesin-mesin yang mengelabui pikiranku tertiup melalui udara ke arahmu. Doaku untukmu setiap hari, tanpa batas. 

Antasura, 4 Oktober 2014

Nasi goreng

Perempuan itu berhenti di warung nuansa merah. Lalu masuk saja, meletakkan tas di kursi. Dua lembar menu disajikan pramusaji. Membaca beberapa detik, menarik napas, ia tersadar masuk ke tempat yang salah. Berderet-deret menu, semuanya adalah nasi goreng. Dia selalu menghindari menu ini dari kecil. Sampai ayahnya tidak kehilangan akal. Beberapa kali kesempatan di akhir pekan, ayahnya memasak nasi goreng sederhana rasa manis pedas dengan telur dadar sempurna. Kebiasaan nasi goreng akhir pekan adalah semacam terapi bagi perempuan itu. Pikiran-pikiran berjalan cepat, lalu dia menutup lembar menu. Dia mengatakan kepada pramusaji, yang manis pedas dengan telur dadar. Sudah 15 menit lebih entah, pesanan baru saja datang. Sepiring nasi goreng masih panas di meja nomor tiga. Beberapa memori menyerang, nasi goreng di meja seperti  kumpulan duka dengan ayahnya, pertengkaran yang panjang dan satu telpon doa yang manis dan pedas. Dia memberanikan diri memakan satu sendok lalu satu sendok lagi lalu seterusnya. Iya, tidak dilawan, dirasakan saja dukanya sampai habis, tak tersisa. Apakah dia baik-baik saja? Tentu tidak, ngelu luar biasa, menahan tangis dimeja makan. Sudah, katanya perempuan itu pergi kekasir dan ingin membayar menu yang baru saja dinikmatinya. Saat kasir bertanya menu apa yang dia makan, perempuan itu menjawab mantap yang manis dan pedas dengan telur dadar. Si kasir tersenyum dan menyodorkan nota, menu manis pedas itu ternyata bernama nasi goreng Godfather. Dia berbalik arah menuju kasir dan menanyakan apakah menu yang dia bayar sama dengan yang ia makan. Jawaban secepat kilat menamparnya, iya itu Godfather, yang manis pedas.

Antasura, 23 September 2014

20.7.14

Terserah

Terserah. Aku benci mendengar kata itu. Iya, begitu.

Gulai Bayam

a : hari ini mau dimasakin apa?
b : apa ya? bingung
a : pilih menunya di buku resep ini
b : mmm apa ya?
a : pilih aja, nanti aku masakin
b :  kalau ini gimana?
a : apa?
b : gulai bayam
a : ok

..................................................

b : enak banget
a : sebenarnya aku beneran masak sendiri ya baru kali ini
b : seriusan ?
a : iya

19 Juli 2014

17.7.14

Potong Poni

b : poniku udah panjang, aku mau potong
a : sini aku potongin
b : emang bisa?
a : bisa
a : ok

15 Juli 2014

27.6.14

27.5.14

Saku

Hati-hati adalah pesan terakhirmu sebelum aku menuju ke bandara sendiri. Diam-diam aku mencari-cari permen di saku, hanya untuk mendalami riwayat beberapa pemakaman yang terjadi di keluargaku. Kamu tahu, bahwa sebenarnya aku tidak menyukai permen warna warni itu. Ingatanku berjalan lebat menuju upacara pemakaman dan penantian prosesi panjang yang jatuh pada manis permen, tergeletak di piring pola bunga-bunga kuno. Perbincangan mata yang terjadi berkali-kali, kamu bertanya kepadaku berkali-kali , "apakah aku sedih? apakah aku capek?."  Dengan secepat kilat aku jawab "tidak". Dan aku tahu pasti, aku tidak akan pernah menemukan permen-permen itu di saku. Aku tetap saja memasukan tanganku ke saku, menanti pemakamanku sendiri, tanganku lama disitu.

Tumpukan piringan hitam di rumah Santa memberitahuku tentang beberapa potongan sejarah tentang kekasih lama, hening menabrak jantungku. Ada bunga-bunga berjalan dari arah lain. Terdengar satu lagu kesukaanmu, kamu bernyanyi pelan. Di pikiranku terdengar hujan deras yang mengalir dari mata, tak terbendung jatuh menuju cerita. Aku ingin berlari ke saku,  tanganku siap menangkap lemparan permen-permen untuk pemakamanku sendiri. Yang terjadi adalah tanganku asyik memainkan beberapa piringan hitam pilihanmu. Permen-permen itu terperosok ke dalam saku.

Jalanan terang, lampu-lampu kota membuat kita bungkam. Malam itu kita berhenti sebentar di toko waralaba Kemang. Aku duduk di kursi panjang di depan, kamu mencari kretek ke dalam. Punggungmu berbicara tentang jarak dan kemustahilan. Ada bunga-bunga berjalan meninjumu dari arah lain. Aku ingin menghilang dan berlari dari punggungmu. Ketika aku berdiri, aku dengar suara dari sampingku mengalir pelan "kamu capek,  kamu perlu tidur." Dan aku tetap bertahan pada "tidak". Lalu yang terdengar adalah bunyi klakson berkali-kali, kita padam dan suara langkah kaki dikalahkan deru kendaraan malam yang membuat jantung lebam. 

Selanjutnya adalah lalu lintas di dalam otakku, aku membaca tentang sofa kegelisahan. Duduk berdampingan terjun menuju labirin yang tercipta berulang kali.  Malam raya ingatan berisi cerita-cerita kebetulan, obrolan pemusnah insomnia, dengkul yang tersengat musik, mata kegelisahan hingga ketenangan super tinggi yang terjadi akibat keriuhan pikiran. Lalu, jalan kaki yang tak terdengar langkahnya, hanya deru kendaraan menyeruak telinga. Tapi sentuhan pelanmu di pundakku menjalar hangat menuju mesin waktu. 

Aku mengeluarkan catatan, kamu menatap ulah tanganku yang tak bisa dikendalikan. Aku menulis beberapa kata yang perang dalam pikiranku. Bergerak cepat menggali luka-luka yang tertimbun di bawah sana, kata-kata tak kumengerti datang secepat kilat. Ini terapiku, aku mencoba berkali-kali dalam hidupku. " Iya harusnya tak ada obat penunda rasa sakit lagi, semuanya harus dimusnahkan, " begitu katamu meninju jantungku. Kita lupakan riwayat ini, aku akan melewati jalanku. Pelukan hangatmu sebelum aku pulang mengantarkan pesan hati-hati. Aku berlalu, memasukan tangan ke saku. Menanti pemakamanku, sendiri.

Antasura, 27 Mei 2014

5.5.14

Istirahat

a: lagi dimana?
b: di pinggir jalan
a: sejak kapan?
b: 2 jam yang lalu
a: ngapain?
b: tidak tahu, pikiranku gerak cepat
a: balik ke kos, istirahat, minum coklat
b: ......................
a: kapan terakhir tidur?
b: 2 hari yang  lalu
a: istirahat
b: iya

1.5.14

Nangis

b: Halooo..
a: kamu nangis ya?
b: nggak
a: hey..nangis aja, gpp
…………
…………

16.4.14

lilin

Seorang perempuan membeli lilin bertuliskan "harapan, damai dan cinta " dan memberikannya secara anonim disertai kartu-kartu doa.

14.4.14

Jaketnya terbalik

a : kamu punya jaket tebal?
b : ada
a : boleh pinjam?
b : boleh
a : terima kasih
b : hey, kamu pakai jaketnya terbalik
a : oh iya
b : kata ibuku kalau ga sengaja pakai jaket terbalik kita bakal dapat rejeki

13.4.14

Terima kasih

a: Apa pencapaian tertinggi dalam hidupmu?
b: Mengucapkan terima kasih.
a: Begitu ?
b: Ya begitu, terima kasih adalah doaku setiap hari untuk apapun.

4.4.14

Gemini

b : kamu percaya zodiak ?
a : 70 % percaya, kamu zodiaknya apa?
b : gemini
a : waah...kayak nyokap, gemini juga
b : oh ya ?
a : iya

30.3.14

Memotong rambut

Aku ingin memotong rambutku sebelum mati, pergi ke gunung, sendirian.

Stones

She collected stones, just plain old stones. Useless rocks.

Tears

I cried for many reasons today, one for the pain of growth, second for the long road which lies in front of me, third for the indifference behavior towards the outcome, fourth for the time which has passed, fifth For a glimpse of a higher experience, sixth for a uncontrollable desire to succeed and seventh for the humility beyond imagination.

The flow of tears!

Technics SL- 1200

b: hey
a: hey
b: hey, off?
a: belum, bentar lagi palingan
b: aku ditawari teman
a: apa?
b: Technics SL-1200, 2 unit, kondisi 75 %
a: beli gituan harus dicoba dulu, jadi penyakitnya bisa langsung diperbaikin
b: ok
a: kalau rusak jangan dibeli
b: iya

17.3.14

Life is strange

b: life is strange
a:  Marc bolan
b : big sur
a : Jack kerouac
b:  solitude
a:  Black sabbath
    hahahaha
b: strange
a: ya, strange.

Lembur

a: hey
b: hey
. . . .
b: masih lembur?
a: iya hehehe , tadi nonton doom, jadi ketunda.
b: kapan deadlinenya?
a: jumat ini
b: ya ya ya , kamu itu
a: ya nggak bisa dipaksa

Pulang

b:  hey
a:  ya
b:  masih di kantor?
a:  masih
b:  kamu pulang ?
a : mungkin pulang
b:  ok

12.3.14

Pesan


Hari ini adikku mengirim pesan ini kepadaku,

Aku tulis ini untukmu:

Kawi (kepada Tria Nin)

Kawi bebaskanlah kakawinmu. Biarkan aksaramu melontar dan asap bakaran setanggi merasukmu. Bebaskanlah, bebaskanlah Legiun aksara yang berjejalan di mulutmu memberontak di sukmamu. Jangan binasa.

Biarkan semantra dan manggala membuka prolog kemarahanmu.

Gabriel

Jakarta, 11 Maret 2014

20.2.14

Fermentasi

3 botol susu fermentasi terletak di meja, jendela kaca merekam kerlap kerlip lampu dari gedung-gedung tinggi. Kamar di lantai enam sebagai pusat sunyi, menjadi sosok kecil yang menyelinap dalam luasnya pikiran, kecepatan luar biasa menelan masa lalu. Semua rasi bintang tidak terlihat, kegelapan luar angkasa menyelemuti diri, tertutup raksasa tumpukan batu bata. Aku menutup mata, semesta yang luas mengunjungi irama kehidupan wajah-wajah asing yang kutemui di trotoar, halte, taxi, jembatan tinggi. Bepergian sendiri menelusuri kota yang terbentuk pada jam dua pagi.

Sekarang mungkin adalah waktu yang paling sulit,  ada banyak hari yang mengerikan yang bisa menyulapmu menjadi sakit . Aku mendengar orang-orang berjalan tergesa-gesa, berlari, terhimpit pada keinginan. Pada saat-saat seperti ini aku mengikuti intuisiku yang bekerja. Aku mengikuti waktu yang mengembang. Ketika mengembang seperti lapangan, aku membayangkan pelukan. Aku akan kembali ke tempat-tempat yang baru saja aku datangi, berhenti, menutup mata dan menyadari detik telah berlalu. Dan waktu hanya membuatku disini, terdampar.

Jakarta, 20/2/2014

Kitchen



 

For waving good-bye, I thank you よしもと ばなな

10.2.14

Duyung

Papan nama berwarna merah, bertuliskan warung kecil di jalan duyung, Sanur. Aku mengintip dari balik kaca. Sore mendung, lalu lalang orang berjalan kaki menuju pantai. Aku ingin gerimis segera datang, aku hanya ingin menelusuri jalan kecil sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa. Aku hanya ingin berjalan sendiri.  Sekarang aku masih duduk disini, memesan air putih, pelayan menyajikannya dengan manis. Ia menyelipkan satu bunga imitasi berwarna merah. Astrud Gilberto menyapaku dari pengeras suara : ...and now leaves me sad, I don't want to deny, don't want to betray.

Warung kecil, Sanur, 12/1/2014

Hafiz Maulana

Hari ini mawar merahku kering, aku menyalakan lilin, kuatkan batin. Semoga sembuh, semoga sembuh, semoga sembuh. Semoga semua makhluk bebas dari marabahaya. Semoga semua makhluk bebas dari penderitaan batin. Semoga semua makhluk bebas dari penderitaan jasmani. Semoga semua makhluk menjaga diri dengan bahagia. Semoga semua makhluk berbahagia. Semoga sembuh, semoga sembuh, semoga sembuh. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.

Antasura, 10-2-2014

5.2.14

Bel

30 jam lebih sekian aku belum tidur, tapi tidak mengantuk. Malah sebaliknya, warna pohon merah di kamarku sangat cerah, foto-foto yang tergantung seperti hidup. Angka-angka berjalan cepat, kata-kata berjejalan pepat. Suara-suara, bisikan-bisikan membuka sejarah tubuhku. Aku tak lagi mengenal waktu, aku sadar penuh dengan apa yang kurasakan. Seperti ada bel keras yang berbunyi tepat di dekat telingaku, menelusuri pikiran-pikiran yang berdesakan. Mood berputar lebih cepat, secara pasti aku bisa mengenal perpindahan dari suasana terang hingga gelap. Ia melahapku, mendorongku pada dasar yang tak asing bagiku, pada dasar segalanya. Mengembang tak beraturan, pikiran-seperti balon-balon yang siap diletuskan dengan jarum-jarum kecil. Aku tahu, penyakitku lenyap, jika aku lenyap. Begitu.

Antasura, 5-2-2014

Kancing Baju

Gaun merah muda aku ambil dari kotak baju, gaun aroma pegunungan dan rumah candu. Sudah sekian bulan gaun ini mengendap di dasar paling bawah kotak penyimpanan. Tiga kancingnya hilang, sejarah masih terkenang. Aku membuka toples kesayangan berisi jarum, benang dan koleksi kancing baju. Kujahit pelan-pelan, warna merahnya melahap kelu. Aku tak mau menghindari lubang-lubang duka memori, aku masuk kedalamnya sendiri. Tiga kancing telah terpasang, aku siap mengenakan gaun merah muda rasa dahulu.

Antasura, 5-2-2014

4.2.14

333

Aku terbangun pada jam 3.33 pagi, setelah itu tidak bisa tidur lagi.  Tergesa-gesa, temanku menelpon meminta untuk segera bertemu, tapi aku lapar. Maka jawaban adalah membuat minuman sereal. Ketika menengok jam tangan, aku di kejutkan pada angka 3.33 sore hari.

Mobil putih tiba-tiba melesat cepat menuju jalan raya, dengan secepat kilat kuinjak rem motorku, kalah cepat sedikit, mungkin ada lain cerita. Aku menepi dan tersadar plat nomor mobil itu  adalah DK 333 sekian.

Aku membaca cerita tentang Francesca Woodman, ia memutuskan bunuh diri pada usia 22 tahun, setelah selesai  membaca artikel itu, lagi-lagi dikejutkan pada kanal online yang memuat cerita Francesca Woodman yang ternyata menampung 333 catatan.

Aku menyadari alur nafasku, mengucapkan salam untuk malaikat-malaikat penjagaku, kuatkanlah batinku, sekecil apapun kebaikan akan kulakukan dengan senang hati. Terima kasih untuk diingatkan, semoga semua makhluk berbahagia.


Antasura, 4-2-2014


Altar


1. Ayahku menelpon

+ Mimpi buruk berasal dari pikiranmu
-  Mungkin begitu
+ Berdoa yang baik
- Iya, pasti

2. Pesan dari temanku

+ Kamu tidak bisa dihubungi
- Maaf, tadi aku pingsan di kos
+ Heh? kok bisa?
- Mungkin kecapekan
+ Jaga kesehatan, rajin berdoa, jangan begadang
- Iya. terima kasih

3. Pesan dari bisikan-bisikan

Diam

4. Hujan deras

Altarku sudah lama tidak kubersihkan, aku menerobos hujan menuju toko bunga. Aku memilih dua mawar merah.

+ Mawarnya untuk siapa dek?
-  Hadiah untuk saya
+ (Tersenyum) adek pembeli terakhir, toko mau tutup.
- Terima kasih

Aku pulang, jalanan basah, hujan resah. Terima kasih, terima kasih, terima kasih. 

Antasura, 3-2-2014