20.8.13

Veranda

Jam tertunda, kawat berduri di depan rumah yang terhalang berbagai kesialan entah keberapa. Aku menengok jendela, sederetan pesta yang tertinggal, lagu-lagu yang tak bisa masuk telingaku. Mataku terancam dengan banyak kekesalan. Hanya yang terbaca adalah ruang yang mulai menerobos lubang pada sepatu. Ada yang tak bisa lari, ada yang tak bisa menari. Aku tak bisa memaksakan apapun kepada orang-orang. Bisa aku ulangi, orang-orangku. Ah, mungkin aku hanya mencoba mendesak keakuan yang mulai menanjak pada ruang yang tak ingin aku buka. Kamu kembali, kamu kembali , kataku. Disini, ruang yang mulai terbaca pada peristiwa lipatan, warna-warni. Mata yang capek, pemandangan yang jelek, riuh yang berulang kali menabrak duri. Aku bisa memilih situasi yang terburuk apapun,disini.

Denpasar, 20 Agustus 2013

No comments: