21.8.13

Lemari Pendingin

Buku resep masakan di samping tidurku, telingaku masuk gelombang 400 elegi. Kembali membuka lemari lama berisi sore, pulanglah. Tak ada yang bisa aku ambil di lembaran-lembaran diam, dibalik pintu. Siapa dirimu?

Pikiran yang deras mengalir, tersedu. Cerita-cerita ini tersedak lalu berputar, layaknya kaset tua milik ayahku. Aku melihat jendela kecil terbuka, aku melihat dapur sepi, riuh buah di lemari pendingin. Aroma menyengat lelah, Ia menghentak langkah. 

Tak ada yang diam, hanya sebentar saja suara itu mulai mengalir, berbisik rindu. Aku ingin menampar keakuan yang mengikis titik-titik lingkaran yang mulai diciptakan. Apa yang terlihat belum tentu benar. Apa yang mati, belum tentu begitu. Jalan ini seperti menunjukan salah langkah dalam memutar dadu, kamu kemana saja? kamu ingin kembali? kamu benar-benar ingin disini? sendiri?

Selayang pandang aku ingin terbang, bersama ketakutan yang menghardik kedatangan penjaga rayu. Ah, inikah jalan yang harus dilalui ? Tunggu sebentar, ini adalah resah yang hinggap pada raya, pada kebesaran hati. Hinggaplah, riuhlah, pada diri, pada rindu yang lalu. Aku ingin melayat , menemui wajah-wajah lama terbang pada rayuan dan keakuan yang sedikit demi sedikit mengendap , dengan sendirinya. Tanpa ada perintah, ia mencari jalannya sendiri.
Selamat datang, selamat pulang rindu yang jalang. 

Denpasar, 21 Agustus 2013

No comments: