28.8.13

Bisu

Seperti yang tertambat, aku mengambil dua sepatu yang tertinggal di pinggir pantai. Kamu berlalu melewati jalan lain. Aku di belakangmu. Tak ada sapaan terakhir atau senyuman yang biasanya kamu sisipkan di akhir pertemuan. Ah hingga akhir yang tak mampu kita ceritakan, beberapa yang tak tercatat mulai membangkitkan titik-titik jalan. Yang kita lalui belum tentu membuta, bisa jadi ini bagian mengenali kenangan. Ada hal lain yang masuk ke angka-angka, yang bisa meramu kenangan. Aku seperti membuka botol berisi sirup kesukaanmu. Tergesa-gesa kamu mereguknya, melewati keinginan tanpa batas. Kekuatan terbaca, lelah yang bertubi-tubi kita kalahkan dengan senyuman. Apa yang tertambat pada akhir jaman. Apakah kamu bisa membacanya?

Aku sedang mendengarkan keleluasaan yang mulai merubah kekuatan itu, aku tak bisa berpikir tenang jika yang berakhir adalah rayuan. Semua akan berakhir pada rasa yang tak  bisa terbaca pada peta. Jalan yang berliku, aku lalui sendiri. Apakah kamu ingin menguntit kenangan itu? Siapa yang hadir lagi dalam pelukanmu? Apakah kita akan melupakan kelakar yang berjalan pada empat sepatu ? Ada bunga di kepalaku, ada kelu di pikiranku. Aku melalui riwayat bisu, tanpa kamu.

Denpasar, 28 Agustus 2013

21.8.13

Lemari Pendingin

Buku resep masakan di samping tidurku, telingaku masuk gelombang 400 elegi. Kembali membuka lemari lama berisi sore, pulanglah. Tak ada yang bisa aku ambil di lembaran-lembaran diam, dibalik pintu. Siapa dirimu?

Pikiran yang deras mengalir, tersedu. Cerita-cerita ini tersedak lalu berputar, layaknya kaset tua milik ayahku. Aku melihat jendela kecil terbuka, aku melihat dapur sepi, riuh buah di lemari pendingin. Aroma menyengat lelah, Ia menghentak langkah. 

Tak ada yang diam, hanya sebentar saja suara itu mulai mengalir, berbisik rindu. Aku ingin menampar keakuan yang mengikis titik-titik lingkaran yang mulai diciptakan. Apa yang terlihat belum tentu benar. Apa yang mati, belum tentu begitu. Jalan ini seperti menunjukan salah langkah dalam memutar dadu, kamu kemana saja? kamu ingin kembali? kamu benar-benar ingin disini? sendiri?

Selayang pandang aku ingin terbang, bersama ketakutan yang menghardik kedatangan penjaga rayu. Ah, inikah jalan yang harus dilalui ? Tunggu sebentar, ini adalah resah yang hinggap pada raya, pada kebesaran hati. Hinggaplah, riuhlah, pada diri, pada rindu yang lalu. Aku ingin melayat , menemui wajah-wajah lama terbang pada rayuan dan keakuan yang sedikit demi sedikit mengendap , dengan sendirinya. Tanpa ada perintah, ia mencari jalannya sendiri.
Selamat datang, selamat pulang rindu yang jalang. 

Denpasar, 21 Agustus 2013

Mimpikiri

Aku mengetahui sesuatu, akun tersebut sudah dilahirkan oleh orang lain di instagram. Tanpa ada kabar apapun, lalu pikiranku menggelitik. Siapa yang melahirkan itu ? Lalu aku mencoba mencari tahu dengan cara mengembalikan kunci semula. Tetapi, tetap tidak ada pemberitahuan apa-apa di kotak suratku. Ah ya, bisa jadi itu adalah nama yang sama dengan rumahku. Seperti nama Wati, Andi, Budi yang bisa aku temui di  nusantara ini. Jadi, aku ingin mengucapkan salam kenal untuk rumah yang mempunyai nama sama dengan rumahku. Selamat pagi mimpikiri, isi kosong, kosong isi :)

Denpasar, 21 Agustus 2013

20.8.13

Distraksi

Ada yang tertinggal di ingatanku sore ini, episode ke-delapan dalam kotak closet jam menghantarkan tubuhku pada dongeng iggy pop. Aku mulai menyandarkan diri pada kursi kayu, sendiri. Kamu tidak ada, kamu sedang mencari jalan ke gereja. Kota asing ini mulai menabrak memoriku dengan banyak rintangan, tentang ocehan keju setiap pagi, invasi semut merah yang diam-diam memasuki kamarku, ada semacam energi berat yang mulai menabrak partikel-partikel kerapian kamarku. Aku tak bisa bertahan lama disitu. Malam itu seekor burung menabrak pintu kamarku, pertanda yang tak lagi mau aku analisa lagi, begitu.

Setumpuk kartu pos yang belum sempat aku kirim ke kantor pos, beberapa nota yang menyisakan tangis, remah-remah coklat yang tertinggal di lantai kamarku.Film-film yang berputar pada dinding kamar, pikiran subur akan kenangan yang tak mau hilang. Dia yang terbaca pada karma, lalu lalang yang berdatangan meninju hentakan-hentakan rima di pikiran. Nietzsche bunuh diri pada labirinnya sendiri, sebuah pesan dari mesin waktu yang mulai menghajar keberanianku.

Kota asing tertimbun benalu, membiarkan tumbuh liar pada hal-hal yang tak bisa terbaca pada episode akhirnya. Melewati jalan-jalan yang tidur, aku datang tanpa ketakutan, menyambut liar ketukan jantungku.

Denpasar, 20 Agustus 2013

Veranda

Jam tertunda, kawat berduri di depan rumah yang terhalang berbagai kesialan entah keberapa. Aku menengok jendela, sederetan pesta yang tertinggal, lagu-lagu yang tak bisa masuk telingaku. Mataku terancam dengan banyak kekesalan. Hanya yang terbaca adalah ruang yang mulai menerobos lubang pada sepatu. Ada yang tak bisa lari, ada yang tak bisa menari. Aku tak bisa memaksakan apapun kepada orang-orang. Bisa aku ulangi, orang-orangku. Ah, mungkin aku hanya mencoba mendesak keakuan yang mulai menanjak pada ruang yang tak ingin aku buka. Kamu kembali, kamu kembali , kataku. Disini, ruang yang mulai terbaca pada peristiwa lipatan, warna-warni. Mata yang capek, pemandangan yang jelek, riuh yang berulang kali menabrak duri. Aku bisa memilih situasi yang terburuk apapun,disini.

Denpasar, 20 Agustus 2013