2.3.13

TUTARE #31


Di kamar kecilku di denpasar ini aku tidak mempunyai pisau, aku bingung bagaimana caranya memotong apel yang baru saja kubeli kemarin dari supermarket. Kudiamkan saja apel itu , ia larut di lantai dekat tempat tidurku bercampur dengan elegi Hedgehog. Pikiranku menjadi pisau, menembus ruang-ruang yang terendap dalam tata bahasa  Hedgehog. Apel mengaduh kesakitan, bukan. Bukan itu pisau yang cocok untukku.Ia bilang begitu. Apel itu berulang kali membisikkan ke telingaku, aku butuh adiksi. Ia membangkitkan memoriku untuk membuat segala sesuatunya berulang terus , datar. Tak ada lekukan, itu yang aku butuhkan. Iya, adiksi itu. Aku diamkan saja apel itu, sampai mereput sendiri. Aku, pisau itu.

Denpasar, 14 Februari 2013

2 comments:

papernote man said...

realis magis....
tulisan yg aku pengen dulu sewaktu twitter belum ada, sewaktu zine masih banyak temannya..

regards
http://tidaksecerdassmartphone.blogspot.com/

Tria Nin said...

Terima kasih :)