2.3.13

TUTARE #31


Di kamar kecilku di denpasar ini aku tidak mempunyai pisau, aku bingung bagaimana caranya memotong apel yang baru saja kubeli kemarin dari supermarket. Kudiamkan saja apel itu , ia larut di lantai dekat tempat tidurku bercampur dengan elegi Hedgehog. Pikiranku menjadi pisau, menembus ruang-ruang yang terendap dalam tata bahasa  Hedgehog. Apel mengaduh kesakitan, bukan. Bukan itu pisau yang cocok untukku.Ia bilang begitu. Apel itu berulang kali membisikkan ke telingaku, aku butuh adiksi. Ia membangkitkan memoriku untuk membuat segala sesuatunya berulang terus , datar. Tak ada lekukan, itu yang aku butuhkan. Iya, adiksi itu. Aku diamkan saja apel itu, sampai mereput sendiri. Aku, pisau itu.

Denpasar, 14 Februari 2013

TUTARE #30

Aku mengambil dua cookies dari meja, rentetan semut cemburu menyerang tanganku. Kesakitan yang lelap, cookies dimakan manusia. Jatuh ke lantai menjadi badai. Ia renyah dalam rumah, menjadi kegembiraan keluarga semut. Titik-titik api terjadi karena aku segera memasukkan selimutku, ke tempat sampah. Cookies menyelamatkan kegelisahanku malam itu. Kepercayaan terjun di rumah, semut kecil.

Denpasar, 13 februari 2013