13.2.13

TUTARE #29


Abraham menelponku, bermunculan hukum-hukum yang dulunya kita ciptakan dalam sebuah permainan. Ia mengingatkanku tentang tempat persembunyian dan berbagai macam kenakalan. Abraham mengingatkan tentang konsep, yang biasa aku sembunyikan pada kantong bajuku. Hingga terbaca seperti ada karnaval kecil yang menghantui jejak-jejak yang biasa kita tancapkan pada tanah kebun belakang rumahku. Abraham meyakinkanku ia tidak memberi tanda apa-apa.Ya, tidak ada apa-apa. Konsepnya memang begitu.

12 februari 2013

12.2.13

TUTARE #28

Apel jatuh dari mejamu, aku menutup pintu. Diam-diam aku melarikan diri dari kamu.

11 februari 2013

TUTARE #27

Aku menabrak pintu

10 februari 2013

TUTARE #26

Hey kesini?
Ada apa ?
Gitar ini bagus ya?
Aku suka gambar salibnya
Kenapa?
Karena aku biasa menemukan tanda itu


Kami terdiam di sebuah toko tua pecinan. Seperti biasa, tanda ini biasa kami lewati. Ya , biasa saja. Ya begini.

10 februari 2013

TUTARE #25

Rusa hilang pada jam 3 pagi di TV. Secangkir teh di meja yang tak bisa aku ukur kedalamannya airnya, karena kekhawatiran yang berlebih mencoba mengikat benang rajutku. Malam ini aku menyimpan beberapa kartu tarot yang aku percaya bisa mendatangkan kekuatan hati.  Aku seperti membaca halamanku terbuka yang berisi buddha, kecapi dan topi . Lalu aku mencoba bertanya pada diriku sendiri, dimana kamu malam ini? Apakah kamu bersama rusa di dalam TV?

7 februari 2013

TUTARE #24


Lelaki merah menelponku, aku sedang di dapur menyiapkan ragi untuk membuat roti. Ia berbicara tentang kadaluarsa, tanganku mengaduk kenangan pada ragi dan susu bubuk putih.  Aku diculik hati pagi ini,  jam dinding bergerak cepat, aku menyebutnya mati. Begini,  Apakah kamu bisa memaafkan kekeliruan? Apakah kamu percaya dengan usia ikatan?

6 februari 2013

TUTARE #23

Aroma merah jambu tergeletak pada catatan bergambar hello kity, aku tak ingin terdistorsi dengan alarm yang siap kamu hancurkan pada pukul 9.11. Aku tak ingin menghantammu dengan sinyal-sinyal yang mematikan jalinan janji. Kamu tahu? Kekuatan ini tak bisa aku sisipkan pada bagian yang lelap. Ah, memang ini sangat tak adil, aku berusaha mencari ruas jalan yang tak terbaca dari sebuah peristiwa kurungan. Kurungan bisa berarti pikiran, rimba atau tahta. Aku tak mau menendang hal-hal yang tak bisa kuhidupkan dengan hati. Aku tak mau mendaki kekesalan yang lumayan bisa membuat keningku berkerut lebih kencang. Keinginan yang terus bertambah seperti rusa yang hadir pada perjamuan jalan utama, ia mendekam seribu bahasa, dengan karma menyerbu kepala.

5 februari 2013

TUTARE #22

Aku masukkan angka-angka pada kotak teka-teki. Menjejali dengan langkah cepat yang bisa dilewati dengan senyuman. Kupeluk ribuan puisi yang kamu kirim tadi pagi, dan kutumpahkan dalam secangkir susu putih. Bergerak cepat mengkoyak perutku, kupu-kupu mati. Ia keracunan di rumah biru, dengan penghuni satu kucing putih milikmu . Aku sendiri melewati jalan dengan angka-angka yang berhamburan pada senyumanmu. Kamu disana, berdiri menanti pelukan bisu.

4 februari 2013

TUTARE #21

Toko roti di sudut kota, dinding yang tak lagi bersih menyisakan angka dan huruf yang terbalik. Kakekku mengetuk pintu, ia menoleh kepadaku, memberikan sekotak permen rasa rindu. Ia membangkitkan suara pada meja yang terhidangkan toples-toples cookies berukuran besar, Ontbitjkoek, speculaas , es krim vanilla dan sejarah panjang yang tak mau dihentikan dalam pikiran. Piano terletak di dekat pojok, di dekat foto hitam putih wajah senja yang senyumnya menusuk jantungku. Toko roti sudut kota seperti ledakan tiba-tiba, menghardik rumahku.

3 februari 2013

TUTARE #20


Pagi itu aku memutuskan untuk memberi nyawa pada pemutar kasetku. Aku seperti melewati jalan yang panjang, terbaca pada pita suara hitam. Aku seperti melewati pintu-pintu Yoko Ono bercampur dengan dongeng Pak ogah dan nyanyian Melissa semut-semut kecil. Aku mengintip ruangan yang lama aku tinggalkan. Tidak, aku tidak melarikan diri, Tentu saja tidak. Terbawa dengan langkah kaki kecil yang mencoba mengajakku  membuat nafas buatan. Pita hitam, sebuah kenangan yang berhasil membuat sekarat hariku. Tergeletak pada perjamuan tumpukan kotak-kotak lucu, komedi miris berisi ramuan lirik-lirik debu. Susu putih di meja berdampingan manis dengan pemutar kaset pembangkit miris. Memang kadang manis dan miris itu beda tipis.

2 februari 2013

TUTARE #19

Di pojok kamarku aku bercerita tentang tubuh yang tak ingin menjadi bayang. Aku melewati keinginan yang panjang, kebenaran apa yang terjadi? Aku tak mampu membelah terang, aku tak mampu lagi mendekam dalam rumus matematika yang tak mampu memecahkan sejarah keinginan.  Ah apa ini yang selalu mengusik telingaku ? Pada pagi buta kuceritakan tentang dunia yang habis dimakan cicak. Tenggelam dalam dunia dinding, membawaku pada hari-hari yang meracuniku untuk mencermati segala sesuatu konsep yang  diciptakan para nabi . Aku menelpon Abraham tengah malam, membicarakan angka-angka yang sepi pada telepon genggam.

1 februari 2013

TUTARE #18

Di ujung jalan itu aku menantimu, gaun bunga-bunga rasa pelangi menunggu keranda yang terbungkus dalam tas berisi mesin waktu. Aku ingin menangkap kupu-kupu , ia terbang melewati batas-batas lipatan kertas yang tertimbun dalam genangan tetesan manis pipiku. Kamu meluap menjadi rumah , tertinggal pada hitam putih tubuh . Aku melewati risau yang berkepanjangan, sisa kopi semalam menjadi biru, sendiri di meja kayu.

31 januari 2013