28.8.13

Bisu

Seperti yang tertambat, aku mengambil dua sepatu yang tertinggal di pinggir pantai. Kamu berlalu melewati jalan lain. Aku di belakangmu. Tak ada sapaan terakhir atau senyuman yang biasanya kamu sisipkan di akhir pertemuan. Ah hingga akhir yang tak mampu kita ceritakan, beberapa yang tak tercatat mulai membangkitkan titik-titik jalan. Yang kita lalui belum tentu membuta, bisa jadi ini bagian mengenali kenangan. Ada hal lain yang masuk ke angka-angka, yang bisa meramu kenangan. Aku seperti membuka botol berisi sirup kesukaanmu. Tergesa-gesa kamu mereguknya, melewati keinginan tanpa batas. Kekuatan terbaca, lelah yang bertubi-tubi kita kalahkan dengan senyuman. Apa yang tertambat pada akhir jaman. Apakah kamu bisa membacanya?

Aku sedang mendengarkan keleluasaan yang mulai merubah kekuatan itu, aku tak bisa berpikir tenang jika yang berakhir adalah rayuan. Semua akan berakhir pada rasa yang tak  bisa terbaca pada peta. Jalan yang berliku, aku lalui sendiri. Apakah kamu ingin menguntit kenangan itu? Siapa yang hadir lagi dalam pelukanmu? Apakah kita akan melupakan kelakar yang berjalan pada empat sepatu ? Ada bunga di kepalaku, ada kelu di pikiranku. Aku melalui riwayat bisu, tanpa kamu.

Denpasar, 28 Agustus 2013

21.8.13

Lemari Pendingin

Buku resep masakan di samping tidurku, telingaku masuk gelombang 400 elegi. Kembali membuka lemari lama berisi sore, pulanglah. Tak ada yang bisa aku ambil di lembaran-lembaran diam, dibalik pintu. Siapa dirimu?

Pikiran yang deras mengalir, tersedu. Cerita-cerita ini tersedak lalu berputar, layaknya kaset tua milik ayahku. Aku melihat jendela kecil terbuka, aku melihat dapur sepi, riuh buah di lemari pendingin. Aroma menyengat lelah, Ia menghentak langkah. 

Tak ada yang diam, hanya sebentar saja suara itu mulai mengalir, berbisik rindu. Aku ingin menampar keakuan yang mengikis titik-titik lingkaran yang mulai diciptakan. Apa yang terlihat belum tentu benar. Apa yang mati, belum tentu begitu. Jalan ini seperti menunjukan salah langkah dalam memutar dadu, kamu kemana saja? kamu ingin kembali? kamu benar-benar ingin disini? sendiri?

Selayang pandang aku ingin terbang, bersama ketakutan yang menghardik kedatangan penjaga rayu. Ah, inikah jalan yang harus dilalui ? Tunggu sebentar, ini adalah resah yang hinggap pada raya, pada kebesaran hati. Hinggaplah, riuhlah, pada diri, pada rindu yang lalu. Aku ingin melayat , menemui wajah-wajah lama terbang pada rayuan dan keakuan yang sedikit demi sedikit mengendap , dengan sendirinya. Tanpa ada perintah, ia mencari jalannya sendiri.
Selamat datang, selamat pulang rindu yang jalang. 

Denpasar, 21 Agustus 2013

Mimpikiri

Aku mengetahui sesuatu, akun tersebut sudah dilahirkan oleh orang lain di instagram. Tanpa ada kabar apapun, lalu pikiranku menggelitik. Siapa yang melahirkan itu ? Lalu aku mencoba mencari tahu dengan cara mengembalikan kunci semula. Tetapi, tetap tidak ada pemberitahuan apa-apa di kotak suratku. Ah ya, bisa jadi itu adalah nama yang sama dengan rumahku. Seperti nama Wati, Andi, Budi yang bisa aku temui di  nusantara ini. Jadi, aku ingin mengucapkan salam kenal untuk rumah yang mempunyai nama sama dengan rumahku. Selamat pagi mimpikiri, isi kosong, kosong isi :)

Denpasar, 21 Agustus 2013

20.8.13

Distraksi

Ada yang tertinggal di ingatanku sore ini, episode ke-delapan dalam kotak closet jam menghantarkan tubuhku pada dongeng iggy pop. Aku mulai menyandarkan diri pada kursi kayu, sendiri. Kamu tidak ada, kamu sedang mencari jalan ke gereja. Kota asing ini mulai menabrak memoriku dengan banyak rintangan, tentang ocehan keju setiap pagi, invasi semut merah yang diam-diam memasuki kamarku, ada semacam energi berat yang mulai menabrak partikel-partikel kerapian kamarku. Aku tak bisa bertahan lama disitu. Malam itu seekor burung menabrak pintu kamarku, pertanda yang tak lagi mau aku analisa lagi, begitu.

Setumpuk kartu pos yang belum sempat aku kirim ke kantor pos, beberapa nota yang menyisakan tangis, remah-remah coklat yang tertinggal di lantai kamarku.Film-film yang berputar pada dinding kamar, pikiran subur akan kenangan yang tak mau hilang. Dia yang terbaca pada karma, lalu lalang yang berdatangan meninju hentakan-hentakan rima di pikiran. Nietzsche bunuh diri pada labirinnya sendiri, sebuah pesan dari mesin waktu yang mulai menghajar keberanianku.

Kota asing tertimbun benalu, membiarkan tumbuh liar pada hal-hal yang tak bisa terbaca pada episode akhirnya. Melewati jalan-jalan yang tidur, aku datang tanpa ketakutan, menyambut liar ketukan jantungku.

Denpasar, 20 Agustus 2013

Veranda

Jam tertunda, kawat berduri di depan rumah yang terhalang berbagai kesialan entah keberapa. Aku menengok jendela, sederetan pesta yang tertinggal, lagu-lagu yang tak bisa masuk telingaku. Mataku terancam dengan banyak kekesalan. Hanya yang terbaca adalah ruang yang mulai menerobos lubang pada sepatu. Ada yang tak bisa lari, ada yang tak bisa menari. Aku tak bisa memaksakan apapun kepada orang-orang. Bisa aku ulangi, orang-orangku. Ah, mungkin aku hanya mencoba mendesak keakuan yang mulai menanjak pada ruang yang tak ingin aku buka. Kamu kembali, kamu kembali , kataku. Disini, ruang yang mulai terbaca pada peristiwa lipatan, warna-warni. Mata yang capek, pemandangan yang jelek, riuh yang berulang kali menabrak duri. Aku bisa memilih situasi yang terburuk apapun,disini.

Denpasar, 20 Agustus 2013

2.3.13

TUTARE #31


Di kamar kecilku di denpasar ini aku tidak mempunyai pisau, aku bingung bagaimana caranya memotong apel yang baru saja kubeli kemarin dari supermarket. Kudiamkan saja apel itu , ia larut di lantai dekat tempat tidurku bercampur dengan elegi Hedgehog. Pikiranku menjadi pisau, menembus ruang-ruang yang terendap dalam tata bahasa  Hedgehog. Apel mengaduh kesakitan, bukan. Bukan itu pisau yang cocok untukku.Ia bilang begitu. Apel itu berulang kali membisikkan ke telingaku, aku butuh adiksi. Ia membangkitkan memoriku untuk membuat segala sesuatunya berulang terus , datar. Tak ada lekukan, itu yang aku butuhkan. Iya, adiksi itu. Aku diamkan saja apel itu, sampai mereput sendiri. Aku, pisau itu.

Denpasar, 14 Februari 2013

TUTARE #30

Aku mengambil dua cookies dari meja, rentetan semut cemburu menyerang tanganku. Kesakitan yang lelap, cookies dimakan manusia. Jatuh ke lantai menjadi badai. Ia renyah dalam rumah, menjadi kegembiraan keluarga semut. Titik-titik api terjadi karena aku segera memasukkan selimutku, ke tempat sampah. Cookies menyelamatkan kegelisahanku malam itu. Kepercayaan terjun di rumah, semut kecil.

Denpasar, 13 februari 2013

13.2.13

TUTARE #29


Abraham menelponku, bermunculan hukum-hukum yang dulunya kita ciptakan dalam sebuah permainan. Ia mengingatkanku tentang tempat persembunyian dan berbagai macam kenakalan. Abraham mengingatkan tentang konsep, yang biasa aku sembunyikan pada kantong bajuku. Hingga terbaca seperti ada karnaval kecil yang menghantui jejak-jejak yang biasa kita tancapkan pada tanah kebun belakang rumahku. Abraham meyakinkanku ia tidak memberi tanda apa-apa.Ya, tidak ada apa-apa. Konsepnya memang begitu.

12 februari 2013

12.2.13

TUTARE #28

Apel jatuh dari mejamu, aku menutup pintu. Diam-diam aku melarikan diri dari kamu.

11 februari 2013

TUTARE #27

Aku menabrak pintu

10 februari 2013

TUTARE #26

Hey kesini?
Ada apa ?
Gitar ini bagus ya?
Aku suka gambar salibnya
Kenapa?
Karena aku biasa menemukan tanda itu


Kami terdiam di sebuah toko tua pecinan. Seperti biasa, tanda ini biasa kami lewati. Ya , biasa saja. Ya begini.

10 februari 2013

TUTARE #25

Rusa hilang pada jam 3 pagi di TV. Secangkir teh di meja yang tak bisa aku ukur kedalamannya airnya, karena kekhawatiran yang berlebih mencoba mengikat benang rajutku. Malam ini aku menyimpan beberapa kartu tarot yang aku percaya bisa mendatangkan kekuatan hati.  Aku seperti membaca halamanku terbuka yang berisi buddha, kecapi dan topi . Lalu aku mencoba bertanya pada diriku sendiri, dimana kamu malam ini? Apakah kamu bersama rusa di dalam TV?

7 februari 2013

TUTARE #24


Lelaki merah menelponku, aku sedang di dapur menyiapkan ragi untuk membuat roti. Ia berbicara tentang kadaluarsa, tanganku mengaduk kenangan pada ragi dan susu bubuk putih.  Aku diculik hati pagi ini,  jam dinding bergerak cepat, aku menyebutnya mati. Begini,  Apakah kamu bisa memaafkan kekeliruan? Apakah kamu percaya dengan usia ikatan?

6 februari 2013

TUTARE #23

Aroma merah jambu tergeletak pada catatan bergambar hello kity, aku tak ingin terdistorsi dengan alarm yang siap kamu hancurkan pada pukul 9.11. Aku tak ingin menghantammu dengan sinyal-sinyal yang mematikan jalinan janji. Kamu tahu? Kekuatan ini tak bisa aku sisipkan pada bagian yang lelap. Ah, memang ini sangat tak adil, aku berusaha mencari ruas jalan yang tak terbaca dari sebuah peristiwa kurungan. Kurungan bisa berarti pikiran, rimba atau tahta. Aku tak mau menendang hal-hal yang tak bisa kuhidupkan dengan hati. Aku tak mau mendaki kekesalan yang lumayan bisa membuat keningku berkerut lebih kencang. Keinginan yang terus bertambah seperti rusa yang hadir pada perjamuan jalan utama, ia mendekam seribu bahasa, dengan karma menyerbu kepala.

5 februari 2013

TUTARE #22

Aku masukkan angka-angka pada kotak teka-teki. Menjejali dengan langkah cepat yang bisa dilewati dengan senyuman. Kupeluk ribuan puisi yang kamu kirim tadi pagi, dan kutumpahkan dalam secangkir susu putih. Bergerak cepat mengkoyak perutku, kupu-kupu mati. Ia keracunan di rumah biru, dengan penghuni satu kucing putih milikmu . Aku sendiri melewati jalan dengan angka-angka yang berhamburan pada senyumanmu. Kamu disana, berdiri menanti pelukan bisu.

4 februari 2013

TUTARE #21

Toko roti di sudut kota, dinding yang tak lagi bersih menyisakan angka dan huruf yang terbalik. Kakekku mengetuk pintu, ia menoleh kepadaku, memberikan sekotak permen rasa rindu. Ia membangkitkan suara pada meja yang terhidangkan toples-toples cookies berukuran besar, Ontbitjkoek, speculaas , es krim vanilla dan sejarah panjang yang tak mau dihentikan dalam pikiran. Piano terletak di dekat pojok, di dekat foto hitam putih wajah senja yang senyumnya menusuk jantungku. Toko roti sudut kota seperti ledakan tiba-tiba, menghardik rumahku.

3 februari 2013

TUTARE #20


Pagi itu aku memutuskan untuk memberi nyawa pada pemutar kasetku. Aku seperti melewati jalan yang panjang, terbaca pada pita suara hitam. Aku seperti melewati pintu-pintu Yoko Ono bercampur dengan dongeng Pak ogah dan nyanyian Melissa semut-semut kecil. Aku mengintip ruangan yang lama aku tinggalkan. Tidak, aku tidak melarikan diri, Tentu saja tidak. Terbawa dengan langkah kaki kecil yang mencoba mengajakku  membuat nafas buatan. Pita hitam, sebuah kenangan yang berhasil membuat sekarat hariku. Tergeletak pada perjamuan tumpukan kotak-kotak lucu, komedi miris berisi ramuan lirik-lirik debu. Susu putih di meja berdampingan manis dengan pemutar kaset pembangkit miris. Memang kadang manis dan miris itu beda tipis.

2 februari 2013

TUTARE #19

Di pojok kamarku aku bercerita tentang tubuh yang tak ingin menjadi bayang. Aku melewati keinginan yang panjang, kebenaran apa yang terjadi? Aku tak mampu membelah terang, aku tak mampu lagi mendekam dalam rumus matematika yang tak mampu memecahkan sejarah keinginan.  Ah apa ini yang selalu mengusik telingaku ? Pada pagi buta kuceritakan tentang dunia yang habis dimakan cicak. Tenggelam dalam dunia dinding, membawaku pada hari-hari yang meracuniku untuk mencermati segala sesuatu konsep yang  diciptakan para nabi . Aku menelpon Abraham tengah malam, membicarakan angka-angka yang sepi pada telepon genggam.

1 februari 2013

TUTARE #18

Di ujung jalan itu aku menantimu, gaun bunga-bunga rasa pelangi menunggu keranda yang terbungkus dalam tas berisi mesin waktu. Aku ingin menangkap kupu-kupu , ia terbang melewati batas-batas lipatan kertas yang tertimbun dalam genangan tetesan manis pipiku. Kamu meluap menjadi rumah , tertinggal pada hitam putih tubuh . Aku melewati risau yang berkepanjangan, sisa kopi semalam menjadi biru, sendiri di meja kayu.

31 januari 2013

30.1.13

TUTARE #17

Mengapa terbungkam dengan sesuatu yang belum terpecahkan? Aku ingin melewati keraguan bersamamu dengan kepalan rindu. Aku tak tahan dengan kutukan yang mengatakan bahwa tak ada lagi jawaban-jawaban keraguan atas keputusan yang kita buat. Siapa kamu? berani melawan rindu sendirian.  Apa yang kamu takutkan sekarang? kesialan yang berulang karena sumpah serapahmu? .  Aku diam-diam melewati banyak kekeliruan dan aku menganggap itu hal yang normal, dalam kamusku. Siapa yang akan kamu tentang sekarang?  siapa lagi? kamu disini sekarang sendiri, tak ada yang menemani, apakah kamu bisa menggali kuburanmu sendiri?

Denpasar, 30 januari 2013

TUTARE #16


Tumpukan sepatu di rak bisu melewati  jalan-jalan ketakutan dan keraguan. Telepon mati, menyusupi tali-tali sepatu. Sejarah terbuka pada pintu pertama. Duduk di kursi panjang sendiri, melewati sejarah perbincangan pada jejak waktu. Aku ingin bersembunyi pada warna-warni sepatu yang bersemayam tenang pada rak kayu. Karena begitu yang aku tahu, sejarah telah menamparku dengan rasa manis dan terendap pada haru debu, pada sepatumu.

Denpasar, 29 januari 2013

28.1.13

TUTARE #15

Lonceng berbunyi dari gereja samping rumahku . Aku duduk di dekat jendela, tidak menanti siapapun juga. Semut-semut kecil merayap di lantai, ada pesta kecil disana. Apakah semut itu tidak kelelahan karena jalan mondar-mandir? Ada dunia yang seru sekali di lantai, di dekat kakiku. Tapi aku seperti tercekik, semut-semut dan hadirin datang semakin banyak. Aku takut memindahkan kaki, aku takut menginjak hati. Aku biarkan saja semut-semut lalu lalang melewati kaki, ada perih menjalar menjadi sakit, dari hati.

Denpasar, 28 januari 2013

TUTARE #14

Aku terjebak pada hal-hal yang bias, tapi itu jangan-jangan kemauanku. Lalu apa mau kamu?
Sesungguhya ada detik yang terus berlanjut di kepala, kenapa kamu menahannya?
Seperti keinginan-keinginan ini yang tak bisa kamu lempar seenaknya, seperti ada batasan norma yang masih terngiang di kepala. Apa ketakutanmu? Kitab sucimu? kenapa kamu ingin berlari?
Adakah sesuatu yang menahanmu?

Dan pisau dapur malam ini terlihat lucu,


Denpasar, 27 januari 2013

TUTARE #13


Sepatu merah yang tertinggal di depan pintu, mengingatkanku tentang ketakutan yang berkepanjangan. Aku mulai mencoba menerka seperti membuka rumus matematika. Ada sesuatu yang menjalar pelan di lingkaran sejarah yang berulang. Sepatu merah di depan pintu seperti berpidato, dan aku mendengar orang bertepuk tangan keras, menyetujui kesepian-kesepian yang panjang, pada sepatu merah dan hilangnya kamu.


Denpasar, 26 januari 2013

25.1.13

TUTARE #12

Aku teringat email lama, aku tersenyum sendiri, duduk di depan komputer kerja. Teringat sekali, aku membuat email itu 10 tahun yang lalu, sebuah nama di awal adalah ide dari pacarku waktu dulu.  Masa lalu masa ranum tanpa ketakutan apapun. Kabarnya ia sekarang berada di belahan dunia lain, mengembangkan jantung. Ah, itu pesan terakhir yang aku terima dari dia. Kubuka pelan dengan kunci pasti yang ternyata masih aku ingat . Ingatan ini sungguh luar biasa. Sungguh menggelikan. Seperti memasuki rumah tua, kotor di sana sini dan ribuan sampah yang aku diamkan saja. Pelan-pelan kumasuki kotak terpilih, kotak senang hati, sebuah kotak favorit yang dulu sering aku baca berulang kali. Ya, itu dulu. Seperti memasuki mesin waktu, mengulang jejak sejarah rindu. Ah, ya itu dulu.
Ada sesuatu yang membuatku untuk tidak segera keluar dari rumah itu. Iya, Tomoko Mukaiyama mencoba membelah pikiranku dengan warna-warna monokrom dan sepatu. Ah ini seperti mimpiku tadi malam, jangan-jangan freud datang tanpa undangan. Ia seperti kekasih lama yang menjelma dalam sekotak sejarah surat masa lalu.

Denpasar, 25 januari 2013

TUTARE #11


546219487954674221659784521326546526124612642162646458948498957897821213523152115496446489459810591051050150150150151510591090922256206539769078900000218904-9610361641642146262416421626523565690558191281291821928918291821819281928192819581591821821827121727282712381728127132898273892789272902809064587594706276427497457954646546754576464234264246565646363532656587950505021020200913151656152  aku tak nyata


Denpasar, 24 januari 2013

23.1.13

TUTARE #10

Kita di atas ranjang kecil, kamu memainkan gitar, aku menulis di buku harian. Aku mendengar irama yang kamu mainkan, aku menulis kenangan. Sesekali kita berpandangan, lalu diam, lalu hanyut dan tenang.

Hey
ya?
Jika kamu diminta untuk memilih salah satu untuk dibuat lagu, kamu pilih mana, cicak, perempuan atau agama?
Cicak
Kenapa cicak?
Biar bisa dimakan
emang enak?
Iya, bisa buat pepes
kamu pernah makan?
belum hahaha
hahaha


Denpasar, 23 januari 2013

22.1.13

TUTARE #9


Siapa yang akan kamu ajak ke gereja sore ini?

tidak ada

Sendirian?

ya sendiri

Aku melepaskan kaca mataku, menaruhnya di dekat jendela. tak ada kaca mata kedua. walau agak buram dan pening aku masuk ke dalam beberapa gambar-gambar yang mulai kabur. Tapi aku merasakan kamu di dekatku. Tak ada perbincangan lagi setelah dua pertanyaan di dekat pintu. Hanya mata yang mampu menggali hati kita, aku tak mau pergi dari sini, tak mau lagi. Kamu mendekati meja, mengambil alkitab, berjalan sendiri, meninggalkan rumah. Aku melihatmu dari belakang, aku melihatmu senang.

Denpasar, 22 januari 2013

21.1.13

TUTARE #8


Aku mimpi buruk tadi malam, kamu tidak datang. Aku membuka lemari buku, mencari sesuatu. Satu persatu aku mengeluarkan beberapa buku, sambil menunggu kamu. Tanganku perlahan memindahkan beberapa catatan ke dalam tumpukan ingatan. Jangan-jangan  kamu memang sedang dalam perjalanan menuju kesini, jangan-jangan kamu sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan hari ini , jangan-jangan kamu berada di pinggir pantai sendirian, jangan -jangan perkiraan ini semuanya salah besar.

Aku menyerah, buku yang aku cari tak  ada di lemari.  Entah ada energi apa yang menggerakkanku untuk segera ke dapur. Aku ingin membuat kopi , aku ingin membuat hati. Ah, ini kejutan jantungku mengembang karena mataku tertuju pada  sebuah buku, Anna Karenina, buku yang dari tadi aku cari ternyata tergeletak manis di meja,  di dekat keluarga kopi, teh dan berbagai macam rasa minuman lainnya. Kadang, jika kita tidak mencari, jawaban itu muncul sendiri.

Aku memeluk buku itu, aku memeluk kamu.


Denpasar, 21 Januari 2013

TUTARE #7

Apakah kau mengerti tentang ketakutan-ketakutan? Aku berada di kursi yang sama, satu cangkir di meja aku pandangi sampai dingin. Seperti aku terlempar dalam kenangan yang mulai membuatku mual. Cibo Matto sugar water mengalun dari radio, kejutan apa lagi ini ?

Aku tercekik karena memori.

Denpasar, 20 januari 2013

19.1.13

TUTARE #6


Aku tidak mau membuka pintu, sudah 12 jam lebih di kamar ini. Yang ada di telingaku seperti suara pesawat udara yang siap menabrak kenangan yang tersimpan dalam kotak hitam memori. Ruangan ini menjadi terang, dengan sedikit harapan yang tergerak pada jam dinding yang sebentar lagi menjadi batu. Ruangan ini adalah pulau, yang berisi ketukan-ketukan dan seribu tinju yang melesat cepat bagai cahaya. Aku terlelap dalam buku yang berisi angka-angka yang menamparku untuk terbangun di sebuah kotak. Kamu menyebutnya penjara, aku menyebutnya kesenangan dalam frekuensi yang datar, kesenangan maksimal yang luar biasa. Di ruang kamar monoton yang membuatku ingin segera masuk ke dalam, kedalam sana lebih dalam lagi, lebih maksimal.

Denpasar, 19 januari 2013

18.1.13

TUTARE #5

Aku memutuskan untuk meninggalkan rumah, menuju tempat yang belum aku ketahui sebelumnya.


Denpasar, 18 januari 2013

17.1.13

TUTARE #4

Selibat, itu yang ada di pikiranku. Aku seperti melihat lonceng yang mati, tak ada satu pun yang membunyikan itu. Aku teringat gereja tua abu bakar ali. Aku duduk sendirian diluar, aku menunggu kabar yang siap aku loncatkan di hari itu. Tak ada senyuman apapun. Di depanku perempuan dan remaja putri sedang menyalakan lilin- lilin di depan altar. Aku tertembak pada air mata yang pelan menelanjangi pikiranku. Kota penuh romansa menjadi peluru, ia siap  jatuh pada hati yang abu.

Kenapa kamu disini?

Aku menunggu mati.


Denpasar, 17 januari 2012

16.1.13

TUTARE #3


Jadi kamu bisa baca Qur'an ?

Ya, bisa

Lancar?

Ya begitulah

Serius?

Iya, tapi sekarang aku memilih jalur lain

Apa ?

Aku memilih Buddha


Lalu kami terdiam, aku melihat gambar cicak di tangannya. Aku mendengar handphone berbunyi.Dan keputusan besar adalah aku mendiamkan bunyi tersebut dan luruh dalam pertanyaan dia berikutnya.

Dulu kamu rangking berapa ?

Maksudmu?

Ya, dari  SD sampai SMA ?

Oh, rangking 1,2,3 di seputar itu, kamu?

Ya, 2,3,4,5 di seputar itu

Tapi mengejar rangking itu tidak penting

penting !

Rangking, angka-angka bukan hal utama

Ah ya, kami tertawa dengan pertanyaan-pertanyaan spontanitas yang mengembang di kepala. Diluar hujan,  terbaca kerinduan.

Denpasar, 16 Januari 2013

15.1.13

TUTARE #2

Dan mata itu berjalan-jalan bebas di pikiranku. Ranjang yang sepi, cermin sebesar tv pun tidak mati. Satu cangkir teh yang dingin dan beberapa catatan tertumpuk tak beraturan di meja. Kamu terbaring, aku duduk disampingmu.

Hey

Ya?

Lalu tak ada perbincangan selanjutnya, yang terdengar adalah derit pintu karena angin yang riuh malam itu, jendela kaca yang tidak sempurna tertutup, karena kamu menginginkan begitu. Kamu melihat atap bisu, aku pun mulai begitu. Ada banyak sesuatu diatas sana, pikiran terpindahkan kesana, seperti ada kabel kecil yang mentransfer kitab suci berisi norma-norma, reinkarnasi, film kartun, rempah-rempah, black box, gemini, kartu pos dan hujan keresahan. Ada kaleidoskop yang tertinggal di mata itu. Dan satu pertanyaan dari mesin waktu untuk kamu.

11 tahun lagi kamu dimana?

Mexico

Denpasar, 15 januari 2013

14.1.13

TUTARE #1

Aku melewati pandangan jauh keluar jendela, yang tertangkap di luar sana seperti terbaca, aku ingin melepaskanmu, sendiri, tanpa ada tekanan. Jalan-jalan yang terbayang dalam kepala adalah genangan air yang terisi nostalgia yang panjang dan tak tenang. Siapa yang akan mengawini janji ? padahal aku sendiri tak mau terdekap dengan hitungan-hitungan angka jarak , yang telah pasti terbaca pada kalkulator. Aku terbiasa sesuatu yang tak manis,tak tahu lagi rasanya menangis. Dapur yang sepi hari ini, hanya ada aku dan gelas terisi air putih, kami  melewati perbincangan panjang. Kau tahu? ini adalah detik yang luar biasa, sebelum aku benar-benar sadar. Tak ada keinginan untuk melekat denganmu, tak ada. Au revoir simone menamparku dengan knight of wands, aku tak bersembunyi lagi darimu, dari kemelakatan apapun.

Denpasar, 14 januari 2013

8.1.13

The Beginning

Beginnings are always hard. The beginning of a break up, the beginning of a relationship, the beginning of a fight, the beginning of the make-up. Everything is a beginning and they are always challenging. They’re scary and full of mystery and you start to doubt yourself and your decisions. Irrationality takes over and you demand sure answers. There’s no such thing as sure answers, everything in life is an adventure. I know its hard now, but you’ll get through it. Just stick it out a little longer and everything will fall into place.