30.5.12

Konstelasi bir dan semesta


Hello semesta saya ingin bercerita betapa konstelasi semesta menuntun saya pada sebuah cerita. 12 Mei 2012, saya tersesat di meja kerja dan penat sekali, lalu saya mempunyai ide untuk keluar dari kantor sebentar. Saya mampir ke sebuah toko kecil, membeli sekaleng bir, kejutannya adalah pemilik toko mengenalkan ke seorang teman yang ternyata asli solo. Saya kembali ke kantor, menyelesaikan pekerjaan, tetapi seperti semesta menjewer saya , secepat kilat saya menulis pesan semesta di facebook.

bahwa hal-hal terkecil, misalnya sebotol bir bisa menjadi alat bagi kekuatan kosmis untuk mengarahkan kita menemukan sesuatu #semesta

2 minggu kemudian,di sebuah acara saya datang sendirian lalu membeli sebotol bir, duduk sendiri di kursi mengamati orang lalu lalang. Mengamati orang sibuk sana sini di sebuah acara, pikiran menjalar hebat sampai tak sadar sebotol bir saya sudah habis, lalu.......seorang lelaki datang dan menyodorkan sebotol bir untuk saya, kemudian terjadilah perbincangan .

Dia : apakah kita pernah bertemu?
Saya : Belum pernah saya baru tinggal di pulau ini
Dia : tapi sepertinya kita pernah bertemu ya?
Saya : dimana?
Dia : lupa

Setelah itu kami berteman di media online, tidak sengaja saya melihat satu photo di sebuah kafe di hayam wuruk, dan ini mengejutkan, di foto itu menjelaskan ternyata dia meeting dengan teamnya di kafe itu, dan pada hari itu juga saya sadar bertemu dengan teman di kafe itu juga.  Dia dengan teamnya meeting di ruang dalam, sedangkan saya di luar kafe, tapi waktu itu saya hanya masuk ke kafe ketika mau bayar di kasir. Sekarang kami menyadari bahwa kami pernah berada di sebuah tempat yang sama pada hari yang sama tanpa tahu satu sama lain. Dan kami dipertemukan satu bulan kemudian di sebuah acara gara-gara ia sadar saya kehabisan bir. Saya percaya tak ada yang kebetulan kita akan bertemu dengan dzat yang sama dengan kita, dzat bisa berarti apapun, mimpi, harapan bahkan sebotol bir.

Lalu tadi sore sunflare di jendela menggoda saya untuk segera lari ke pantai. Spontan saja saya langsung menuju ke pantai canggu, saya mampir ke supermarket kecil.  Di supermarket itu hanya ada 2 pembeli saya dan lelaki lain,saya mengambil snack dan ketika saya akan mengambil sekaleng bir. Ternyata bir yg saya inginkan di rak tak ada, saya menunggu shopkeeper mengambil bir di belakang, ternyata lelaki itu menunggu stok bir juga. Saya dan lelaki itu tidak berbincang apapun, lalu datanglah bir yang saya dan dia inginkan, kemudian kami menuju ke kasir. Sebelum ke kasir saya belok kiri mengambil snack lagi, jadi giliran ia yang di kasir, kemudian ia keluar dari supermarket. Dan alangkah kagetnya ketika saya keluar dari supermarket, ia di depan merokok , senyum dan bertanya kepada saya.

Dia : Dari solo ya ?
Saya : kok tahu?
 Dia : itu plat nomornya AD
Saya : oooh, dari jakarta ya?
 Dia : iyaa, plat nomornya B
Saya&Dia :)
Dia : Mau kemana emangnya ?
Saya : Ke pantai
Dia : Canggu?
Saya : Iya
Dia : Oke, hati -hati ya

Kemudian kami berpisah tanpa tahu nama masing-masing, yang tertinggal hanyalah senyuman. Perbincangan dengan lelaki asing di supermarket tadi seperti semesta menyapa halo tria nikmati sore ini dengan maksimal, nikmatilah.

Pantai sangat sepi, menikmati sunset sendiri, rasanya jauh dari apapun, apapun, lalu seorang lelaki asing mendekati saya, ia duduk di samping saya.

may I join in? ... and the girl sips her beer and answers "yep"

Him : do you love being alone ?
Me : I love being alone with me. I'm my very best friend, and probably the only person I really trust

Then we talk, we don't talk, we talk, then build god, we talk #universe. So after build god, we left the beach , oh i talk to stranger i do not care but if he is good man :). Oh Hello  #universe

Gatsu, Denpasar, 29 Mei 2012

22.5.12

Perayaan May Day ala Tika & The Dissidents


photo courtesy of tika & the dissidents

Hari Buruh Internasional diperingati 1 Mei, dimanfaatkan kaum buruh sebagai momentum untuk kembali memperjuangkan hak-hak buruh yang selama ini terabaikan. Kaum buruh telah bulat bertekad melawan kekuasaan kapital .Kepada kaum pekerjalah (atau buruh), tragedi lahir dan hadir, perbudakan  sudah seusia gunung masih saja menggelisahkan.  Bagaimanakah Tika & The Dissidents menanggapi persoalan ini, simak perbincangan panas kontributor Mave Magz, Tria Nin dengan para pembangkang ini :

1.    Halo Tika & the dissidents, adakah project  yang sedang kalian kerjakan sekarang ? 

Saat ini sedang bergerak lambat menggarap materi-materi untuk album ke tiga.

2.  Bisa digambarkan bagaimana ceritanya Tika & The dissidents membuat lagu May Day  ?

Lagu itu dibuat tahun 2008, saat jamming di studio. Saat itu masih bersama Iman Fattah, kami sedang latihan untuk sebuah gig. Sudah selesai latihan, anak-anak mau beres-beres alat, tiba-tiba iman memainkan intro gitar yang kemudian menjadi intro Mayday. Kartika spontan mengisi vokal, disusul anak-anak yang lain. Saat itu beberapa hari sebelum hari buruh, dan Tika memang sedang mempersiapkan perayaan Mayday. Liriknya jadilah tentang Hari Buruh.

3.     Kategori buruh menurut Tika & the Dissidents itu seperti apa ? 

Bagi kami, buruh adalah kata yang seringkali diartikan terlalu sempit oleh masyarakat pada umumnya. Selain itu dipolitisasi pula. Anggapan orang, buruh notabene adalah pekerja fisik seperti petani, pekerja pabrik dll. Sehingga mereka yang bekerja di balik meja merasa dirinya bukan bagian dari workforce yang sama, sehingga ada hierarki-hierarki tahi kucing yang mempengaruhi segala hal mulai upah sampai diskriminasi sosial.
Bagi kami, buruh adalah semua orang yang ‘menjual’ jasanya, kemampuannya, tenaga dan waktunya untuk mencari penghidupan materi. Guru, Manager bank, penyanyi, pilot, penari telanjang pun sama di mata kami. Sama-sama pekerja. Sama-sama buruh.

4.      Pada tanggal 1 Mei tahun 1886, sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja menjadi 8 jam sehari. Menurut kalian bekerja 8 jam sehari itu apakah cukup manusiawi ? Pekerjaan impian yang kalian impikan seperti apa? Butuh berapa jam sehari untuk bekerja?

Bekerja asal dengan hati dan pikiran yang gembira, kadang-kadang 10 jam pun tak terasa. Sementara 4 jam saja bisa jadi neraka apabila kita tak menyukai pekerjaan kita. Bagi saya pribadi, yang terpenting bukan jumlah jamnya, melainkan lingkungan pekerjaannya. Apabila ada respek antara sesama pekerja, saling menghargai, dan spirit kesetaraan, biasanya tercipta lingkungan kerja yang enak.
Pekerjaan impian adalah pekerjaan yang ikut berkembang sesuai perkembangan diri kita. Membuat kita makin pintar, bukan hanya diperah tenaganya.


5.      Pernah berpikiran untuk memberikan semangat ke buruh pabrik dan menyanyikan lagu mayday kalian  di pabrik atau turun jalanan langsung ketika May Day nanti ? 

Turun ke jalan, itu salah satu bentuk perayaan hari buruh. Memang identik dengan itu, dan lagu Mayday pun tentang turun ke jalan. Tapi merayakan Mayday tidak terbatas pada itu saja. Itulah hari dimana semua orang bisa mengambil satu hari untuk merayakan kebebasannya dari pekerjaan. Maka cara merayakannya pun bebas.
Kalau menyanyikan di pabrik, sama saja kami mensahkan bahwa hari buruh adalah harinya buruh pabrik ya? Padahal yang kami inginkan justru membongkar tembok pemisah dan adanya hirarki antara profesi-profesi yang ada.

6.      Di Indonesia sendiri gerakan buruh dihubungkan dengan gerakan dan ideologi komunis  G30S pada 1965 . Bagaimana tanggapan kalian mengenai ini? 

Hahahhahahahahahahahahahaha


7.      Di beberapa perusahaan, ada karyawan yang hanya berstatus karyawan kontrak , komentar kalian?
 
Ya, itu salah satu kenyataan yang saat ini semakin dilumrahkan. Tapi kita tidak bisa pukul rata bahwa semua perusahaan yang memakai sistem kontrak ini jelek, meski rata-rata demikian. Kadang kita harus berada di sepatu mereka untuk mengerti. Dan karena saya tidak tau sampai ke akar yang terdalam, jadi saya tidak akan sok tau beropini bahwa itu jelek atau buruk.


8.      Beberapa karyawan  kaum perempuan takut untuk menyampaikan suara, menuntut hak kerja, menyuarakan keluhan dsb, Ada tips dari tika & the dissidents  bagaimana cara menyampaikan suara yang pas ala kalian? 

Apakah hanya perempuan yang takut menuntut hak kerja? Banyak laki-laki lebih takut, karena mereka dianggap tulang punggung keluarga. Maka suka atau tidak suka dengan policy kerja mereka, mereka telan saja demi keluarga. Cara menyampaikannya, buat serikat sih memang baik. Kalau ada serikat pekerja yang sehat (garis bawahi sehat) dan independen maka suara pekerja bisa menjadi suara kolektif. Lebih besar bargaining powernya.

9.      Bagaimana cara kalian merayakan May Day ?  tidak akan bekerja atau apa? 

Tidak bekerja. Lakukan apapun yang kami mau. Bergembira bersama.

10.       Superpower apa yang kalian miliki untuk bisa survive dalam bermusik dan bersuara ?

Kancut kami tidak pernah diganti. Itu dia jimatnya.

Apa Cita-citamu ?



Waktu kecil beberapa teman menjawab ingin menjadi dokter, guru, tentara, polisi dan sebagainya. Saya tidak termasuk seperti itu,sejak SD sampai dengan SMU saya berpegang teguh ingin menjadi Ambassador. Alasannya sangat sederhana, sejak kecil saya penggila berat The Beatles, tentu saja karena pengaruh saudara-saudara yang dirumah, Jadi saya bermimpi ingin mengunjungi liverpool, Penny Lane, Strawberry Field, Abbey Road, Cavern Club. Alasan kedua, saya jatuh cinta dengan kertas surat bergambar eiffel yang saya dapat ketika SD,hadiah ulang tahun dari kakak lelaki saya,  Perancis adalah impian yang masih mengendap dalam dada, suatu saat nanti, ya suatu saat nanti, saya yakin itu. Maka waktu kecil saya berpikir, dengan menjadi ambassador saya bisa berkeliling dunia, ah pikiran yang sangat sederhana. ya begitu.

Lalu berjalannya waktu, selepas lulus SMU, saya diterima di sastra perancis UGM. Ayah saya tidak mengijinkan saya untuk tinggal di Yogya, beliau menginginkan saya untuk kuliah di solo saja. Saya putus asa, mau tidak mau saya harus mengambil jurusan D3. Saya memilih jurusan broadcasting UNS, alasannya saya suka drama  radio saur sepuh,  ketika mendengarkan drama radio ini,  saya teringat kakek saya, detik-detik terakhir kakek saya meninggal, beberapa menit setelah mendengarkan saur sepuh, waktu itu yang dirumah hanya saya dan kakek saja, ah jadi ngelantur ya. Lalu alasan kedua, sejak SMU saya sudah menjadi penyiar, jadi apa salahnya jika saya berlanjut mempelajari dunia broadcasting. Alasannya itu saja.

Belajar di broadcasting sambil bekerja di radio swasta, sempat berpindah-pindah lalu terakhir mendarat di Soloradio, menjadi produser, sebuah profesi yang tidak pernah saya impikan. Sudah hampir 5 tahun disini, duduk di ruang siar disini, lalu kembali teringat, apa cita-citamu ? Apakah saya gagal ?
Walaupun sekarang saya tidak menjadi Ambassador, saya masih bermimpi untuk mengunjungi kota-kota sejarah the beatles, saya masih bermimpi ke perancis, saya yakin dengan mimpi saya, saya yakin semesta mendengar, ya begitu, ya itu saja.

10 November 2010