4.1.12

Jalan Solo Jalan Sutera

Ketika pertama kali saya melihat poster online di facebook saya langsung tertarik, saya suka bermain-main dengan kain, menurut saya tur mengunjungi toko tekstil india di jalan Solo, Yogyakarta adalah ide yang menyegarkan. Saya segera  menghubungi Elia Nurvista, pengagas tur jalan sutera ini, lalu mendaftarkan diri untuk mengikuti tur pada hari kamis, 29 Desember 2011. Hari itu datang juga, paginya saya mendapat kabar, peserta tur harus berkumpul di depan Giant jam 16.00 WIB. 
 
Beberapa menit sebelum jam 16.00 WIB , saya sudah sampai Giant, lalu jalan-jalan sebentar ke Giant, membeli minuman dan snack untuk bekal. Setelah itu saya keluar, ternyata Elia dan peserta tur sudah berkumpul di depan Giant.  Saya langsung registrasi ulang, membayar sepuluh ribu dan saya mendapatkan slayer cantik berwarna orange dan satu buah buku saku berwarna pink, yang berisi cerita des indes orientalis, sejarah komunitas India di Yogyakarta. Oh ya, Tur Jalan Sutera ini adalah bagian presentasi proyek riset sejarah komunitas India di Yogyakarta yang digagas oleh KUNCI, Cultural Studies Center, Yogyakarta. Kegiatan ini juga bagian dari Parallel Event Biennale Jogja XI.

 
Maka Sore itu, saya dan teman-teman menelusuri jalan sutera, jalan surga bagi pecinta kain. Kami berjalan kaki sambil berbincang ria dengan peserta lain, toko pertama yang kami kunjungi adalah Toko Prima Tekstil yang terletak di jalan Demangan. Ibu Heera Danani, pemilik toko ini menyambut hangat para peserta tur Jalan Sutera, beberapa ada yang menjelajahi surga kain , beberapa ada yang berdiri melingkar, mendengar cerita dari ibu Heera. Ibu Heera  menjelaskan perbedaan kualitas kain sampai tips memilih kain seragam dan merawat kain batik. Kebanyakan konsumen datang ke toko prima untuk mencari bahan kain seragam. Di lantai pertama, saya tertarik dengan telepon kuno yang terletak di dekat tangga, cantik sekali. Karena penasaran dengan lantai dua, saya pun naik, di lantai ini terdapat  Gorden, Sprei, Bed Cover warna-warni, motifnya pun menarik. Nuansa India -Bali sangat terasa di toko Prima Tekstil, dari Interior sampai dengan pilihan kain yang dijual. Oh ya, ada sebuah rahasia yang saya ketahui, karena  kelangkaan kapas di india, maka produksi kain katun dari india pun menurun, maka ibu Heera memilih mengimport kain dari cina, katanya sih kualitasnya juga baik.  
Setelah bermain-main dengan warna-warni kain di toko Prima, saya dan teman-teman berpamitan. AHA! ini dia kejutannya, kami dijemput oleh bapak-bapak tukang becak yang baik hati. Sore-sore naik becak melewati kota, menelusuri jalan Solo, sungguh romantis sekali. Bapak tukang becak yang baik hati  mengantarkan saya dan peserta tur yang lain menuju toko kedua, yaitu toko Rama, yang terletak di Jalan Solo. Tempat tidur besar dengan pilihan bed cover motif warna warni, sofa, wallpaper, Gorden dari  motif modern sampai vintage tersedia lengkap. Bertumpuk-tumpuk katalog sungguh menggoda, ah rasanya tak mau pergi dari toko ini. Pemilik toko, Bapak Jacky menceritakan tentang pelayanan terbaik yang ada di toko ini, dari konsultasi dekorasi ruangan sampai memilih motif yang cocok, dan itu tanpa ada tambahan biaya apapun, jadi konsumen hanya membayar produknya saja. Ketika berdiskusi, ada pertanyaan menarik dari salah satu peserta tur Jalan Sutera, Indra Ameng, Ia bertanya tentang seberapa besar minat konsumen Yogyakarta terhadap motif binatang. Nah ini jawabannya, Motif binatang seperti harimau, ular, naga  sangat digemari oleh konsumen di Yogyakarta.
Setelah dari toko Rama rombongan tur di bagi menjadi dua, karena ada salah satu toko yang ruangannya tidak memungkinkan untuk kedatangan satu rombongan penuh. Saya lanjut ke tur toko india berikutnya, yaitu toko Wijaya. Saya harus menyebrang jalan dahulu untuk sampai ke toko Wijaya. Om dev menyambut kami dengan senang hati, ia bercerita tentang bombay association, yaitu organisasi untuk pedagang kain dari india. Organisasi ini bermanfaat positif untuk pedagang kain, yaitu  mereka bersaing sehat untuk menjalankan bisnisnya. Toko kain Wijaya menjual kain sari atau salwar kameez dan jubah dan toko ini  juga selalu bersedia untuk memberikan saran desain baju yang paling bagus yang tentunya disesuaikan dengan kain dan si pemakai.
Hujan rintik-rintik sore itu, tetapi masih ada toko terakhir yang harus dikunjungi, kami menyebrang jalan lagi menuju toko Parissa. Tokonya tidak terlalu luas, tetapi toko ini menyediakan variasi aneka macam motif kain dari harga termurah sampai termahal. Di toko ini sedang mengobral diskon sampai dengan 70% sampai akhir tahun 2011. Saya duduk santai di kursi toko sambil mengamati beberapa kain dan dikejutkan dengan suara Elia dari sound system toko. Elia sedang mempromosikan produk toko parissa lewat spot audio yang sudah direkam.  Ini merupakan  bagian dari  proyek Audio Sejarah Toko Kain yang dikerjakan oleh tim KUNCI. Istimewanya lagi, selain spot juga memberikan informasi sejarah singkat tentang toko ke  dalam 3 bahasa, yaitu bahasa Indonesia, Jawa dan Inggris. Ternyata ya, selain melalui audio, ada juga proyek sejarah toko di kantong plastik yang di gagas Prihatmoko Catur. Wah sungguh  ini  ide yang bagus !
 
Sudah semakin gelap, kami harus mengakhiri tur, kami berkumpul kembali di toko wijaya, bersantai sebentar dan perfoto ria bersama. Sungguh mengikuti tur Jalan sutera ini seperti menelusuri surga kain  aneka ria yang sungguh istimewa. Dari sound system toko wijaya, sayup-sayup terdengar mantra meditasi khas india, om namah shiva, om namah shivay, om namah shivay. Terima kasih semesta :)

No comments: