9.1.12

Gamelan #8 Kejutan Gender Panembung, Gendhing Semarang Endah Pelog 6, Simpang Lima Ria pelog 6, ladrang Kagok Semarang Pelog 5

Senin yang mengejutkan, guru saya mas Mudji bilang ke saya, "Tria, hari ini coba mainkan instrumen baru".  Tanpa ragu-ragu saya setuju dengan guru saya itu. Lalu ia meminta saya untuk mengambil tabuh slenthem alias Gender Panembung  di kotak kayu. Dengan suka cita saya mengambilnya, saya duduk di depan slenthem. Lalu Mas Mudji menginstruksikan para pemain gamelan untuk membuka koleksi nada-nada yang akan dimainkan, sore ini kami memainkan Gendhing Semarang Endah Pelog 6, Simpang Lima Ria pelog 6, ladrang Kagok Semarang Pelog 5. Arghh semesta begitu keren sekali, baru tadi malam saya membuka folder lama berisi foto-foto ketika saya di semarang. Tadi malam saya sangat merindukan semarang, rasanya ingin ke kota sendu itu lagi. Karena saya terlalu bersemangat saya memainkan slenthem dengan tekanan kuat dan keras sekali. Guru saya lalu datang ke saya dan berkata pelan-pelan saja, rasakan nadanya, ini beda dengan saron. Pelan-pelan saya mengetuk-ngetuk Gender Panembung memainkan Gendhing Semarangan seperti memori masa kecil berloncat-loncatan lincah sekali. Ketika memainkan Gender membutuhkan konsentrasi tinggi agar tidak tertinggal dengan pemain yang lain. Kesadaran dan keriuhan menyeimbangkan permainan ini seperti saya duduk diam mengamati pikiran berloncat-loncat. Proses ini mengingatkan saya ketika saya meditasi, kesadaran diri mengetuk, merasakan, menyelaraskan nada-nada dalam gendhing, rasanya teduh sekali.

2 jam memainkan gendhing semarang, saya rasanya ingin segera ke semarang, menengok masa lalu,begitu.

Senin Paing, 9 Januari 2012

No comments: