10.1.12

Sri Gethuk Manis Sri Gethuk Magis


Tidak ada rencana khusus ketika saya akan kesana, tiba-tiba ingin saja ke pegunungan gunung kidul, tepatnya di Air terjun Sri Gethuk. Ini adalah piknik terakhir sebelum mengakhiri tahun 2011, piknik di siang yang mendung. Walaupun begitu, tetap menyenangkan. Ketika perjalanan saya sempat berhenti sebentar di jalan wonosari, tiba-tiba  saya tergoda dengan manggis, lalu belilah manggis untuk bekal, ah rasanya begitu bahagia. Manggis adalah salah satu buah favorit saya. Menuju Gunung kidul dijamin tidak bosan, pemandangan alam yang cantik, pohon-pohon hijau sungguh ayu.
  
Jalan masuk menuju Sri Gethuk tidak begitu baik, jadi ya harap bersabar, karena beberapa jalan tertentu ada yang rusak, pelan-pelan adalah pilihan utama untuk menuju Sri Gethuk. Sebelum menuju Sri Gethuk, ada petugas yang memberikan karcis masuk dan parkir, dimana karcis ini juga bisa digunakan untuk masuk ke obyek wisata gua Rancang Kencono. Letaknya tidak terlalu jauh dari Sri gethuk. Saya memilih untuk menuju ke Air Terjun yang terletak di desa Menggoran. Sri Gethuk.
Ada dua papan arah yang bertuliskan jalan kaki dan naik perahu, saya memutuskan untuk jalan kaki saja, melewati persawahan yang hijau nan permai. Oke, baru 5 menit pertama, saya hampir terpeleset, karena habis hujan, jalan setapak di persawahan sangat licin. Karena saya datang ke Sri Gethuk pada hari sabtu, maka banyak orang yang datang untuk liburan. Saya menyesal datang pada hari sabtu, jujur saya tidak menyukai obyek wisata yang ramai, mood bisa berantakan.    
Sebelum sampai ke air terjun, saya harus melewati anak tangga, di tangga ini saya seperti mendengar irama gamelan, aneh sekali di alam terbuka dan jauh dari pemukiman, saya bisa mendengar gamelan . 5 menit kemudian,saya bisa melihat air terjun dengan jelas, saya merinding. Siang itu saya berbincang dengan seorang lelaki, saya yakin sekali tempat ini pasti sering digunakan untuk ritual. Lelaki itu hanya diam saja, sedangkan badan saya terasa hangat. Oh ya, air sungai di srigethuk waktu itu berwarna coklat, karena sebelumnya memang hujan. Tetapi masih banyak pengunjung kok yang bermain-main di sungai.  
Saya duduk di batu di pinggir sungai air gethuk sambil menikmati manggis, eits ada kejutan manis,  saya melihat daun berbentuk cinta, seperti energi semesta menyapa. Tetapi saya tidak terlalu lama di air terjun Sri Gethuk  ini, karena berulangkali saya merasa tidak nyaman, entah kenapa begitu.Saya memilih naik perahu untuk  kembali, hanya membayar 5000 rupiah saja.  Lalu saya mampir warung dan membeli es kelapa muda, rasanya segar sekali. 
Satu minggu setelah saya dari Sri Gethuk, saya mendapatkan cerita tentang legenda Sri Gethuk, konon Sri gethuk adalah pusat para jin yang dipimpin oleh Jing Angga Menduro. Angga Mendura sangat menyukai gamelan, ia menyimpan gamelan di Sri Gethuk ini. Menurut cerita dari beberapa warga, kadang mereka mendengar  pantulan suara gamelan dari air terjun Sri Gethuk ini.  Boleh percaya, boleh tidak, silahkan rasakan sensasinya di Sri Gethuk Manis, Sri Gethuk Magis.

Snack Gandum

Sudah sebulan lebih saya ketagihan snack gandum , rasanya gurih dan enak sekali. Jadi satu bulan yang lalu yegar mengadakan pesta di kebun rumahnya, potluck garden party yang sangat asyik. Sebelum kesana saya mampir ke swalayan berinisial A, lalu saya tertarik dengan snack gandum ini, saya beli satu bungkus dan saya menikmati snack ini bersama teman-teman .  Selanjutnya ?  Ini efeknya, 30 hari lebih setelah pesta itu, saya ketagihan dengan snack gandum  ini. Snack gandum berbentuk segitiga menemani saya dalam berbagai cuaca dan suasana, oh oh oh saya ketagihan snack gandum, enaaaaaaak !

9.1.12

Gamelan #8 Kejutan Gender Panembung, Gendhing Semarang Endah Pelog 6, Simpang Lima Ria pelog 6, ladrang Kagok Semarang Pelog 5

Senin yang mengejutkan, guru saya mas Mudji bilang ke saya, "Tria, hari ini coba mainkan instrumen baru".  Tanpa ragu-ragu saya setuju dengan guru saya itu. Lalu ia meminta saya untuk mengambil tabuh slenthem alias Gender Panembung  di kotak kayu. Dengan suka cita saya mengambilnya, saya duduk di depan slenthem. Lalu Mas Mudji menginstruksikan para pemain gamelan untuk membuka koleksi nada-nada yang akan dimainkan, sore ini kami memainkan Gendhing Semarang Endah Pelog 6, Simpang Lima Ria pelog 6, ladrang Kagok Semarang Pelog 5. Arghh semesta begitu keren sekali, baru tadi malam saya membuka folder lama berisi foto-foto ketika saya di semarang. Tadi malam saya sangat merindukan semarang, rasanya ingin ke kota sendu itu lagi. Karena saya terlalu bersemangat saya memainkan slenthem dengan tekanan kuat dan keras sekali. Guru saya lalu datang ke saya dan berkata pelan-pelan saja, rasakan nadanya, ini beda dengan saron. Pelan-pelan saya mengetuk-ngetuk Gender Panembung memainkan Gendhing Semarangan seperti memori masa kecil berloncat-loncatan lincah sekali. Ketika memainkan Gender membutuhkan konsentrasi tinggi agar tidak tertinggal dengan pemain yang lain. Kesadaran dan keriuhan menyeimbangkan permainan ini seperti saya duduk diam mengamati pikiran berloncat-loncat. Proses ini mengingatkan saya ketika saya meditasi, kesadaran diri mengetuk, merasakan, menyelaraskan nada-nada dalam gendhing, rasanya teduh sekali.

2 jam memainkan gendhing semarang, saya rasanya ingin segera ke semarang, menengok masa lalu,begitu.

Senin Paing, 9 Januari 2012

5.1.12

What's on my desk?


This is the place where i produce all my works. I spend a lot of time here, usually writing, sometimes watching movies and shows and the like. I have my vision board on my desk  to remind me everyday of the things. My vision board is directly in front of me when i’m sitting at my desk. For me my vision board encompasses my dreams. Dream BIG and see where your Dreams take you . When I get bored or my mind drifts I take a break. I cannot sit down and work solidly for 3 hours, so i'll go outside to get the magazine/newspaper/book to read with my coffee :)

Red Christmas Card

I've got a red christmas card from my dear friend Gustin Chandra in Jakarta. 
A super duper sweet homemade christmas  card. I love it!

Hujan, kartu pos dan kopi

2 kartu pos mengetuk pintu    
komputer menyala menjadi batu
Hujan menelpon mesin waktu
kopi dingin di atas mejaku
itu dua hari yang lalu


Gamelan #7 2012 lancaran telung prapat pelog barang, lancaran si dora

Saya kira saya terlambat datang latihan, ternyata latihan gamelan di rumah  berpagar merah belum dimulai, sampai di rumah itu saya bersalaman dengan pemain gamelan lain, para pemain sedang berbincang santai, ada yang menceritakan liburan natal, ada yang mendengarkan, ada yang memilih tabuh, sedangkan saya memilih duduk di dekat kotak tabuh, ibu disebelah bertanya tentang malam tahun baru, saya jawab tidak ada perayaan yang besar, malam tahun baru saya siaran bersama teman-teman di radio. Lalu ibu itu menyentuh pundak saya sambil tersenyum. Saya mencium aroma kebahagiaan wajah-wajah senja pemain gamelan, mereka bersuka cita, bergurau seperti tak ada beban apapun. Ada yang berceloteh, yang penting bukan perayaan tahun baru, tetapi semangat baru. Ah ya, tentu saja saya mengangguk setuju.

Setengah lima sore, latihan baru dimulai. Guru gamelan, mas Mudji lalu membagi kertas berisi gendhing baru yang akan kami pelajari. Kami mempelajari Lancaran telung prapat pelog barang . Gendhing ini terdiri dari 5 bagian, pembuka, ladrangan, ondhe-ondhe, ketawang ngundhamana, lancaran. Saya masih memainkan saron, hari ini saya duduk di sebelah utara sendiri. Saya sedikit kerepotan dengan gendhing baru ini, karena iramanya cepat dan saya berulang kali ketinggalan. Berulang kali saya harus konsentrasi menyeimbangkan nada dengan pemain gamelan lain. Lalu ketika kami sedang asyik memainkan gendhing,  tiba-tiba guru saya berteriak, "dora, dora lebih cepat lagi !'. Hah? tentu saja saya kaget, Mas Mudji berteriak dora-dora dan memandang saya. Karena saya bingung, ia tersenyum dan berkata : "iya kamu, si dora berponi'.  Ah langsung saja semua pemain gamelan jadi tertawa. Ketika istirahat, beberapa pemain dan guru gamelan bilang lihat tingkah laku saya seperti dora, tokoh Dora the Explorer, serial animasi televisi anak-anak dari Amerika Serika.Ah baiklah, karena di sesi sebelumnya saya selalu kerepotan menyelaraskan nada permainan saya dengan pemain gamelan, Maka ketika istirahat sebelum sesi kedua, saya berlatih sendiri memainkan saron. Pemain lain beristirahat menikmati tahu dan pisang goreng, sepertinya ya kedua menu ini adalah menu wajib di grup gamelan Bengawan. 

Intruksi latihan  sesi kedua pun dimulai, saya berdebar-debar, gugup. Saya bilang ke dalam hati saya, kali ini saya harus bisa. Di menit-menit pertama, saya bisa mengikuti, lalu setelah berlanjut, sepertinya saya ketinggalan lagi. Trik yang saya lakukan adalah saya diam sebentar, lalu merasakan nada gendhing dan mencarinya dan ketika saya yakin nada yang saya rasakan pas, saya beranikan diri untuk memainkan saron lagi, tentu saja masih dengan bantuan lembaran kertas yang bertuliskan nada-nada gendhing. Hari ini saya berusaha keras, saya mengulangi lagi. Setelah latihan ditutup, saya mengulang lagi sendiri. Beberapa pemain yang lain berkemas-kemas dan mengembalikan tabuh di kotak. Saya asyik sendiri bermain-main dengan saron, memang ya sangat monokrom, permainan saron rentan menimbulkan kebosanan, jadi ya disadari saja, begitulah permainan. Satu per satu berpamitan pulang, saya sedang memainkan lancaran, terdengar salah satu pemain berteriak, Dora, ayo pulang !

Senin kliwon, 2 januari 2012

4.1.12

2012, Make a Wish On AIR !

Handphone penuh dengan sms ajakan-ajakan perayaan tahun baru, jadi  hari terakhir 2011, sore itu juga saya membatalkan untuk menonton pentas gamelan, lalu slumber party di rumah seorang teman pun saya lewatkan, saya pun juga tidak bergabung dengan teman-teman yang merayakan tahun baru di car free night Slamet Riyadi Solo. lalu, apa mau saya sebenarnya? 
Sebenarnya ingin dirumah saja, tapi tidak semudah itu, karena di malam tahun baru saya harus mengkoordinasi program tahun baru di radio tempat saya bekerja. Maka dengan cinta, saya datang bergabung dengan teman-teman penyiar, ps (production supervisor) dan juga produser. Kami bersiaran bersama, ramai dan seru sekali. Biasanya saya hanya mengurusi keperluan ini itu di balik siaran, maka malam ini pun saya bersiaran kembali. Ah sudah lama sekali tidak bersiaran, malam itu rasanya kupu-kupu hinggap membuat jantung mengembang. Mendengarkan beberapa teman menceritakan mimpi-mimpinya di udara, mendengarkan pendengar yang baik hati berbagi harapan-harapan cantik, membuat malam semakin asyik. 
Berkumpul dengan teman, memainkan mixtape terbaik,bercerita, perayaan tahun baru yang hangat dan sederhana. Tepat pukul 00.00 , kami melaunching id's soloradio terbaru dan tagline untuk bulan januari 2012, DREAM ON, MOVE ON !. Kami bersuka cita mendengarkan sondtrack bulan januari 2012, Seapony- Dreaming, every time i close my eyes, i don't wanna be like everybody else, i don't wanna be stuck on another shelf, whenever I see you, i know my dreams are coming true :)
 Wishing you a new year lost in love and beauty of dreams, DREAM ON, MOVE ON!

Jalan Solo Jalan Sutera

Ketika pertama kali saya melihat poster online di facebook saya langsung tertarik, saya suka bermain-main dengan kain, menurut saya tur mengunjungi toko tekstil india di jalan Solo, Yogyakarta adalah ide yang menyegarkan. Saya segera  menghubungi Elia Nurvista, pengagas tur jalan sutera ini, lalu mendaftarkan diri untuk mengikuti tur pada hari kamis, 29 Desember 2011. Hari itu datang juga, paginya saya mendapat kabar, peserta tur harus berkumpul di depan Giant jam 16.00 WIB. 
 
Beberapa menit sebelum jam 16.00 WIB , saya sudah sampai Giant, lalu jalan-jalan sebentar ke Giant, membeli minuman dan snack untuk bekal. Setelah itu saya keluar, ternyata Elia dan peserta tur sudah berkumpul di depan Giant.  Saya langsung registrasi ulang, membayar sepuluh ribu dan saya mendapatkan slayer cantik berwarna orange dan satu buah buku saku berwarna pink, yang berisi cerita des indes orientalis, sejarah komunitas India di Yogyakarta. Oh ya, Tur Jalan Sutera ini adalah bagian presentasi proyek riset sejarah komunitas India di Yogyakarta yang digagas oleh KUNCI, Cultural Studies Center, Yogyakarta. Kegiatan ini juga bagian dari Parallel Event Biennale Jogja XI.

 
Maka Sore itu, saya dan teman-teman menelusuri jalan sutera, jalan surga bagi pecinta kain. Kami berjalan kaki sambil berbincang ria dengan peserta lain, toko pertama yang kami kunjungi adalah Toko Prima Tekstil yang terletak di jalan Demangan. Ibu Heera Danani, pemilik toko ini menyambut hangat para peserta tur Jalan Sutera, beberapa ada yang menjelajahi surga kain , beberapa ada yang berdiri melingkar, mendengar cerita dari ibu Heera. Ibu Heera  menjelaskan perbedaan kualitas kain sampai tips memilih kain seragam dan merawat kain batik. Kebanyakan konsumen datang ke toko prima untuk mencari bahan kain seragam. Di lantai pertama, saya tertarik dengan telepon kuno yang terletak di dekat tangga, cantik sekali. Karena penasaran dengan lantai dua, saya pun naik, di lantai ini terdapat  Gorden, Sprei, Bed Cover warna-warni, motifnya pun menarik. Nuansa India -Bali sangat terasa di toko Prima Tekstil, dari Interior sampai dengan pilihan kain yang dijual. Oh ya, ada sebuah rahasia yang saya ketahui, karena  kelangkaan kapas di india, maka produksi kain katun dari india pun menurun, maka ibu Heera memilih mengimport kain dari cina, katanya sih kualitasnya juga baik.  
Setelah bermain-main dengan warna-warni kain di toko Prima, saya dan teman-teman berpamitan. AHA! ini dia kejutannya, kami dijemput oleh bapak-bapak tukang becak yang baik hati. Sore-sore naik becak melewati kota, menelusuri jalan Solo, sungguh romantis sekali. Bapak tukang becak yang baik hati  mengantarkan saya dan peserta tur yang lain menuju toko kedua, yaitu toko Rama, yang terletak di Jalan Solo. Tempat tidur besar dengan pilihan bed cover motif warna warni, sofa, wallpaper, Gorden dari  motif modern sampai vintage tersedia lengkap. Bertumpuk-tumpuk katalog sungguh menggoda, ah rasanya tak mau pergi dari toko ini. Pemilik toko, Bapak Jacky menceritakan tentang pelayanan terbaik yang ada di toko ini, dari konsultasi dekorasi ruangan sampai memilih motif yang cocok, dan itu tanpa ada tambahan biaya apapun, jadi konsumen hanya membayar produknya saja. Ketika berdiskusi, ada pertanyaan menarik dari salah satu peserta tur Jalan Sutera, Indra Ameng, Ia bertanya tentang seberapa besar minat konsumen Yogyakarta terhadap motif binatang. Nah ini jawabannya, Motif binatang seperti harimau, ular, naga  sangat digemari oleh konsumen di Yogyakarta.
Setelah dari toko Rama rombongan tur di bagi menjadi dua, karena ada salah satu toko yang ruangannya tidak memungkinkan untuk kedatangan satu rombongan penuh. Saya lanjut ke tur toko india berikutnya, yaitu toko Wijaya. Saya harus menyebrang jalan dahulu untuk sampai ke toko Wijaya. Om dev menyambut kami dengan senang hati, ia bercerita tentang bombay association, yaitu organisasi untuk pedagang kain dari india. Organisasi ini bermanfaat positif untuk pedagang kain, yaitu  mereka bersaing sehat untuk menjalankan bisnisnya. Toko kain Wijaya menjual kain sari atau salwar kameez dan jubah dan toko ini  juga selalu bersedia untuk memberikan saran desain baju yang paling bagus yang tentunya disesuaikan dengan kain dan si pemakai.
Hujan rintik-rintik sore itu, tetapi masih ada toko terakhir yang harus dikunjungi, kami menyebrang jalan lagi menuju toko Parissa. Tokonya tidak terlalu luas, tetapi toko ini menyediakan variasi aneka macam motif kain dari harga termurah sampai termahal. Di toko ini sedang mengobral diskon sampai dengan 70% sampai akhir tahun 2011. Saya duduk santai di kursi toko sambil mengamati beberapa kain dan dikejutkan dengan suara Elia dari sound system toko. Elia sedang mempromosikan produk toko parissa lewat spot audio yang sudah direkam.  Ini merupakan  bagian dari  proyek Audio Sejarah Toko Kain yang dikerjakan oleh tim KUNCI. Istimewanya lagi, selain spot juga memberikan informasi sejarah singkat tentang toko ke  dalam 3 bahasa, yaitu bahasa Indonesia, Jawa dan Inggris. Ternyata ya, selain melalui audio, ada juga proyek sejarah toko di kantong plastik yang di gagas Prihatmoko Catur. Wah sungguh  ini  ide yang bagus !
 
Sudah semakin gelap, kami harus mengakhiri tur, kami berkumpul kembali di toko wijaya, bersantai sebentar dan perfoto ria bersama. Sungguh mengikuti tur Jalan sutera ini seperti menelusuri surga kain  aneka ria yang sungguh istimewa. Dari sound system toko wijaya, sayup-sayup terdengar mantra meditasi khas india, om namah shiva, om namah shivay, om namah shivay. Terima kasih semesta :)