25.12.11

Memoria Setjangkir Kopi Plaja

Aku  kesepian di kereta, pikiran memburuku untuk segera sampai yogya. Memandang langit dari kaca kereta, membuatku bergumam, langit desember sore ini sedih sekali. Kereta berhenti, lalu lintas pikiran orang-orang berdesakan, aku ingin menuntaskan kesepian, keluar dari kereta  diurutan terakhir, berhenti memandang kereta berlalu, mendengar peluit semakin menggebu. Pintu gerbang stasiun sangat megah sekali, di tambah mendung yang bingung. Aku duduk sendiri di depan stasiun, sendiri. Kekasihku lama sekali, sore itu aku patah hati, menunggu lama membuat pikiranku menjadi tersedak. Akhirnya kekasihku datang, energiku menjadi lemah sekali, seperti berwarna abu. Ketika perjalanan menuju kedai kebun, pikiran kami seperti berlarian, tapi kami diam. Pesan pendek dari rekan papermoon membuat kami semakin terburu-buru, kabar yang kami terima bis yang akan mengantarkanku menuju rumah plaja akan segera berangkat. Kekasihku menambah kecepatan kendaraan, kanan kiri berisik sekali.
Lega rasanya ketika sampai di kedai kebun, aku langsung menukar tiket dan mendapatkan sebuah buku cerita yang sangat cantik dan dua kartu pos dari plaja. Setelah itu, seorang awak bis dari Po Lestari mengumumkan bahwa bis akan segera berangkat, semua penumpang masuk bis. Aku duduk di belakang, berada di tengah, kanan kiriku lelaki. Ucapan selamat datang dari pemandu, wulang sunu, berhasil menyulap pikiranku untuk selalu mengikuti apa yang ia ucapkan. Ceritanya antik, ia menceritakan tentang sejarah jalan-jalan menuju rumah plaja. Yang menarik perhatianku adalah dua rumah megah, rumah ini terletak di jalan Tirtodipuran. Si pemandu, wulang bertanya kepada penumpang, adakah yang suka gamelan? Saya tersenyum dan mengacungkan jari, kata si pemandu, konon salah satu rumah itu digunakan untuk latihan gamelan. Oh magis sekali, ingin rasanya suatu saat nanti memasuki rumah itu, merasakan energi masa lalu.
Kurang lebih 10 menit, Bis sampai Plaja, semua penumpang bis disambut dengan hangat oleh pemilik toko barang antik, bernama Jamal. Aku takjub dengan toko ini, energinya hangat sekali. Oh ya, aku memutuskan untuk membeli dompet kecil vintage, bergambar anak-anak oriental yang menggemaskan. Harganya lima ribu saja. Setelah menikmati pesona barang antik, Jamal mengajak kami ke toko selanjutnya, katanya lebih ajaib,aku berjalan di belakangnya bersama teman yang lain.

Pintu dibuka, si pemandu mempersilahkan kami untuk melihat-melihat toko atau duduk juga tak mengapa. Aku langsung jatuh cinta dengan kursi vintage hijau, lalu aku putuskan saja duduk disitu. Rasanya berdebar, seperti ratusan partikel energi masa lalu berkumpul dan menyentuh pundak. Tiba-tiba lampu mati, jamal meminta maaf dan meyakinkan kami untuk duduk yang nyaman dan tenang. Ah iya, lampu redup menyala  di depan, si pemilik rumah datang, seorang perempuan dan seorang lelaki. Mereka menceritakan jalan-jalan yang hilang, atau kira-kira membangkitkan lagi energi yang terendam lama di kotak harta karun. Aku seperti membaca peta, ini kisah seorang lelaki dan seorang perempuan yang berjanji untuk sebuah kehidupan yang membahagiakan. Tetapi tidak semudah itu, berliku. Lelaki itu, Pak wi, ia mendapat tugas dari negara untuk belajar ke rusia. Ia berjanji dengan kekasihnya untuk kembali lagi, hidup bahagia bersamanya. Kisah cinta berlanjut sangat romantis, si lelaki dan si perempuan rajin mengirimkan surat, menceritakan kabar dari dua negara yang berbeda. Ah sungguh menggetarkan jantung. Lagu-lagu pilihan yang digunakan pun sangat berhasil menelpon masa lalu, saya suka sekali dengan orkes kronjtong kemayoran dan cepaka putih ada di pertunjukan ini.

Mala bahaya datang, peristiwa gerakan 30 September 1965 membuat kondisi negara indonesia  tidak baik. Karena Pak wi dikirim ke negara komunis, paspor lelaki itu dicabut oleh pemerintah orde baru, tentu saja ini mengakibatkan kewarganegaraan pak wi dicabut.  Ini horor sekali, suara berita horor dari RRI membuatku ketakutan, dan ketika aku melihat pak wi masuk kotak ditutup lalu dikunci, Aku hampir menangis. Ia tak bisa menghubungi  keluarganya, ia tak bisa menghubungi kekasihnya sampai empat puluh tahun lamanya. Aku bisa merasakan kesakitan yang perih sekali. Selama puluhan tahun itu, pak wi memutuskan untuk tidak menikah, ia setia, ia memenuhi janjinya pada sang kekasih. Selama puluhan tahun itu, cangkir plaja menjadi saksi bisu cerita cinta pak wi dan kekasihnya. 40 tahun kemudian, pak wi berupaya untuk menemui kekasihnya. Pak wi mendapat kabar, kekasihnya sudah berkeluarga dan mempunyai 4  orang cucu. Walaupun begitu, lelaki bernama Pak wi ini berbahagia dan berharap  bisa bertemu dengan kekasihnya itu. Sungguh, menggetarkan jantung. Sekarang Pak Wi bekerja sebagai salah satu ahli Metalurgi di Playa, Havana, Kuba. Ia hidup sendiri.

Salut untuk Ria Papermoon yang sangat sensitif sekali menggambarkan kisah percintaan ini. Terus terang, pertunjukan ini sangat antik, menikmati secangkir kopi plaja seperti menikmati kesadaran penuh cinta, karena cinta itu masih ada, walaupun kopi terasa pahit, kenikmatan pahit begitulah maksimal begitu adanya. Begitulah cinta. Saya jatuh cinta dengan konsep pertunjukan yang sangat vintage ini, menggambarkan kisah percintaan ini di toko barang antik adalah ide brillian. Seperti energi masa lalu berkumpul, partikel-partikel kecil, energi lalu menjadi ruh pertunjukkan ini.



Rabu, 21 Desember 2011

Terima kasih untuk Alfonsus Lisnanto gathi yang sudah mengabadikan kenangan ini:)

3 comments:

Veronika Kusumaryati said...
This comment has been removed by the author.
Veronika Kusumaryati said...

Wah, tulisannya bagus sekali. Aku ingin ke Plaja!!!!!

Tria nin said...

ayo masuk mesin waktu mbak vero, oh ya tahun 2012, papermoon bakal tour ke amerika, jadwal menyusul :)