6.12.11

Gamelan #2 Selasa Legi, Lir-ilir Pelog 6 Pelipur Hati


Selasa legi, saya tidak harus membawa gula-gula yang banyak untuk membuat hari ini terasa legi. Senyuman dan kesadaran hembusan nafas membuat hari ini begitu manis, saya datang latihan gamelan lebih awal, karena saya penasaran untuk mencoba bermain gamelan sendiri, maka ketika beberapa pemain belum datang, saya bermain saron sendiri, saya memilih duduk di sebelah selatan. Alasan yang lain adalah saya hanya bisa mengikuti latihan gamelan hari ini sampai jam  tujuh belas saja, karena jadwal latihan gamelan ini bertabrakan dengan jadwal kegiatan saya yang lain.  
Hari ini shellina tidak datang, maka saya menggunakan saron yang biasanya ia pakai. Dan itu artinya, saya harus siap latihan bersama-sama dengan pemain gamelan yang lain. Bapak Suwarno lalu membagikan kertas berisi nada-nada yang harus kami mainkan, sore ini kami memainkan lir-ilir pelog 6. Ibu Ana meyakinkan saya, pasti saya bisa mengikuti alur pemain gamelan yang lain.
Lir-ilir mulai dimainkan, dan saya mulai memainkan saron sambil membaca nada pelog yang sungguh membahayakan. Berulang kali saya tertinggal dengan pemain yang lain, kebingungan, lalu ibu ana yang baik hati  menunjuk beberapa nada di kertas agar saya cepat mengikuti. Aduh kerepotan sekali, permainan pertama saya memang tidak bagus, berantakan sekali. Karena saya belum bagus bermain saron, kami harus mengulang lagi dari awal. Tarik napas panjang, hembuskan pelan-pelan, saya mengetuk saron, mengamati nada pelog di kertas, pikiran loncat-loncat, oh sungguh begitu sempurna. Saya menyadari keriuhan dalam dada, keriuhan kekhawatiran memainkan saron ditambah pula keriuhan kenangan yang meledak di kepala, sungguh Lir-ilir berhasil mengacak-acak selasa legi . Tidak, saya tidak membutuhkan gula-gula untuk membuatnya permainan ini menjadi semakin manis, dengan kesadaran penuh berisi kekhawatiran saya yakin memainkan saron. Kekhawatiran, keraguan, keingintahuan berjalan begitu adanya saja seiring dengan ketukan-ketukan saron yang saya mainkan. Lir ilir, lir ilir tandure wis sumilir :)         

Selasa Legi, 29 November 2011

1 comment:

Adhy Pratama said...

Hehehe,, sama aku juga suka main saron kok,, tapi nyari yang bisa ngajarin main saron di Bengkulu itu susah