6.12.11

Gamelan #1 Belajar Slendro Manyura, Hari Pertama Belum terbiasa


Pada hari ketiga bulan Sura, jam enam belas kurang lima, saya berjalan kaki menuju rumah di dekat radio tempat saya bekerja, saya mengucapkan salam, bersalaman dengan teman-teman baru, senyuman-senyuman melekat terasa hangat. Atap berwarna coklat bertingkat menjadi pelarian kekhawatiran, apa yang harus saya lakukan untuk pertama kalinya ?
Beberapa orang berdatangan, bersalaman, bersenda gurau sambil menyiapkan beberapa peralatan. Saya duduk di kursi sofa berwarna abu, lalu seorang guru memberi tanda lagu. Saya mengamatinya saja, sendirian, diatas sofa abu. Mata sesekali bermain-main ke jendela kaca, mengamati wajah-wajah senja asyik dengan ketukan-ketukan yang sempurna. Mas Mudji dan Bapak Suwarno lalu meminta saya untuk mengamati permainan saron, saya duduk bersimpuh di dekat pemain saron, namanya shellina, 8 tahun, ia pemain termuda di grup Bengawan Solo ini. Shelli sungguh asyik sekali, ia tanpa ragu-ragu memainkan saron, ia sesekali tersenyum dan berkata kepada saya, "ayo coba, ini gampang!".             
Jam tujuh belas, pemain gamelan memutuskan untuk istirahat sebentar, lalu saya diberi kertas bertuliskan nada-nada, angka-angka yang tidak saya pahami, lalu ibu ana, ibu dari shellina memberi saya petunjuk bagaimana saya memainkannya. Oke, saya harus memainkan gendhing lancaran penghijauan slendro manyura. Di depan saya ada dua jenis saron, yaitu pelog dan slendro. Perbedaannya adalah ada pada nada tangganya.
Slendro,  5  nada per oktaf, yaitu 1 2 3 5 6  dengan interval yang sama atau kalau pun berbeda perbedaan intervalnya sangat kecil. Sedangkan Pelog, ada 7  nada per oktaf, yaitu 1 2 3 4 5 6 7 dengan perbedaan interval yang besar. Oh ya, ketika kita  memainkan pelog, masih dibagi menjadi dua lagi, yaitu Pelog Barang, dan Pelog Bem. Pelog Barang tidak pernah membunyikan nada 1, sedangkan pelog Bem tidak pernah membunyikan nada 7.
Saya diberi tabuh (pemukul) saron, lalu mulailah saya memainkan saron itu. Entah kenapa, tiba-tiba mood saya yang sebelumnya berantakan menjadi begitu bahagia sekali, grogi pergi, yang ada ingin mengetuk saron lebih lama lagi, tangan seperti tidak mau dihentikan. Guru saya bilang, ketika saya mengetuk saron, ketukan saya masih belum pas. Lalu saya mencoba lagi, mencoba lagi, mencoba lagi, dan beberapa pemain tertawa lebar mengamati saya bermain saron, beberapa pemain mengikuti nada-nada yang saya mainkan, beberapa memberikan semangat. Hari pertama latihan yang menyenangkan, Guru saya memberi pesan agar saya rajin datang latihan supaya saya terbiasa memainkan saron. Saya berpamitan dengan semua pemain gamelan, senyum-senyum yang khas membekas, seorang  ibu berwajah sendu menyentuh pundak saya, menyalurkan energi hangat, ia berucap," Hari pertama belum sempurna, tidak apa-apa, karena belum terbiasa". 

Senin kliwon , 28 November 2011             

No comments: