28.12.11

Oleh-oleh dari Plaja


Pertama kali lihat dompet vintage ini saya langsung jatuh cinta, cantik ya? Dompet ini saya dapat di toko barang antik di pertunjukan"setjangkir kopi dari plaja" oleh papermoon puppet theater. Karena saya suka barang-barang vintage, dompet ini langsung saya beli saja, oleh-oleh dari plaja ini sungguh menggemaskan :)

26.12.11

Gamelan #6 Latihan sendiri, Mengulang lagi, Gugur Gunung Aku Jatuh Hati

Rumah berpagar merah masih tutup, padahal jam sudah menunjukkan angka 16 tepat. Lalu seorang satpam keluar, ia langsung membuka pagar dan bilang jika saya mau berlatih gamelan, bisa langsung saja masuk ke ruangan.  Ruangan gamelan masih sepi, tidak seperti biasanya seperti ini. Saya curiga, jangan-jangan hari ini libur, tetapi saya ingin segera mengambil tabuh dan duduk di depan saron dan segera memainkannya. Hari ini saya membawa nada-nada gendhing sendiri, minggu kemarin guru saya mengijinkan saya untuk membawa nada-nada gendhing, jadi saya bisa memahami dirumah. Saya mengulang pelajaran gendhing yang diberikan minggu lalu, saya memainkan lagi lancaran mbok yo mesesm slendro sanga disambung gendhing Pring Jamang. Setelah saya tuntas menyelesaikan satu gendhing, kira-kira jam 16.30, belum ada satupun orang yang masuk, hanya saya yang ada diruangan ini. Melihat alat-alat gamelan tidak dimainkan, ditutup dengan selendang merah rasanya magis sekali. Saya lalu keluar ruangan, menemui bapak satpam, saya bertanya apakah hari ini libur latihan gamelan atau tidak. Bapak satpam tersenyum, ia bilang memang hari ini latihan gamelan diliburkan, tetapi saya boleh-boleh saja latihan sendiri.  Saya mengucapkan terima kasih dan segera masuk keruangan, latihan sendiri. 

Rasanya seru sekali, saya bisa mengulang lagi, memainkan lagi, mencoba lagi, memainkan saron ini begitu mengasyikan, pikiran saya menggoda ayo beli saron sendiri, latihan dirumah sendiri, biar segera lancar bermain. Aduh keinginan ini datang secepat kilat, baiklah saya redam dahulu, sepertinya saya akan menabung untuk membeli saron sendiri, semesta beri petunjuk ya :)  

Ajaibnya, dalam waktu satu jam, saya sudah bisa lancar memainkan lancaran mbok yo mesem tanpa harus mengintip lembaran kertas nada-nada yang berisi angka, rasanya seperti ada getaran hangat, sedikit trance. Saya ingin memainkannya terus sampai maksimal. Setelah berkutat dengan gendhing slendro, saya mencari gendhing pelog untuk dimainkan, ya agar latihan hari ini seimbang. Saya mencari lembaran nada-nada yang berisi gendhing di rak, dan menemukan lancaran gugur gunung pelog barang. Kejutannya adalah ketika saya memainkan gendhing gugur gunung, ketukan-ketukan seperti membentuk partikel-partikel kecil bernama ceria, ah asyiknya. Saya mengulangi memainkan gugur gunung beberapa kali, kurang lebih 30 menit saya sudah bisa memainkan tanpa harus mengintip kertas nada-nada gendhing. Gugur gunung, membuat sore saya begitu hangat, saya duduk bersimpuh dibagian selatan, dekat jendela kaca, senangnya bisa mengintip sinar mentari yang malu-malu akan terbenam. Gugur gunung, cintaku semakin menggunung, aku jatuh hati!

 Senin Pon, 26 Desember 2011

25.12.11

Memoria Setjangkir Kopi Plaja

Aku  kesepian di kereta, pikiran memburuku untuk segera sampai yogya. Memandang langit dari kaca kereta, membuatku bergumam, langit desember sore ini sedih sekali. Kereta berhenti, lalu lintas pikiran orang-orang berdesakan, aku ingin menuntaskan kesepian, keluar dari kereta  diurutan terakhir, berhenti memandang kereta berlalu, mendengar peluit semakin menggebu. Pintu gerbang stasiun sangat megah sekali, di tambah mendung yang bingung. Aku duduk sendiri di depan stasiun, sendiri. Kekasihku lama sekali, sore itu aku patah hati, menunggu lama membuat pikiranku menjadi tersedak. Akhirnya kekasihku datang, energiku menjadi lemah sekali, seperti berwarna abu. Ketika perjalanan menuju kedai kebun, pikiran kami seperti berlarian, tapi kami diam. Pesan pendek dari rekan papermoon membuat kami semakin terburu-buru, kabar yang kami terima bis yang akan mengantarkanku menuju rumah plaja akan segera berangkat. Kekasihku menambah kecepatan kendaraan, kanan kiri berisik sekali.
Lega rasanya ketika sampai di kedai kebun, aku langsung menukar tiket dan mendapatkan sebuah buku cerita yang sangat cantik dan dua kartu pos dari plaja. Setelah itu, seorang awak bis dari Po Lestari mengumumkan bahwa bis akan segera berangkat, semua penumpang masuk bis. Aku duduk di belakang, berada di tengah, kanan kiriku lelaki. Ucapan selamat datang dari pemandu, wulang sunu, berhasil menyulap pikiranku untuk selalu mengikuti apa yang ia ucapkan. Ceritanya antik, ia menceritakan tentang sejarah jalan-jalan menuju rumah plaja. Yang menarik perhatianku adalah dua rumah megah, rumah ini terletak di jalan Tirtodipuran. Si pemandu, wulang bertanya kepada penumpang, adakah yang suka gamelan? Saya tersenyum dan mengacungkan jari, kata si pemandu, konon salah satu rumah itu digunakan untuk latihan gamelan. Oh magis sekali, ingin rasanya suatu saat nanti memasuki rumah itu, merasakan energi masa lalu.
Kurang lebih 10 menit, Bis sampai Plaja, semua penumpang bis disambut dengan hangat oleh pemilik toko barang antik, bernama Jamal. Aku takjub dengan toko ini, energinya hangat sekali. Oh ya, aku memutuskan untuk membeli dompet kecil vintage, bergambar anak-anak oriental yang menggemaskan. Harganya lima ribu saja. Setelah menikmati pesona barang antik, Jamal mengajak kami ke toko selanjutnya, katanya lebih ajaib,aku berjalan di belakangnya bersama teman yang lain.

Pintu dibuka, si pemandu mempersilahkan kami untuk melihat-melihat toko atau duduk juga tak mengapa. Aku langsung jatuh cinta dengan kursi vintage hijau, lalu aku putuskan saja duduk disitu. Rasanya berdebar, seperti ratusan partikel energi masa lalu berkumpul dan menyentuh pundak. Tiba-tiba lampu mati, jamal meminta maaf dan meyakinkan kami untuk duduk yang nyaman dan tenang. Ah iya, lampu redup menyala  di depan, si pemilik rumah datang, seorang perempuan dan seorang lelaki. Mereka menceritakan jalan-jalan yang hilang, atau kira-kira membangkitkan lagi energi yang terendam lama di kotak harta karun. Aku seperti membaca peta, ini kisah seorang lelaki dan seorang perempuan yang berjanji untuk sebuah kehidupan yang membahagiakan. Tetapi tidak semudah itu, berliku. Lelaki itu, Pak wi, ia mendapat tugas dari negara untuk belajar ke rusia. Ia berjanji dengan kekasihnya untuk kembali lagi, hidup bahagia bersamanya. Kisah cinta berlanjut sangat romantis, si lelaki dan si perempuan rajin mengirimkan surat, menceritakan kabar dari dua negara yang berbeda. Ah sungguh menggetarkan jantung. Lagu-lagu pilihan yang digunakan pun sangat berhasil menelpon masa lalu, saya suka sekali dengan orkes kronjtong kemayoran dan cepaka putih ada di pertunjukan ini.

Mala bahaya datang, peristiwa gerakan 30 September 1965 membuat kondisi negara indonesia  tidak baik. Karena Pak wi dikirim ke negara komunis, paspor lelaki itu dicabut oleh pemerintah orde baru, tentu saja ini mengakibatkan kewarganegaraan pak wi dicabut.  Ini horor sekali, suara berita horor dari RRI membuatku ketakutan, dan ketika aku melihat pak wi masuk kotak ditutup lalu dikunci, Aku hampir menangis. Ia tak bisa menghubungi  keluarganya, ia tak bisa menghubungi kekasihnya sampai empat puluh tahun lamanya. Aku bisa merasakan kesakitan yang perih sekali. Selama puluhan tahun itu, pak wi memutuskan untuk tidak menikah, ia setia, ia memenuhi janjinya pada sang kekasih. Selama puluhan tahun itu, cangkir plaja menjadi saksi bisu cerita cinta pak wi dan kekasihnya. 40 tahun kemudian, pak wi berupaya untuk menemui kekasihnya. Pak wi mendapat kabar, kekasihnya sudah berkeluarga dan mempunyai 4  orang cucu. Walaupun begitu, lelaki bernama Pak wi ini berbahagia dan berharap  bisa bertemu dengan kekasihnya itu. Sungguh, menggetarkan jantung. Sekarang Pak Wi bekerja sebagai salah satu ahli Metalurgi di Playa, Havana, Kuba. Ia hidup sendiri.

Salut untuk Ria Papermoon yang sangat sensitif sekali menggambarkan kisah percintaan ini. Terus terang, pertunjukan ini sangat antik, menikmati secangkir kopi plaja seperti menikmati kesadaran penuh cinta, karena cinta itu masih ada, walaupun kopi terasa pahit, kenikmatan pahit begitulah maksimal begitu adanya. Begitulah cinta. Saya jatuh cinta dengan konsep pertunjukan yang sangat vintage ini, menggambarkan kisah percintaan ini di toko barang antik adalah ide brillian. Seperti energi masa lalu berkumpul, partikel-partikel kecil, energi lalu menjadi ruh pertunjukkan ini.



Rabu, 21 Desember 2011

Terima kasih untuk Alfonsus Lisnanto gathi yang sudah mengabadikan kenangan ini:)

Kereta Malam Natal


Saya pulang, kereta membawaku ke solo, Prambanan Express malam itu penuh sekali. Saya membawa tas hitam   dan tas kotak besar berisi christmas ring, di tambah lagi saya juga membawa ranting pohon yang rencananya akan saya hias di kantor. Wow, saya kerepotan sekali membawanya. Ketika perjalanan, saya meletakkan di lantai, jadi tidak terlalu capek untuk membawanya.  Lega rasanya ketika saya sampai stasiun purwosari,tapi eh tapi, masalah datang, pintu kereta rusak, jadi saya harus berjalan ke gerbong lain dengan membawa barang yang banyak, seorang satpam kereta yang baik hati membantu membawakan barang sampai saya turun dari kereta. Lalu bapak satpam berseragam biru mengucapkan kehangatan  .............

Si Satpam  : Hati-Hati dek, Selamat Natal
Saya          : Terima kasih Pak, Selamat Natal

Si Bapak naik kereta, ia melambaikan tangan, senyum mengembang, rasanya terang. Saya berjalan meninggalkan stasiun dengan  jantung mengembang :)

Solo, 24 Desember 2011

19.12.11

Gamelan #5 Senin Legi merah, Lancaran "mbok yo mesem" Slendro 9, Pring Jamang Bergairah

Sebelum latihan gamelan, saya sempat membaca kalender, saya penasaran saja dengan  tanggal jawa hari ini, saya tersenyum sendiri ketika menemukan legi di 19 desember ini, oh ya HRD di kantor sampai menegur, menanyakan keadaan saya, apakah saya baik atau tidak? Oh secepat kilat, saya merespon pertanyaan itu, yes, i'm fine! the sweet monday, i love it!
Senin legi,  mendekati pukul enam belas, berjalan kaki menuju rumah gamelan, mematikan handphone. langsung mengambil tabuh, segera mengambil nada-nada gendhing di rak dan berlatih gamelan sendirian, saya mengambil gendhing acak dan mendapatkan ladrang kalongking pelog 6. Mencoba beberapa kali bermain saron, mencoba lagi, mencoba lagi, mencoba lagi, saya asyik sendiri. Hingga, guru saya, mas Mudji memberi kode ke saya agar segera berhenti, karena latihan gamelan bersama segera dimulai.
Mas Mudji memberikan lembaran berisi nada-nada gendhing baru, hari ini saya dan pemain gamelan yang lain memainkan ladrang "mbok yo mesem" slendro 9 dilanjutkan dengan lagu Pring jamang. Di hari ke 5 saya berlatih gamelan, saya sudah bisa mengikuti alur dari guru, jadi tidak kerepotan untuk mengikuti nada yang dimainkan. Ah senang sekali, rasanya ingin memainkan saron ini terus, tanpa berhenti.
Ketika berlatih ladrang "mbok yo mesem" semua pemain seperti terbang , melayang, ceria mengembang, aura rumah gamelan menjadi begitu cerah meriah. Saya ketagihan memainkan saron, ketika giliran mengetukan nada gendhing Pring jamang, saya mengulang-ngulang terus,saya menjadi bergairah untuk memainkan saron,  karena kecepatan ketukan membuat saya harus lebih berkonsentrasi. Ji ro ji ji ro ji nem mo mo nem mo mo nem mo mo nem mo nem ji, 121 121 65 565 565 61, ini baru baris pertama ya :) , memainkan gendhing ini dengan cepat dan harus harmonis dengan pemain yang lain adalah tantangan yang mendebarkan. Ya, ketika kami berhasil memainkan gendhing ini, kami bersorak ria, rasanya bahagia sekali.  Menikmati  teh hangat  dan berbincang riang membuat saya semakin lekat dengan pemain gamelan yang lain. Ketika saya pulang, Mas Mudji menyarankan agar saya membawa kertas-kertas Gendhing, sehingga saya bisa memahami dirumah. Saya senang, latihan gamelan 2 jam membuat saya begitu rileks, saya tidak merasa lelah, hari ini menjadi cerah. Kertas-kertas berisi nada gendhing saya simpan di map merah, saya menemukan map ini tak sengaja di kantor. Wah teks-teks beterbangan, seperti semesta menelpon, senin legi merah, senin legi merah, senin legi merah, pring jamang bergairah :)

Senin Legi, 19 Desember 2011

18.12.11

Cerita Prambanan Express #2

Saya kira saya telat, saya tergesa-gesa masuk ke stasiun lempuyangan,  karena menurut jadwal kereta api prambanan express akan berangkat pukul 16.16, eh ternyata ini jam 16.22 belum berangkat juga. Masalah klasik, weekend prameks pasti penuh, aduh!
Lalu saya naik kereta, tidak dapat tempat duduk, yasudah berdiri saja, baiklah pukul 16.38 menit, kereta akhirnya berangkat juga. Aduh, saya terhimpit di dekat pintu, sedangkan beberapa orang duduk-duduk, malah ada satu keluarga yang kedua anaknya tiduran di kereta. Saya duduk pun tak bisa, oh terhimpit. Kereta berhenti sebentar di stasiun maguwo, kereta sudah penuh, eh ditambah penumpang lagi. Ah, bergerak jadi susah. Ada lelaki berkemeja garis-garis menarik saya, pindah saja, "nanti kamu terjepit pintu", begitu katanya. Hah? saya bergerak pun susah. Karena pengertian beberapa orang, mereka membantu saya menuju ke dalam kereta, akhirnya saya berdiri di batas gerbong, keadaan lumayan, daripada tadi di dekat pintu, saya terhimpit, karena penumpang sungguh membludak, oh weekend membuat kereta pramexs penuh telak. Ada tiga ibu-ibu dan ketiga anaknya duduk di kursi di dekat saya, sedangkan saya berdiri menghadap ke timur. Ketiga ibu-ibu ini sedang asyik berbincang,  

Ibu satu : kemarin nilai raport anakku lumayan, untung ya aku  ikutin dia les
Ibu dua : les dimana bu?
Ibu satu : bu asma, tapi yo, kelemahannya bahasa inggris anakku itu lho nggak bagus, padahal ya udah les juga
Ibu tiga : kenapa harus les tho bu? kalau saya beli poster gambar-gambar yang tulisannya bahasa inggris -indonesia saja, saya pasang di kamarnya, kalau malam saya suruh baca dia (ibu ini sambil mengelus rambut anaknya yang tidur disampingnya)   
Ibu satu : Ga ada waktu bu buat ngajarin, kalau dah pulang kerja capek, ya mending di lesin saja
Ibu dua : kalau les malah nambah  biaya juga ya bu? boros nanti malah
Ibu satu : kalau buat anak, apapun bu aku lakuin
Ibu tiga : yang penting khan bukan masalah les atau nggak, yang penting kita ada waktu buat nemenin, ngawasin belajar
Ibu dua : inggih bu, leres niku

Ibu tiga diam saja, ia memandang jendela cukup lama, lalu yang terdengar suara batuk-batuk, tangis bayi bercampur deru kereta.

Sabtu, 17 Desember 2011

Cerita Prambanan Express #1

Jum'at yang padat, kereta api prambanan express sore pun sungguh padat, jadi ya penumpang berdesak-desakan, saya berdiri menghadap ke utara, di depan saya ada seorang bapak berwajah oriental dengan dua anak-kecil, anak laki-laki usianya sekitar 4 tahun dan  anak perempuan usianya sekitar 7 tahun. Selama perjalanan kedua anak ini tidak berisik, mereka pendiam. Ketika di daerah klaten, si anak kecil minta susu, si bapak ini segera membuka tas, tetapi ia agak kerepotan, karena tempat duduk yang sempit berdesak-desakan. Lalu ada seorang perempuan berjilbab tiba-tiba memangku anak kecil yang laki-laki. Oh ya, sepertinya mereka tidak begitu mengenal, karena si bapak dan anak tadi kaget. Si perempuan tadi bilang hanya ingin membantu agar si anak tidak terjepit, lalu terjadi perbincangan seperti ini :

Si Bapak        : anak ini namanya prince, mbak kuliah di yogya?
Si Perempuan : iya pak, di ugm
Si Bapak        : ooo, ngambil apa?
Si Perempuan : kedokteran pak
Si Bapak        : Saya punya anak kembar, dua-duanya dokter, tapi lulusan undip dan atmajaya jakarta, ini mamanya anak-anak ini.
Si Perempuan : sekarang tugas dimana pak?
Si Bapak        : yang satu di Yogya, satunya di Samarinda, adek aslinya mana?
Si Perempuan : saya banjarmasin pak
Si Bapak        : Mau ambil spesialisasi apa nanti?
Si Perempuan : rencananya mau nerusin S2, pengen jadi dosen
Si Bapak        : ooh ya ya ya 

Si Bapak dan kedua cucunya tadi turun di stasiun lempuyangan, Sedangkan si perempuan berjilbab turun di stasiun Tugu. Si Perempuan tadi berjalan terburu-buru, hingga menyenggol tas biru  yang saya pegang, saya jalan santai, mengamati ia yang berlarian bingung, seperti ia mencari-cari seseorang atau sesuatu, ya begitu :)

Jum'at, 16 Desember 2011

Membongkar Harta Karun Toko Merah

Toko Merah, saya tidak ingat sudah berapa kali saya datang kesini, yang saya ingat dengan pasti, toko merah ini surga, menyimpan harta karun yang luar biasa. Saya pernah mendapatkan buku harian vintage yang aduhai, kertas surat 90an,  dan aneka alat tulis yang menawan. Oh ya, toko merah ini terletak di Jl Affandi, Gejayan, Yogyakarta. Sabtu kemarin, saya datang kembali ke surga toko merah, saya begitu menyukai aroma buku yang begitu khas. Lantai dua adalah tempat persembuyian saya. Saya sangat ketagihan menelusuri peta harta karun di toko merah.Walaupun rak-rak berdebu, saya tetap semangat membongkar-bongkar tumpukan beraneka buku, sungguh menyenangkan sekali. Aha! Senang bukan kepalang, ketika saya menemukan buku harian bermotif vintage, langsung saya mengambil 6 buku. Oh sungguh terkejut, ternyata satu buku harganya lima ratus saja. Sepertinya buku harian ini sudah mendekam lama di rak toko merah  ini, telapak tangan saya sampai hitam, kena debu, tapi tak apa ya, sungguh mengasyikan sekali. Jadi, saya pulang dengan jantung mengembang, harta karun telah ditemukan, 6 buku harian di tangan. Hai-hai buku harian  vintage yang cantik, mari kita mulai petualangan yang asyik!

15.12.11

Gamelan #4 Ladrang rujak jeruk slendro sanga, aku ewa

Sepertinya alarm ditubuh saya  bekerja dengan baik, saya  tidak perlu membutuhkan mesin alarm  yang selalu mengingatkan untuk melakukan sesuatu kegiatan. Mendekati pukul enam belas, saya mematikan laptop, lalu segera berjalan kaki menuju rumah hangat, tempat biasanya saya berlatih gamelan. Hari ini saya duduk disamping shellina, tentu saja saya masih belajar memainkan saron. Setelah mendapat nada gendhing dan membaca judulnya, pikiran bekerja lebih cepat dari ketukan :) . Saya membayangkan semangkok rujak, isinya jeruk, sambalnya banyak. Lalu saya membaca mantra ketukan-ketukan ladrang, deretan nostalgia yang berbahaya menyerang, rasanya seperti saya berendam dalam semangkok rujak, berisi jeruk, sambalnya banyak. Rasanya latihan hari ini seperti itu, saya mengamati shellina, lalu mencoba main sendiri, lalu saya bermain dengan pemain yang lain.  Istirahat tiba, dua piring pisang goreng dan teh hangat diputar. Saya masih berlatih saron, memainkan ladrang rujak jeruk. Saya minum teh hangat, setelah itu  mendapat nada gendhing berjudul "Aku ewa". Saya sibuk dengan pikiran saya sendiri , semangkok rujak dengan sambal yang banyak, menghabiskan ketukan sampai pukul delapan belas, bergumam kelam, aku ewa!

Senin wage, 12 Desember 2011

White Koffie




I drink coffee all day long! Doesn't matter what time of day it is, I drink coffee and now my favorite coffee to drink is White koffie. I'm so addicted to this coffee! Happy coffee day to you!

Kalender Kayu


Saya duduk di kursi, ibu sedang menjahit baju. Entah kenapa tiba-tiba saya berkata kepada ibu, saya ingin kalender kayu. Kalender kayu yang akan saya letakan di meja kamar, disamping tempat tidur. Perbincangan ini terjadi di bulan Juni, bulan manis yang begitu saya sukai. Di minggu kedua bulan desember, sesuatu yang ajaib terjadi, sepulang dari kerja saya terkejut melihat kalender kayu di meja kamar. Ibu yang meletakkan kalender kayu itu di kamar, sungguh ayu. Tadi pagi, saya mengganti angka kalender, angka-angka berhamburan seperti pikiran,  rasanya  mengembang, senang :)

8.12.11

New York City Jail

The greatest thing happened:  my friend, yogiswara,  gave me this t-shirt, thank you so much yogi, I'm wearing it Now!

6.12.11

Gamelan #3 Hujan Deras, Gendhing Jahe Wana, Nglaras

Hujan deras, pikiran deras, tidak ada payung atau jas hujan, saya berlari menuju rumah tua, tempat saya berlatih gamelan . Ini hari ketiga saya berlatih gamelan, walaupun hujan deras, tidak membuat saya malas. Sampai di rumah grup bengawan solo, dengan baju yang sedikit basah, saya mengintip ruang latihan, oh ternyata belum ada yang datang. Jadi ya, saya latihan sendiri dulu saja. Hujan deras, pintu saya buka, dan saya memainkan saron, ketukan-ketukan saron bercampur dengan suara hujan, sungguh menawan. 
Jam enam belas lebih beberapa menit, teman-teman pemain gamelan mulai berdatangan, mereka lalu berkumpul di tengah, tidak seperti biasanya, mereka tidak langsung mengambil tabuh (pemukul) gamelan, tetapi membagikan lembaran-lembaran kertas yang berisi nada-nada gendhing. Grup gamelan Bengawan Solo akan pentas tanggal 9 Desember 2011 nanti , jadi mereka menyiapkan beberapa gendhing yang akan dimainkan. 
Saya menghentikan permainan saron, lalu seorang ibu datang  memberikan  lembaran kertas bertuliskan nada-nada  gendhing jahe wana, ketika mereka rapat, saya berlatih lagi, memainkan gendhing jahe wana. Ah, perut yang lapar mulai berteriak keras, mau membalas pesan pendek ke teman, tapi gagal terus, mungkin satelit sedang mengaduh kesakitan. Handphone saya matikan, perut saya yang lapar berulah, sungguh payah. Kesadaran kelaparan, satelit sakit ditambah ketukan saron gendhing jahe wana, sungguh rasanya magis sekali. Seperti tersesat, sakit, tapi ada kesejukan yang lewat yang membuat dada menjadi semakin hangat. Nglaras.       
Senin Pahing, 5 Desember 2011

Gamelan #2 Selasa Legi, Lir-ilir Pelog 6 Pelipur Hati


Selasa legi, saya tidak harus membawa gula-gula yang banyak untuk membuat hari ini terasa legi. Senyuman dan kesadaran hembusan nafas membuat hari ini begitu manis, saya datang latihan gamelan lebih awal, karena saya penasaran untuk mencoba bermain gamelan sendiri, maka ketika beberapa pemain belum datang, saya bermain saron sendiri, saya memilih duduk di sebelah selatan. Alasan yang lain adalah saya hanya bisa mengikuti latihan gamelan hari ini sampai jam  tujuh belas saja, karena jadwal latihan gamelan ini bertabrakan dengan jadwal kegiatan saya yang lain.  
Hari ini shellina tidak datang, maka saya menggunakan saron yang biasanya ia pakai. Dan itu artinya, saya harus siap latihan bersama-sama dengan pemain gamelan yang lain. Bapak Suwarno lalu membagikan kertas berisi nada-nada yang harus kami mainkan, sore ini kami memainkan lir-ilir pelog 6. Ibu Ana meyakinkan saya, pasti saya bisa mengikuti alur pemain gamelan yang lain.
Lir-ilir mulai dimainkan, dan saya mulai memainkan saron sambil membaca nada pelog yang sungguh membahayakan. Berulang kali saya tertinggal dengan pemain yang lain, kebingungan, lalu ibu ana yang baik hati  menunjuk beberapa nada di kertas agar saya cepat mengikuti. Aduh kerepotan sekali, permainan pertama saya memang tidak bagus, berantakan sekali. Karena saya belum bagus bermain saron, kami harus mengulang lagi dari awal. Tarik napas panjang, hembuskan pelan-pelan, saya mengetuk saron, mengamati nada pelog di kertas, pikiran loncat-loncat, oh sungguh begitu sempurna. Saya menyadari keriuhan dalam dada, keriuhan kekhawatiran memainkan saron ditambah pula keriuhan kenangan yang meledak di kepala, sungguh Lir-ilir berhasil mengacak-acak selasa legi . Tidak, saya tidak membutuhkan gula-gula untuk membuatnya permainan ini menjadi semakin manis, dengan kesadaran penuh berisi kekhawatiran saya yakin memainkan saron. Kekhawatiran, keraguan, keingintahuan berjalan begitu adanya saja seiring dengan ketukan-ketukan saron yang saya mainkan. Lir ilir, lir ilir tandure wis sumilir :)         

Selasa Legi, 29 November 2011

Gamelan #1 Belajar Slendro Manyura, Hari Pertama Belum terbiasa


Pada hari ketiga bulan Sura, jam enam belas kurang lima, saya berjalan kaki menuju rumah di dekat radio tempat saya bekerja, saya mengucapkan salam, bersalaman dengan teman-teman baru, senyuman-senyuman melekat terasa hangat. Atap berwarna coklat bertingkat menjadi pelarian kekhawatiran, apa yang harus saya lakukan untuk pertama kalinya ?
Beberapa orang berdatangan, bersalaman, bersenda gurau sambil menyiapkan beberapa peralatan. Saya duduk di kursi sofa berwarna abu, lalu seorang guru memberi tanda lagu. Saya mengamatinya saja, sendirian, diatas sofa abu. Mata sesekali bermain-main ke jendela kaca, mengamati wajah-wajah senja asyik dengan ketukan-ketukan yang sempurna. Mas Mudji dan Bapak Suwarno lalu meminta saya untuk mengamati permainan saron, saya duduk bersimpuh di dekat pemain saron, namanya shellina, 8 tahun, ia pemain termuda di grup Bengawan Solo ini. Shelli sungguh asyik sekali, ia tanpa ragu-ragu memainkan saron, ia sesekali tersenyum dan berkata kepada saya, "ayo coba, ini gampang!".             
Jam tujuh belas, pemain gamelan memutuskan untuk istirahat sebentar, lalu saya diberi kertas bertuliskan nada-nada, angka-angka yang tidak saya pahami, lalu ibu ana, ibu dari shellina memberi saya petunjuk bagaimana saya memainkannya. Oke, saya harus memainkan gendhing lancaran penghijauan slendro manyura. Di depan saya ada dua jenis saron, yaitu pelog dan slendro. Perbedaannya adalah ada pada nada tangganya.
Slendro,  5  nada per oktaf, yaitu 1 2 3 5 6  dengan interval yang sama atau kalau pun berbeda perbedaan intervalnya sangat kecil. Sedangkan Pelog, ada 7  nada per oktaf, yaitu 1 2 3 4 5 6 7 dengan perbedaan interval yang besar. Oh ya, ketika kita  memainkan pelog, masih dibagi menjadi dua lagi, yaitu Pelog Barang, dan Pelog Bem. Pelog Barang tidak pernah membunyikan nada 1, sedangkan pelog Bem tidak pernah membunyikan nada 7.
Saya diberi tabuh (pemukul) saron, lalu mulailah saya memainkan saron itu. Entah kenapa, tiba-tiba mood saya yang sebelumnya berantakan menjadi begitu bahagia sekali, grogi pergi, yang ada ingin mengetuk saron lebih lama lagi, tangan seperti tidak mau dihentikan. Guru saya bilang, ketika saya mengetuk saron, ketukan saya masih belum pas. Lalu saya mencoba lagi, mencoba lagi, mencoba lagi, dan beberapa pemain tertawa lebar mengamati saya bermain saron, beberapa pemain mengikuti nada-nada yang saya mainkan, beberapa memberikan semangat. Hari pertama latihan yang menyenangkan, Guru saya memberi pesan agar saya rajin datang latihan supaya saya terbiasa memainkan saron. Saya berpamitan dengan semua pemain gamelan, senyum-senyum yang khas membekas, seorang  ibu berwajah sendu menyentuh pundak saya, menyalurkan energi hangat, ia berucap," Hari pertama belum sempurna, tidak apa-apa, karena belum terbiasa". 

Senin kliwon , 28 November 2011