15.11.11

kopi sendiri, handphone sementara mati, jalan kaki #Minimalistday

Orang-orang  berlalu lalang, mengetik, berbincang, tertawa, suara musik di radio, duduk di depan komputer,  ini hanyalah gambaran suasana di kantor saya bekerja, pukul 14.00 lebih entah, saya mengambil cangkir terbaik saya, mengisi kopi dan air panas, mengaduknya, lalu saya mengambil kursi hijau, saya letakkan di pojok kantor, saya duduk sendiri. Saya memegang kopi yang panas, belum meminumnya, pikiran merespon beberapa gerakan-gerakan yang saya lihat di depan saya, orang berjalan, berbincang, duduk di depan komputer, menelpon, berjalan lagi, menutup pintu. Seper sekian detik, saya tersadar pikiran saya terseret oleh rangsangan indra penglihatan saya, saya tersadar dengan kopi panas yang saya bawa. Menghirup napas adalah tindakan yang sederhana, kesadaran sederhana. Saya mengaduk kopi pelan, melihat air coklat, sendok besi, kesadaran mengaduk, mengamati kopi begitu adanya saja, meletakkan sendok di meja, pikiran saya tergoda menanggapi pikiran orang berjalan, sungguh pikiran ini seperti monyet loncat-loncat, saya duduk kembali, mengamati kopi, mengamatinya tanpa komentar apapun. Saya minum, saya rasakan mengalir ke dalam tenggorokan, saya kembali duduk, yang ada si aku dan si kopi, begitu saja. Kesadaran sederhana, bukan melamun, bukan lamunan.

Saya melanjutkan aktivitas sampai dengan pukul 17.00 WIB, Kemudian pukul 17.10 WIB saya memutuskan untuk jalan kaki, melepas sepatu saya, jalan kaki hari ini tanpa alas kaki. Handphone sengaja saya matikan sementara. Memutuskan keluar kantor, pikiran bergerak cepat merespon indra penglihatan, penciuman, perasa yang bekerja sangat cepat sekali. Saya berjalan saja, mengamati langkah kaki bergerak, kaki kiri maju, kaki kanan maju, mengamati napas begitu adanya saja, kesadaran begitu adanya saja. Saya sadar ketika melakukan meditasi jalan, apalagi di luar ruangan, sunggu sangat berat sekali. Rangsangan dari luar begitu banyak menyerang pikiran ditambah rangsangan bergeraknya pikiran itu sendiri. Ya, keramaian itu tidak saya lawan, saya mengamati begitu adanya saja. Hari ini saya menuju ke taman balekambang, orang-orang pulang dari taman, saya datang. Taman Balekambang cukup sepi, saya berjalan kaki, mengamati kesadaran melangkahkan kaki mengelilingi taman. Burung-burung berkicauan, rusa-rusa belarian, suara angin menjadi sangat jelas, suara tokek begitu jelas, suara gerak ikan di kolam, semuanya menyerang pikiran, saya berdiri cukup lama, mengamati begitu adanya saja, menyadari sederhana, ini bukan melamun, bukan lamunan. Sebuah kesadaran begitu adanya saja. Menikmati keheningan, mengamati keheningan, menyadari keheningan. Berjalan-jalanlah ke  taman, mengamati keriuhan, mengamati kedamaian, tinggalkan sebentar mesin atau alat teknologi. Mulailah segera :)

Oh ya , jam 19.00 WIB  saya ada janji bertemu dengan seorang teman di lily bistro, karena jarak yang cukup dekat dari kantor, saya memutuskan untuk jalan kaki saja, disamping bisa menghemat bensin, saya juga bisa meditasi jalan kaki. Sungguh hal-hal minimalis  membuat hari ini begitu manis. Saya jadi teringat sebuah Quote dari  Lao Tzu : Be Content with what you have; rejoice in the way things are. When you realize there is nothing lacking, the whole world belongs to you. Bagaimana dengan teman-teman ? Mau Mencoba?

No comments: