10.11.11

figlio di memoria


Akhir-akhir ini ingatan masa kecil saya menjadi semakin jelas, saya teringat bagian-bagian yang hilang, warna baju, topi, permen, seperti film lama yang lama mengendap dalam rak, saya ambil, saya tonton sendirian. Kemarahan, senyuman, putus asa, kehilangan, warna-warni langkah kaki, mengulang sendiri. Saya akan mencoba merekam bagian-bagian yang saya ingat, figlio di memoria.

Tahun 1991, Sore itu, ayah  mengajak saya berekreasi. Pada hari minggu, setelah saya selesai menyelesaikan PR Matematika,  saya bilang ke ayah, saya akan memakai dress cantik warna ungu dengan hiasan pita mawar, dress ini pemberian bibi, saya jatuh cinta dengan dress itu. Lalu saya bertanya, apakah kita akah pergi dengan vespa yah? Ayah saya menggeleng, lalu ayah mengeluarkan sepeda onthel milik kakek saya. Saya duduk di belakang, kekhawatiran hilang, jantung mengembang. Setelah pulang dari sepedaan, ibu akan memandikan saya, saya baru sadar pita mawar hilang, saya kecewa, tapi tidak menangis,ada yang tidak lengkap, ada yang hilang, rasanya mungkin seperti patah hati yang sempurna.

Tahun 1991, bulan maret. Rumah saya menjadi risuh, tetangga berdatangan. Saya duduk di samping rumah sendirian, main masak-masakan. Saya tidak boleh masuk ke kamar ibu waktu itu. Saya sedih sekali, saya main masak-masakan sendiri, saya mengencangkan volume suara yang keras, tapi tidak ada yang memperhatikan. Suara tangisan datang dari kamar ibu, saya mendengar dengan jelas, tapi bukan suara tangisan ibu, suara tangisan asing, suara bayi, orang-orang bersuka cita menyambut kelahiran catur, adik saya. Tapi saya asyik main-main masak-masakan, menggoreng batu,  di samping rumah, sendiri.

Kelas 2 SD, tahun 1992. Saya, kakak, adik  dan ibu  di rumah. Lalu ada tetangga yang memberi kabar, bahwa tetangga sebelah rumah akan melahirkan. Lalu  Ibu bilang  agar saya, kakak dan adik dirumah saja. Ibu akan menjenguk tetangga. Kakak asyik bermain dengan adik, entah kenapa waktu itu saya membuntuti ibu. Masuklah ke dalam rumah, pintunya berwarna coklat muda. Semakin masuk kedalam ruangan, meledaklah saya, saya takut, saya melihat darah mengalir, darah yang sangat merah. Saya menangis kencang, Ibu kaget sekali melihat saya dirumah itu, Ibu menutup mata saya, menggendong saya pulang ke rumah. Beberapa jam setelah itu, terdengar ayat-ayat al-quran di putar, orang-orang berdatangan, upacara pemakaman untuk bayi yang tak pernah saya tahu namanya, saya seperti diserang balon-balon gelap, banyak sekali, ibu menggendong saya, saya sembunyi di balik bahu ibu, sendiri.

1993, Pagi itu saya ingin sekali berangkat ke sekolah lebih awal, karena saya ada jam piket pagi membersihkan kelas. Hore... saya adalah orang yang pertama kali masuk ke kelas 3 tercinta, ketika saya akan mengambil sapu, teman piket saya  bernama Tari masuk kelas. Dia menganjurkan saya mengangkat kursi ke atas meja, agar kami lebih mudah menyapu kelas. Baiklah saya mencoba mengangkat kursi, sedangkan Tari hanya melihat saja. Badan saya sangat kecil, saya tak bisa menahan beban kursi, jatuhlah saya ke lantai, saya kesakitan kejatuhan kursi. Punggung saya sakit sekali, Tari teriak-teriak. Saya menangis, lalu penjaga sekolah menghampiri, Penjaga sekolah mengantarkan saya pulang, Ibu membawa saya ke Puskesmas terdekat, hari itu saya tidak jadi sekolah, saya meringkuk di kamar sendiri, Hari itu saya sangat membenci Tari, saya menggambar tari di dinding kamar, lalu mencoret-coret mukanya, saya puas sekali.

1994. Cawu 3. Saya bilang ke ayah, saya menginginkan sepeda mini warna merah. Ayah mengiyakan, tetapi dengan satu syarat, saya harus mendapat rangking 1. Maka saya pun menyetujui persyaratan itu, setiap hari saya belajar, mengerjakan soal, membaca, saya yakin sekali bisa mendapatkan sepeda warna merah. Saya menggambar sepeda mini, lalu saya warnai merah, saya tempel di lemari kamar saya, saya lingkari gambari itu. Di sekeliling lingkaran itu, saya tulis angka 1 banyak sekali, Hahaha jika teringat kejadian itu sangat menggelikan. Di hari sabtu pada bulan juni, hari penerimaan raport membuat saya penasaran. Saya tidak ikut ke sekolah, kira-kira jam 10 pagi lebih entah, ayah pulang ke rumah memberikan raport bersampul biru. Deg deg deg deg deg saya buka raport, saya teriak, sepeda mini  merah, sepeda mini merah, sepeda mini merah. Ah rasanya seperti balon-balon warna warni menabrak tubuh saya. Sore yang cerah, sepeda mini merah sudah ada dirumah, sore itu langsung saya sepedaan keliling kampung, saya dikejar balon-balon warna warni.

1994. Saya senang sekali meminjam buku di tempat persewaan di Pareanom Kartasura. Dari Donald Bebek, Mickey Mouse, Doraemon, Lima Sekawan dan lainnya. Jarak yang cukup jauh pun saya tempuh, saya naik sepeda sendiri menuju kartasura , kira-kira 1 jam. Sampai di Pareanom, saya tertarik dengan buku cerita Lima Sekawan, Rawa Rahasia. Saya pinjam buku itu. Pulang dengan hati senang. Tapi Malang, Tiba-tiba hujan menghantam, saya tidak bawa jas hujan. Oh ya plastik yang membungkus buku cerita lima sekawan tidak cukup besar, kecil, bocor lagi, kabar tidak baiknya adalah buku yang saya pinjam basah karena hujan. Sampai rumah, saya mencoba untuk mengeringkan, bisa sih, tapi tidak sempurna, karena buku jadi rusak. Sedih sekali, seminggu setelah itu, saya mengembalikan buku ke Pareanom, saya meminta maaf karena kehujanan buku jadi rusak, waktu itu saya mau membayar denda. Pemilik persewaan tersenyum, Ia tidak memberikan denda kepada saya, sungguh waktu itu saya meluap,senang sekali.

1995, Setelah pulang dari sekolah, saya minta ijin ke ibu, saya akan belajar kelompok ke rumah Yuli. Ibu pun mengijinkan saya, saya terburu-buru, tak sengaja saya menyenggol gelas minum saya, gelas saya pecah. Ibu bilang tidak usah dibereskan, ibu mau membersihkan, saya mencium tangan ibu, saya terburu-buru, langsung naik sepeda,  kemudian menjemput teman saya Rohmah. Saya memboncengkan Rohmah, oh ya sebenarnya hari itu saya dan teman-teman mempunyai skenario jahat, saya sengaja berbohong ke ibu. Hari itu saya tidak belajar kelompok di rumah Yuli. Saya, Maryam, Rohmah, Yuli dan Zani bermain-main ke waduk, kami naik perahu, kami bermain air, kami sangat senang sekali waktu itu. Pukul 4 sorean, saya dan rohmah memutuskan pulang, tapi lewat jalan yang berbeda. Tiba-tiba seperti kami terjun, seperti balon-balon hitam menabrak tubuh saya. Saya terbangun di sebuah rumah kecil, berlumuran darah, bapak tua disamping saya bilang, untung saya tidak masuk jurang. Kepala saya berat, bibir saya luka berdarah, hidung saya berdarah, saya menangis, orang-orang disamping saya hanya melihat. Ada anak kecil berbaju biru mendekati saya, ia bilang pernah lihat saya, ia bilang  bahwa ayah saya bekerja di smp tempat dia bersekolah. Saya di bawa ke rumah sakit, setelah 1 jam lebih, Ayah dan Ibu saya baru datang. Saya memegang tangan ibu kuat sekali, saya menangis, meminta maaf, sebenarnya sore itu saya tidak belajar kelompok, tapi saya bermain dengan teman-teman. Ibu tidak berkata apa-apa, Ibu mencium pipi saya, lembut sekali.

Saya tahu, hari itu saya pasti  menangis, saya tahu hari itu saya pasti  sedih sekali. Saya tahu, hari itu saya akan tumbang. Sehari sebelum hari itu, saya dan andrief naik pohon di depan perpustakaan sekolah, saya mengajari andrief bernyanyi indung-indung.

Ria, besok, Andrief mau pindah.

Pagi itu saya tidak mau sarapan, saya membayangkan semuanya menjadi cukup lambat, saya masuk kelas, melihat Andrief dari balik jendela, ia bermain  kelereng di samping kelas. Bel berbunyi, kami berdoa, Ibu Andrief datang, Andrief ke depan kelas, Ia berpamitan akan pindah rumah dan sekolah. Saya menyembunyikan muka,  saya tidak mau memandang Andrief. Saya tidak menangis, tapi ada kegelisahan, patah. Ia pernah menunggu saya di depan masjid, ketika saya belajar mengaji. Ia mengirimkan bingkisan kue ketika keluarganya merayakan natal. Ia pernah mendengarkan saya bernyanyi indung-indung, ia meminta saya untuk mengajari ia menyanyikan indung-indung. Andrief menyalami teman-temannya, lalu sampai juga ke meja nomor dua, ia menghampiri saya, saya linglung. Sampai sekarang saya tidak tahu ia dimana, Andrief Santo gorgapov, semoga dalam keadaan baik.      

Saya tidak ingat, ini terjadi pada tahun berapa. Yang saya ingat, saya memakai baju hijau garis-garis, lalu topi bundar berwarna putih, Ayah saya mengajak ke ladang milik kakek. Hari itu sangat panas sekali, bayangan tubuh saya sangat jelas, saya meloncat-loncat mencoba menginjak bayangan saya, tapi tak pernah berhasil. Saya marah, lalu menarik-narik tumbuhan wijen, Ayah saya berteriak, TRIAAAAAAAAA, jangan begitu.
Saya tahu Ayah saya marah besar, ia tak pernah memanggil saya dengan sebutan itu. Ayah saya selalu memanggil saya dengan sebutan Ria, Saya tahu, Ayah marah besar.  

Kira-kira kelas 2 SD, saya bermain dengan kakak saya dan teman-teman sepermainan kakak saya, Di geng itu saya paling muda dan saya perempuan sendiri, mereka menyebut saya pupuk bawang. Kami mempunyai rencana jahat untuk mengambil tebu di perkebunan tebu belakang rumah. Kami senang sekali, kami mendapatkan tebu yang cukup banyak. Priiiittttt, terdengarlah peluit itu, kami dikejar sipir perkebunan. Saya paling belakang sendiri, tebu yang saya bawa saya buang. Ah lega akhirnya, kami bisa bersembunyi di belakang rumah teman, tapi kami hanya berhasil membawa 3 batang tebu. Yasudah, kami mau potong-potong tebu itu. Karena saya pupuk bawang, saya harus memegang tebu yang akan di potong. Entah kenapa, karena kakak saya memotong batang tebu sambil ngobrol, bencana pun tiba, pisau mengenai jari tengah tangan saya, darah mengucur deras, saya menangis keras. Ibu membawa saya ke Puskesmas terdekat, sampai sekarang bekas bencana itu masih terlihat di jari tengah saya.              

Saya suka sekali pintu milik tetangga sebelah saya, warnanya merah. Waktu itu ada semacam acara arisan atau apa gitu saya lupa, saya bilang ke ibu mau bermain buka tutup pintu. Ibu saya bingung, berulang kali menanyakan maksud saya main buka pintu. Saya bersikeras mau main buka tutup pintu milik tetangga saya. Tak sengaja tetangga saya mendengar, ia mengijinkan saya main di pintu rumahnya. Tapi Ibu saya tidak, ibu menatap saya, seperti bilang, jangan nak, jangan.  Nekat sekali, saya bermain, seolah-olah mengetuk pintu, lalu membukanya sendiri, lalu masuk kerumah, lalu keluar lagi, lalu saya ulang berulang kali. Saya mengulang-ulang terus, sampai kesenangan maksimal, sampai gerakan menjadi semakin cepat, sampai saya menubruk pintu dan sebelah mata saya terkena paku yang tertempel di pintu. Saya jatuh, karena luka yang cukup parah, saya dibawa ke rumah sakit, sampai sekarang luka itu masih ada di sebelah mata bagian kanan, ah sungguh menggemparkan.    

Kelas 4 SD, saya dipilih ibu guru buat menari yapong di acara perpisahan kakak kelas. Ada juga teman saya yang lain yang dipilih untuk mengisi acara itu. Ada yang menari, menyanyi dan drama. Saya sebenarnya tidak mau, karena lengan saya sebelah kanan sakit, karena habis jatuh waktu bermain. Tapi ibu memaksa saya untuk tampil, saya sangat membenci hari itu. Yang paling saya ingat adalah saya marah, saya tak mau ngobrol dengan siapapun. Giliran saya tampil, saya musti pura-pura senyum, ah sungguh itu menyakitkan.               

Kelas 5 SD Waktu itu jam istirahat, ada kakak kelas bernama Handoko, ia mengganggu teman semeja saya, upik. Ia menarik-narik rambut Upik sampai menangis, saya sebal sekali. Spontan, saya lari ke kebun belakang sekolah. Saya mengambil tomat di kebun, tomat itu langsung saya lempar ke Handoko. Baju handoko yang putih ternoda tomat merah. Guru pun datang, melerai kami berdua. Setelah  kejadian itu, nilai agama di raport saya hanya 6.  

Kejadian ini selalu berulang-ulang, dari kelas 1 SD sampai kelas 3 SD mungkin, saya sering lupa membawa tas saya sendiri ketika pulang sekolah. Jadi, waktu itu saya ingin cepat pulang kerumah. Habis doa bersama  pulang, saya langsung lari kerumah. Ketika sampai dirumah, ibu bertanya, dimana tas saya, saya baru teringat, tas saya masih di laci sekolah. Maka saya dan ibu pun harus kembali ke sekolah mengambil tas. Saya juga bingung, kejadian ini berulang-ulang terus. Hingga guru saya  selalu mengingatkan saya untuk membawa tas ketika akan pulang dari sekolah.

3 minggu setelah saya menempati kelas baru di SMP kelas 1, siang itu pelajaran sejarah. Saya suka sejarah, tapi guru saya waktu itu sangat membosankan. Akhirnya saya mengeluarkan mainan boneka kertas atau BP(Bongkar pasang). Saya asyik sekali, tidak memperhatikan pelajaran sejarah sekalipun. Berulang kali, teman semeja saya menyenggol saya, tapi saya tidak peduli. Saya sedih sekali, di dalam permainan saya terjadi gempa yang cukup hebat, sebuah buku dijatuhkan, merusak permainan BP saya. Saya kaget, ternyata bapak guru sejarah saya yang menjatuhkan buku tersebut, Ia marah besar. Mainan saya disita, ayah saya dipanggil guru BP (Bimbingan dan Penyuluhan) . Setelah kejadian itu, Ayah mengeluarkan satu kardus koleksi BP dirumah saya, TRIAAAA, bakar ini semua. Saya tahu Ayah marah besar, ia tidak pernah memanggil saya seperti itu, ia selalu memanggil saya dengan sebutan Ria, saya tahu Ayah marah besar.

Kelas 1 SMP, kondisi saya tidak baik, saya mengurung diri di kamar. Saya marah sekali dengan kakak saya karena sesuatu hal, saya tidak berbincang dengan siapapun. Saya tidak mau berbincang dengan siapapun, saya mengurung diri di kamar, saya menatap cermin lama sekali, bayak sekali bisikan-bisikan datang. Ayo masuk kedalam dunia kaca, masuklah, semakin dalam, masuklah, semakin dalam, buka pintu kaca, tubruklah, tubruk, pada gelombang arah yang maksimal, bisikan ,menjadi semakin kuat. Saya menghantam cermin dengan tangan kiri saya, tangan saya terasa dingin sekali. Tiba-tiba saya terbangun dirumah sakit, saya melihat ibu menangis, saya merasakan sakit yang sungguh luar biasa. Entah kenapa, bisikan itu kadang datang menjadi sangat kuat, maka insiden ini sering terjadi, ini adalah pertama kalinya, setelah kejadian ini masih ada insiden serupa, tapi saya tidak kuat untuk menceritakannya.    

SMP kelas 1, Ayah saya meminta saya untuk mengikuti TC/Latihan Atlet Pencak Silat, karena sebelumnya saya sudah mengikuti latihan Pencak silat secara rutin. Tes itu tiba, saya berhasil masuk latihan atlet untuk persiapan kompetisi tertentu. Waktu itu saya sering membolos, karena saya merasa itu bukan saya. Ini sungguh tidak menyenangkan. 

Dulu waktu saya SD sampai SMA saya mempunyai diary pembunuhan, jadi saya  menulis beberapa orang yang tidak saya suka, lalu saya membunuh mereka ke dalam cerita-cerita saya. Pembunuhan dengan cara mengenaskan dengan cara saya.  Hingga suatu saat, Paman saya membaca diary pembunuhan saya itu. Ia meminta saya membakar semua diary itu. Di suatu sore, saya memberanikan diri membakar semua diary pembunuhan itu di belakang rumah saya, rasanya dingin, sendiri.  

Ayah saya mengantarkan saya kesekolah, waktu itu saya masih menjadi siswa baru di SMA. Ketika di perjalanan saya menangis keras, ayah berhenti menanyakan keadaan saya. Ada apa ria? Saya bingung apakah saya harus memasukkan kaki ke roda atau tidak, bisikan itu kuat, meminta saya untuk memasukkan kaki saya ketika motor berjalan, saya tidak kuat, saya menangis. Ayah memeluk saya, hari itu saya tidak jadi kesekolah.    

Saya kangen gogo, teman saya berbentuk wortel berpelangi, ia sedang ngambek.Saya lupa memberinya permen berwarna pelangi.

Halo, saya lelah, tiba-tiba pikiran saya loncat-loncat, ingatan-ingatan berputar, saya ingin istirahat dulu.Masih banyak ingatan yang berjejal, ingin mengalir, dan saya akan mengamati  aliran itu apa adanya saja. Menyadarinya begitu saja, salam.

No comments: