12.11.11

buah baju


Aku membuka kaleng berisi buah baju dari masa lalu, hijau, biru, abu berserakan di meja, menjadi kelereng, berpisah sendiri, menjadi abadi. Tulang yang tak kuat mengangkat sejarah baju, yang tersisa hanya mata-mata kancing baju, menerkam malam-malam yang lapang. Lampu kelap-kelip biru di remote tv yang tersendat-sendat menanti keajaiban tangan untuk mengganti energi batu. Tak ada yang tersisa, kaleng-kaleng kosong penuh dengan penantian jarum, macet !     
Rumahku bau api, kancing-kancing berjalan sendiri, mencari pasangan gaun sendiri, terbang, melekat sendiri. Dompet biru tertutup kancing abu melewati akal, tak jadi menentang detak kecepatan energi yang kekal. Perbincangan rumus geometri  terlupakan di meja makan, potongan-potongan buah basi, terhalang jalan-jalan kancing, pintu-pintu berisik. Gesekan-gesekan pada tembok, mendekam pada jala, melewati usia, sobekan catatan yang asing, menemui jalan-jalan kancing .Merapikan lipatan-lipatan, kancing-kancing mencari kehilangan sendiri, terjun sendiri, tubuhnya hati, sekaligus duri.

No comments: