28.11.11

four polar bears late at night trust in reverse

 March, 25th, 2011

It was a glorious day, we sat in the secret garden, enjoying the calm evening. We played  a really magic game. At the same time, i wrote the question, he wrote an answer. I didn't know what he wrote, he didn't know what i wrote. After we finished, we read it all out loud to each other. It was one of the most powerful thing I have ever experienced in my life. So, here's the result :

Part I

Him


1. Have you everbeen to outer space ?
2. If you had to choose your favorite people for an everlasting meal in the clouds who would you choose?
3. Invisibility or flying, which is better?
4.What is the most useless word you know?
5.What's your favorite food?

Me

1. Garden's heaven
2. I have to make decision
3. sure
4. whereever i'll go
5. no one

Part II

Me

1. Do you think pet sound is music ?
2. have you everbeen to palace?
3. Why are you angry ?
4. Can you tell me your favorite day of the week?
5. Do you like black music?

Him

1. 4
2. Polar bears
3. Late at night
4. Trust
5. in reverse

27.11.11

Kasmaran Gamelan

                                                                           photographed by Gamelan Duta Laras            

Ada perkara apa ? Pertanyaan dari ayah saya ini menghantam pikiran , waktu itu dini hari, sekitar jam 1 pagi lebih entah, saya memutar kaset gamelan, saya mendengarkan laler mengeng, ini adalah gendhing kesedihan, Dalam wayang purwa, gendhing ini biasanya untuk mengiringi adegan perang dan adegan kesedihan. Apa yang saya rasakan dini hari itu? Ketika saya mendengarkan gendhing Gamelan Laler Mengeng saya seperti masuk ke dalam badan, saya merasakan kesedihan atas penderitaan , kunci pintu sejarah saya temukan, saya masuk kedalamnya, menyelam kedalamnya amat dalam. Iringan gamelan yang saya dengarkan menembus gelombang energi yang sekian lama tertidur lama sekali, iringan itu mencium saya pelan dan berbisik lirih, segera bangunlah, rasakan sakitnya, segera bangunlah, rasakan sakitnya semakin dalam. Hari itu membuat saya tidak tidur, saya terjaga, pikiran saya mengalir dan saya menjadi penonton, sendirian. Anehnya, keesokan harinya saya tidak kecapekan atau mengantuk, rasanya seperti saya habis  meditasi, tidak tidur,terjaga sepanjang hari.   

Kupu-kupu riang, sayap-sayapnya bergesekan di dalam perut, membuat saya begitu melayang. Lempung gunung minggah gandrung manis, budheng-budheng kembang kacang, ketawang wigena menjadi menu utama selain koran pagi, kopi pagi, dan telur mata sapi. Saya begitu menikmatinya, kadang kala iringan-iringan gamelan menyerang saya seperti monster yang mengajak saya perang, kadang-kadang gendhing gandrung manis membuat saya bermimpi manis, kadang-kadang iringan gamelan ini membuat saya begitu damai, seperti kekhawatiran lenyap begitu adanya saja.           

Kondisi kaset koleksi gamelan milik ayah saya  sudah rapuh, karena usia kaset yang memang sudah sepuh. Saya meminta tolong teman untuk mentransfer kaset ke digital, saya tidak mau iringan gamelan itu di edit, saya membiarkan noise yang ada, suara klik-klik pun terdengar begitu saja. Ya memang begitu adanya. Lalu saya memasukan gendhing-gendhing itu ke laptop. Dalam segala suasana, gendhing gamelan masuk dalam playlist saya bercampur dengan portishead, royal trux, the misfit, sonic youth, johnny cash dsb, rasanya sungguh mengejutkan, saya tidak berlari, saya tidak mengejar, tapi energi ini menghampiri, tanpa saya menduganya, sungguh hidup.

Tadi pagi saya terbangun tanpa teringat mimpi apapun, saya benar-benar belum bangun, masih dalam keadaan tertidur, mengambil kertas memo dan entah energi apa yang mendorong saya untuk menulis kalimat ini : Hello universe, I'm going to learn gamelan, I'm sure, i can play it !Thank you universe. Lalu saya tempel pesan itu di dinding vision board    kamar saya. Saya tidak begitu memikirkan terlalu keras apa yang saya tulis tadi pagi. Sebenarnya hari ini saya libur, tapi karena ada tugas dari kantor, saya melakukan tugas itu, live report untuk acara off air di taman Balekambang. Sekitar jam 15an lebih entah, saya selesai menyelesaikan tugas, lalu saya kembali ke radio. Saya duduk di warung jus depan radio, membawa laptop, mendengarkan playlist dan menulis. Playlist random, dan ketika terdengar iringan magis itu, penjual warung jus, mbak else dan mbak mini dengan ekspresi kaget bertanya ke saya apakah saya serius mendengarkan gamelan. Saya tersenyum dan mengangguk. Terjadilah perbincangan seru, karena ternyata saya dan mbak mini mempunyai pengalaman yang mirip, ketika kami masih  kecil orang tua kami senang mendengarkan wayang, karawitan, gendhing gamelan dari radio. Perbincangan ini semacam sentuhan nostalgia di sore hari yang menyejukkan hati. Saya bertanya kepada teman saya itu , dimana saya bisa berlatih gamelan. Mereka menyarankan saya untuk bertanya di sebuah rumah yang sangat dekat dengan radio, tempat saya bekerja. Entah ada energi hidup yang membuat saya begitu bersemangat, setelah perbincangan itu saya sowan ke rumah itu, saya bertemu dengan pemilik rumah, saya menceritakan ketertarikan saya terhadap gamelan dan keinginan saya untuk mempelajari gamelan. Senyum bapak itu mengembang, ia mengundang saya untuk datang  ke rumah itu lagi, besok hari senin jam 16 tepat. Senangnya bukan kepalang, jantung saya mengembang, saya mengucapkan terima kasih, ada kehangatan di dada, rasanya sejuk begitu adanya. Terima kasih semesta.   

Setelah saya selesai menyelesaikan tulisan ini, saya tersenyum membaca tulisan yang saya tempel di vision board kamar tadi pagi, oh energi ini begitu ajaib. Lagu yang saya dengarkan ketika saya menulis ini adalah :    
  • Stereolab -endless summer
  • Laler Mengeng, tlutur,panjang ilang, Gamelan Gaya Surakarta
  • Bedhaya Pangkur, Gamelan Gaya Surakarta
  • Grouper- invisible
  • Rod McKuen-Listen to the warm
  • The For Carnation- Moonbeams
  • Lempung gunung, minggah gandrung manis, pelog 7, RRI Solo

26.11.11

Membangunkan Helikopter dan Rumah Serigala

 
Saya menemukan gambar ini tadi sore, ia tertidur di lantai lelap sekali. Ketika saya menarik kursi hitam di ruangan kantor, tak sengaja kaki kursi menginjak gambar ini. Saya ambil gambar ini, seperti cubitan-cubitan datang secepat kilat menelpon memori. Berlyn berlarian kesana kemari, berlyn teriak-teriak, berlyn main games, semakin ingat berlyn,semakin gemes. Berlyn ini adalah putra dari rekan kerja saya di kantor,mbak erny,  kadang mbak erny mengajak Berlyn bermain ke kantor. 

Lihat gambar itu? Apa yang di gambar Berlyn? Saya menangkap Helikopter. Mamanya berlyn pernah cerita berlyn suka sekali dengan helikopter dan pesawat terbang. Berlyn bisa lupa waktu jika bermain dengan  helikopter atau  pesawat terbang. Ia bisa melupakan apapun jika keasyikan dengan permainan yang sangat ia sukai. Beberapa bulan yang lalu, ada bencana datang, listrik di radio mati. Kami terjebak di ruang tengah radio. Mendung dan gelap, sungguh suasana mendukung. Karena saya tidak mau Berlyn ketakutan, saya mengambil beberapa kursi lalu saya atur diatasnya saya beri selimut, saya bilang ke berlyn, ayo bersembunyi disini, disini aman. Saya juga mengajak teman saya , keshia, di bawah kursi berlyn bersembunyi, saya dan keshia menjaganya. Saya mendongengkan sebuah cerita tentang rumah serigala di hutan belantara. Ditengah-tengah mendongeng, saya mempunyai ide untuk mengajak teman kerja saya, lalu saya mengajak fajar masuk kedalam cerita, ia menjadi serigala. Baiklah prahara itu dimulai saudara, Berlyn terjebak, ia bersembunyi di rumah serigala dan si pemilik rumah datang, serigala mengancam. Berlyn tidak takut, ia malah menggoda srigala agar selalu mengaum. AUUUUUM!

Saya merindukan permainan itu, entah kenapa sore ini ketika saya menemukan gambar Berlyn, saya seperti berpetualang melewati gelombang permainan Berlyn. Saya mengambil gambar helikopter si Berlyn, saya akan bawa pulang dan menyimpannya di rumah, saya tak mau gambar itu mendarat di tempat sampah. 10 tahun lagi, jika saya bertemu Berlyn, saya akan bilang ke dia : Berlyn, Ayo naik helikopter, Ayo kita mengunjungi rumah serigala !


25.11.11

Aku ingin menuliskan 1000 halaman, tapi aku terlambat

Buku- buku berserakan di lantai, Aku lupa untuk merapikannya. Satu cangkir kopi kemarin pagi  masih di meja, ingatan terlambat untuk mengembalikannya ke dapur. Handphone tergeletak  saja di kursi, pesan-pesan belum terbuka. Akhir-akhir ini aku terlambat membuka jendela , aku sering lupa bagaimana caranya bangun pagi. Pikiran bekerja lambat, koran pagi pun lewat. Senyuman-senyuman boneka diranjang, rasanya terbang. Akhir-akhir ini aku terlambat menyapa mentari, terlambat minum kopi, terlambat ke kamar mandi, terlambat sarapan pagi, terlambat membalas pesan-pesan yang kau kirimkan setiap pagi. Aku jadi terlambat mencuci, terlambat menyapu, terlambat menyirami tanaman, terlambat bercermin, selalu seperti ini. Pikiranku melambat, lebat. Aku terlambat menangkap ingatan-ingatan baju yang tertumpuk di lemari. Semuanya berserakan disini, ingatanku terlambat meminum pil-pil penunda rasa sakit, lalu sepi, selalu seperti ini.          
 

24.11.11

Bar !

Jam merah  tepasang di dinding bar, aku mencium langkah kakimu, kutahan dalam ingatan hitungan detik jam. Aku tak mau menyapamu, membiarkanmu berada dalam tatapan tiga puluh derajat dari tempat dudukku. Selamat tinggal berulangkali kuucapkan selamat tinggal, kukirimkan pesan kepada asap-asap rokok yang terbang tak beraturan menggertak udara pada ruangan ini. Apakah kamu tersedak?

Oh ternyata tidak, wajahmu riang, tertawa riang, aku saja yang terlalu tinggi untuk menekan pesan. Orang lalu lalang, berdansa,duduk-duduk dan minum-minum, ayo kita tenggelam, aku di dalam pesta yang merebut kartu-kartu keberuntungan yang aku temukan di sebilah pedang. Aku mainkan satu-persatu, lalu semua mengalir pada rak-rak minuman, aku ingin mengambil semuanya, menelan terang. Aku tuangkan ke dalam gelas  utuh, yang mencoba membunuh seribu atau duapuluh ratus sekian pesan yang tertelan dalam sel-sel,lalu  mengalir menuju pembuangan limbah. Pesta ini sangat meriah, aku bisa membunuh satu persatu dengan tanda-tanda kancing baju,lalu aku kumpulkan ke dalam gelas kaca,dan kemudian terpampang manis pada rak bar.

Mengenalimu cukup mudah, aku tak membutuhkan waktu banyak untuk berlari kepadamu, mencium pipi kanan kirimu, lalu kita habiskan berjam-jam dengan minum-minum. keputusan ini cukup mudah, aku cukup bertahan sendiri duduk , ditemani kancing baju dan dua sepatu. Jam merah yang terpasang  di dinding bar, aku belah menjadi beberapa bagian, aku menjumpai kamu yang tertidur, aku menjumpai kamu memasak sendiri di dapur, aku melihatmu dari tangga, sendiri, aku menjumpai kamu di dekat jendela,membacakan beberapa cerita, aku menjumpai kamu pada detak-detak yang terbang dalam kalender kayu. Aku menjumpai kamu yang sebenarnya pada lingkaran dan detak jarum jam yang menamparku di dalam bar. Dua sepatu dan kancing baju mengajakku untuk segera keluar dari bar, kubuka pintu, kututup pintu, berlalu,kamu menjadi pesan, mengejarku.

hey, kamu sendiri?

Tidak

Wanna dance with me?

No, i want to leave you!


***** I heard   the song from Can - Outside My Door  at a bar  and I knew that I have heard  it before. I really like it but I was not in the best condition to remember all :)

17.11.11

Tarik nafas panjang, Hembuskan pelan, Sadari pikiran melayang #Minimalistday

Suara tembak-tembakan dari area persawahan belakang rumah saya tak ada habisnya, dar dor, dar, dor, mengganggu ? iya. Biasanya pada jam 2 pagi, saya bisa mendengarkan jangkrik yang sangat jelas dari kebun belakang rumah, tapi hari ini lain cerita. Jadi, pagi ini ada latihan tentara, pikiran melayang telak, pikiran tertembak membayangkan perang, darah, tangisan-tangisan, dan wajah-wajah sendu itu menyerang.Ok ria, tarik napas panjang, hembuskan pelan, jangan melawan pikiran-pikiran yang datang, jangan mengomentarinya, tarik napas panjang, hembuskan pelan, sadari pikiran melayang.

Baiklah, kemarin malam, tepatnya rabu malam, saya harus mengisi suara untuk insert radio sebanyak 6 skrip, jadi kira-kira 1 jam  lebih entah saya berada di ruang produksi bersama tim saya, yogi. Sangat capek memang, jadi ketika mood saya sudah berantakan, saya mulai memberi kode ke yogi untuk istirahat 5 menit saja, apa yang bisa saya lakukan dalam waktu 5 menit?  Saya menarik nafas dalam-dalam, mengeluarkan perlahan, saya mengulanginya beberapa kali. Ya, ketika kita menarik nafas dalam-dalam, kita mengirimkan sinyal ke otak untuk rileks.Otak meneruskan sinyal ke tubuh, hingga tubuh kita merasa rileks. Jika teman-teman merasa capek, panik, terburu-buru, luangkan waktu 5 menit saja, tarik napas panjang, hembuskan perlahan.    

Setelah selesai mengisi suara, saya mencari beberapa musik yang cocok untuk produksi, ketika saya akan menuliskan musik pada urutan pertama, suara lelaki memanggil nama saya. Saya senang, saya mendapat kejutan, teman saya yang baik, Aji, bermain ke radio. Kami berbincang ini itu, kesana kemari, tertawa, lalu sesekali ajie mengetik sesuatu di handphone, bercerita kembali ini itu, hingga terjadi sebuah kesepakatan kita akan melakukan kegiatan bersama dalm waktu dekat, kabar baiknya, saya dan aji sangat antusias. Alarm di tubuh saya berbunyi, kami memutuskan untuk pulang, hal tidak menyenangkan adalah ketika saya tahu ban motor si merah redo kempis, ditambah lagi saya harus ke pom bensin mengisi air minum buat si redo. Aji tersenyum, dia mengambil motor saya, memanaskan mesin dan bilang jangan panik tria. Ok, tarik napas dalam-dalam, keluarkan pelan-pelan, membuat saya tidak meringis. Aji meminta saya menunggu di radio, dia bersama redo pergi ke pom bensin, lalu mengisi angin. Setelah redo dalam keadaan baik, kami pulang.  Terima kasih Aji yang baik Terima kasih semesta, malam ini saya bersuka cita :)

16.11.11

Buku-buku ini membutuhkan anda yang mau membaca dan menjaganya #Minimalistday



Buku-buku ini adalah buku kesukaan saya, mereka tinggal di lemari buku saya. Saya akan melepaskannya, ini bukan berarti saya tidak menyukai buku-buku ini lagi. Melepaskan perasaan yang luar biasa memang berat. Ini sebuah titik untuk saya. Saatnya pelan-pelan melepaskan keterikatan dan saya  menyadari bahwa  saya membuat pilihan yang tepat. Tadi pagi saya membersihkan lemari buku saya, saya menata ulang beberapa buku, seperti tertampar,  jangan tamak, jangan menumpuk, berbagilah, buku-buku ini membutuhkan seseorang yang membaca dan menjaganya, salurkan energi itu. Saya teringat ada beberapa buku hadiah pemberian dari keluarga, sahabat, teman-teman spesial yang belum selesai saya baca. Maka, beberapa bulan kedepan, saya berjanji akan menyelesaikan membaca buku-buku hadiah dari orang-orang terdekat saya.

Jika teman-teman berminat dengan buku ini : 

Mengapa masih relevan membaca Mark hari ini? Jonathan Wolf
True escape stories- Paul Dowswell 
Filsafat lingkungan-Henry Skolimowski

Silahkan tulis buku yang anda mau di komentar blog ini, Terima kasih teman-teman:)


Saya juga ingin mengucapkan terima kasih untuk mas elang yang minggu kemarin memberikan saya 4 buku : 

A Series of Unfortunate Event - The Slippery Slope (Lereng Licin), Lemony Snicket
A Series of Unfortunate Event - The Grim Grotto (Gua Gelap), Lemony Snicket
Panduan Membaca & Menulis Katakana, S A Mangunsuwito
Panduan Membaca & Menulis Hiragana, S A Mangunsuwito

Menyetrika sendiri,Membaca gajah sang penyihir, Swaiso sore hari, Meditasi #Minimalistday

Tumpukan baju di keranjang warna biru seperti memanggil, hai tolong rapikan saya segera, tolong ria sekarang juga. Cukup lama saya memandangi tumpukan, yang terjadi hanya lamunan yang panjang. Melamun memang mengasyikan ya, menyeret pikiran kita dan lalu kesadaran nyata kita lelap. 15 menit lebih saya melamun dan tersadar, kenyataan di depan mengingatkan saya, ria rapikan segera tumpukan baju itu. Saya mengambil keranjang, mengambil setrika putih, pengharum baju di dalam botol berwarna  jeruk.  Tidak mendengarkan lagu apapun, mengambil gaun biru, dan setrika siap melaju di atas jalan-jalan berliku, lekukan gaun biru. Lalu berpindah ke baju satu menuju baju lainnya. Melewati warna hitam, merah, abu sampai biru.Senyum mengembang ketika saya berhasil menyelesaikan perjalanan panjang, sungguh senang.   

Ia bersiul sambil melangkah, kalimat ini yang masih saya ingat setelah membaca buku gajah sang penyihir (the Magician's elephant -Kate Dicamillo) , tetapi hari ini saya belum bisa meyelesaikan membaca. Ya,  berkelana di dalam dunia gajah sang penyihir membuat hari ini tidak begitu kaku, saya menemukan catatan bintang, ladang gandum, apel kering, kertas berjamur dan sesuatu yang mengingatkan tentang umur.Membaca buku seri anak-anak memang ringan, minimalis, tetapi efek kebahagiaan bisa  terasa maksimal. Silahkan bermain ke perpustakaan terdekat, pinjam buku seri anak-anak kesukaanmu, bersiullah sepanjang hari :)   

Jam 5 sore, saya bersama teman-teman berolahraga ria. Setiap hari saya melakukan olahraga sederhana, kadang jalan kaki, yoga, senam atau swaiso. Tapi hari ini saya memilih senam dan swaiso. Jika teman-teman sangat sibuk, coba deh swaiso,
  • Ambil napas panjang lalu keluarkan. Berdiri tegak lalu kaki direnggangkan sampai batas bahu, Jari kaki mencengkeram. Ini untuk menekan telapak kaki sehingga menekan titik-titik akupuntur.
  • Tangan lurus, telapak tangan juga lurus menghadap ke belakang.Ayunkan tangan kedepan dan ke belakang seperti orang jalan, posisi tetap lurus dan bersama sama.
  • Seiring dengan itu, pas tangan ke depan, nafas diambil, pas tangan ke belakang nafas dibuang. Pakail nafas perut lebih baik, yaitu tarik nafas sambil kembungkan perut, dan buang nafas sambil kempiskan perut.
  • Ayunkan tangan bersama-sama ke depan dan ke belakang. Satu ayunan dihitung mulai dari depan -ke belakang – ke depan lagi. Lakukan rutin 5-25 menit sehari.
Swaiso, olahraga sederhana  yang berasal dari cina ini  bisa dilakukan dimana saja. Setelah hari ini melakukan swaiso dan gerakan senam yang minimalis, tubuh saya begitu rileks.

Pukul 19.30 saya bermeditasi di Vihara selama 30 menit. Menyadari lalu lalang pikiran begitu adanya saja, tidak melawan. Menyadari sekitar begitu adanya saja, tidak melawan. Menyadari aliran napas, begitu adanya saja. Setelah meditasi ini  ada semacam keriuhan dalm pikiran saya, saya mengamati geraknya pelan-pelan, mengungkapkannya, tidak melawannya, menyadari saja.

15.11.11

kopi sendiri, handphone sementara mati, jalan kaki #Minimalistday

Orang-orang  berlalu lalang, mengetik, berbincang, tertawa, suara musik di radio, duduk di depan komputer,  ini hanyalah gambaran suasana di kantor saya bekerja, pukul 14.00 lebih entah, saya mengambil cangkir terbaik saya, mengisi kopi dan air panas, mengaduknya, lalu saya mengambil kursi hijau, saya letakkan di pojok kantor, saya duduk sendiri. Saya memegang kopi yang panas, belum meminumnya, pikiran merespon beberapa gerakan-gerakan yang saya lihat di depan saya, orang berjalan, berbincang, duduk di depan komputer, menelpon, berjalan lagi, menutup pintu. Seper sekian detik, saya tersadar pikiran saya terseret oleh rangsangan indra penglihatan saya, saya tersadar dengan kopi panas yang saya bawa. Menghirup napas adalah tindakan yang sederhana, kesadaran sederhana. Saya mengaduk kopi pelan, melihat air coklat, sendok besi, kesadaran mengaduk, mengamati kopi begitu adanya saja, meletakkan sendok di meja, pikiran saya tergoda menanggapi pikiran orang berjalan, sungguh pikiran ini seperti monyet loncat-loncat, saya duduk kembali, mengamati kopi, mengamatinya tanpa komentar apapun. Saya minum, saya rasakan mengalir ke dalam tenggorokan, saya kembali duduk, yang ada si aku dan si kopi, begitu saja. Kesadaran sederhana, bukan melamun, bukan lamunan.

Saya melanjutkan aktivitas sampai dengan pukul 17.00 WIB, Kemudian pukul 17.10 WIB saya memutuskan untuk jalan kaki, melepas sepatu saya, jalan kaki hari ini tanpa alas kaki. Handphone sengaja saya matikan sementara. Memutuskan keluar kantor, pikiran bergerak cepat merespon indra penglihatan, penciuman, perasa yang bekerja sangat cepat sekali. Saya berjalan saja, mengamati langkah kaki bergerak, kaki kiri maju, kaki kanan maju, mengamati napas begitu adanya saja, kesadaran begitu adanya saja. Saya sadar ketika melakukan meditasi jalan, apalagi di luar ruangan, sunggu sangat berat sekali. Rangsangan dari luar begitu banyak menyerang pikiran ditambah rangsangan bergeraknya pikiran itu sendiri. Ya, keramaian itu tidak saya lawan, saya mengamati begitu adanya saja. Hari ini saya menuju ke taman balekambang, orang-orang pulang dari taman, saya datang. Taman Balekambang cukup sepi, saya berjalan kaki, mengamati kesadaran melangkahkan kaki mengelilingi taman. Burung-burung berkicauan, rusa-rusa belarian, suara angin menjadi sangat jelas, suara tokek begitu jelas, suara gerak ikan di kolam, semuanya menyerang pikiran, saya berdiri cukup lama, mengamati begitu adanya saja, menyadari sederhana, ini bukan melamun, bukan lamunan. Sebuah kesadaran begitu adanya saja. Menikmati keheningan, mengamati keheningan, menyadari keheningan. Berjalan-jalanlah ke  taman, mengamati keriuhan, mengamati kedamaian, tinggalkan sebentar mesin atau alat teknologi. Mulailah segera :)

Oh ya , jam 19.00 WIB  saya ada janji bertemu dengan seorang teman di lily bistro, karena jarak yang cukup dekat dari kantor, saya memutuskan untuk jalan kaki saja, disamping bisa menghemat bensin, saya juga bisa meditasi jalan kaki. Sungguh hal-hal minimalis  membuat hari ini begitu manis. Saya jadi teringat sebuah Quote dari  Lao Tzu : Be Content with what you have; rejoice in the way things are. When you realize there is nothing lacking, the whole world belongs to you. Bagaimana dengan teman-teman ? Mau Mencoba?

14.11.11

Kecap Lombok Gandaria Menggugah Rasa

Keinginan itu datang secepat kilat dan terduga, sebenarnya saya ke Alfamart berniat mencari bihun jagung, tapi ternyata tidak ada, lombok gandaria, lombok gandaria, lombok gandaria,  begitu pikiran saya menangkap keinginan, seperti membangunkan masa lalu yang tertumpuk di alam bawah sadar, saya  masuk mesin waktu, tergambar dengan jelas ketika ibu mengambil kecap manis lombok gandaria dari rak, lalu mengambil nasi panas, ibu mulai menggambar wajah di atas nasi dengan kecap manis lombok gandaria, lalu saya dengan senang hati melahap nasi sampai habis. Saya tersadar,  mesin waktu pikiran saya berputar cepat, saya baru tersadar berdiri lama di depan rak, berderetan kecap di Alfamart, saya mencari kecap manis cap lombok gandaria, tapi tidak ada. Ah, mesin waktu membuat saya kecewa berat. Lalu secara acak saya mengambil bihun instant, dan beberapa snack, ke kasir lalu membayar. Ketika saya dalam perjalanan, mesin waktu membunyikan alarm, seperti berhentilah sebentar di warung dekat perempatan,berhentilah, berhentilah, berhentilah, bisikan itu cukup kuat. Saya belok ke kiri, disitu ada warung bernama Tian. Saya bertanya kepada penjual? Ada kecap lombok gandaria? Saya menunggu sebentar, Pemilik warung mengatakan hanya tinggal 1 botol kecap lombok gandaria.Oh semesta,  saya berjodoh,  kecap lombok gandaria menggugah rasa mesin waktu saya menjadi  begitu manis !

13.11.11

WARKOP DIY


Makanan kecil, snack, yang ngehits tahun 90an sunggguh menggoda, dari permen davos,snack gulai ayam, anak mas, permen karet yosan semua ada disini, juga tentu saja minuman dari kopi, coklat,susu, es sirup dan es markisa.  Kesan pertama begitu menggoda, menarik pikiran ini berlarian kecil kembali ke tahun 90an yang manis. Saya langsung mengambil anak mas, makanan yang saya favoritkan ketika masa kecil. Sungguh mengobati kerinduan. Oh iya, di hari minggu ini, warkop DIY juga sedang mengadakan garage sale, jadi banyak sekali barang-barang secondhand , gaun,kemeja, t-shirt, sepatu, topi dan beraneka ria aksesoris yang dijual murah meriah. Ingin merasakan sensasinya? Datang aja ke Warkop DIY, Jl.Argo Klebengan sebelah SGPC Bu Wiryo Bulaksumur, Yogyakarta .

 

Mbak Yuke Tjaniarko , pemilik Warkop DIY ini membuat program Biyantu, Yaitu semacam Bazaar & Garagesale  di Warkop DIY. Belanja seru sambil bareng-bareng menyisihkan sedikit dari duit belanja buat bantuin adik-adik SD & SMP kurang mampu seputaran Yogyakarta buat bayar uang sekolah. Sungguh mulia saudara ! oh iya, teman-teman bisa langsung gabung aja di program biyantu, klik aja facebooknya : Biyantu .

Kenangan  menggila, saya membeli snack gulai ayam. Wah, waktu jaman SD ini nge-hits sekali,kejutan di hari minggu ini adalah saya mendapatkan cincin bertuliskan Love di dalam snack gulai ayam itu. Wow, jadi teringat ketika masa kecil, walaupun dapat bonus hadiah di snack yang  tak seberapa, tapi rasanya luar biasa. Saya tersenyum, seperti terdengar, Bercintalah, sebelum bercinta itu dilarang, Do all things with love : )

12.11.11

Nyonya Besar Semesta


Sabtu yang mendung dan saya menguap terus, mengantuk sekali, lalu saya dan seorang lelaki berbaju hitam menuju semesta abu bakar ali. Apa itu Semesta abu bakar ali? ini semacam tempat untuk mabuk-mabukan, eh bukan mabuk-mabukan yang begitu, maksud saya tempat untuk meluapkan pikiran sampai mabuk :), sampai 25 jam penuh bisa dilayani di Semesta Abu bakar Ali. Jika anda menemui gereja kota baru,yk,  silahkan jalan ke barat lalu tengok ke kiri, disitulah Semesta. Berderetan kursi kayu menantimu, silahkan pilih sesuka hati. Ada ayunan merah yang akan membawamu ke semesta  yang aduhai. Saya memilih tempat di bagian barat, dekat ayunan merah, agar sesekali jika saya ingin mainan ayunan, tinggal kesamping 3 langkah kaki. Setelah melihat berderet menu, saya menambatkan pilihan untuk es krim Nyonya Besar, Rasa Cappucino, Cukup mengobati kerinduan masa kecil yang usil. asyik berat !

buah baju


Aku membuka kaleng berisi buah baju dari masa lalu, hijau, biru, abu berserakan di meja, menjadi kelereng, berpisah sendiri, menjadi abadi. Tulang yang tak kuat mengangkat sejarah baju, yang tersisa hanya mata-mata kancing baju, menerkam malam-malam yang lapang. Lampu kelap-kelip biru di remote tv yang tersendat-sendat menanti keajaiban tangan untuk mengganti energi batu. Tak ada yang tersisa, kaleng-kaleng kosong penuh dengan penantian jarum, macet !     
Rumahku bau api, kancing-kancing berjalan sendiri, mencari pasangan gaun sendiri, terbang, melekat sendiri. Dompet biru tertutup kancing abu melewati akal, tak jadi menentang detak kecepatan energi yang kekal. Perbincangan rumus geometri  terlupakan di meja makan, potongan-potongan buah basi, terhalang jalan-jalan kancing, pintu-pintu berisik. Gesekan-gesekan pada tembok, mendekam pada jala, melewati usia, sobekan catatan yang asing, menemui jalan-jalan kancing .Merapikan lipatan-lipatan, kancing-kancing mencari kehilangan sendiri, terjun sendiri, tubuhnya hati, sekaligus duri.

11.11.11

Biru Langit


Saya pertama kali bertemu dengannya di sebuah tempat bernama progo, ia sendirian saja, hanya sendiri saja, tak ada keluarga yang serupa. Ia berada di tumpukan toples minum warna warni, ia sendiri saja. Saya mengambilnya dengan senang hati. Hai, ayo sekarang kita bersama-sama. Setiap hari si toples cantik ini menemani saya dalam segala suasana, ketika mood saya sedang berputar-putar, ia selalu mengejutkan saya, menyalurkan energi tiada tara. Ia adalah  biru langit.

3 sendok, 1 cangkir


Tidak menyenangkan itu adalah ketika saya ingin membuat kopi, tapi cangkir dan sendok di kantor tidak ada. Saya juga bingung, kemana hilangnya sendok-sendok dan cangkir itu. Saya ingat sekali, pernah saya membawa 5 sendok dari rumah, ah ternyata raib juga. Selama seminggu ini, kondisi tidak menyenangkan, di rak kantor benar-benar tidak ada sendok. Siapa yang ngambil ya? siapa yang menyembunyikan ya? 
Daripada pusing mencari jejak langkah sendok yang hilang, hari ini saya membuat sejarah, membawa 3 sendok dan 1 cangkir. Sekarang saya sudah tenang, tidak kebingungan mencari sendok yang hilang. Hai sendok-sendok, ayo berpetualang lagi, kali ini tidak dirumah, tapi di kantor saya yang ajaib ini.  Hore, sekarang saatnya membuat kopi lagi :)

10.11.11

figlio di memoria


Akhir-akhir ini ingatan masa kecil saya menjadi semakin jelas, saya teringat bagian-bagian yang hilang, warna baju, topi, permen, seperti film lama yang lama mengendap dalam rak, saya ambil, saya tonton sendirian. Kemarahan, senyuman, putus asa, kehilangan, warna-warni langkah kaki, mengulang sendiri. Saya akan mencoba merekam bagian-bagian yang saya ingat, figlio di memoria.

Tahun 1991, Sore itu, ayah  mengajak saya berekreasi. Pada hari minggu, setelah saya selesai menyelesaikan PR Matematika,  saya bilang ke ayah, saya akan memakai dress cantik warna ungu dengan hiasan pita mawar, dress ini pemberian bibi, saya jatuh cinta dengan dress itu. Lalu saya bertanya, apakah kita akah pergi dengan vespa yah? Ayah saya menggeleng, lalu ayah mengeluarkan sepeda onthel milik kakek saya. Saya duduk di belakang, kekhawatiran hilang, jantung mengembang. Setelah pulang dari sepedaan, ibu akan memandikan saya, saya baru sadar pita mawar hilang, saya kecewa, tapi tidak menangis,ada yang tidak lengkap, ada yang hilang, rasanya mungkin seperti patah hati yang sempurna.

Tahun 1991, bulan maret. Rumah saya menjadi risuh, tetangga berdatangan. Saya duduk di samping rumah sendirian, main masak-masakan. Saya tidak boleh masuk ke kamar ibu waktu itu. Saya sedih sekali, saya main masak-masakan sendiri, saya mengencangkan volume suara yang keras, tapi tidak ada yang memperhatikan. Suara tangisan datang dari kamar ibu, saya mendengar dengan jelas, tapi bukan suara tangisan ibu, suara tangisan asing, suara bayi, orang-orang bersuka cita menyambut kelahiran catur, adik saya. Tapi saya asyik main-main masak-masakan, menggoreng batu,  di samping rumah, sendiri.

Kelas 2 SD, tahun 1992. Saya, kakak, adik  dan ibu  di rumah. Lalu ada tetangga yang memberi kabar, bahwa tetangga sebelah rumah akan melahirkan. Lalu  Ibu bilang  agar saya, kakak dan adik dirumah saja. Ibu akan menjenguk tetangga. Kakak asyik bermain dengan adik, entah kenapa waktu itu saya membuntuti ibu. Masuklah ke dalam rumah, pintunya berwarna coklat muda. Semakin masuk kedalam ruangan, meledaklah saya, saya takut, saya melihat darah mengalir, darah yang sangat merah. Saya menangis kencang, Ibu kaget sekali melihat saya dirumah itu, Ibu menutup mata saya, menggendong saya pulang ke rumah. Beberapa jam setelah itu, terdengar ayat-ayat al-quran di putar, orang-orang berdatangan, upacara pemakaman untuk bayi yang tak pernah saya tahu namanya, saya seperti diserang balon-balon gelap, banyak sekali, ibu menggendong saya, saya sembunyi di balik bahu ibu, sendiri.

1993, Pagi itu saya ingin sekali berangkat ke sekolah lebih awal, karena saya ada jam piket pagi membersihkan kelas. Hore... saya adalah orang yang pertama kali masuk ke kelas 3 tercinta, ketika saya akan mengambil sapu, teman piket saya  bernama Tari masuk kelas. Dia menganjurkan saya mengangkat kursi ke atas meja, agar kami lebih mudah menyapu kelas. Baiklah saya mencoba mengangkat kursi, sedangkan Tari hanya melihat saja. Badan saya sangat kecil, saya tak bisa menahan beban kursi, jatuhlah saya ke lantai, saya kesakitan kejatuhan kursi. Punggung saya sakit sekali, Tari teriak-teriak. Saya menangis, lalu penjaga sekolah menghampiri, Penjaga sekolah mengantarkan saya pulang, Ibu membawa saya ke Puskesmas terdekat, hari itu saya tidak jadi sekolah, saya meringkuk di kamar sendiri, Hari itu saya sangat membenci Tari, saya menggambar tari di dinding kamar, lalu mencoret-coret mukanya, saya puas sekali.

1994. Cawu 3. Saya bilang ke ayah, saya menginginkan sepeda mini warna merah. Ayah mengiyakan, tetapi dengan satu syarat, saya harus mendapat rangking 1. Maka saya pun menyetujui persyaratan itu, setiap hari saya belajar, mengerjakan soal, membaca, saya yakin sekali bisa mendapatkan sepeda warna merah. Saya menggambar sepeda mini, lalu saya warnai merah, saya tempel di lemari kamar saya, saya lingkari gambari itu. Di sekeliling lingkaran itu, saya tulis angka 1 banyak sekali, Hahaha jika teringat kejadian itu sangat menggelikan. Di hari sabtu pada bulan juni, hari penerimaan raport membuat saya penasaran. Saya tidak ikut ke sekolah, kira-kira jam 10 pagi lebih entah, ayah pulang ke rumah memberikan raport bersampul biru. Deg deg deg deg deg saya buka raport, saya teriak, sepeda mini  merah, sepeda mini merah, sepeda mini merah. Ah rasanya seperti balon-balon warna warni menabrak tubuh saya. Sore yang cerah, sepeda mini merah sudah ada dirumah, sore itu langsung saya sepedaan keliling kampung, saya dikejar balon-balon warna warni.

1994. Saya senang sekali meminjam buku di tempat persewaan di Pareanom Kartasura. Dari Donald Bebek, Mickey Mouse, Doraemon, Lima Sekawan dan lainnya. Jarak yang cukup jauh pun saya tempuh, saya naik sepeda sendiri menuju kartasura , kira-kira 1 jam. Sampai di Pareanom, saya tertarik dengan buku cerita Lima Sekawan, Rawa Rahasia. Saya pinjam buku itu. Pulang dengan hati senang. Tapi Malang, Tiba-tiba hujan menghantam, saya tidak bawa jas hujan. Oh ya plastik yang membungkus buku cerita lima sekawan tidak cukup besar, kecil, bocor lagi, kabar tidak baiknya adalah buku yang saya pinjam basah karena hujan. Sampai rumah, saya mencoba untuk mengeringkan, bisa sih, tapi tidak sempurna, karena buku jadi rusak. Sedih sekali, seminggu setelah itu, saya mengembalikan buku ke Pareanom, saya meminta maaf karena kehujanan buku jadi rusak, waktu itu saya mau membayar denda. Pemilik persewaan tersenyum, Ia tidak memberikan denda kepada saya, sungguh waktu itu saya meluap,senang sekali.

1995, Setelah pulang dari sekolah, saya minta ijin ke ibu, saya akan belajar kelompok ke rumah Yuli. Ibu pun mengijinkan saya, saya terburu-buru, tak sengaja saya menyenggol gelas minum saya, gelas saya pecah. Ibu bilang tidak usah dibereskan, ibu mau membersihkan, saya mencium tangan ibu, saya terburu-buru, langsung naik sepeda,  kemudian menjemput teman saya Rohmah. Saya memboncengkan Rohmah, oh ya sebenarnya hari itu saya dan teman-teman mempunyai skenario jahat, saya sengaja berbohong ke ibu. Hari itu saya tidak belajar kelompok di rumah Yuli. Saya, Maryam, Rohmah, Yuli dan Zani bermain-main ke waduk, kami naik perahu, kami bermain air, kami sangat senang sekali waktu itu. Pukul 4 sorean, saya dan rohmah memutuskan pulang, tapi lewat jalan yang berbeda. Tiba-tiba seperti kami terjun, seperti balon-balon hitam menabrak tubuh saya. Saya terbangun di sebuah rumah kecil, berlumuran darah, bapak tua disamping saya bilang, untung saya tidak masuk jurang. Kepala saya berat, bibir saya luka berdarah, hidung saya berdarah, saya menangis, orang-orang disamping saya hanya melihat. Ada anak kecil berbaju biru mendekati saya, ia bilang pernah lihat saya, ia bilang  bahwa ayah saya bekerja di smp tempat dia bersekolah. Saya di bawa ke rumah sakit, setelah 1 jam lebih, Ayah dan Ibu saya baru datang. Saya memegang tangan ibu kuat sekali, saya menangis, meminta maaf, sebenarnya sore itu saya tidak belajar kelompok, tapi saya bermain dengan teman-teman. Ibu tidak berkata apa-apa, Ibu mencium pipi saya, lembut sekali.

Saya tahu, hari itu saya pasti  menangis, saya tahu hari itu saya pasti  sedih sekali. Saya tahu, hari itu saya akan tumbang. Sehari sebelum hari itu, saya dan andrief naik pohon di depan perpustakaan sekolah, saya mengajari andrief bernyanyi indung-indung.

Ria, besok, Andrief mau pindah.

Pagi itu saya tidak mau sarapan, saya membayangkan semuanya menjadi cukup lambat, saya masuk kelas, melihat Andrief dari balik jendela, ia bermain  kelereng di samping kelas. Bel berbunyi, kami berdoa, Ibu Andrief datang, Andrief ke depan kelas, Ia berpamitan akan pindah rumah dan sekolah. Saya menyembunyikan muka,  saya tidak mau memandang Andrief. Saya tidak menangis, tapi ada kegelisahan, patah. Ia pernah menunggu saya di depan masjid, ketika saya belajar mengaji. Ia mengirimkan bingkisan kue ketika keluarganya merayakan natal. Ia pernah mendengarkan saya bernyanyi indung-indung, ia meminta saya untuk mengajari ia menyanyikan indung-indung. Andrief menyalami teman-temannya, lalu sampai juga ke meja nomor dua, ia menghampiri saya, saya linglung. Sampai sekarang saya tidak tahu ia dimana, Andrief Santo gorgapov, semoga dalam keadaan baik.      

Saya tidak ingat, ini terjadi pada tahun berapa. Yang saya ingat, saya memakai baju hijau garis-garis, lalu topi bundar berwarna putih, Ayah saya mengajak ke ladang milik kakek. Hari itu sangat panas sekali, bayangan tubuh saya sangat jelas, saya meloncat-loncat mencoba menginjak bayangan saya, tapi tak pernah berhasil. Saya marah, lalu menarik-narik tumbuhan wijen, Ayah saya berteriak, TRIAAAAAAAAA, jangan begitu.
Saya tahu Ayah saya marah besar, ia tak pernah memanggil saya dengan sebutan itu. Ayah saya selalu memanggil saya dengan sebutan Ria, Saya tahu, Ayah marah besar.  

Kira-kira kelas 2 SD, saya bermain dengan kakak saya dan teman-teman sepermainan kakak saya, Di geng itu saya paling muda dan saya perempuan sendiri, mereka menyebut saya pupuk bawang. Kami mempunyai rencana jahat untuk mengambil tebu di perkebunan tebu belakang rumah. Kami senang sekali, kami mendapatkan tebu yang cukup banyak. Priiiittttt, terdengarlah peluit itu, kami dikejar sipir perkebunan. Saya paling belakang sendiri, tebu yang saya bawa saya buang. Ah lega akhirnya, kami bisa bersembunyi di belakang rumah teman, tapi kami hanya berhasil membawa 3 batang tebu. Yasudah, kami mau potong-potong tebu itu. Karena saya pupuk bawang, saya harus memegang tebu yang akan di potong. Entah kenapa, karena kakak saya memotong batang tebu sambil ngobrol, bencana pun tiba, pisau mengenai jari tengah tangan saya, darah mengucur deras, saya menangis keras. Ibu membawa saya ke Puskesmas terdekat, sampai sekarang bekas bencana itu masih terlihat di jari tengah saya.              

Saya suka sekali pintu milik tetangga sebelah saya, warnanya merah. Waktu itu ada semacam acara arisan atau apa gitu saya lupa, saya bilang ke ibu mau bermain buka tutup pintu. Ibu saya bingung, berulang kali menanyakan maksud saya main buka pintu. Saya bersikeras mau main buka tutup pintu milik tetangga saya. Tak sengaja tetangga saya mendengar, ia mengijinkan saya main di pintu rumahnya. Tapi Ibu saya tidak, ibu menatap saya, seperti bilang, jangan nak, jangan.  Nekat sekali, saya bermain, seolah-olah mengetuk pintu, lalu membukanya sendiri, lalu masuk kerumah, lalu keluar lagi, lalu saya ulang berulang kali. Saya mengulang-ulang terus, sampai kesenangan maksimal, sampai gerakan menjadi semakin cepat, sampai saya menubruk pintu dan sebelah mata saya terkena paku yang tertempel di pintu. Saya jatuh, karena luka yang cukup parah, saya dibawa ke rumah sakit, sampai sekarang luka itu masih ada di sebelah mata bagian kanan, ah sungguh menggemparkan.    

Kelas 4 SD, saya dipilih ibu guru buat menari yapong di acara perpisahan kakak kelas. Ada juga teman saya yang lain yang dipilih untuk mengisi acara itu. Ada yang menari, menyanyi dan drama. Saya sebenarnya tidak mau, karena lengan saya sebelah kanan sakit, karena habis jatuh waktu bermain. Tapi ibu memaksa saya untuk tampil, saya sangat membenci hari itu. Yang paling saya ingat adalah saya marah, saya tak mau ngobrol dengan siapapun. Giliran saya tampil, saya musti pura-pura senyum, ah sungguh itu menyakitkan.               

Kelas 5 SD Waktu itu jam istirahat, ada kakak kelas bernama Handoko, ia mengganggu teman semeja saya, upik. Ia menarik-narik rambut Upik sampai menangis, saya sebal sekali. Spontan, saya lari ke kebun belakang sekolah. Saya mengambil tomat di kebun, tomat itu langsung saya lempar ke Handoko. Baju handoko yang putih ternoda tomat merah. Guru pun datang, melerai kami berdua. Setelah  kejadian itu, nilai agama di raport saya hanya 6.  

Kejadian ini selalu berulang-ulang, dari kelas 1 SD sampai kelas 3 SD mungkin, saya sering lupa membawa tas saya sendiri ketika pulang sekolah. Jadi, waktu itu saya ingin cepat pulang kerumah. Habis doa bersama  pulang, saya langsung lari kerumah. Ketika sampai dirumah, ibu bertanya, dimana tas saya, saya baru teringat, tas saya masih di laci sekolah. Maka saya dan ibu pun harus kembali ke sekolah mengambil tas. Saya juga bingung, kejadian ini berulang-ulang terus. Hingga guru saya  selalu mengingatkan saya untuk membawa tas ketika akan pulang dari sekolah.

3 minggu setelah saya menempati kelas baru di SMP kelas 1, siang itu pelajaran sejarah. Saya suka sejarah, tapi guru saya waktu itu sangat membosankan. Akhirnya saya mengeluarkan mainan boneka kertas atau BP(Bongkar pasang). Saya asyik sekali, tidak memperhatikan pelajaran sejarah sekalipun. Berulang kali, teman semeja saya menyenggol saya, tapi saya tidak peduli. Saya sedih sekali, di dalam permainan saya terjadi gempa yang cukup hebat, sebuah buku dijatuhkan, merusak permainan BP saya. Saya kaget, ternyata bapak guru sejarah saya yang menjatuhkan buku tersebut, Ia marah besar. Mainan saya disita, ayah saya dipanggil guru BP (Bimbingan dan Penyuluhan) . Setelah kejadian itu, Ayah mengeluarkan satu kardus koleksi BP dirumah saya, TRIAAAA, bakar ini semua. Saya tahu Ayah marah besar, ia tidak pernah memanggil saya seperti itu, ia selalu memanggil saya dengan sebutan Ria, saya tahu Ayah marah besar.

Kelas 1 SMP, kondisi saya tidak baik, saya mengurung diri di kamar. Saya marah sekali dengan kakak saya karena sesuatu hal, saya tidak berbincang dengan siapapun. Saya tidak mau berbincang dengan siapapun, saya mengurung diri di kamar, saya menatap cermin lama sekali, bayak sekali bisikan-bisikan datang. Ayo masuk kedalam dunia kaca, masuklah, semakin dalam, masuklah, semakin dalam, buka pintu kaca, tubruklah, tubruk, pada gelombang arah yang maksimal, bisikan ,menjadi semakin kuat. Saya menghantam cermin dengan tangan kiri saya, tangan saya terasa dingin sekali. Tiba-tiba saya terbangun dirumah sakit, saya melihat ibu menangis, saya merasakan sakit yang sungguh luar biasa. Entah kenapa, bisikan itu kadang datang menjadi sangat kuat, maka insiden ini sering terjadi, ini adalah pertama kalinya, setelah kejadian ini masih ada insiden serupa, tapi saya tidak kuat untuk menceritakannya.    

SMP kelas 1, Ayah saya meminta saya untuk mengikuti TC/Latihan Atlet Pencak Silat, karena sebelumnya saya sudah mengikuti latihan Pencak silat secara rutin. Tes itu tiba, saya berhasil masuk latihan atlet untuk persiapan kompetisi tertentu. Waktu itu saya sering membolos, karena saya merasa itu bukan saya. Ini sungguh tidak menyenangkan. 

Dulu waktu saya SD sampai SMA saya mempunyai diary pembunuhan, jadi saya  menulis beberapa orang yang tidak saya suka, lalu saya membunuh mereka ke dalam cerita-cerita saya. Pembunuhan dengan cara mengenaskan dengan cara saya.  Hingga suatu saat, Paman saya membaca diary pembunuhan saya itu. Ia meminta saya membakar semua diary itu. Di suatu sore, saya memberanikan diri membakar semua diary pembunuhan itu di belakang rumah saya, rasanya dingin, sendiri.  

Ayah saya mengantarkan saya kesekolah, waktu itu saya masih menjadi siswa baru di SMA. Ketika di perjalanan saya menangis keras, ayah berhenti menanyakan keadaan saya. Ada apa ria? Saya bingung apakah saya harus memasukkan kaki ke roda atau tidak, bisikan itu kuat, meminta saya untuk memasukkan kaki saya ketika motor berjalan, saya tidak kuat, saya menangis. Ayah memeluk saya, hari itu saya tidak jadi kesekolah.    

Saya kangen gogo, teman saya berbentuk wortel berpelangi, ia sedang ngambek.Saya lupa memberinya permen berwarna pelangi.

Halo, saya lelah, tiba-tiba pikiran saya loncat-loncat, ingatan-ingatan berputar, saya ingin istirahat dulu.Masih banyak ingatan yang berjejal, ingin mengalir, dan saya akan mengamati  aliran itu apa adanya saja. Menyadarinya begitu saja, salam.

bekal buah jangan lupa

Tadi malam saya tidur jam 12 malam, biasanya saya bisa tidur jam 2 atau 3 atau 4 pagi,  karena udara dingin, tubuh saya cukup rileks, meringkuklah, tidurlah. Tidur saya cukup nyenyak, pukul 10.30 wib, ibu membangunkan saya, kaget rasanya. Wow, saya tidur hampir 10 jam lebih, tulang-tulang saya serasa mau patah, kepala beratnya seperti 10 ton entah. Saya melakukan prayanama yoga sederhana, mandi, lalu berpamitan ke ibu mau bekerja. Ibu menyiapkan bungkusan di samping tas saya, ibu bilang bekal buah jangan lupa, bisa meredam kelelahan. Saya mencium tangan ibu, lalu berlalu. Terima kasih ibu.

9.11.11

Lelaki berkacamata mengirim gajah ajaib


Selasa pagi ini dimulai dengan yang panas, bangun tidur lalu membuka jendela, senang luar biasa karena matahari bersinar merekah, cerah. Yah, akhir-akhir ini solo begitu mendung, jadi ketika matahari pagi ini bersinar terang, senangnya bukan kepalang.  Lalu saya langsung melangkah keluar rumah, berjemur di bawah sinar mentari sambil membaca buku si bandel, Edith Unnerstad. Suasana sungguh sumringah, sebenarnya saya ingin limun, tapi persediaan dirumah tidak ada. Yasudah, saya hanya minum air putih saja. Mendekati jam 10 pagi, saya memutuskan untuk menyudahi ritual berjemur ini. Saya harus segera mandi, soalnya jam 11 harus masuk kerja.
Baiklah, jam 11 saya sampai radio. Sungguh mood yang cerah berubah cepat kilat menjadi lebam. Saya belum menaruh tas, sudah mendengar rekan kerja panik, marah-marah karena kurangnya komunikasi dengan penyiar, harusnya ada beberapa adlips(iklan) yang tidak harus dibaca pada saat talkshow spesial. Sungguh, mood saya jadi kacau, rasanya ingin mencakar mukanya. Saya diam, lalu menghirup nafas panjang, lalu saya berbincang dengan penyiar mengenai masalah tersebut, oke, masalah selesai. Tapi pikiran saya masih saja sebal dengan rekan kerja yang tadi yang tak bisa berbicara pelan-pelan, nyolot, berteriak-teriak, ah sungguh buang energi.  Jadi saya menghirup nafas panjang, mengeluarkan, lalu minum air putih.
Cindy, resepsionis di radio tempat saya bekerja, memanggil saya. Ia bilang, tadi pagi ada lelaki berkacamata menitipkan bingkisan. Saya bertanya, siapa namanya, ia jawab tidak tahu. Baiklah, saya mengucapkan terima kasih kepada cindy. Lalu saya membuka bingkisan itu. Sungguh saya sangat kaget, sebuah buku berjudul The Magicians Elephant dan kertas origami warna warni. Saya membuka buku tersebut, di halaman pertama tertulis, It's mood booster, enjoy !

Solo, 8 November 2011

7.11.11

Laler Mengeng

Mendengarkan kaset gamelan Laler Mengeng dirumah, ayah saya bertanya, kenapa mendengarkan gendhing kesedihan? ada perkara apa?
saya masuk kamar, tak ada jawaban suara, suara jangkrik dari kebun belakang rumah bercampur dengan gendhing gamelan laler mengeng, sempurna!
Lalu yang tergambar dalam pikiran saya adalah kebun belakang rumah seperti padang kurusetra,arena perang Baratayudha antara Pandawa melawan Astina
Laler Mengeng,bila ada laler atau lalat hijau yang berterbangan dan hanya ditempat itu terus maka diyakini ditempat tersebut adanya mayat
Laler Mengeng, bahwa kematian saya sesungguhnya telah ditetapkan , kapan dan dimana, fana, fana,fana, fana

2.36 WIB
7 November 2011

6.11.11

I'm listening to Laler Mengeng ,Tlutur, Panjang Ilang,Gamelan Gaya Surakarta while writing my childhood story #therapy

4.11.11

Monokrom

Jadi mau makan siang  apa mbak ?

Secepat kilat ibu warung sebelah radio langsung menjawab pertanyaannya sendiri : nasi sayur Asem lagi ?
Saya pun mengangguk, lalu mencari tempat duduk terbaik, sendiri. Ibu menyiapkan makanan, dan menyajikan nasi sayur  asem, menu favorit makan siang saya selama 7 hari berturut-turut.

Ga bosan ya mbak?

Belum bu,

Pola makan mbak ini aneh lho ya, kalau lagi suka pecel , pecel terus, kalau lagi suka mie , mie terus, kalau lagi suka nasi tumpang, ya nasi tumpang terus, pola makan kayak gini ga sehat lho mbak

Oh semesta beri saya kekuatan hahaha, wejangan ini sudah sering saya dengar, saya pun  heran dengan tubuh ini, maunya begitu. Entah. Saya jadi teringat ibu saya yang geram dengan pola makan saya ini, saya akan berganti menu makanan, jika saya benar-benar bosan.  Sampai sekarang ibu menyembunyikan tempat mie instant agar tak terlihat dari pandangan saya, gara-garanya saya pernah kecanduan mis instant, setiap hari harus makan mie instant sampai mungkin 3 bulan berturut-turut. Sebenarnya sejak kecil sudah seperti ini, pernah saya ketagihan sate telur puyuh, hampir setiap hari saya meminta, jika tidak dikabulkan, masuklah saya  ke kamar, tidak mau berbincang dengan siapapun.

Waktu SMP Kakak saya pernah bilang, kamu itu monokrom sekali dek

Hah? Monokrom ? Maksudnya?

Yah, entar kamu bakal tahu deh.

Duh, jungkir balik deh pikiran ini, hingga terjadilah bencana itu. Saya ketagihan sesuatu yang biru lalu musti bolak balik ke rumah sakit. Ibu pun mengancam, segera rubah pola makanmu itu. Oke, hanya beberapa bulan  saya bisa bertahan. Tetapi waktu itu , ada sesuatu kerinduan yang amat dalam, kerinduan sesuatu kesenangan sampai maksimal, begitu kira-kira. Maka diam-diam, ketika saya bekerja, jarang makan dirumah, pola makan kesenangan yang berulang-ulang sampai maksimal ini terulang kembali sampai sekarang. Entah, saya merasakan satu warna maksimal, gelombang satu arah maksimal, kesenangan yang maksimal. Oh, adakah yang mempunyai pengalaman yang sama?

Solo, 4 November 2011

kenapa harus berjalan jauh sekali hanya untuk makan?

2 hari yang lalu, teman saya yogiswara mengajak makan bersama. Oke tujuan utama, kami ingin mie ayam. Lalu spontan, yogi bilang ingin ke  mie ayam pinangsia, lumayan jauh dari tempat kerja saya. Saya pun mengiyakan. Di sepanjang perjalanan, yogi memastikan apakah saya cocok dengan pilihannya. Ya ,saya bilang tak masalah. Mendung sekali sore itu, lalu sampailah kami di mie pinangsia, kami memesan 2 porsi lalu duduk dan menunggu di kursi no 3 dari depan.

"Kenapa harus berjalan jauh sekali hanya untuk makan?", pertanyaan ini tiba-tiba keluar dari pikiran yogi. Lalu kami diam sebentar, dan ia pun menambahkan, " padahal khan ya, pas kita dalam perjalanan kesini, kita melewati banyak sekali warung makan, bahkan warung mie ayam pun banyak, kenapa kita harus berjalan jauh sekali hanya untuk makan?."  

Mendengar pertanyaan itu pun saya tersenyum,  karena pikiran "keinginan" kita yang menuntun ke tempat ini. Seperti kamu ingin sesuatu, maka dengan segala usaha pun bakal kamu lakukan. Walaupun itu membutuhkan waktu lama dan jarak yang jauh sekalipun. Kadang kesadaran terhadap sesuatu yang sama didekatmu walaupun itu mirip yang kamu inginkan, tak pernah digubris sekalipun. Karena memang sejak awal sudah mempunyai standar keinginan yang sudah kamu pastikan untuk diraih. kira-kira begitu. Pesanan datang, kami lalu menikmati mie ayam yang legendaris itu. 

" eh yogi, kamu mau ngabisin makanan favorit pas sesi awal atau akhir makan ?"

"oh  saat awal sesi makan, langsung pengen ngabisin hehehe , kalau kamu ?"

"lihat sendiri khan, sawi ini bakal aku makan terakhir, biasanya aku makan bagian favorit pas terakhir makan"

" hahaha berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian"

"hahahahaha"

Lalu meledaklah kami dengan tertawa lebar di pinangsia. 


Solo, 4 November 2011

Catatan kecil : duh, kenapa waktu itu kami tertawa lebar yah, apa yang lucu? 

3.11.11

red cells

Are you tired  now ?

Your pessimism is the only thing that can broke a leg. So, do you understand what i mean?
Sometimes you do not need explanation about everything. Just relax, stop thinking!
I mean, just realize about all your ideas in your head. I'm in the realization of window. See the reality, do real activity.
Red, I'm red, I'm really red, come on my way
Red. All things are red. Wanna become red ?
Don't worry, i  want to make the red formulas
I'll cook in the kitchen, then be ready to turn red
Red, red, red.  I was red in your head. The previous past will come back.
Through feeling of love that hide so many reaction.
Action!
Red, red,red
It's time to become one in the soul of diversity, come tome, dance with me, unite in red.

2.11.11

Telepon Tengah Malam

1. 22 lebih 2 di hape lama
    penghapus pensil jatuh dari meja
    aku masuk ke kamera
    memori mengaduh ingin lupa

2. Dompet hitam merah terbuka
    Koin-koin terserang mantra
    Terbuka kartu darah duka 
    7 pedang menusuk sementara

3. Komputer hitamku rusak
    Aku menelan kapsul merah
    pemutar musikku tersedak
    Kau jalan meracuni cerah

4. 2 pasang sepatu kesepian
    teh hangat basi tadi pagi
    aku lelang nostalgia jalan
    kau sengat duri jadi hati

5. Kemeja flanel tergantung di kamar
    burung kertas hinggap di kepala
    Telepon putus jantung terlempar
    bingung terperangkap masuk jala

6. Kunci lemari  hilang lagi
    Tikus mati akan pulang
    Roti tawar sepi di lemari
    Sirene pagi menelan dalang

7.  Gula-gula kadaluarsa di saku
     Kopi hitam membakar cemburu
     Lagu-lagu membungkus laku
     Api  malam mencakar kayu

Solo, 2 November 2011

22 kersen

Jam 14.00 lebih entah, kebosanan melanda, segera saya meninggalkan komputer di ruang siar, berjalanlah saya ke samping radio. Ah pohon kersen yang sangat ranum seperti menyapa saya, sini sini cepat kemari. Ingatan menjadi berputar menjumpai masa lampau,oh begitu saya sangat menyukai buah kersen. Dulu dirumah saya ada pohon kersen, setiap berbuah, saya memanjatnya, tak boleh satu pun orang menganggu. Jika mendengar kakak berteriak segeralah turun dek dari pohon itu, seharian mood saya bisa berubah mencekam. Sungguh, pohon kersen ini membuat pikiran menangkap beberapa objek disekitar menjadi lambat bercampur nostalgia yang cerah.

Lalu segera saya meminta ijin ke ibu hadi, pemilik pohon kersen, ibu hadi mengangguk tersenyum membolehkan saya mengambil buah kersen di pohon. Ibu hadi  memberikan tiang pendek  untuk mengambil  buah kersen di pohon itu. Saya harus berusaha keras, berjinjit-jinjit meraih kersen. Seru ! Berjinjit-jinjit meraih satu buah kersen rasanya seperti ribuan kesenangan melesat cepat. Lalu yang ada ayo-ayo segera ambil buah kersen di dahan yang lain. Lalu saya sibuk mecari-cari si merah si kersen cerah. Ketika saya merasa lelah, saya memutuskan untuk berhenti berburu kersen. Saya mengucapkan terima kasih ke ibu hadi, lalu segera menghitung jumlah kersen yang saya peroleh. Hasil panen kersen ini adalah 22. Oh bahaya! Saya teringat 22 dreams, lagu yang nge-hits sekali dari paul weller. Lalu segera saya hidupkan mesin pemutar musiknya, terdengarlah paul weller-22 dreams, serunya hidup ini semesta, terima kasih ya atas 22 kersen merah yang sungguh bahaya .


I HAD 22 DREAMS LAST NIGHT
AND YOU WERE 21
THE LAST ONE I SAVED FOR MY SELF
JUST TO SAVE MY SOUL

I GET CONSUMED BY YOUR FIRE AND GRACE
I LOSE CONTROL WHEM I`M IN THAT PLACE