10.2.11

Letupan

Memuncak aroma di kepala, tertiup bayang , lelap membayang ke seribukali entah keberapa, bayang yang lain mulai menggerakkan aroma sendiri, disetiap malam yang begini, aku ingin berjejalan dengan lampu kerlap kerlip jalan. Siapa tahu ya, disana ada letupan-letupan kecil yang membuatku terbang. Hingga bungah apa ini, aku ingin ungkapkan kepada seluruh sekitar , bahwa hei aku ingin mengecup letupan itu, tidak bisa aku hitung dengan angka-angka atau lipatan mata uang yang membuat orang-orang tertarik dengan bayang-bayang.
Karena tuhan terbalik, in hanya pikiran-pikiran, jangan dibawa serius ah.Lalu aku hanya ingin berdekatan dengan lipatan-lipatan , yang diakhirnya mengucapkan sampai jumpa, mungkin besok kita bertemu atau tidak. Lalu yang ada hanya jungkitan huruf berkelibatan di kepala, Istilah menang dan kalah, hanya dipikiran. Jangan mengutik, diutik pun juga, ini hanya pikiran.
Tak ada yang akan mencampuri peribahasa ratusan yang berkembang di belantara angkasa dunia, ah apa itu namanya, semuanya berjejalan dalam jalan-jalan, lampu liar, seliar mata-mata memandang. aku ingin menikmati hanya beberapa gerak saja, lalu hanya waktu,entah sedikit atau banyak. 
Kusut berulangkali, lelah berkali-kali, terang berkali-kali, sensasi berkali-kali, gerak berkali-kali, waktu berkali-kali, pengulangan berkali-kali, letupan berkali-kali, ya begitu berkali-kali, aku teringat jalan-jalan panjang, permainan kenangan menghujam derasnya waktu. Tidak teratur mengatur, ribuan bergejolak cepat, lalu yang ada hanya begitu, semua kembali pada yang biasa, pada biasa yang terjadi, bahkan letupan pun hanya begitu, biasa terjadi. Kembali pada biasa, ya biasa ya begitu, sungguh.
17 november 2010 
Terimakasih semesta atas perjalanan ini

No comments: