10.2.11

.

Jika aku berjalan, lalu lalang merasa sendiri dan merasa kosong. Itu bukan berarti aku benar-benar sendiri dan kosong, ternyata konsep sendiri, kosong dan semacam itulah adalah konsep-konsep bualan dari pikiran sendiri.

Terimakasih semesta atas perjalanan ini

Catatan menstruasi 2.2


Seperti ada yang bilang, tolong terbalik, lalu membisikan rasa di telingaku, mari berdendang , tak ada tangisan lagi. Jalan-jalan membuka dengan sendirinya, setelah sekian lama tertutup oleh bayang. Kamu yang membuntuti malam-malamku, bergeliat menusuk tubuh. Seperti menyapa sendi yang tertidur.
Jari-jari bergerak merapikan kekuatan, udara yang sore, tubuh yang lantang berteriak kencang, tak ada hore. Jalan-jalan melupakan kata yang terkesima dengan wajah, tubuh tertutup. hanyut. Seperti ada yang tertendang dalam tubuhku, seperti monster-monster kecil menggelitik, mencabik, pelik.
Gerakan yang mencoba mengingatkan sejarah tertutup di dalam lemari, aku acak-acak satu per satu, halaman terbuka dalam lipatan busana lelah. Mencoba pun tak bisa, hanya bayang yang terlihat satu per satu, di lusuh baju-baju.

13 januari 2011
Terimakasih semesta atas perjalanan ini

catatan menstruasi 2.1

Tak ada yang berlari, dalam benak . Tubuh tergantung di atas pintu, seperti tanduk yang mulai tumbuh, tidak dikepala, tapi di hati. Mana mungkin , katamu. Kataku, bisa saja terjadi begitu. ah kepura-puraan yang tertancap jantung. Kira-kira begini, aku tak akan berlari, jika kartu-kartu belum terhitung. lamunan tergantung, pada kepala yang kurang, ajar.

Karena aku ingin merebahkan segala sisi yang tertumpuk , ah apa kamu tahu? semacam ada pembunuhan tak terduga di setiap detik, ditubuhku. Lalu yang mengalir adalah resah ke dalam tanah. Kukira begitu.

Catatan mengering atau kering atau bisa saja dibuat kering, karena keraguan yang mendasar pada semuanya. Kira-kira begini, di kepala ini tertulis, jangan mengeluh, keluh membuat jari-jarimu melepuh, lalu kamu akan menjadi monster. Oh atau serigala, yang siap menerkam kegelisahan, terungkap dibalik tanduk, Dimana?

Dada mungkin jawabannya, mungkin saja tidak

12 januari 2011 

Terimakasih semesta atas perjalanan ini

Letupan

Memuncak aroma di kepala, tertiup bayang , lelap membayang ke seribukali entah keberapa, bayang yang lain mulai menggerakkan aroma sendiri, disetiap malam yang begini, aku ingin berjejalan dengan lampu kerlap kerlip jalan. Siapa tahu ya, disana ada letupan-letupan kecil yang membuatku terbang. Hingga bungah apa ini, aku ingin ungkapkan kepada seluruh sekitar , bahwa hei aku ingin mengecup letupan itu, tidak bisa aku hitung dengan angka-angka atau lipatan mata uang yang membuat orang-orang tertarik dengan bayang-bayang.
Karena tuhan terbalik, in hanya pikiran-pikiran, jangan dibawa serius ah.Lalu aku hanya ingin berdekatan dengan lipatan-lipatan , yang diakhirnya mengucapkan sampai jumpa, mungkin besok kita bertemu atau tidak. Lalu yang ada hanya jungkitan huruf berkelibatan di kepala, Istilah menang dan kalah, hanya dipikiran. Jangan mengutik, diutik pun juga, ini hanya pikiran.
Tak ada yang akan mencampuri peribahasa ratusan yang berkembang di belantara angkasa dunia, ah apa itu namanya, semuanya berjejalan dalam jalan-jalan, lampu liar, seliar mata-mata memandang. aku ingin menikmati hanya beberapa gerak saja, lalu hanya waktu,entah sedikit atau banyak. 
Kusut berulangkali, lelah berkali-kali, terang berkali-kali, sensasi berkali-kali, gerak berkali-kali, waktu berkali-kali, pengulangan berkali-kali, letupan berkali-kali, ya begitu berkali-kali, aku teringat jalan-jalan panjang, permainan kenangan menghujam derasnya waktu. Tidak teratur mengatur, ribuan bergejolak cepat, lalu yang ada hanya begitu, semua kembali pada yang biasa, pada biasa yang terjadi, bahkan letupan pun hanya begitu, biasa terjadi. Kembali pada biasa, ya biasa ya begitu, sungguh.
17 november 2010 
Terimakasih semesta atas perjalanan ini