28.12.11

Oleh-oleh dari Plaja


Pertama kali lihat dompet vintage ini saya langsung jatuh cinta, cantik ya? Dompet ini saya dapat di toko barang antik di pertunjukan"setjangkir kopi dari plaja" oleh papermoon puppet theater. Karena saya suka barang-barang vintage, dompet ini langsung saya beli saja, oleh-oleh dari plaja ini sungguh menggemaskan :)

26.12.11

Gamelan #6 Latihan sendiri, Mengulang lagi, Gugur Gunung Aku Jatuh Hati

Rumah berpagar merah masih tutup, padahal jam sudah menunjukkan angka 16 tepat. Lalu seorang satpam keluar, ia langsung membuka pagar dan bilang jika saya mau berlatih gamelan, bisa langsung saja masuk ke ruangan.  Ruangan gamelan masih sepi, tidak seperti biasanya seperti ini. Saya curiga, jangan-jangan hari ini libur, tetapi saya ingin segera mengambil tabuh dan duduk di depan saron dan segera memainkannya. Hari ini saya membawa nada-nada gendhing sendiri, minggu kemarin guru saya mengijinkan saya untuk membawa nada-nada gendhing, jadi saya bisa memahami dirumah. Saya mengulang pelajaran gendhing yang diberikan minggu lalu, saya memainkan lagi lancaran mbok yo mesesm slendro sanga disambung gendhing Pring Jamang. Setelah saya tuntas menyelesaikan satu gendhing, kira-kira jam 16.30, belum ada satupun orang yang masuk, hanya saya yang ada diruangan ini. Melihat alat-alat gamelan tidak dimainkan, ditutup dengan selendang merah rasanya magis sekali. Saya lalu keluar ruangan, menemui bapak satpam, saya bertanya apakah hari ini libur latihan gamelan atau tidak. Bapak satpam tersenyum, ia bilang memang hari ini latihan gamelan diliburkan, tetapi saya boleh-boleh saja latihan sendiri.  Saya mengucapkan terima kasih dan segera masuk keruangan, latihan sendiri. 

Rasanya seru sekali, saya bisa mengulang lagi, memainkan lagi, mencoba lagi, memainkan saron ini begitu mengasyikan, pikiran saya menggoda ayo beli saron sendiri, latihan dirumah sendiri, biar segera lancar bermain. Aduh keinginan ini datang secepat kilat, baiklah saya redam dahulu, sepertinya saya akan menabung untuk membeli saron sendiri, semesta beri petunjuk ya :)  

Ajaibnya, dalam waktu satu jam, saya sudah bisa lancar memainkan lancaran mbok yo mesem tanpa harus mengintip lembaran kertas nada-nada yang berisi angka, rasanya seperti ada getaran hangat, sedikit trance. Saya ingin memainkannya terus sampai maksimal. Setelah berkutat dengan gendhing slendro, saya mencari gendhing pelog untuk dimainkan, ya agar latihan hari ini seimbang. Saya mencari lembaran nada-nada yang berisi gendhing di rak, dan menemukan lancaran gugur gunung pelog barang. Kejutannya adalah ketika saya memainkan gendhing gugur gunung, ketukan-ketukan seperti membentuk partikel-partikel kecil bernama ceria, ah asyiknya. Saya mengulangi memainkan gugur gunung beberapa kali, kurang lebih 30 menit saya sudah bisa memainkan tanpa harus mengintip kertas nada-nada gendhing. Gugur gunung, membuat sore saya begitu hangat, saya duduk bersimpuh dibagian selatan, dekat jendela kaca, senangnya bisa mengintip sinar mentari yang malu-malu akan terbenam. Gugur gunung, cintaku semakin menggunung, aku jatuh hati!

 Senin Pon, 26 Desember 2011

25.12.11

Memoria Setjangkir Kopi Plaja

Aku  kesepian di kereta, pikiran memburuku untuk segera sampai yogya. Memandang langit dari kaca kereta, membuatku bergumam, langit desember sore ini sedih sekali. Kereta berhenti, lalu lintas pikiran orang-orang berdesakan, aku ingin menuntaskan kesepian, keluar dari kereta  diurutan terakhir, berhenti memandang kereta berlalu, mendengar peluit semakin menggebu. Pintu gerbang stasiun sangat megah sekali, di tambah mendung yang bingung. Aku duduk sendiri di depan stasiun, sendiri. Kekasihku lama sekali, sore itu aku patah hati, menunggu lama membuat pikiranku menjadi tersedak. Akhirnya kekasihku datang, energiku menjadi lemah sekali, seperti berwarna abu. Ketika perjalanan menuju kedai kebun, pikiran kami seperti berlarian, tapi kami diam. Pesan pendek dari rekan papermoon membuat kami semakin terburu-buru, kabar yang kami terima bis yang akan mengantarkanku menuju rumah plaja akan segera berangkat. Kekasihku menambah kecepatan kendaraan, kanan kiri berisik sekali.
Lega rasanya ketika sampai di kedai kebun, aku langsung menukar tiket dan mendapatkan sebuah buku cerita yang sangat cantik dan dua kartu pos dari plaja. Setelah itu, seorang awak bis dari Po Lestari mengumumkan bahwa bis akan segera berangkat, semua penumpang masuk bis. Aku duduk di belakang, berada di tengah, kanan kiriku lelaki. Ucapan selamat datang dari pemandu, wulang sunu, berhasil menyulap pikiranku untuk selalu mengikuti apa yang ia ucapkan. Ceritanya antik, ia menceritakan tentang sejarah jalan-jalan menuju rumah plaja. Yang menarik perhatianku adalah dua rumah megah, rumah ini terletak di jalan Tirtodipuran. Si pemandu, wulang bertanya kepada penumpang, adakah yang suka gamelan? Saya tersenyum dan mengacungkan jari, kata si pemandu, konon salah satu rumah itu digunakan untuk latihan gamelan. Oh magis sekali, ingin rasanya suatu saat nanti memasuki rumah itu, merasakan energi masa lalu.
Kurang lebih 10 menit, Bis sampai Plaja, semua penumpang bis disambut dengan hangat oleh pemilik toko barang antik, bernama Jamal. Aku takjub dengan toko ini, energinya hangat sekali. Oh ya, aku memutuskan untuk membeli dompet kecil vintage, bergambar anak-anak oriental yang menggemaskan. Harganya lima ribu saja. Setelah menikmati pesona barang antik, Jamal mengajak kami ke toko selanjutnya, katanya lebih ajaib,aku berjalan di belakangnya bersama teman yang lain.

Pintu dibuka, si pemandu mempersilahkan kami untuk melihat-melihat toko atau duduk juga tak mengapa. Aku langsung jatuh cinta dengan kursi vintage hijau, lalu aku putuskan saja duduk disitu. Rasanya berdebar, seperti ratusan partikel energi masa lalu berkumpul dan menyentuh pundak. Tiba-tiba lampu mati, jamal meminta maaf dan meyakinkan kami untuk duduk yang nyaman dan tenang. Ah iya, lampu redup menyala  di depan, si pemilik rumah datang, seorang perempuan dan seorang lelaki. Mereka menceritakan jalan-jalan yang hilang, atau kira-kira membangkitkan lagi energi yang terendam lama di kotak harta karun. Aku seperti membaca peta, ini kisah seorang lelaki dan seorang perempuan yang berjanji untuk sebuah kehidupan yang membahagiakan. Tetapi tidak semudah itu, berliku. Lelaki itu, Pak wi, ia mendapat tugas dari negara untuk belajar ke rusia. Ia berjanji dengan kekasihnya untuk kembali lagi, hidup bahagia bersamanya. Kisah cinta berlanjut sangat romantis, si lelaki dan si perempuan rajin mengirimkan surat, menceritakan kabar dari dua negara yang berbeda. Ah sungguh menggetarkan jantung. Lagu-lagu pilihan yang digunakan pun sangat berhasil menelpon masa lalu, saya suka sekali dengan orkes kronjtong kemayoran dan cepaka putih ada di pertunjukan ini.

Mala bahaya datang, peristiwa gerakan 30 September 1965 membuat kondisi negara indonesia  tidak baik. Karena Pak wi dikirim ke negara komunis, paspor lelaki itu dicabut oleh pemerintah orde baru, tentu saja ini mengakibatkan kewarganegaraan pak wi dicabut.  Ini horor sekali, suara berita horor dari RRI membuatku ketakutan, dan ketika aku melihat pak wi masuk kotak ditutup lalu dikunci, Aku hampir menangis. Ia tak bisa menghubungi  keluarganya, ia tak bisa menghubungi kekasihnya sampai empat puluh tahun lamanya. Aku bisa merasakan kesakitan yang perih sekali. Selama puluhan tahun itu, pak wi memutuskan untuk tidak menikah, ia setia, ia memenuhi janjinya pada sang kekasih. Selama puluhan tahun itu, cangkir plaja menjadi saksi bisu cerita cinta pak wi dan kekasihnya. 40 tahun kemudian, pak wi berupaya untuk menemui kekasihnya. Pak wi mendapat kabar, kekasihnya sudah berkeluarga dan mempunyai 4  orang cucu. Walaupun begitu, lelaki bernama Pak wi ini berbahagia dan berharap  bisa bertemu dengan kekasihnya itu. Sungguh, menggetarkan jantung. Sekarang Pak Wi bekerja sebagai salah satu ahli Metalurgi di Playa, Havana, Kuba. Ia hidup sendiri.

Salut untuk Ria Papermoon yang sangat sensitif sekali menggambarkan kisah percintaan ini. Terus terang, pertunjukan ini sangat antik, menikmati secangkir kopi plaja seperti menikmati kesadaran penuh cinta, karena cinta itu masih ada, walaupun kopi terasa pahit, kenikmatan pahit begitulah maksimal begitu adanya. Begitulah cinta. Saya jatuh cinta dengan konsep pertunjukan yang sangat vintage ini, menggambarkan kisah percintaan ini di toko barang antik adalah ide brillian. Seperti energi masa lalu berkumpul, partikel-partikel kecil, energi lalu menjadi ruh pertunjukkan ini.



Rabu, 21 Desember 2011

Terima kasih untuk Alfonsus Lisnanto gathi yang sudah mengabadikan kenangan ini:)

Kereta Malam Natal


Saya pulang, kereta membawaku ke solo, Prambanan Express malam itu penuh sekali. Saya membawa tas hitam   dan tas kotak besar berisi christmas ring, di tambah lagi saya juga membawa ranting pohon yang rencananya akan saya hias di kantor. Wow, saya kerepotan sekali membawanya. Ketika perjalanan, saya meletakkan di lantai, jadi tidak terlalu capek untuk membawanya.  Lega rasanya ketika saya sampai stasiun purwosari,tapi eh tapi, masalah datang, pintu kereta rusak, jadi saya harus berjalan ke gerbong lain dengan membawa barang yang banyak, seorang satpam kereta yang baik hati membantu membawakan barang sampai saya turun dari kereta. Lalu bapak satpam berseragam biru mengucapkan kehangatan  .............

Si Satpam  : Hati-Hati dek, Selamat Natal
Saya          : Terima kasih Pak, Selamat Natal

Si Bapak naik kereta, ia melambaikan tangan, senyum mengembang, rasanya terang. Saya berjalan meninggalkan stasiun dengan  jantung mengembang :)

Solo, 24 Desember 2011

19.12.11

Gamelan #5 Senin Legi merah, Lancaran "mbok yo mesem" Slendro 9, Pring Jamang Bergairah

Sebelum latihan gamelan, saya sempat membaca kalender, saya penasaran saja dengan  tanggal jawa hari ini, saya tersenyum sendiri ketika menemukan legi di 19 desember ini, oh ya HRD di kantor sampai menegur, menanyakan keadaan saya, apakah saya baik atau tidak? Oh secepat kilat, saya merespon pertanyaan itu, yes, i'm fine! the sweet monday, i love it!
Senin legi,  mendekati pukul enam belas, berjalan kaki menuju rumah gamelan, mematikan handphone. langsung mengambil tabuh, segera mengambil nada-nada gendhing di rak dan berlatih gamelan sendirian, saya mengambil gendhing acak dan mendapatkan ladrang kalongking pelog 6. Mencoba beberapa kali bermain saron, mencoba lagi, mencoba lagi, mencoba lagi, saya asyik sendiri. Hingga, guru saya, mas Mudji memberi kode ke saya agar segera berhenti, karena latihan gamelan bersama segera dimulai.
Mas Mudji memberikan lembaran berisi nada-nada gendhing baru, hari ini saya dan pemain gamelan yang lain memainkan ladrang "mbok yo mesem" slendro 9 dilanjutkan dengan lagu Pring jamang. Di hari ke 5 saya berlatih gamelan, saya sudah bisa mengikuti alur dari guru, jadi tidak kerepotan untuk mengikuti nada yang dimainkan. Ah senang sekali, rasanya ingin memainkan saron ini terus, tanpa berhenti.
Ketika berlatih ladrang "mbok yo mesem" semua pemain seperti terbang , melayang, ceria mengembang, aura rumah gamelan menjadi begitu cerah meriah. Saya ketagihan memainkan saron, ketika giliran mengetukan nada gendhing Pring jamang, saya mengulang-ngulang terus,saya menjadi bergairah untuk memainkan saron,  karena kecepatan ketukan membuat saya harus lebih berkonsentrasi. Ji ro ji ji ro ji nem mo mo nem mo mo nem mo mo nem mo nem ji, 121 121 65 565 565 61, ini baru baris pertama ya :) , memainkan gendhing ini dengan cepat dan harus harmonis dengan pemain yang lain adalah tantangan yang mendebarkan. Ya, ketika kami berhasil memainkan gendhing ini, kami bersorak ria, rasanya bahagia sekali.  Menikmati  teh hangat  dan berbincang riang membuat saya semakin lekat dengan pemain gamelan yang lain. Ketika saya pulang, Mas Mudji menyarankan agar saya membawa kertas-kertas Gendhing, sehingga saya bisa memahami dirumah. Saya senang, latihan gamelan 2 jam membuat saya begitu rileks, saya tidak merasa lelah, hari ini menjadi cerah. Kertas-kertas berisi nada gendhing saya simpan di map merah, saya menemukan map ini tak sengaja di kantor. Wah teks-teks beterbangan, seperti semesta menelpon, senin legi merah, senin legi merah, senin legi merah, pring jamang bergairah :)

Senin Legi, 19 Desember 2011

18.12.11

Cerita Prambanan Express #2

Saya kira saya telat, saya tergesa-gesa masuk ke stasiun lempuyangan,  karena menurut jadwal kereta api prambanan express akan berangkat pukul 16.16, eh ternyata ini jam 16.22 belum berangkat juga. Masalah klasik, weekend prameks pasti penuh, aduh!
Lalu saya naik kereta, tidak dapat tempat duduk, yasudah berdiri saja, baiklah pukul 16.38 menit, kereta akhirnya berangkat juga. Aduh, saya terhimpit di dekat pintu, sedangkan beberapa orang duduk-duduk, malah ada satu keluarga yang kedua anaknya tiduran di kereta. Saya duduk pun tak bisa, oh terhimpit. Kereta berhenti sebentar di stasiun maguwo, kereta sudah penuh, eh ditambah penumpang lagi. Ah, bergerak jadi susah. Ada lelaki berkemeja garis-garis menarik saya, pindah saja, "nanti kamu terjepit pintu", begitu katanya. Hah? saya bergerak pun susah. Karena pengertian beberapa orang, mereka membantu saya menuju ke dalam kereta, akhirnya saya berdiri di batas gerbong, keadaan lumayan, daripada tadi di dekat pintu, saya terhimpit, karena penumpang sungguh membludak, oh weekend membuat kereta pramexs penuh telak. Ada tiga ibu-ibu dan ketiga anaknya duduk di kursi di dekat saya, sedangkan saya berdiri menghadap ke timur. Ketiga ibu-ibu ini sedang asyik berbincang,  

Ibu satu : kemarin nilai raport anakku lumayan, untung ya aku  ikutin dia les
Ibu dua : les dimana bu?
Ibu satu : bu asma, tapi yo, kelemahannya bahasa inggris anakku itu lho nggak bagus, padahal ya udah les juga
Ibu tiga : kenapa harus les tho bu? kalau saya beli poster gambar-gambar yang tulisannya bahasa inggris -indonesia saja, saya pasang di kamarnya, kalau malam saya suruh baca dia (ibu ini sambil mengelus rambut anaknya yang tidur disampingnya)   
Ibu satu : Ga ada waktu bu buat ngajarin, kalau dah pulang kerja capek, ya mending di lesin saja
Ibu dua : kalau les malah nambah  biaya juga ya bu? boros nanti malah
Ibu satu : kalau buat anak, apapun bu aku lakuin
Ibu tiga : yang penting khan bukan masalah les atau nggak, yang penting kita ada waktu buat nemenin, ngawasin belajar
Ibu dua : inggih bu, leres niku

Ibu tiga diam saja, ia memandang jendela cukup lama, lalu yang terdengar suara batuk-batuk, tangis bayi bercampur deru kereta.

Sabtu, 17 Desember 2011

Cerita Prambanan Express #1

Jum'at yang padat, kereta api prambanan express sore pun sungguh padat, jadi ya penumpang berdesak-desakan, saya berdiri menghadap ke utara, di depan saya ada seorang bapak berwajah oriental dengan dua anak-kecil, anak laki-laki usianya sekitar 4 tahun dan  anak perempuan usianya sekitar 7 tahun. Selama perjalanan kedua anak ini tidak berisik, mereka pendiam. Ketika di daerah klaten, si anak kecil minta susu, si bapak ini segera membuka tas, tetapi ia agak kerepotan, karena tempat duduk yang sempit berdesak-desakan. Lalu ada seorang perempuan berjilbab tiba-tiba memangku anak kecil yang laki-laki. Oh ya, sepertinya mereka tidak begitu mengenal, karena si bapak dan anak tadi kaget. Si perempuan tadi bilang hanya ingin membantu agar si anak tidak terjepit, lalu terjadi perbincangan seperti ini :

Si Bapak        : anak ini namanya prince, mbak kuliah di yogya?
Si Perempuan : iya pak, di ugm
Si Bapak        : ooo, ngambil apa?
Si Perempuan : kedokteran pak
Si Bapak        : Saya punya anak kembar, dua-duanya dokter, tapi lulusan undip dan atmajaya jakarta, ini mamanya anak-anak ini.
Si Perempuan : sekarang tugas dimana pak?
Si Bapak        : yang satu di Yogya, satunya di Samarinda, adek aslinya mana?
Si Perempuan : saya banjarmasin pak
Si Bapak        : Mau ambil spesialisasi apa nanti?
Si Perempuan : rencananya mau nerusin S2, pengen jadi dosen
Si Bapak        : ooh ya ya ya 

Si Bapak dan kedua cucunya tadi turun di stasiun lempuyangan, Sedangkan si perempuan berjilbab turun di stasiun Tugu. Si Perempuan tadi berjalan terburu-buru, hingga menyenggol tas biru  yang saya pegang, saya jalan santai, mengamati ia yang berlarian bingung, seperti ia mencari-cari seseorang atau sesuatu, ya begitu :)

Jum'at, 16 Desember 2011

Membongkar Harta Karun Toko Merah

Toko Merah, saya tidak ingat sudah berapa kali saya datang kesini, yang saya ingat dengan pasti, toko merah ini surga, menyimpan harta karun yang luar biasa. Saya pernah mendapatkan buku harian vintage yang aduhai, kertas surat 90an,  dan aneka alat tulis yang menawan. Oh ya, toko merah ini terletak di Jl Affandi, Gejayan, Yogyakarta. Sabtu kemarin, saya datang kembali ke surga toko merah, saya begitu menyukai aroma buku yang begitu khas. Lantai dua adalah tempat persembuyian saya. Saya sangat ketagihan menelusuri peta harta karun di toko merah.Walaupun rak-rak berdebu, saya tetap semangat membongkar-bongkar tumpukan beraneka buku, sungguh menyenangkan sekali. Aha! Senang bukan kepalang, ketika saya menemukan buku harian bermotif vintage, langsung saya mengambil 6 buku. Oh sungguh terkejut, ternyata satu buku harganya lima ratus saja. Sepertinya buku harian ini sudah mendekam lama di rak toko merah  ini, telapak tangan saya sampai hitam, kena debu, tapi tak apa ya, sungguh mengasyikan sekali. Jadi, saya pulang dengan jantung mengembang, harta karun telah ditemukan, 6 buku harian di tangan. Hai-hai buku harian  vintage yang cantik, mari kita mulai petualangan yang asyik!

15.12.11

Gamelan #4 Ladrang rujak jeruk slendro sanga, aku ewa

Sepertinya alarm ditubuh saya  bekerja dengan baik, saya  tidak perlu membutuhkan mesin alarm  yang selalu mengingatkan untuk melakukan sesuatu kegiatan. Mendekati pukul enam belas, saya mematikan laptop, lalu segera berjalan kaki menuju rumah hangat, tempat biasanya saya berlatih gamelan. Hari ini saya duduk disamping shellina, tentu saja saya masih belajar memainkan saron. Setelah mendapat nada gendhing dan membaca judulnya, pikiran bekerja lebih cepat dari ketukan :) . Saya membayangkan semangkok rujak, isinya jeruk, sambalnya banyak. Lalu saya membaca mantra ketukan-ketukan ladrang, deretan nostalgia yang berbahaya menyerang, rasanya seperti saya berendam dalam semangkok rujak, berisi jeruk, sambalnya banyak. Rasanya latihan hari ini seperti itu, saya mengamati shellina, lalu mencoba main sendiri, lalu saya bermain dengan pemain yang lain.  Istirahat tiba, dua piring pisang goreng dan teh hangat diputar. Saya masih berlatih saron, memainkan ladrang rujak jeruk. Saya minum teh hangat, setelah itu  mendapat nada gendhing berjudul "Aku ewa". Saya sibuk dengan pikiran saya sendiri , semangkok rujak dengan sambal yang banyak, menghabiskan ketukan sampai pukul delapan belas, bergumam kelam, aku ewa!

Senin wage, 12 Desember 2011

White Koffie




I drink coffee all day long! Doesn't matter what time of day it is, I drink coffee and now my favorite coffee to drink is White koffie. I'm so addicted to this coffee! Happy coffee day to you!

Kalender Kayu


Saya duduk di kursi, ibu sedang menjahit baju. Entah kenapa tiba-tiba saya berkata kepada ibu, saya ingin kalender kayu. Kalender kayu yang akan saya letakan di meja kamar, disamping tempat tidur. Perbincangan ini terjadi di bulan Juni, bulan manis yang begitu saya sukai. Di minggu kedua bulan desember, sesuatu yang ajaib terjadi, sepulang dari kerja saya terkejut melihat kalender kayu di meja kamar. Ibu yang meletakkan kalender kayu itu di kamar, sungguh ayu. Tadi pagi, saya mengganti angka kalender, angka-angka berhamburan seperti pikiran,  rasanya  mengembang, senang :)

8.12.11

New York City Jail

The greatest thing happened:  my friend, yogiswara,  gave me this t-shirt, thank you so much yogi, I'm wearing it Now!

6.12.11

Gamelan #3 Hujan Deras, Gendhing Jahe Wana, Nglaras

Hujan deras, pikiran deras, tidak ada payung atau jas hujan, saya berlari menuju rumah tua, tempat saya berlatih gamelan . Ini hari ketiga saya berlatih gamelan, walaupun hujan deras, tidak membuat saya malas. Sampai di rumah grup bengawan solo, dengan baju yang sedikit basah, saya mengintip ruang latihan, oh ternyata belum ada yang datang. Jadi ya, saya latihan sendiri dulu saja. Hujan deras, pintu saya buka, dan saya memainkan saron, ketukan-ketukan saron bercampur dengan suara hujan, sungguh menawan. 
Jam enam belas lebih beberapa menit, teman-teman pemain gamelan mulai berdatangan, mereka lalu berkumpul di tengah, tidak seperti biasanya, mereka tidak langsung mengambil tabuh (pemukul) gamelan, tetapi membagikan lembaran-lembaran kertas yang berisi nada-nada gendhing. Grup gamelan Bengawan Solo akan pentas tanggal 9 Desember 2011 nanti , jadi mereka menyiapkan beberapa gendhing yang akan dimainkan. 
Saya menghentikan permainan saron, lalu seorang ibu datang  memberikan  lembaran kertas bertuliskan nada-nada  gendhing jahe wana, ketika mereka rapat, saya berlatih lagi, memainkan gendhing jahe wana. Ah, perut yang lapar mulai berteriak keras, mau membalas pesan pendek ke teman, tapi gagal terus, mungkin satelit sedang mengaduh kesakitan. Handphone saya matikan, perut saya yang lapar berulah, sungguh payah. Kesadaran kelaparan, satelit sakit ditambah ketukan saron gendhing jahe wana, sungguh rasanya magis sekali. Seperti tersesat, sakit, tapi ada kesejukan yang lewat yang membuat dada menjadi semakin hangat. Nglaras.       
Senin Pahing, 5 Desember 2011

Gamelan #2 Selasa Legi, Lir-ilir Pelog 6 Pelipur Hati


Selasa legi, saya tidak harus membawa gula-gula yang banyak untuk membuat hari ini terasa legi. Senyuman dan kesadaran hembusan nafas membuat hari ini begitu manis, saya datang latihan gamelan lebih awal, karena saya penasaran untuk mencoba bermain gamelan sendiri, maka ketika beberapa pemain belum datang, saya bermain saron sendiri, saya memilih duduk di sebelah selatan. Alasan yang lain adalah saya hanya bisa mengikuti latihan gamelan hari ini sampai jam  tujuh belas saja, karena jadwal latihan gamelan ini bertabrakan dengan jadwal kegiatan saya yang lain.  
Hari ini shellina tidak datang, maka saya menggunakan saron yang biasanya ia pakai. Dan itu artinya, saya harus siap latihan bersama-sama dengan pemain gamelan yang lain. Bapak Suwarno lalu membagikan kertas berisi nada-nada yang harus kami mainkan, sore ini kami memainkan lir-ilir pelog 6. Ibu Ana meyakinkan saya, pasti saya bisa mengikuti alur pemain gamelan yang lain.
Lir-ilir mulai dimainkan, dan saya mulai memainkan saron sambil membaca nada pelog yang sungguh membahayakan. Berulang kali saya tertinggal dengan pemain yang lain, kebingungan, lalu ibu ana yang baik hati  menunjuk beberapa nada di kertas agar saya cepat mengikuti. Aduh kerepotan sekali, permainan pertama saya memang tidak bagus, berantakan sekali. Karena saya belum bagus bermain saron, kami harus mengulang lagi dari awal. Tarik napas panjang, hembuskan pelan-pelan, saya mengetuk saron, mengamati nada pelog di kertas, pikiran loncat-loncat, oh sungguh begitu sempurna. Saya menyadari keriuhan dalam dada, keriuhan kekhawatiran memainkan saron ditambah pula keriuhan kenangan yang meledak di kepala, sungguh Lir-ilir berhasil mengacak-acak selasa legi . Tidak, saya tidak membutuhkan gula-gula untuk membuatnya permainan ini menjadi semakin manis, dengan kesadaran penuh berisi kekhawatiran saya yakin memainkan saron. Kekhawatiran, keraguan, keingintahuan berjalan begitu adanya saja seiring dengan ketukan-ketukan saron yang saya mainkan. Lir ilir, lir ilir tandure wis sumilir :)         

Selasa Legi, 29 November 2011

Gamelan #1 Belajar Slendro Manyura, Hari Pertama Belum terbiasa


Pada hari ketiga bulan Sura, jam enam belas kurang lima, saya berjalan kaki menuju rumah di dekat radio tempat saya bekerja, saya mengucapkan salam, bersalaman dengan teman-teman baru, senyuman-senyuman melekat terasa hangat. Atap berwarna coklat bertingkat menjadi pelarian kekhawatiran, apa yang harus saya lakukan untuk pertama kalinya ?
Beberapa orang berdatangan, bersalaman, bersenda gurau sambil menyiapkan beberapa peralatan. Saya duduk di kursi sofa berwarna abu, lalu seorang guru memberi tanda lagu. Saya mengamatinya saja, sendirian, diatas sofa abu. Mata sesekali bermain-main ke jendela kaca, mengamati wajah-wajah senja asyik dengan ketukan-ketukan yang sempurna. Mas Mudji dan Bapak Suwarno lalu meminta saya untuk mengamati permainan saron, saya duduk bersimpuh di dekat pemain saron, namanya shellina, 8 tahun, ia pemain termuda di grup Bengawan Solo ini. Shelli sungguh asyik sekali, ia tanpa ragu-ragu memainkan saron, ia sesekali tersenyum dan berkata kepada saya, "ayo coba, ini gampang!".             
Jam tujuh belas, pemain gamelan memutuskan untuk istirahat sebentar, lalu saya diberi kertas bertuliskan nada-nada, angka-angka yang tidak saya pahami, lalu ibu ana, ibu dari shellina memberi saya petunjuk bagaimana saya memainkannya. Oke, saya harus memainkan gendhing lancaran penghijauan slendro manyura. Di depan saya ada dua jenis saron, yaitu pelog dan slendro. Perbedaannya adalah ada pada nada tangganya.
Slendro,  5  nada per oktaf, yaitu 1 2 3 5 6  dengan interval yang sama atau kalau pun berbeda perbedaan intervalnya sangat kecil. Sedangkan Pelog, ada 7  nada per oktaf, yaitu 1 2 3 4 5 6 7 dengan perbedaan interval yang besar. Oh ya, ketika kita  memainkan pelog, masih dibagi menjadi dua lagi, yaitu Pelog Barang, dan Pelog Bem. Pelog Barang tidak pernah membunyikan nada 1, sedangkan pelog Bem tidak pernah membunyikan nada 7.
Saya diberi tabuh (pemukul) saron, lalu mulailah saya memainkan saron itu. Entah kenapa, tiba-tiba mood saya yang sebelumnya berantakan menjadi begitu bahagia sekali, grogi pergi, yang ada ingin mengetuk saron lebih lama lagi, tangan seperti tidak mau dihentikan. Guru saya bilang, ketika saya mengetuk saron, ketukan saya masih belum pas. Lalu saya mencoba lagi, mencoba lagi, mencoba lagi, dan beberapa pemain tertawa lebar mengamati saya bermain saron, beberapa pemain mengikuti nada-nada yang saya mainkan, beberapa memberikan semangat. Hari pertama latihan yang menyenangkan, Guru saya memberi pesan agar saya rajin datang latihan supaya saya terbiasa memainkan saron. Saya berpamitan dengan semua pemain gamelan, senyum-senyum yang khas membekas, seorang  ibu berwajah sendu menyentuh pundak saya, menyalurkan energi hangat, ia berucap," Hari pertama belum sempurna, tidak apa-apa, karena belum terbiasa". 

Senin kliwon , 28 November 2011             

28.11.11

four polar bears late at night trust in reverse

 March, 25th, 2011

It was a glorious day, we sat in the secret garden, enjoying the calm evening. We played  a really magic game. At the same time, i wrote the question, he wrote an answer. I didn't know what he wrote, he didn't know what i wrote. After we finished, we read it all out loud to each other. It was one of the most powerful thing I have ever experienced in my life. So, here's the result :

Part I

Him


1. Have you everbeen to outer space ?
2. If you had to choose your favorite people for an everlasting meal in the clouds who would you choose?
3. Invisibility or flying, which is better?
4.What is the most useless word you know?
5.What's your favorite food?

Me

1. Garden's heaven
2. I have to make decision
3. sure
4. whereever i'll go
5. no one

Part II

Me

1. Do you think pet sound is music ?
2. have you everbeen to palace?
3. Why are you angry ?
4. Can you tell me your favorite day of the week?
5. Do you like black music?

Him

1. 4
2. Polar bears
3. Late at night
4. Trust
5. in reverse

27.11.11

Kasmaran Gamelan

                                                                           photographed by Gamelan Duta Laras            

Ada perkara apa ? Pertanyaan dari ayah saya ini menghantam pikiran , waktu itu dini hari, sekitar jam 1 pagi lebih entah, saya memutar kaset gamelan, saya mendengarkan laler mengeng, ini adalah gendhing kesedihan, Dalam wayang purwa, gendhing ini biasanya untuk mengiringi adegan perang dan adegan kesedihan. Apa yang saya rasakan dini hari itu? Ketika saya mendengarkan gendhing Gamelan Laler Mengeng saya seperti masuk ke dalam badan, saya merasakan kesedihan atas penderitaan , kunci pintu sejarah saya temukan, saya masuk kedalamnya, menyelam kedalamnya amat dalam. Iringan gamelan yang saya dengarkan menembus gelombang energi yang sekian lama tertidur lama sekali, iringan itu mencium saya pelan dan berbisik lirih, segera bangunlah, rasakan sakitnya, segera bangunlah, rasakan sakitnya semakin dalam. Hari itu membuat saya tidak tidur, saya terjaga, pikiran saya mengalir dan saya menjadi penonton, sendirian. Anehnya, keesokan harinya saya tidak kecapekan atau mengantuk, rasanya seperti saya habis  meditasi, tidak tidur,terjaga sepanjang hari.   

Kupu-kupu riang, sayap-sayapnya bergesekan di dalam perut, membuat saya begitu melayang. Lempung gunung minggah gandrung manis, budheng-budheng kembang kacang, ketawang wigena menjadi menu utama selain koran pagi, kopi pagi, dan telur mata sapi. Saya begitu menikmatinya, kadang kala iringan-iringan gamelan menyerang saya seperti monster yang mengajak saya perang, kadang-kadang gendhing gandrung manis membuat saya bermimpi manis, kadang-kadang iringan gamelan ini membuat saya begitu damai, seperti kekhawatiran lenyap begitu adanya saja.           

Kondisi kaset koleksi gamelan milik ayah saya  sudah rapuh, karena usia kaset yang memang sudah sepuh. Saya meminta tolong teman untuk mentransfer kaset ke digital, saya tidak mau iringan gamelan itu di edit, saya membiarkan noise yang ada, suara klik-klik pun terdengar begitu saja. Ya memang begitu adanya. Lalu saya memasukan gendhing-gendhing itu ke laptop. Dalam segala suasana, gendhing gamelan masuk dalam playlist saya bercampur dengan portishead, royal trux, the misfit, sonic youth, johnny cash dsb, rasanya sungguh mengejutkan, saya tidak berlari, saya tidak mengejar, tapi energi ini menghampiri, tanpa saya menduganya, sungguh hidup.

Tadi pagi saya terbangun tanpa teringat mimpi apapun, saya benar-benar belum bangun, masih dalam keadaan tertidur, mengambil kertas memo dan entah energi apa yang mendorong saya untuk menulis kalimat ini : Hello universe, I'm going to learn gamelan, I'm sure, i can play it !Thank you universe. Lalu saya tempel pesan itu di dinding vision board    kamar saya. Saya tidak begitu memikirkan terlalu keras apa yang saya tulis tadi pagi. Sebenarnya hari ini saya libur, tapi karena ada tugas dari kantor, saya melakukan tugas itu, live report untuk acara off air di taman Balekambang. Sekitar jam 15an lebih entah, saya selesai menyelesaikan tugas, lalu saya kembali ke radio. Saya duduk di warung jus depan radio, membawa laptop, mendengarkan playlist dan menulis. Playlist random, dan ketika terdengar iringan magis itu, penjual warung jus, mbak else dan mbak mini dengan ekspresi kaget bertanya ke saya apakah saya serius mendengarkan gamelan. Saya tersenyum dan mengangguk. Terjadilah perbincangan seru, karena ternyata saya dan mbak mini mempunyai pengalaman yang mirip, ketika kami masih  kecil orang tua kami senang mendengarkan wayang, karawitan, gendhing gamelan dari radio. Perbincangan ini semacam sentuhan nostalgia di sore hari yang menyejukkan hati. Saya bertanya kepada teman saya itu , dimana saya bisa berlatih gamelan. Mereka menyarankan saya untuk bertanya di sebuah rumah yang sangat dekat dengan radio, tempat saya bekerja. Entah ada energi hidup yang membuat saya begitu bersemangat, setelah perbincangan itu saya sowan ke rumah itu, saya bertemu dengan pemilik rumah, saya menceritakan ketertarikan saya terhadap gamelan dan keinginan saya untuk mempelajari gamelan. Senyum bapak itu mengembang, ia mengundang saya untuk datang  ke rumah itu lagi, besok hari senin jam 16 tepat. Senangnya bukan kepalang, jantung saya mengembang, saya mengucapkan terima kasih, ada kehangatan di dada, rasanya sejuk begitu adanya. Terima kasih semesta.   

Setelah saya selesai menyelesaikan tulisan ini, saya tersenyum membaca tulisan yang saya tempel di vision board kamar tadi pagi, oh energi ini begitu ajaib. Lagu yang saya dengarkan ketika saya menulis ini adalah :    
  • Stereolab -endless summer
  • Laler Mengeng, tlutur,panjang ilang, Gamelan Gaya Surakarta
  • Bedhaya Pangkur, Gamelan Gaya Surakarta
  • Grouper- invisible
  • Rod McKuen-Listen to the warm
  • The For Carnation- Moonbeams
  • Lempung gunung, minggah gandrung manis, pelog 7, RRI Solo

26.11.11

Membangunkan Helikopter dan Rumah Serigala

 
Saya menemukan gambar ini tadi sore, ia tertidur di lantai lelap sekali. Ketika saya menarik kursi hitam di ruangan kantor, tak sengaja kaki kursi menginjak gambar ini. Saya ambil gambar ini, seperti cubitan-cubitan datang secepat kilat menelpon memori. Berlyn berlarian kesana kemari, berlyn teriak-teriak, berlyn main games, semakin ingat berlyn,semakin gemes. Berlyn ini adalah putra dari rekan kerja saya di kantor,mbak erny,  kadang mbak erny mengajak Berlyn bermain ke kantor. 

Lihat gambar itu? Apa yang di gambar Berlyn? Saya menangkap Helikopter. Mamanya berlyn pernah cerita berlyn suka sekali dengan helikopter dan pesawat terbang. Berlyn bisa lupa waktu jika bermain dengan  helikopter atau  pesawat terbang. Ia bisa melupakan apapun jika keasyikan dengan permainan yang sangat ia sukai. Beberapa bulan yang lalu, ada bencana datang, listrik di radio mati. Kami terjebak di ruang tengah radio. Mendung dan gelap, sungguh suasana mendukung. Karena saya tidak mau Berlyn ketakutan, saya mengambil beberapa kursi lalu saya atur diatasnya saya beri selimut, saya bilang ke berlyn, ayo bersembunyi disini, disini aman. Saya juga mengajak teman saya , keshia, di bawah kursi berlyn bersembunyi, saya dan keshia menjaganya. Saya mendongengkan sebuah cerita tentang rumah serigala di hutan belantara. Ditengah-tengah mendongeng, saya mempunyai ide untuk mengajak teman kerja saya, lalu saya mengajak fajar masuk kedalam cerita, ia menjadi serigala. Baiklah prahara itu dimulai saudara, Berlyn terjebak, ia bersembunyi di rumah serigala dan si pemilik rumah datang, serigala mengancam. Berlyn tidak takut, ia malah menggoda srigala agar selalu mengaum. AUUUUUM!

Saya merindukan permainan itu, entah kenapa sore ini ketika saya menemukan gambar Berlyn, saya seperti berpetualang melewati gelombang permainan Berlyn. Saya mengambil gambar helikopter si Berlyn, saya akan bawa pulang dan menyimpannya di rumah, saya tak mau gambar itu mendarat di tempat sampah. 10 tahun lagi, jika saya bertemu Berlyn, saya akan bilang ke dia : Berlyn, Ayo naik helikopter, Ayo kita mengunjungi rumah serigala !


25.11.11

Aku ingin menuliskan 1000 halaman, tapi aku terlambat

Buku- buku berserakan di lantai, Aku lupa untuk merapikannya. Satu cangkir kopi kemarin pagi  masih di meja, ingatan terlambat untuk mengembalikannya ke dapur. Handphone tergeletak  saja di kursi, pesan-pesan belum terbuka. Akhir-akhir ini aku terlambat membuka jendela , aku sering lupa bagaimana caranya bangun pagi. Pikiran bekerja lambat, koran pagi pun lewat. Senyuman-senyuman boneka diranjang, rasanya terbang. Akhir-akhir ini aku terlambat menyapa mentari, terlambat minum kopi, terlambat ke kamar mandi, terlambat sarapan pagi, terlambat membalas pesan-pesan yang kau kirimkan setiap pagi. Aku jadi terlambat mencuci, terlambat menyapu, terlambat menyirami tanaman, terlambat bercermin, selalu seperti ini. Pikiranku melambat, lebat. Aku terlambat menangkap ingatan-ingatan baju yang tertumpuk di lemari. Semuanya berserakan disini, ingatanku terlambat meminum pil-pil penunda rasa sakit, lalu sepi, selalu seperti ini.          
 

24.11.11

Bar !

Jam merah  tepasang di dinding bar, aku mencium langkah kakimu, kutahan dalam ingatan hitungan detik jam. Aku tak mau menyapamu, membiarkanmu berada dalam tatapan tiga puluh derajat dari tempat dudukku. Selamat tinggal berulangkali kuucapkan selamat tinggal, kukirimkan pesan kepada asap-asap rokok yang terbang tak beraturan menggertak udara pada ruangan ini. Apakah kamu tersedak?

Oh ternyata tidak, wajahmu riang, tertawa riang, aku saja yang terlalu tinggi untuk menekan pesan. Orang lalu lalang, berdansa,duduk-duduk dan minum-minum, ayo kita tenggelam, aku di dalam pesta yang merebut kartu-kartu keberuntungan yang aku temukan di sebilah pedang. Aku mainkan satu-persatu, lalu semua mengalir pada rak-rak minuman, aku ingin mengambil semuanya, menelan terang. Aku tuangkan ke dalam gelas  utuh, yang mencoba membunuh seribu atau duapuluh ratus sekian pesan yang tertelan dalam sel-sel,lalu  mengalir menuju pembuangan limbah. Pesta ini sangat meriah, aku bisa membunuh satu persatu dengan tanda-tanda kancing baju,lalu aku kumpulkan ke dalam gelas kaca,dan kemudian terpampang manis pada rak bar.

Mengenalimu cukup mudah, aku tak membutuhkan waktu banyak untuk berlari kepadamu, mencium pipi kanan kirimu, lalu kita habiskan berjam-jam dengan minum-minum. keputusan ini cukup mudah, aku cukup bertahan sendiri duduk , ditemani kancing baju dan dua sepatu. Jam merah yang terpasang  di dinding bar, aku belah menjadi beberapa bagian, aku menjumpai kamu yang tertidur, aku menjumpai kamu memasak sendiri di dapur, aku melihatmu dari tangga, sendiri, aku menjumpai kamu di dekat jendela,membacakan beberapa cerita, aku menjumpai kamu pada detak-detak yang terbang dalam kalender kayu. Aku menjumpai kamu yang sebenarnya pada lingkaran dan detak jarum jam yang menamparku di dalam bar. Dua sepatu dan kancing baju mengajakku untuk segera keluar dari bar, kubuka pintu, kututup pintu, berlalu,kamu menjadi pesan, mengejarku.

hey, kamu sendiri?

Tidak

Wanna dance with me?

No, i want to leave you!


***** I heard   the song from Can - Outside My Door  at a bar  and I knew that I have heard  it before. I really like it but I was not in the best condition to remember all :)

17.11.11

Tarik nafas panjang, Hembuskan pelan, Sadari pikiran melayang #Minimalistday

Suara tembak-tembakan dari area persawahan belakang rumah saya tak ada habisnya, dar dor, dar, dor, mengganggu ? iya. Biasanya pada jam 2 pagi, saya bisa mendengarkan jangkrik yang sangat jelas dari kebun belakang rumah, tapi hari ini lain cerita. Jadi, pagi ini ada latihan tentara, pikiran melayang telak, pikiran tertembak membayangkan perang, darah, tangisan-tangisan, dan wajah-wajah sendu itu menyerang.Ok ria, tarik napas panjang, hembuskan pelan, jangan melawan pikiran-pikiran yang datang, jangan mengomentarinya, tarik napas panjang, hembuskan pelan, sadari pikiran melayang.

Baiklah, kemarin malam, tepatnya rabu malam, saya harus mengisi suara untuk insert radio sebanyak 6 skrip, jadi kira-kira 1 jam  lebih entah saya berada di ruang produksi bersama tim saya, yogi. Sangat capek memang, jadi ketika mood saya sudah berantakan, saya mulai memberi kode ke yogi untuk istirahat 5 menit saja, apa yang bisa saya lakukan dalam waktu 5 menit?  Saya menarik nafas dalam-dalam, mengeluarkan perlahan, saya mengulanginya beberapa kali. Ya, ketika kita menarik nafas dalam-dalam, kita mengirimkan sinyal ke otak untuk rileks.Otak meneruskan sinyal ke tubuh, hingga tubuh kita merasa rileks. Jika teman-teman merasa capek, panik, terburu-buru, luangkan waktu 5 menit saja, tarik napas panjang, hembuskan perlahan.    

Setelah selesai mengisi suara, saya mencari beberapa musik yang cocok untuk produksi, ketika saya akan menuliskan musik pada urutan pertama, suara lelaki memanggil nama saya. Saya senang, saya mendapat kejutan, teman saya yang baik, Aji, bermain ke radio. Kami berbincang ini itu, kesana kemari, tertawa, lalu sesekali ajie mengetik sesuatu di handphone, bercerita kembali ini itu, hingga terjadi sebuah kesepakatan kita akan melakukan kegiatan bersama dalm waktu dekat, kabar baiknya, saya dan aji sangat antusias. Alarm di tubuh saya berbunyi, kami memutuskan untuk pulang, hal tidak menyenangkan adalah ketika saya tahu ban motor si merah redo kempis, ditambah lagi saya harus ke pom bensin mengisi air minum buat si redo. Aji tersenyum, dia mengambil motor saya, memanaskan mesin dan bilang jangan panik tria. Ok, tarik napas dalam-dalam, keluarkan pelan-pelan, membuat saya tidak meringis. Aji meminta saya menunggu di radio, dia bersama redo pergi ke pom bensin, lalu mengisi angin. Setelah redo dalam keadaan baik, kami pulang.  Terima kasih Aji yang baik Terima kasih semesta, malam ini saya bersuka cita :)

16.11.11

Buku-buku ini membutuhkan anda yang mau membaca dan menjaganya #Minimalistday



Buku-buku ini adalah buku kesukaan saya, mereka tinggal di lemari buku saya. Saya akan melepaskannya, ini bukan berarti saya tidak menyukai buku-buku ini lagi. Melepaskan perasaan yang luar biasa memang berat. Ini sebuah titik untuk saya. Saatnya pelan-pelan melepaskan keterikatan dan saya  menyadari bahwa  saya membuat pilihan yang tepat. Tadi pagi saya membersihkan lemari buku saya, saya menata ulang beberapa buku, seperti tertampar,  jangan tamak, jangan menumpuk, berbagilah, buku-buku ini membutuhkan seseorang yang membaca dan menjaganya, salurkan energi itu. Saya teringat ada beberapa buku hadiah pemberian dari keluarga, sahabat, teman-teman spesial yang belum selesai saya baca. Maka, beberapa bulan kedepan, saya berjanji akan menyelesaikan membaca buku-buku hadiah dari orang-orang terdekat saya.

Jika teman-teman berminat dengan buku ini : 

Mengapa masih relevan membaca Mark hari ini? Jonathan Wolf
True escape stories- Paul Dowswell 
Filsafat lingkungan-Henry Skolimowski

Silahkan tulis buku yang anda mau di komentar blog ini, Terima kasih teman-teman:)


Saya juga ingin mengucapkan terima kasih untuk mas elang yang minggu kemarin memberikan saya 4 buku : 

A Series of Unfortunate Event - The Slippery Slope (Lereng Licin), Lemony Snicket
A Series of Unfortunate Event - The Grim Grotto (Gua Gelap), Lemony Snicket
Panduan Membaca & Menulis Katakana, S A Mangunsuwito
Panduan Membaca & Menulis Hiragana, S A Mangunsuwito

Menyetrika sendiri,Membaca gajah sang penyihir, Swaiso sore hari, Meditasi #Minimalistday

Tumpukan baju di keranjang warna biru seperti memanggil, hai tolong rapikan saya segera, tolong ria sekarang juga. Cukup lama saya memandangi tumpukan, yang terjadi hanya lamunan yang panjang. Melamun memang mengasyikan ya, menyeret pikiran kita dan lalu kesadaran nyata kita lelap. 15 menit lebih saya melamun dan tersadar, kenyataan di depan mengingatkan saya, ria rapikan segera tumpukan baju itu. Saya mengambil keranjang, mengambil setrika putih, pengharum baju di dalam botol berwarna  jeruk.  Tidak mendengarkan lagu apapun, mengambil gaun biru, dan setrika siap melaju di atas jalan-jalan berliku, lekukan gaun biru. Lalu berpindah ke baju satu menuju baju lainnya. Melewati warna hitam, merah, abu sampai biru.Senyum mengembang ketika saya berhasil menyelesaikan perjalanan panjang, sungguh senang.   

Ia bersiul sambil melangkah, kalimat ini yang masih saya ingat setelah membaca buku gajah sang penyihir (the Magician's elephant -Kate Dicamillo) , tetapi hari ini saya belum bisa meyelesaikan membaca. Ya,  berkelana di dalam dunia gajah sang penyihir membuat hari ini tidak begitu kaku, saya menemukan catatan bintang, ladang gandum, apel kering, kertas berjamur dan sesuatu yang mengingatkan tentang umur.Membaca buku seri anak-anak memang ringan, minimalis, tetapi efek kebahagiaan bisa  terasa maksimal. Silahkan bermain ke perpustakaan terdekat, pinjam buku seri anak-anak kesukaanmu, bersiullah sepanjang hari :)   

Jam 5 sore, saya bersama teman-teman berolahraga ria. Setiap hari saya melakukan olahraga sederhana, kadang jalan kaki, yoga, senam atau swaiso. Tapi hari ini saya memilih senam dan swaiso. Jika teman-teman sangat sibuk, coba deh swaiso,
  • Ambil napas panjang lalu keluarkan. Berdiri tegak lalu kaki direnggangkan sampai batas bahu, Jari kaki mencengkeram. Ini untuk menekan telapak kaki sehingga menekan titik-titik akupuntur.
  • Tangan lurus, telapak tangan juga lurus menghadap ke belakang.Ayunkan tangan kedepan dan ke belakang seperti orang jalan, posisi tetap lurus dan bersama sama.
  • Seiring dengan itu, pas tangan ke depan, nafas diambil, pas tangan ke belakang nafas dibuang. Pakail nafas perut lebih baik, yaitu tarik nafas sambil kembungkan perut, dan buang nafas sambil kempiskan perut.
  • Ayunkan tangan bersama-sama ke depan dan ke belakang. Satu ayunan dihitung mulai dari depan -ke belakang – ke depan lagi. Lakukan rutin 5-25 menit sehari.
Swaiso, olahraga sederhana  yang berasal dari cina ini  bisa dilakukan dimana saja. Setelah hari ini melakukan swaiso dan gerakan senam yang minimalis, tubuh saya begitu rileks.

Pukul 19.30 saya bermeditasi di Vihara selama 30 menit. Menyadari lalu lalang pikiran begitu adanya saja, tidak melawan. Menyadari sekitar begitu adanya saja, tidak melawan. Menyadari aliran napas, begitu adanya saja. Setelah meditasi ini  ada semacam keriuhan dalm pikiran saya, saya mengamati geraknya pelan-pelan, mengungkapkannya, tidak melawannya, menyadari saja.

15.11.11

kopi sendiri, handphone sementara mati, jalan kaki #Minimalistday

Orang-orang  berlalu lalang, mengetik, berbincang, tertawa, suara musik di radio, duduk di depan komputer,  ini hanyalah gambaran suasana di kantor saya bekerja, pukul 14.00 lebih entah, saya mengambil cangkir terbaik saya, mengisi kopi dan air panas, mengaduknya, lalu saya mengambil kursi hijau, saya letakkan di pojok kantor, saya duduk sendiri. Saya memegang kopi yang panas, belum meminumnya, pikiran merespon beberapa gerakan-gerakan yang saya lihat di depan saya, orang berjalan, berbincang, duduk di depan komputer, menelpon, berjalan lagi, menutup pintu. Seper sekian detik, saya tersadar pikiran saya terseret oleh rangsangan indra penglihatan saya, saya tersadar dengan kopi panas yang saya bawa. Menghirup napas adalah tindakan yang sederhana, kesadaran sederhana. Saya mengaduk kopi pelan, melihat air coklat, sendok besi, kesadaran mengaduk, mengamati kopi begitu adanya saja, meletakkan sendok di meja, pikiran saya tergoda menanggapi pikiran orang berjalan, sungguh pikiran ini seperti monyet loncat-loncat, saya duduk kembali, mengamati kopi, mengamatinya tanpa komentar apapun. Saya minum, saya rasakan mengalir ke dalam tenggorokan, saya kembali duduk, yang ada si aku dan si kopi, begitu saja. Kesadaran sederhana, bukan melamun, bukan lamunan.

Saya melanjutkan aktivitas sampai dengan pukul 17.00 WIB, Kemudian pukul 17.10 WIB saya memutuskan untuk jalan kaki, melepas sepatu saya, jalan kaki hari ini tanpa alas kaki. Handphone sengaja saya matikan sementara. Memutuskan keluar kantor, pikiran bergerak cepat merespon indra penglihatan, penciuman, perasa yang bekerja sangat cepat sekali. Saya berjalan saja, mengamati langkah kaki bergerak, kaki kiri maju, kaki kanan maju, mengamati napas begitu adanya saja, kesadaran begitu adanya saja. Saya sadar ketika melakukan meditasi jalan, apalagi di luar ruangan, sunggu sangat berat sekali. Rangsangan dari luar begitu banyak menyerang pikiran ditambah rangsangan bergeraknya pikiran itu sendiri. Ya, keramaian itu tidak saya lawan, saya mengamati begitu adanya saja. Hari ini saya menuju ke taman balekambang, orang-orang pulang dari taman, saya datang. Taman Balekambang cukup sepi, saya berjalan kaki, mengamati kesadaran melangkahkan kaki mengelilingi taman. Burung-burung berkicauan, rusa-rusa belarian, suara angin menjadi sangat jelas, suara tokek begitu jelas, suara gerak ikan di kolam, semuanya menyerang pikiran, saya berdiri cukup lama, mengamati begitu adanya saja, menyadari sederhana, ini bukan melamun, bukan lamunan. Sebuah kesadaran begitu adanya saja. Menikmati keheningan, mengamati keheningan, menyadari keheningan. Berjalan-jalanlah ke  taman, mengamati keriuhan, mengamati kedamaian, tinggalkan sebentar mesin atau alat teknologi. Mulailah segera :)

Oh ya , jam 19.00 WIB  saya ada janji bertemu dengan seorang teman di lily bistro, karena jarak yang cukup dekat dari kantor, saya memutuskan untuk jalan kaki saja, disamping bisa menghemat bensin, saya juga bisa meditasi jalan kaki. Sungguh hal-hal minimalis  membuat hari ini begitu manis. Saya jadi teringat sebuah Quote dari  Lao Tzu : Be Content with what you have; rejoice in the way things are. When you realize there is nothing lacking, the whole world belongs to you. Bagaimana dengan teman-teman ? Mau Mencoba?

14.11.11

Kecap Lombok Gandaria Menggugah Rasa

Keinginan itu datang secepat kilat dan terduga, sebenarnya saya ke Alfamart berniat mencari bihun jagung, tapi ternyata tidak ada, lombok gandaria, lombok gandaria, lombok gandaria,  begitu pikiran saya menangkap keinginan, seperti membangunkan masa lalu yang tertumpuk di alam bawah sadar, saya  masuk mesin waktu, tergambar dengan jelas ketika ibu mengambil kecap manis lombok gandaria dari rak, lalu mengambil nasi panas, ibu mulai menggambar wajah di atas nasi dengan kecap manis lombok gandaria, lalu saya dengan senang hati melahap nasi sampai habis. Saya tersadar,  mesin waktu pikiran saya berputar cepat, saya baru tersadar berdiri lama di depan rak, berderetan kecap di Alfamart, saya mencari kecap manis cap lombok gandaria, tapi tidak ada. Ah, mesin waktu membuat saya kecewa berat. Lalu secara acak saya mengambil bihun instant, dan beberapa snack, ke kasir lalu membayar. Ketika saya dalam perjalanan, mesin waktu membunyikan alarm, seperti berhentilah sebentar di warung dekat perempatan,berhentilah, berhentilah, berhentilah, bisikan itu cukup kuat. Saya belok ke kiri, disitu ada warung bernama Tian. Saya bertanya kepada penjual? Ada kecap lombok gandaria? Saya menunggu sebentar, Pemilik warung mengatakan hanya tinggal 1 botol kecap lombok gandaria.Oh semesta,  saya berjodoh,  kecap lombok gandaria menggugah rasa mesin waktu saya menjadi  begitu manis !

13.11.11

WARKOP DIY


Makanan kecil, snack, yang ngehits tahun 90an sunggguh menggoda, dari permen davos,snack gulai ayam, anak mas, permen karet yosan semua ada disini, juga tentu saja minuman dari kopi, coklat,susu, es sirup dan es markisa.  Kesan pertama begitu menggoda, menarik pikiran ini berlarian kecil kembali ke tahun 90an yang manis. Saya langsung mengambil anak mas, makanan yang saya favoritkan ketika masa kecil. Sungguh mengobati kerinduan. Oh iya, di hari minggu ini, warkop DIY juga sedang mengadakan garage sale, jadi banyak sekali barang-barang secondhand , gaun,kemeja, t-shirt, sepatu, topi dan beraneka ria aksesoris yang dijual murah meriah. Ingin merasakan sensasinya? Datang aja ke Warkop DIY, Jl.Argo Klebengan sebelah SGPC Bu Wiryo Bulaksumur, Yogyakarta .

 

Mbak Yuke Tjaniarko , pemilik Warkop DIY ini membuat program Biyantu, Yaitu semacam Bazaar & Garagesale  di Warkop DIY. Belanja seru sambil bareng-bareng menyisihkan sedikit dari duit belanja buat bantuin adik-adik SD & SMP kurang mampu seputaran Yogyakarta buat bayar uang sekolah. Sungguh mulia saudara ! oh iya, teman-teman bisa langsung gabung aja di program biyantu, klik aja facebooknya : Biyantu .

Kenangan  menggila, saya membeli snack gulai ayam. Wah, waktu jaman SD ini nge-hits sekali,kejutan di hari minggu ini adalah saya mendapatkan cincin bertuliskan Love di dalam snack gulai ayam itu. Wow, jadi teringat ketika masa kecil, walaupun dapat bonus hadiah di snack yang  tak seberapa, tapi rasanya luar biasa. Saya tersenyum, seperti terdengar, Bercintalah, sebelum bercinta itu dilarang, Do all things with love : )

12.11.11

Nyonya Besar Semesta


Sabtu yang mendung dan saya menguap terus, mengantuk sekali, lalu saya dan seorang lelaki berbaju hitam menuju semesta abu bakar ali. Apa itu Semesta abu bakar ali? ini semacam tempat untuk mabuk-mabukan, eh bukan mabuk-mabukan yang begitu, maksud saya tempat untuk meluapkan pikiran sampai mabuk :), sampai 25 jam penuh bisa dilayani di Semesta Abu bakar Ali. Jika anda menemui gereja kota baru,yk,  silahkan jalan ke barat lalu tengok ke kiri, disitulah Semesta. Berderetan kursi kayu menantimu, silahkan pilih sesuka hati. Ada ayunan merah yang akan membawamu ke semesta  yang aduhai. Saya memilih tempat di bagian barat, dekat ayunan merah, agar sesekali jika saya ingin mainan ayunan, tinggal kesamping 3 langkah kaki. Setelah melihat berderet menu, saya menambatkan pilihan untuk es krim Nyonya Besar, Rasa Cappucino, Cukup mengobati kerinduan masa kecil yang usil. asyik berat !

buah baju


Aku membuka kaleng berisi buah baju dari masa lalu, hijau, biru, abu berserakan di meja, menjadi kelereng, berpisah sendiri, menjadi abadi. Tulang yang tak kuat mengangkat sejarah baju, yang tersisa hanya mata-mata kancing baju, menerkam malam-malam yang lapang. Lampu kelap-kelip biru di remote tv yang tersendat-sendat menanti keajaiban tangan untuk mengganti energi batu. Tak ada yang tersisa, kaleng-kaleng kosong penuh dengan penantian jarum, macet !     
Rumahku bau api, kancing-kancing berjalan sendiri, mencari pasangan gaun sendiri, terbang, melekat sendiri. Dompet biru tertutup kancing abu melewati akal, tak jadi menentang detak kecepatan energi yang kekal. Perbincangan rumus geometri  terlupakan di meja makan, potongan-potongan buah basi, terhalang jalan-jalan kancing, pintu-pintu berisik. Gesekan-gesekan pada tembok, mendekam pada jala, melewati usia, sobekan catatan yang asing, menemui jalan-jalan kancing .Merapikan lipatan-lipatan, kancing-kancing mencari kehilangan sendiri, terjun sendiri, tubuhnya hati, sekaligus duri.

11.11.11

Biru Langit


Saya pertama kali bertemu dengannya di sebuah tempat bernama progo, ia sendirian saja, hanya sendiri saja, tak ada keluarga yang serupa. Ia berada di tumpukan toples minum warna warni, ia sendiri saja. Saya mengambilnya dengan senang hati. Hai, ayo sekarang kita bersama-sama. Setiap hari si toples cantik ini menemani saya dalam segala suasana, ketika mood saya sedang berputar-putar, ia selalu mengejutkan saya, menyalurkan energi tiada tara. Ia adalah  biru langit.

3 sendok, 1 cangkir


Tidak menyenangkan itu adalah ketika saya ingin membuat kopi, tapi cangkir dan sendok di kantor tidak ada. Saya juga bingung, kemana hilangnya sendok-sendok dan cangkir itu. Saya ingat sekali, pernah saya membawa 5 sendok dari rumah, ah ternyata raib juga. Selama seminggu ini, kondisi tidak menyenangkan, di rak kantor benar-benar tidak ada sendok. Siapa yang ngambil ya? siapa yang menyembunyikan ya? 
Daripada pusing mencari jejak langkah sendok yang hilang, hari ini saya membuat sejarah, membawa 3 sendok dan 1 cangkir. Sekarang saya sudah tenang, tidak kebingungan mencari sendok yang hilang. Hai sendok-sendok, ayo berpetualang lagi, kali ini tidak dirumah, tapi di kantor saya yang ajaib ini.  Hore, sekarang saatnya membuat kopi lagi :)

10.11.11

figlio di memoria


Akhir-akhir ini ingatan masa kecil saya menjadi semakin jelas, saya teringat bagian-bagian yang hilang, warna baju, topi, permen, seperti film lama yang lama mengendap dalam rak, saya ambil, saya tonton sendirian. Kemarahan, senyuman, putus asa, kehilangan, warna-warni langkah kaki, mengulang sendiri. Saya akan mencoba merekam bagian-bagian yang saya ingat, figlio di memoria.

Tahun 1991, Sore itu, ayah  mengajak saya berekreasi. Pada hari minggu, setelah saya selesai menyelesaikan PR Matematika,  saya bilang ke ayah, saya akan memakai dress cantik warna ungu dengan hiasan pita mawar, dress ini pemberian bibi, saya jatuh cinta dengan dress itu. Lalu saya bertanya, apakah kita akah pergi dengan vespa yah? Ayah saya menggeleng, lalu ayah mengeluarkan sepeda onthel milik kakek saya. Saya duduk di belakang, kekhawatiran hilang, jantung mengembang. Setelah pulang dari sepedaan, ibu akan memandikan saya, saya baru sadar pita mawar hilang, saya kecewa, tapi tidak menangis,ada yang tidak lengkap, ada yang hilang, rasanya mungkin seperti patah hati yang sempurna.

Tahun 1991, bulan maret. Rumah saya menjadi risuh, tetangga berdatangan. Saya duduk di samping rumah sendirian, main masak-masakan. Saya tidak boleh masuk ke kamar ibu waktu itu. Saya sedih sekali, saya main masak-masakan sendiri, saya mengencangkan volume suara yang keras, tapi tidak ada yang memperhatikan. Suara tangisan datang dari kamar ibu, saya mendengar dengan jelas, tapi bukan suara tangisan ibu, suara tangisan asing, suara bayi, orang-orang bersuka cita menyambut kelahiran catur, adik saya. Tapi saya asyik main-main masak-masakan, menggoreng batu,  di samping rumah, sendiri.

Kelas 2 SD, tahun 1992. Saya, kakak, adik  dan ibu  di rumah. Lalu ada tetangga yang memberi kabar, bahwa tetangga sebelah rumah akan melahirkan. Lalu  Ibu bilang  agar saya, kakak dan adik dirumah saja. Ibu akan menjenguk tetangga. Kakak asyik bermain dengan adik, entah kenapa waktu itu saya membuntuti ibu. Masuklah ke dalam rumah, pintunya berwarna coklat muda. Semakin masuk kedalam ruangan, meledaklah saya, saya takut, saya melihat darah mengalir, darah yang sangat merah. Saya menangis kencang, Ibu kaget sekali melihat saya dirumah itu, Ibu menutup mata saya, menggendong saya pulang ke rumah. Beberapa jam setelah itu, terdengar ayat-ayat al-quran di putar, orang-orang berdatangan, upacara pemakaman untuk bayi yang tak pernah saya tahu namanya, saya seperti diserang balon-balon gelap, banyak sekali, ibu menggendong saya, saya sembunyi di balik bahu ibu, sendiri.

1993, Pagi itu saya ingin sekali berangkat ke sekolah lebih awal, karena saya ada jam piket pagi membersihkan kelas. Hore... saya adalah orang yang pertama kali masuk ke kelas 3 tercinta, ketika saya akan mengambil sapu, teman piket saya  bernama Tari masuk kelas. Dia menganjurkan saya mengangkat kursi ke atas meja, agar kami lebih mudah menyapu kelas. Baiklah saya mencoba mengangkat kursi, sedangkan Tari hanya melihat saja. Badan saya sangat kecil, saya tak bisa menahan beban kursi, jatuhlah saya ke lantai, saya kesakitan kejatuhan kursi. Punggung saya sakit sekali, Tari teriak-teriak. Saya menangis, lalu penjaga sekolah menghampiri, Penjaga sekolah mengantarkan saya pulang, Ibu membawa saya ke Puskesmas terdekat, hari itu saya tidak jadi sekolah, saya meringkuk di kamar sendiri, Hari itu saya sangat membenci Tari, saya menggambar tari di dinding kamar, lalu mencoret-coret mukanya, saya puas sekali.

1994. Cawu 3. Saya bilang ke ayah, saya menginginkan sepeda mini warna merah. Ayah mengiyakan, tetapi dengan satu syarat, saya harus mendapat rangking 1. Maka saya pun menyetujui persyaratan itu, setiap hari saya belajar, mengerjakan soal, membaca, saya yakin sekali bisa mendapatkan sepeda warna merah. Saya menggambar sepeda mini, lalu saya warnai merah, saya tempel di lemari kamar saya, saya lingkari gambari itu. Di sekeliling lingkaran itu, saya tulis angka 1 banyak sekali, Hahaha jika teringat kejadian itu sangat menggelikan. Di hari sabtu pada bulan juni, hari penerimaan raport membuat saya penasaran. Saya tidak ikut ke sekolah, kira-kira jam 10 pagi lebih entah, ayah pulang ke rumah memberikan raport bersampul biru. Deg deg deg deg deg saya buka raport, saya teriak, sepeda mini  merah, sepeda mini merah, sepeda mini merah. Ah rasanya seperti balon-balon warna warni menabrak tubuh saya. Sore yang cerah, sepeda mini merah sudah ada dirumah, sore itu langsung saya sepedaan keliling kampung, saya dikejar balon-balon warna warni.

1994. Saya senang sekali meminjam buku di tempat persewaan di Pareanom Kartasura. Dari Donald Bebek, Mickey Mouse, Doraemon, Lima Sekawan dan lainnya. Jarak yang cukup jauh pun saya tempuh, saya naik sepeda sendiri menuju kartasura , kira-kira 1 jam. Sampai di Pareanom, saya tertarik dengan buku cerita Lima Sekawan, Rawa Rahasia. Saya pinjam buku itu. Pulang dengan hati senang. Tapi Malang, Tiba-tiba hujan menghantam, saya tidak bawa jas hujan. Oh ya plastik yang membungkus buku cerita lima sekawan tidak cukup besar, kecil, bocor lagi, kabar tidak baiknya adalah buku yang saya pinjam basah karena hujan. Sampai rumah, saya mencoba untuk mengeringkan, bisa sih, tapi tidak sempurna, karena buku jadi rusak. Sedih sekali, seminggu setelah itu, saya mengembalikan buku ke Pareanom, saya meminta maaf karena kehujanan buku jadi rusak, waktu itu saya mau membayar denda. Pemilik persewaan tersenyum, Ia tidak memberikan denda kepada saya, sungguh waktu itu saya meluap,senang sekali.

1995, Setelah pulang dari sekolah, saya minta ijin ke ibu, saya akan belajar kelompok ke rumah Yuli. Ibu pun mengijinkan saya, saya terburu-buru, tak sengaja saya menyenggol gelas minum saya, gelas saya pecah. Ibu bilang tidak usah dibereskan, ibu mau membersihkan, saya mencium tangan ibu, saya terburu-buru, langsung naik sepeda,  kemudian menjemput teman saya Rohmah. Saya memboncengkan Rohmah, oh ya sebenarnya hari itu saya dan teman-teman mempunyai skenario jahat, saya sengaja berbohong ke ibu. Hari itu saya tidak belajar kelompok di rumah Yuli. Saya, Maryam, Rohmah, Yuli dan Zani bermain-main ke waduk, kami naik perahu, kami bermain air, kami sangat senang sekali waktu itu. Pukul 4 sorean, saya dan rohmah memutuskan pulang, tapi lewat jalan yang berbeda. Tiba-tiba seperti kami terjun, seperti balon-balon hitam menabrak tubuh saya. Saya terbangun di sebuah rumah kecil, berlumuran darah, bapak tua disamping saya bilang, untung saya tidak masuk jurang. Kepala saya berat, bibir saya luka berdarah, hidung saya berdarah, saya menangis, orang-orang disamping saya hanya melihat. Ada anak kecil berbaju biru mendekati saya, ia bilang pernah lihat saya, ia bilang  bahwa ayah saya bekerja di smp tempat dia bersekolah. Saya di bawa ke rumah sakit, setelah 1 jam lebih, Ayah dan Ibu saya baru datang. Saya memegang tangan ibu kuat sekali, saya menangis, meminta maaf, sebenarnya sore itu saya tidak belajar kelompok, tapi saya bermain dengan teman-teman. Ibu tidak berkata apa-apa, Ibu mencium pipi saya, lembut sekali.

Saya tahu, hari itu saya pasti  menangis, saya tahu hari itu saya pasti  sedih sekali. Saya tahu, hari itu saya akan tumbang. Sehari sebelum hari itu, saya dan andrief naik pohon di depan perpustakaan sekolah, saya mengajari andrief bernyanyi indung-indung.

Ria, besok, Andrief mau pindah.

Pagi itu saya tidak mau sarapan, saya membayangkan semuanya menjadi cukup lambat, saya masuk kelas, melihat Andrief dari balik jendela, ia bermain  kelereng di samping kelas. Bel berbunyi, kami berdoa, Ibu Andrief datang, Andrief ke depan kelas, Ia berpamitan akan pindah rumah dan sekolah. Saya menyembunyikan muka,  saya tidak mau memandang Andrief. Saya tidak menangis, tapi ada kegelisahan, patah. Ia pernah menunggu saya di depan masjid, ketika saya belajar mengaji. Ia mengirimkan bingkisan kue ketika keluarganya merayakan natal. Ia pernah mendengarkan saya bernyanyi indung-indung, ia meminta saya untuk mengajari ia menyanyikan indung-indung. Andrief menyalami teman-temannya, lalu sampai juga ke meja nomor dua, ia menghampiri saya, saya linglung. Sampai sekarang saya tidak tahu ia dimana, Andrief Santo gorgapov, semoga dalam keadaan baik.      

Saya tidak ingat, ini terjadi pada tahun berapa. Yang saya ingat, saya memakai baju hijau garis-garis, lalu topi bundar berwarna putih, Ayah saya mengajak ke ladang milik kakek. Hari itu sangat panas sekali, bayangan tubuh saya sangat jelas, saya meloncat-loncat mencoba menginjak bayangan saya, tapi tak pernah berhasil. Saya marah, lalu menarik-narik tumbuhan wijen, Ayah saya berteriak, TRIAAAAAAAAA, jangan begitu.
Saya tahu Ayah saya marah besar, ia tak pernah memanggil saya dengan sebutan itu. Ayah saya selalu memanggil saya dengan sebutan Ria, Saya tahu, Ayah marah besar.  

Kira-kira kelas 2 SD, saya bermain dengan kakak saya dan teman-teman sepermainan kakak saya, Di geng itu saya paling muda dan saya perempuan sendiri, mereka menyebut saya pupuk bawang. Kami mempunyai rencana jahat untuk mengambil tebu di perkebunan tebu belakang rumah. Kami senang sekali, kami mendapatkan tebu yang cukup banyak. Priiiittttt, terdengarlah peluit itu, kami dikejar sipir perkebunan. Saya paling belakang sendiri, tebu yang saya bawa saya buang. Ah lega akhirnya, kami bisa bersembunyi di belakang rumah teman, tapi kami hanya berhasil membawa 3 batang tebu. Yasudah, kami mau potong-potong tebu itu. Karena saya pupuk bawang, saya harus memegang tebu yang akan di potong. Entah kenapa, karena kakak saya memotong batang tebu sambil ngobrol, bencana pun tiba, pisau mengenai jari tengah tangan saya, darah mengucur deras, saya menangis keras. Ibu membawa saya ke Puskesmas terdekat, sampai sekarang bekas bencana itu masih terlihat di jari tengah saya.              

Saya suka sekali pintu milik tetangga sebelah saya, warnanya merah. Waktu itu ada semacam acara arisan atau apa gitu saya lupa, saya bilang ke ibu mau bermain buka tutup pintu. Ibu saya bingung, berulang kali menanyakan maksud saya main buka pintu. Saya bersikeras mau main buka tutup pintu milik tetangga saya. Tak sengaja tetangga saya mendengar, ia mengijinkan saya main di pintu rumahnya. Tapi Ibu saya tidak, ibu menatap saya, seperti bilang, jangan nak, jangan.  Nekat sekali, saya bermain, seolah-olah mengetuk pintu, lalu membukanya sendiri, lalu masuk kerumah, lalu keluar lagi, lalu saya ulang berulang kali. Saya mengulang-ulang terus, sampai kesenangan maksimal, sampai gerakan menjadi semakin cepat, sampai saya menubruk pintu dan sebelah mata saya terkena paku yang tertempel di pintu. Saya jatuh, karena luka yang cukup parah, saya dibawa ke rumah sakit, sampai sekarang luka itu masih ada di sebelah mata bagian kanan, ah sungguh menggemparkan.    

Kelas 4 SD, saya dipilih ibu guru buat menari yapong di acara perpisahan kakak kelas. Ada juga teman saya yang lain yang dipilih untuk mengisi acara itu. Ada yang menari, menyanyi dan drama. Saya sebenarnya tidak mau, karena lengan saya sebelah kanan sakit, karena habis jatuh waktu bermain. Tapi ibu memaksa saya untuk tampil, saya sangat membenci hari itu. Yang paling saya ingat adalah saya marah, saya tak mau ngobrol dengan siapapun. Giliran saya tampil, saya musti pura-pura senyum, ah sungguh itu menyakitkan.               

Kelas 5 SD Waktu itu jam istirahat, ada kakak kelas bernama Handoko, ia mengganggu teman semeja saya, upik. Ia menarik-narik rambut Upik sampai menangis, saya sebal sekali. Spontan, saya lari ke kebun belakang sekolah. Saya mengambil tomat di kebun, tomat itu langsung saya lempar ke Handoko. Baju handoko yang putih ternoda tomat merah. Guru pun datang, melerai kami berdua. Setelah  kejadian itu, nilai agama di raport saya hanya 6.  

Kejadian ini selalu berulang-ulang, dari kelas 1 SD sampai kelas 3 SD mungkin, saya sering lupa membawa tas saya sendiri ketika pulang sekolah. Jadi, waktu itu saya ingin cepat pulang kerumah. Habis doa bersama  pulang, saya langsung lari kerumah. Ketika sampai dirumah, ibu bertanya, dimana tas saya, saya baru teringat, tas saya masih di laci sekolah. Maka saya dan ibu pun harus kembali ke sekolah mengambil tas. Saya juga bingung, kejadian ini berulang-ulang terus. Hingga guru saya  selalu mengingatkan saya untuk membawa tas ketika akan pulang dari sekolah.

3 minggu setelah saya menempati kelas baru di SMP kelas 1, siang itu pelajaran sejarah. Saya suka sejarah, tapi guru saya waktu itu sangat membosankan. Akhirnya saya mengeluarkan mainan boneka kertas atau BP(Bongkar pasang). Saya asyik sekali, tidak memperhatikan pelajaran sejarah sekalipun. Berulang kali, teman semeja saya menyenggol saya, tapi saya tidak peduli. Saya sedih sekali, di dalam permainan saya terjadi gempa yang cukup hebat, sebuah buku dijatuhkan, merusak permainan BP saya. Saya kaget, ternyata bapak guru sejarah saya yang menjatuhkan buku tersebut, Ia marah besar. Mainan saya disita, ayah saya dipanggil guru BP (Bimbingan dan Penyuluhan) . Setelah kejadian itu, Ayah mengeluarkan satu kardus koleksi BP dirumah saya, TRIAAAA, bakar ini semua. Saya tahu Ayah marah besar, ia tidak pernah memanggil saya seperti itu, ia selalu memanggil saya dengan sebutan Ria, saya tahu Ayah marah besar.

Kelas 1 SMP, kondisi saya tidak baik, saya mengurung diri di kamar. Saya marah sekali dengan kakak saya karena sesuatu hal, saya tidak berbincang dengan siapapun. Saya tidak mau berbincang dengan siapapun, saya mengurung diri di kamar, saya menatap cermin lama sekali, bayak sekali bisikan-bisikan datang. Ayo masuk kedalam dunia kaca, masuklah, semakin dalam, masuklah, semakin dalam, buka pintu kaca, tubruklah, tubruk, pada gelombang arah yang maksimal, bisikan ,menjadi semakin kuat. Saya menghantam cermin dengan tangan kiri saya, tangan saya terasa dingin sekali. Tiba-tiba saya terbangun dirumah sakit, saya melihat ibu menangis, saya merasakan sakit yang sungguh luar biasa. Entah kenapa, bisikan itu kadang datang menjadi sangat kuat, maka insiden ini sering terjadi, ini adalah pertama kalinya, setelah kejadian ini masih ada insiden serupa, tapi saya tidak kuat untuk menceritakannya.    

SMP kelas 1, Ayah saya meminta saya untuk mengikuti TC/Latihan Atlet Pencak Silat, karena sebelumnya saya sudah mengikuti latihan Pencak silat secara rutin. Tes itu tiba, saya berhasil masuk latihan atlet untuk persiapan kompetisi tertentu. Waktu itu saya sering membolos, karena saya merasa itu bukan saya. Ini sungguh tidak menyenangkan. 

Dulu waktu saya SD sampai SMA saya mempunyai diary pembunuhan, jadi saya  menulis beberapa orang yang tidak saya suka, lalu saya membunuh mereka ke dalam cerita-cerita saya. Pembunuhan dengan cara mengenaskan dengan cara saya.  Hingga suatu saat, Paman saya membaca diary pembunuhan saya itu. Ia meminta saya membakar semua diary itu. Di suatu sore, saya memberanikan diri membakar semua diary pembunuhan itu di belakang rumah saya, rasanya dingin, sendiri.  

Ayah saya mengantarkan saya kesekolah, waktu itu saya masih menjadi siswa baru di SMA. Ketika di perjalanan saya menangis keras, ayah berhenti menanyakan keadaan saya. Ada apa ria? Saya bingung apakah saya harus memasukkan kaki ke roda atau tidak, bisikan itu kuat, meminta saya untuk memasukkan kaki saya ketika motor berjalan, saya tidak kuat, saya menangis. Ayah memeluk saya, hari itu saya tidak jadi kesekolah.    

Saya kangen gogo, teman saya berbentuk wortel berpelangi, ia sedang ngambek.Saya lupa memberinya permen berwarna pelangi.

Halo, saya lelah, tiba-tiba pikiran saya loncat-loncat, ingatan-ingatan berputar, saya ingin istirahat dulu.Masih banyak ingatan yang berjejal, ingin mengalir, dan saya akan mengamati  aliran itu apa adanya saja. Menyadarinya begitu saja, salam.

bekal buah jangan lupa

Tadi malam saya tidur jam 12 malam, biasanya saya bisa tidur jam 2 atau 3 atau 4 pagi,  karena udara dingin, tubuh saya cukup rileks, meringkuklah, tidurlah. Tidur saya cukup nyenyak, pukul 10.30 wib, ibu membangunkan saya, kaget rasanya. Wow, saya tidur hampir 10 jam lebih, tulang-tulang saya serasa mau patah, kepala beratnya seperti 10 ton entah. Saya melakukan prayanama yoga sederhana, mandi, lalu berpamitan ke ibu mau bekerja. Ibu menyiapkan bungkusan di samping tas saya, ibu bilang bekal buah jangan lupa, bisa meredam kelelahan. Saya mencium tangan ibu, lalu berlalu. Terima kasih ibu.

9.11.11

Lelaki berkacamata mengirim gajah ajaib


Selasa pagi ini dimulai dengan yang panas, bangun tidur lalu membuka jendela, senang luar biasa karena matahari bersinar merekah, cerah. Yah, akhir-akhir ini solo begitu mendung, jadi ketika matahari pagi ini bersinar terang, senangnya bukan kepalang.  Lalu saya langsung melangkah keluar rumah, berjemur di bawah sinar mentari sambil membaca buku si bandel, Edith Unnerstad. Suasana sungguh sumringah, sebenarnya saya ingin limun, tapi persediaan dirumah tidak ada. Yasudah, saya hanya minum air putih saja. Mendekati jam 10 pagi, saya memutuskan untuk menyudahi ritual berjemur ini. Saya harus segera mandi, soalnya jam 11 harus masuk kerja.
Baiklah, jam 11 saya sampai radio. Sungguh mood yang cerah berubah cepat kilat menjadi lebam. Saya belum menaruh tas, sudah mendengar rekan kerja panik, marah-marah karena kurangnya komunikasi dengan penyiar, harusnya ada beberapa adlips(iklan) yang tidak harus dibaca pada saat talkshow spesial. Sungguh, mood saya jadi kacau, rasanya ingin mencakar mukanya. Saya diam, lalu menghirup nafas panjang, lalu saya berbincang dengan penyiar mengenai masalah tersebut, oke, masalah selesai. Tapi pikiran saya masih saja sebal dengan rekan kerja yang tadi yang tak bisa berbicara pelan-pelan, nyolot, berteriak-teriak, ah sungguh buang energi.  Jadi saya menghirup nafas panjang, mengeluarkan, lalu minum air putih.
Cindy, resepsionis di radio tempat saya bekerja, memanggil saya. Ia bilang, tadi pagi ada lelaki berkacamata menitipkan bingkisan. Saya bertanya, siapa namanya, ia jawab tidak tahu. Baiklah, saya mengucapkan terima kasih kepada cindy. Lalu saya membuka bingkisan itu. Sungguh saya sangat kaget, sebuah buku berjudul The Magicians Elephant dan kertas origami warna warni. Saya membuka buku tersebut, di halaman pertama tertulis, It's mood booster, enjoy !

Solo, 8 November 2011

7.11.11

Laler Mengeng

Mendengarkan kaset gamelan Laler Mengeng dirumah, ayah saya bertanya, kenapa mendengarkan gendhing kesedihan? ada perkara apa?
saya masuk kamar, tak ada jawaban suara, suara jangkrik dari kebun belakang rumah bercampur dengan gendhing gamelan laler mengeng, sempurna!
Lalu yang tergambar dalam pikiran saya adalah kebun belakang rumah seperti padang kurusetra,arena perang Baratayudha antara Pandawa melawan Astina
Laler Mengeng,bila ada laler atau lalat hijau yang berterbangan dan hanya ditempat itu terus maka diyakini ditempat tersebut adanya mayat
Laler Mengeng, bahwa kematian saya sesungguhnya telah ditetapkan , kapan dan dimana, fana, fana,fana, fana

2.36 WIB
7 November 2011

6.11.11

I'm listening to Laler Mengeng ,Tlutur, Panjang Ilang,Gamelan Gaya Surakarta while writing my childhood story #therapy

4.11.11

Monokrom

Jadi mau makan siang  apa mbak ?

Secepat kilat ibu warung sebelah radio langsung menjawab pertanyaannya sendiri : nasi sayur Asem lagi ?
Saya pun mengangguk, lalu mencari tempat duduk terbaik, sendiri. Ibu menyiapkan makanan, dan menyajikan nasi sayur  asem, menu favorit makan siang saya selama 7 hari berturut-turut.

Ga bosan ya mbak?

Belum bu,

Pola makan mbak ini aneh lho ya, kalau lagi suka pecel , pecel terus, kalau lagi suka mie , mie terus, kalau lagi suka nasi tumpang, ya nasi tumpang terus, pola makan kayak gini ga sehat lho mbak

Oh semesta beri saya kekuatan hahaha, wejangan ini sudah sering saya dengar, saya pun  heran dengan tubuh ini, maunya begitu. Entah. Saya jadi teringat ibu saya yang geram dengan pola makan saya ini, saya akan berganti menu makanan, jika saya benar-benar bosan.  Sampai sekarang ibu menyembunyikan tempat mie instant agar tak terlihat dari pandangan saya, gara-garanya saya pernah kecanduan mis instant, setiap hari harus makan mie instant sampai mungkin 3 bulan berturut-turut. Sebenarnya sejak kecil sudah seperti ini, pernah saya ketagihan sate telur puyuh, hampir setiap hari saya meminta, jika tidak dikabulkan, masuklah saya  ke kamar, tidak mau berbincang dengan siapapun.

Waktu SMP Kakak saya pernah bilang, kamu itu monokrom sekali dek

Hah? Monokrom ? Maksudnya?

Yah, entar kamu bakal tahu deh.

Duh, jungkir balik deh pikiran ini, hingga terjadilah bencana itu. Saya ketagihan sesuatu yang biru lalu musti bolak balik ke rumah sakit. Ibu pun mengancam, segera rubah pola makanmu itu. Oke, hanya beberapa bulan  saya bisa bertahan. Tetapi waktu itu , ada sesuatu kerinduan yang amat dalam, kerinduan sesuatu kesenangan sampai maksimal, begitu kira-kira. Maka diam-diam, ketika saya bekerja, jarang makan dirumah, pola makan kesenangan yang berulang-ulang sampai maksimal ini terulang kembali sampai sekarang. Entah, saya merasakan satu warna maksimal, gelombang satu arah maksimal, kesenangan yang maksimal. Oh, adakah yang mempunyai pengalaman yang sama?

Solo, 4 November 2011