18.12.10

Marni menari

Karena tubuh melupakan tubuh, aku bertebaran pada malam yang dingin, Kampung kecil meninggalkan karma bagi penduduknya, kampung koma melupakan terusan yang hinggap, terusik ah wajah renta menunggu suasana terungkap di dunia. Karena yang ada hanya dentang terungkap, ah hanya kalimat pembunuhan yang menerka, akankah ada yang terungkap setelah ini, yang ada hanya usikan dan getaran kaki yang menggugat kepala, bermula dari semua yang menampung semua bergemuruh pada dada, pada wajah bernama marni, perempuan tindas mengepulkan sayap dari dapur reotnya. Aku menemukannya, ketika senja mencolek mata-mata ini berkeliaran liar, di ujung kampung, Koma.
ah apa ini , terungkap tertunduk, "Apakah kamu Marni ?".
Ketukan wajahnya terbawa suasana detak udara membuyar, tak ada huruf berkelebatan dari mulutnya, tapi wajahnya mendesakku untuk mendekatinya. Gerak semakin cepat, lelap terlelap. Pertemuan pertama kali , tertinggal kenang di sudut kampung, keluhan kucing kampung yang lewat menghantam dada ini, keluar semuanya.
Aku meninggalkan dia lalu bergumul dengan peraturan-peraturan kampung yang tidak memperbolehkan perempuan menari ketika purnama. Tak ada yang terusik dengan itu, bagaimana dengan aku? aku meluap, ingin mendobrak terang, melahap senyum yang kandas di sudut jalan. 
Maka ketika kokok jago membangunkan perempuan penggengam lesung itu, marni mulai menyiapkan semua keperluan untuk lelakinya, lalu bercumbu sebentar di ruang penuh asap, di dapur reot. Lalu seperti tidak pernah terjadi apa-apa, lalu pergi tanpa ciuman di dahi. Deru kakinya buyar , terbakar . Ritual ini terjadi setiap hari.
Pada suatu pagi, marni menemuiku,  aku genggam tangannya, hanya ada permainan kenangan yang menghantam dadanya, aku peluk dia. Aku sentuh pundaknya, "purnama nanti kita menari, persetan dengan peraturan kampung ini". 
Matanya membara, ada sesuatu yang terlewat, apa itu? aku tidak mau menggalinya. Mungkin semacam energi baru , seperti berkata, aku ingin menari sepuasku, menyetubuhi purnama denganmu. ya , aku seperti membaca pikiran itu di matanya. Mungkin begitu.
Kalender mencuri perhatianku, aku pergi ke meja kecil samping ranjang. Ah ini purnama, aku melingkarinya. Tertahan dalam kepala, marni mari menari, mari menyetubuhi purnama. Seperti jelas sekali, aku mendengar napasku sendiri, aku mendengar seperti ada makhluk-makhluk kecil bergejolak dalam tubuhku, seperti aliran listrik seperti berbincang, lekas purnama segera datang.
Rupa itu jelas sekali, mata itu menabrak, wajah lusuh, keluh menabrak purnama. "Aku lupa bagaimana caranya menari", Marni menantang mataku. Aku genggam tangannya, aku dan marni duduk di tanah , meyakinkan marni yang lelah .

"Kita duduk-duduk , apakah kita menari?" 

"Menari"

"Benarkah?"

"Lihat purnama itu, pikiran kita menari".

Lalu menari, alangkah indahnya malam ini. Tak ada penduduk yang tahu kami menari. Mendekat pada tubuh marni, aku terbang ke atas sana, semuanya terpecah lelah. Luapan bergemuruh pada purnama, udara semesta menyelimuti aku dan marni, pada malam bulan mengembang.
Terusik sendiri, datang berjejalan suara-suara disana, perlahan lekat mendekat.  Aku menari, Marni menari. Suara -suara semakin mendekat, sumpah serapah mengepung aku dan marni. Lalu yang ada hanya seperti gejolak dan teriakan. Aku mendengar marni, aku mendengar marni. Aku teriakan berkali-kali, jangan hiraukan, kamu menari marni. Menarilah sepuasnya. Tangan-tangan tak ada hentinya membuat gugur jantung, risih dada mengeringkan mata. Aku tersungkur  mendekati marni. Mencium senyumnya, dadaku tercekat, penduduk setan memotong payudara marni.Tertawa besar penduduk setan, meninggalkan aku dan marni, sendiri.

Solo, 11 -12-2010

17.12.10

semoga cepat sembuh

Kepala sebelah kiri saya sangat kaku, perih luar biasa, seperti di depan saya semua terbalik. Saya tahu penyakit itu kembali lagi, seminggu ini saya benar-benar lemah, walaupun semua usaha sudah saya lakukan. Yoga rutin setiap hari, pola makan sehat, meditasi, sudah saya lakukan. Hal-hal baik yang saya lakukan berbanding terbalik dengan keadaan tubuh saya sekarang ini. Kesalahan apa yang saya perbuat ?
Ingatan ketika usia belasan hinggap, beberapa tahun yang lalu di suatu sore hari,  menyapa  jendela, saya terdiam lama. Entah apa, saya berteriak keras seperti ada tembakan mengenai kepala saya, sakit sekali, seperti sayatan pisau mengiris-iris kepala. Setelah itu seperti semua terbalik, balon-balon datang berhamburan menyerang, menabrak tubuh, terbangun di ruang sempit dengan aroma obat dan infus menusuk tubuh. Lalu baik lalu runtuh, lalu baik, lalu tumbang lagi, begitu seterusnya. 
Malam yang geram, balon-balon hinggap, menyerang tubuh, kesadaran penuh merasakan betapa sakitnya. Ah kepala, kamu mau apa?
Maka boleh saya bilang, tadi malam adalah malam terberat, untung saja seorang teman lama menelpon, ia  menceritakan senja, saya pun redam. Pagi tiba, kira-kira jam 1 lebih entah, kami harus mengakhiri perbincangan. Mata pun tak bisa terbenam, jantung berdetak cepat, kepala sebelah kiri saya terbeku, kekuatan yang bisa saya keluarkan adalah menelpon lelaki, ya pagi yang ricuh, mendengarkan suaranya saja lalu cerita-cerita mengalun begitu saja, kabel hidup memasangkan jiwa kami. Karena saya bukan tuhan, saya tidak bisa menerka bagaimana tembakan mengenai kepala saya. Di tengah obrolan yang damai, pelan-pelan balon-balon itu menyerbu, seperti tubuhku menyusut, darah segar mengalir dari hidung, tidak mau berteriak, tidak mau. Merasakan sakit, menusuk. 

Terimakasih semesta atas perjalanan ini

11.12.10

10.12.10

Catatan Menstruasi 1.7

Jalan-jalan berjejalan, tubuh lusuh terbang ke sana kesini, lalu kesana lagi, tak tahu arah mana, jangan-jangan mati atau tertiup, lapuk. Karena angan yang memburai ke angkasa, mata-mata berjumpa di meja coklat, gerak bibir menjadi berani, tak ada kesakitan yang hancur. terlalu hancur,tak ada. Diawali dengan tertawa-tawa, tiga perempuan memulai pesta dengan kepal mantra di tangannya, meluap, mari meluap. Hujan luar luap, tubuh-tubuh meluap.
Perempuan pertama bungkam, matanya nyala, ke angkasa. Perempuan ke dua menghembuskan asap kretek, terbang kesana kemari, mungkin ke surga. Perempuan ketiga membelah dada, menghujam genderang pikirannya sendiri. Sendiri-sendiri dekat di meja, kata-kata terbang ke udara, berlarian kesana -kemari. Perbincangan merah, alur yang renyah. Seperti kupu-kupu menguntit perbincangan kami, lalu menjadi peri, melahap keterasingan, meja menjadi ramai, rami pikiran perempuan sendiri. 
Lalu seperti tubuh-tubuh terpotong-potong, terbang  lalu lalang, berjumpa menyapa perempuan satu, lalu tiga atau dua. Payudara indah tergeletak di meja, mata-mata menyala menjadi kunang-kunang indah, jemari menjadi peri, semuanya pesta melahap merah, melahap hari yang merah. Bibir gejolak, telinga dentang, pipi demam, merah menyala. Terbang lalu lalang di atas meja perjamuan perempuan, merayakan rentang panjang. 
Oh demam datang, demam tubuh sendiri, mengelupas sendiri, mengering sendiri, subur mengubur sendiri. Ah dunia, ini demam, tak juga berkesudahan. Aku melambung, dentuman semakin keras.Jalan-jalan berjejalan, memungkinkan perbincangan yang harus di meja ramai, Aku bisa jadi perempuan satu, dua, atau tiga. Atau Aku adalah ketiganya. Gelombang tutup mengatup, begitukah caranya? atau aku yang demam saja.
Hari yang merah, perjamuan yang marah, tak ada lagi srigala, yang ada hanya potongan-potongan tubuh saling menyapa, mengelupas, kering dengan sendirinya, begitu adanya saja. Tubuh utuh menyampaikan kesadaran yang luar biasa, ramai begitu adanya, merah begitu adanya, marah begitu adanya, begitu nyata, begitu saja. 

Catatan Menstruasi 1.6

Terbang mengembara melalui jalan-jalan terbuka dengan sendirinya, karena tubuh ini seperti mengintip beberapa hal yang tak terjamah oleh gerak, aku bersandar waktu tercipta, pikiran berkelebat hebat, aku berterus terang pada cuaca yang mulai merayu tubuhku, seperti ada teriakan di kanan kiri, sebentar lagi kau akan menjadi serigala, sebentar lagi kau akan menjadi serigala, lahap semua yang terbayang disisimu, itu semua, jangan sampai ketinggalan.Kerontang, demam tak berkesudahan, kursi pun tak lagi mampu menampung tubuhku, seperti pelan tubuh ini menjadi sesuatu yang lain, tubuhku menjadi semakin berat hebat, pikiran berkelebat cepat, suara kanan kiri, serigala-serigala menyatu, serigala kau serigala.
Tangisan tak menyelesaikan semua, seperti berderet pisau rapi menembak dengan kecepatan kilat, terkena rusuk, lalu yang ada merah, tak ada perih kataku, apakah aku cermin?
Cermin tak pernah berdusta, tak ada rangkaian yang lalu lalang , aku bergulung-gulung , yang ada hanya tanah dan merah, dimana cermin? apakah aku cermin? apakah aku benar-benar serigala ?
Duduk sendiri, bergemuruh sendiri diruang bergerak melewati yang tersisa, aku serigala, tak ada menerkam, tak ada diterkam. Serigala hanya ingin bergemuruh, sendiri.