3.11.10

Perempuan penerus Atmadja 2.2

Karena tubuhku terlelap panjang, lalu gemilang menantang. Yang ada hanya jalan-jalan dan ayat-ayat yang terbang. Oh dada yang terketuk api, aku meniduri pahit. Yang ada hanya kenang dan  lalu lalang. Seperti terbang, terbayang yang ada hanya kunci kali , tergerak lalu mati. Apakah mati yang sebenarnya? 
Tunggu sebentar, coba tengok catatan yang ada , mungkin kamu perlu merusak atau membakarnya. Senyum wajah berhamburan. Sore yang kering, kataku. Mata terpejam pun tak bisa terjelaskan dengan kata "mati". Obrolan kering bersama sore, perempuan aku, Tubuhku meletup tinggi. Ke angkasa, halaman kosong dan detak kata yang tak ada artinya. Itu kataku, tak ada artinya, itu kataku. 
Aku bisa, meracunimu dengan kapsul kelana, aku bisa melumpuhkanmu dengan mantra-mantraku. Tapi buat apa? buat apa?
Kering tersedak, hanya semacam perkembangan yang tak bisa diungkapkan. Ya begitu.


Rabu

Rabu pagi, pesan pendek menghubungiku, coba buka jendela, tatap tanah itu, ada apa?
Pesanmu membuyarkanku, kau benar-benar ingin tahu? ada apa di tanah itu?
Kepala meredam di jendela, kataku yang ada di tanah itu darah. Pesan tidak aku kirimkan kepadamu. Lalu beberapa gerak jarum jam menuntunmu untuk mengirim pesan ancaman, KAMU MATI !
Aku terbahak, telak !

No comments: