3.11.10

Layang-layang ingin terbang

I.
tikus dimakan ratu hati diatap kerajaan merah, aku bersembunyi dibalik tembok-tembok sunyi itu. Menabrak malam, menyaksikan ritual ratu, diam-diam, oh tikus-tikus, oh ratu yang rakus

II.
Pagi hari aku terkubur di jerami gudang , ringkikan kuda menyerang telinga, ah aku butuh roti gandum segera, tubuhku menggeliat menyelinap gang kandang, jerami-jerami tak mau berpisah dari gaun unguku, jerami-jerami menari riang.

III.
Di dapur, aroma rempah-rempah membuat mataku menggeledah, aku sapa paman koki berwarna hijau. Senyumnya menggetarkan jantungku, aku jinjit meraih toples cantik berisi kue kering berwarna coklat, aku masukan kantong. Lalu lari memburu gogo temanku si wortel yang menepuk bahuku. Paman teriak-teriak , mengingatkan roti gandumku, aku menggeleng, aku lari-lari mengejar gogo si wortel.

IV
Gogo terbang ke angkasa, aku tepuk tangan, tepuk tangan, Gogo memanggil awannya, tapi tak kunjung datang juga. Wajah gogo berkerut cemberut, aku panggil si gogo, kami berbagi kue kering berwarna coklat, duduk di kursi tua,aku dan gogo bermain mata.

V
Layang-layang jatuh, perasaanku luluh, talinya putus, sarafnya putus. Aku mendekati layang-layang, menggulung talinya, menunjukkan ke gogo. Gogo ketakutan, ratu akan menghukum siapapun yang bermain layang-layang. lalu, aku bilang ke gogo :" meremas layang-layang  atau mencuri malam untuk layang-layang?", yang ada hanya tatapan mata, darah mendidih meluap ke udara.

VI
Senja menyapa, aku lari ke kandang kuda, gogo menyelinap ke dapur membuat minuman berwarna biru. Layang-layang kubawa, aku mengenalkan layang-layang ke jerami-jerami cantik , aha mereka sungguh senang berkawan dengan layang-layang. Leherku berat, gogo datang agak tersendat, setelah sekian gerak gogo membawa minuman berwarna biru untukku. Aku tidurkan layang-layang di jerami, minuman biru membuat kepala melayang. Gogo berisik disamping, menyapa tikus-tikus yang pening. Aku layang.

VII
Malam mencekikku, ringkikan kuda membuat bergidik, pelan-pelan menyelinap ke taman, Kerajaan memburai warnanya menjadi hitam. Aku hitung jari-jemariku, hari ini bertanggal ganjil. Ratu akan menjalankan ritualnya memakan tikus di atap kerajaan merah, lalu got-got penuh darah. Aku lelah. Ah, bagaimana dengan layang-layang? Bagaimana jika aku kacaukan ritual ratu ? Aku terbangkan layang-layang, tapi jiwaku terancam melayang. Aku diam, tikus-tikus terbang melayang.

12-09-10

Perempuan penerus Atmadja 2.2

Karena tubuhku terlelap panjang, lalu gemilang menantang. Yang ada hanya jalan-jalan dan ayat-ayat yang terbang. Oh dada yang terketuk api, aku meniduri pahit. Yang ada hanya kenang dan  lalu lalang. Seperti terbang, terbayang yang ada hanya kunci kali , tergerak lalu mati. Apakah mati yang sebenarnya? 
Tunggu sebentar, coba tengok catatan yang ada , mungkin kamu perlu merusak atau membakarnya. Senyum wajah berhamburan. Sore yang kering, kataku. Mata terpejam pun tak bisa terjelaskan dengan kata "mati". Obrolan kering bersama sore, perempuan aku, Tubuhku meletup tinggi. Ke angkasa, halaman kosong dan detak kata yang tak ada artinya. Itu kataku, tak ada artinya, itu kataku. 
Aku bisa, meracunimu dengan kapsul kelana, aku bisa melumpuhkanmu dengan mantra-mantraku. Tapi buat apa? buat apa?
Kering tersedak, hanya semacam perkembangan yang tak bisa diungkapkan. Ya begitu.


Rabu

Rabu pagi, pesan pendek menghubungiku, coba buka jendela, tatap tanah itu, ada apa?
Pesanmu membuyarkanku, kau benar-benar ingin tahu? ada apa di tanah itu?
Kepala meredam di jendela, kataku yang ada di tanah itu darah. Pesan tidak aku kirimkan kepadamu. Lalu beberapa gerak jarum jam menuntunmu untuk mengirim pesan ancaman, KAMU MATI !
Aku terbahak, telak !

FREE DOWNLOAD : Afiagummi-Purwodadi Secret Massacre (The Marching Requiem)

Afiagummi-Purwodadi Secret Massacre (The Marching Requiem)

Purwodadi secret massacre

Degup jantung pohon jati membisikan ke udara-udara, duka lelap membuka , dia yang bernama kepala membuntuti jalan dengan kepalan, aku lelap merah bersimbah. Kata-kata tak bisa aku lepas, kerikil resap, air kalap, raya kalap. Seperti itukah mimpi yang berujar? Kepala-kepala, kulit-kulit , jari-jari berjejal sendiri. Matanya semalam kelam, aku menelpon kegusaran. Pukulan berkali-kali, aku berlari, jalan panjang melahapku habis seperti seonggok bibir yang ricuh. Dua tubuhku tergantung dengan dunia yang mampu aku ciptakan. Luap semua, jalan kalap, mata gagak melukai jantungku, mata jati menerkamku, mata mahoni merabaku.  Aku teriakan jesus berkali-kali, aku teriakan muhammad berkali-kali, aku teriakan budha berkali-kali, aku teriakan maria berkali-kali, aku puja-puji . Malam menerkamku kelam . Tusukan berkali-kali, aku berlari, jalan panjang melahapku habis seperti seonggok bibir yang ricuh. Luap semua, jalan kalap, mata gagak melukai jantungku, mata jati menerkamku, mata mahoni merabaku. Jalan pedas, kecil kerikil menderuku, semesta mata-mata, jati, mahoni, ricuh riuh, dia yang bernama kepala membuntuti jalan dengan kepalan, aku lelap merah bersimbah. Kata-kata tak bisa aku lepas, kerikil resap, air kalap, raya kalap. Pukulan berkali-kali, aku berlari, jalan panjang semesta bunyi mendengung awal yang agung.


Afiagummi are  TRia Nin & Gabriel achille. We come from a boisterous party minds.We loved sitting in the garden behind the house, aware of noisy, We liked the old records, a diary, meditation, realized the beauty of dusk, realized the music of nature, realize the universe. This is a record entry in our minds, hopefully you can enjoy it. big thanks. sabbe satta bhavantu sukhitatta.



Jarum

Tertahan dengan tanya yang luar biasa, tanda tanya kali mati menyerang jantungku. Tak ada gurauan atau ricaun, semua tertahan di kepala. Kemana ia pergi, membayang terang terungkap dibenakku. Aku ingin berlari saja, melupakan semua, oh tidak segampang itu. Lupa menerkam bencana, orang-orang disekitarmu membelenggu. Tangisanku berhari-hari, semesta memeluk perih tiada tara. Aku terjang, hadapi ini semua. Lipatan yang menggelombang, tak ada ruang, semua terbakar begitu saja. Aku bertahan, kataku. Membumbung tinggi di angkasa, ketakutan ini menyerangku. Lalu yang ada hanya jalan-jalan terkenang, isakan beribu basah yang mendekam sejarah usang. Aku ingin memelukmu erat dekap lelap tertelan di  dalam bahasa. Tubuh ini tak kuasa membendung itu semua. Ketakutan, kekhawatiran berhari-hari menerkam. Buat apa aku melalui ini semua? aku sungguh tersungkur di dalam kelam. Tak ada lari atau detak-detak itu. Setiap malam aku memandangimu tertidur, perih luar biasa, kepala mencekat . Aku bilang harapan-harapan menumpuk di dada, aku tak sendiri disini. Lalu yang ada hanya sepi dan lamunan yang panjang. Ketakutan datang atau jangan-jangan aku belum siap untuk semua ini. Bibirku mencoba mengeja tandamu, itu tuhan, itu tuhan, Tak ada senyum lagi dirumah ini , yang ada hanya isakan, kekhawatiran dan ketakutan. Aku diam, tak tahu lagi bagaimana menangis dirumah ini. Sesak menyergap. Setiap jalan pulang selalu sesak. Malam itu, kamu bertanya apa itu batin ? Aku tersontak membaca matamu. Diam melekat itu saja. 
Keluar rumah ini, diam-diam aku mencuri untuk menangis di perjalanan, meraung-raung sendiri diantara suara-suara klakson menderu, di jalanan, aku tidak bersama siapa-siapa, roda berputar, isakan aku dengarkan sendiri. Ya, paling tidak begitulah caraku menangis.
Sebuah pesan terkirim, segera pulang, segera pulang, jantungku berdetak kencang, kesakitan itu tertancap.

Terimakasih semesta atas perjalanan ini