25.10.10

Riwayat pelacur 1.1

Ruang-ruang terbakar, dentuman menyerang beribu kali. Ada apa ini? menghentak tanpa tanya yang panjang. Keranda diturunkan, yang ada hanya lekukan tubuh terbungkam kain putih . Aku menjawab semua pertanyaan yang datang.


Apakah pelacur? asap-asap yang terbang hanya bergoyang didepan wajah-wajah tak kukenal. Lalu membludak di atas kepala, tak ada kata-kata, rajam , kata-kata merajam.

Ah pelacur yang kental , bau yang runyam. Aku membuang  sejarahmu di peradaban kali mati. Aku luap, lelap pun hanya ungkapan.
Ah aku kira ini hanya ungkapan yang membuat orang-orang berusaha untuk selalu tegar. Keranda-keranda siapa ini?mata siapa ini?

Aku menghardik dengan  ruas yang berupa -rupa. Pelacur, bakar diri aku melacur untuk diri , bakar -bakar perkamen usang. Tak ada yang meluap, Ketika perbincangan basi tergantikan dengan tundukan kepala. Bualan penduduk tentang anak asam yang terbang.  Apakah kamu bisa  menghentikan darahmu sendiri? apakah kamu bisa?

Aku pelacur, aku bisa. 

Kata yang tertuang hanyalah onggokan sepi, lalu hanyut di ruas kali, yang ada hanya gertakan. Redam kaki ini, melangkah pun ternyata hanya bualan. Mimpi mana yang ingin kau bakar? darah mana yang ingin kauhentikan?
tubuh meringkuk di tanah lelah, diinjak-injak pun hanya terjadi bualan ungkapan. oh dunia, dunia yang terkepal di dada. Kamu mau kemana?

Aku  merias wajah dengan ruang-ruang tua, dunia melebar sekujur tubuhnya. Malam yang garang, aku melalui dunia, tubuh hanyalah terkenang didalam dada. Perkamen usang merapuh. apakah kamu tahu dimana tempatku berada?

tanya siapa? tanyakan kepada siapa?

Wajah-wajah lalu lalang membungkamku, didekat pintu, ketokan berjuta kali tak mampu mengulang sejarah yang lalu. aku lupa, tiada tubuhku , siapa yang akan membungkam dengan seribu tanya tertangkap, lelap pun melahap ketukan yang hanya  tertuang di luapan dada.Kain terurai tak ada tanda baca yang tersaji di meja makan, aku membungkam tubuh-tubuh, melepas satu persatu  lekukan yang tertahan di dada. apakah kamu ingin menjarahku?

katakan itu, jangan malu, jangan menguntitku. Lupakan senja, lupakan kitab suci yang tertuang di dada, lupakan rahasia, mari tubuhku.

Aku melahap gertak malam , tak ada bahasa yang kau inginkan, terbang tertuang , lagi-lagi terbang ya terbang begitu saja.

Tubuh yang retak. entah kata siapa yang hanya nyanyian kepala  telah lewat sekelibat melahap hanya bungkam yang telat. Ah rasa apa ini tubuh? yang hanya kejap dan sekejap. Lalu hanya ada kamu. 

Aku ingin meniduri riwayat yang teracak di jalan-jalan, kali bau mati dan usang wajah yang hanya terlahap dipikiran. Maukah kamu menemuiku? 



Terimakasih semesta atas perjalanan ini

No comments: