18.10.10

Mencari harmoni

Ada apa dengan harmoni? Kenapa harus dicari?  Dunia semakin dipadati ironi, inspirasi ini digambarkan dalam pertunjukan tari yang digagas oleh koreografer muda, Dwi Windarti. Pertunjukan tari yang digelar 2 hari  dibulan ke-9 ini menampilkan 7 penari dengan warna yang berbeda. Saya teringat 7 hari menuju semesta, riuh yang menggelora didada, gerak tubuh yang memutar ingatan-ingatan di kepala. 
Awalnya seperti gerak yang gelap, lelap, ketakutan muncul begitu adanya. Tentang memori-memori gambar kehidupan yang tertuang dalam layar, memudar, hambar lalu gelap, lalu terang naik menjadi semacam cerita dalam kehidupan, riuh, teracak, pulang menangkap tempat semestinya, begitu adanya saja.  Saya seperti menangkap ungkapan Kung Fu Tse jika tiap orang berada di tempat yang semestinya dan berperan sebagaimana mestinya, maka hidup dan segala hubungan hidup akan harmonis.
Dalam gerak, koreografer mencoba menceritakan liku-liku hidup seperti rotasi dunia. Kelahiran hari, bertemu fajar, cahaya menggenang, mendung, air mata semesta, darah, makhluk berwarna, lalu lelap begitu saja. Saya bergetar ketika mengamati gerak yang dikombinasikan dengan gerak patanjali yoga. Menurut saya, Yoga itu sebuah harmoni. Bergeraklah, rasakan riuh, tarik napas dan rasakan kesejukan masuk. Lalu buang napas, dan rasakan kehangatan keluar. Rasakan keheningan masuk ke hati. Sunyi dan sepi. Saya mencium aroma segar dalam pertunjukan tari ini. Alunan musik drum & bass seperti mendengar detak jantung. Lalu mengalir seperti adam dan hawa turun ke bumi, menyapa makhluk semesta lainnya, bergerak, menari dalam hari. Bergerak, lalu hanya waktu yang terbaca. 

Karya tari kontemporer  ini adalah hasil kerjasama antara koreografer, videografer, ilustrator, penata cahaya, penata musik, dan penata panggung yang mempunyai mimpi untuk keseimbangan harmoni. Di hari pertama, pertunjukan berjalan lancar, suara, gerak, gambar, cahaya sungguh pas menarik hati. Saya sungguh penasaran, apa yang akan terjadi di hari kedua?  Saya kembali, memasuki ruang itu dengan memori yang masih di hinggap kepala, gerakan berputar ulang, keganjilan suara pelan lalu keras dan beberapa noise muncul, penari bergerak sebagaimana semestinya, gambar dan cahaya sebagaimana semestinya. Entah kenapa, saya seperti mendapat gambaran noise yang datang adalah keasyikan tersendiri, bahwa menyadari noise, riuh, rusak sebagaimana adanya saja adalah kesadaran yang sebenarnya. Itulah keseimbangan.

Dwi Windarti  dan  timnya mampu menggambarkan sebuah kebutuhan dasar mencari harmoni, tak heran jika karya ini dipilih panel seleksi Hibah Seni Kelola – Hivos 2010 untuk kategori Karya Inovatif. Mencari harmoni mampu menggambarkan perbedaan peran di dunia ini, nyatanya perdamaian akan tercipta kalau manusia pun menari-nari dalam harmoni. 

Koreografer : Dwi windarti
Penari : Rani iswendar, Woro utaminingsih, Erika Dian, Rahma Putri Parimitha, Otnil tasman, Abimanyu Danang Ramadhan Artistik : Tatuk Marbudi, Taufik fatoni Videografer: Bjeou Nayaka Ilustrator : Taufik Fatoni Desainer grafis : Tatuk Marbudi  Penata cahaya : Joko sriyono Penata Musik  : Sigit pratama

Mencari Harmoni
Rabu - Kamis, 29 - 30 September 2010
Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir. Sutami no. 57, Solo, Jawa Tengah

Terimakasih semesta atas perjalanan ini

No comments: