28.10.10

The Lumbini affair is not over yet !



Judul/ title : Lumbini 
Penulis/Author : Kris Budiman
Tahun terbit : 2006
Jumlah halaman : 114 halaman
Penerbit/Publisher: Jalasutra

Kecantikan dan kesederhanaan buku ini menyapa saya, kain berwarna oranye yang dijahit di tengah-tengah sampul depan seperti warna kuil Ratu Maya Devi di Lumbini.  Saya mencium energi  keseimbangan, kehangatan, warna yang identik dengan musim gugur. Bermain ke lumbini, itulah kesadaran yang saya resapi, di sebuah sore saya mengetuk pintu, disebuah ruang. Membaca lumbini seperti memasuki aliran sungai yang datar dan tenang , tetapi ketika saya berenang semakin ke dalam sungai saya menemukan kedalaman filosofis hidup , simbol-simbol eksotisme Kathmandu Nepal . 

Novel tipis berisi 114 halaman ini berkisah tentang  cerita yang tebal tentang perjumpaan lelaki dan perempuan di sebuah kedai the pipe house di kathmandu. Kedai ini berada di lorong bernama aneh. Semesta berbicara menyatukan perempuan bernama Ratna Adiprana dan lelaki bernama Nikaya Suttomo.

Seorang arsitek lulusan dari UGM bernama Ratna adalah tokoh sentral dari cerita Lumbini. Energi muda, perempuan eksotik, kaya cerita, suka berpetualang menjelajahi dunia nyata dan pikiran.  Sosok perempuan ini mirip dengan Lara croft seperti yang diperankan Aktris Angelina Jolie dalam  Tomb Raider. Karena kejenuhan dan kebosanan menyerang, Ratna  ingin menikmati hidup di suatu tempat hening dan asing, dimana  tidak ada satu orang pun yang mengenalnya.  Hatinya memilih  Kathmandu, Nepal. Ratna tinggal sendiri di sebuah penginapan kecil. Menyepi, berkontemplasi,  Ratna juga mulai belajar yoga dan meditasi.

Lorong bernama aneh membawa Ratna ke sebuah kedai the pipe house. Hingga akhirnya perempuan ini berjumpa dengan seorang lelaki bernama Nikaya Suttomo. Seorang arkeolog  yang ternyata satu almamater dengan Ratna ini kerap dipanggil Niko. Lelaki ini sedang menjadi sukarelawan pada sebuah proyek World Heritage Sites di Lembah Kathmandu.

Perjumpaan Ratna dan Niko bukanlah kebetulan, saya yakin dzat , harapan, keinginan yang selaras mempertemukan mereka. Percakapan demi percakapan , peristiwa demi peristiwa adalah petualangan pikiran yang mengasyikan. Niko mengajak Ratna ke taman Lumbini, tempat kelahiran Siddharta , Ratna tergetar ketika di depan relief Dewi Maya ia memperoleh pengalaman mengagumkan. Ketika Niko sedang asyik memotret relief, Ratna  bertemu dengan seorang  Bhikku yang mengajaknya masuk ke sebuah vihara. Di sana Ratna melihat gambaran tentang peristiwa kelahiran Sang Budhha. Dari perjumpaan misterius itu, Bhikku  mengajak Ratna bertemu kembali di Candi Mendut, saat Waisak.  Ada sesuatu di perjumpaan itu.

Novel  yang mendapat Penghargaan Buku Sastra Indonesia –Yogyakarta 2007  ini benar-benar mengugurkan jantung. Seperti dalam paragraf yang saya uraikan disini :  Langit di luar tampak cerah, tapi tidak langit di badanku. Pesawat telah lepas-landas semenjak beberapa menit yang lalu, meninggalkan Bandara Tribhuvan yang tidak pernah sempat menghela napas sedetik pun lantaran kesibukannya. Aku pulang, Nik. Meninggalkanmu, sebagian dari diriku. Sambil memandangi gumpal-gumpal kapas putih yang bergulung-gulung menebal di kaki Pegunungan Himalaya, aku duduk termangu di sisi jendela pesawat. Ruang kepala terasa kosong dalam pendar-pendar warna monokromatik. Hitam, putih, dan kelabu. Ngelangut sekali, serasa ada yang hilang dari sisi. Di atas pangkuanku masih terbaca jejak-jejak goresanmu pada secarik tissue putih : “...manakah yang lebih banyak, air yang ada di dalam keempat samudera atau air yang kau tumpahkan ketika tersesat dan bertualang dalam ziarah panjang ini, sebab yang menjadi bagianmu adalah yang tidak kaucintai, dan yang kaucintai tidak menjadi bagianmu?” ((Kris  Budiman, Lumbini, hal. 105)

Membaca lumbini, seperti saya bermeditasi menyadari gerak pikiran yang riuh, datar, tenang, riak lagi, bosan, riuh begitu adanya. Berawal dari bermain, bersenang-senang menjadi awal petualangan yang bermakna. Saat musim gugur menyapa kita, jangan terburu-buru berharap agar musim semi segera menyapa. Berilah  waktu, agar musim dingin menjadi jeda. Seperti tertulis pesan terakhir ratna : Dear Niko, the Lumbini Affair is not over yet!
*Tulisan ini dimuat di buletin sastra pawon edisi #31 /2010
 Terimakasih semesta atas perjalanan ini

25.10.10

Riwayat pelacur 1.1

Ruang-ruang terbakar, dentuman menyerang beribu kali. Ada apa ini? menghentak tanpa tanya yang panjang. Keranda diturunkan, yang ada hanya lekukan tubuh terbungkam kain putih . Aku menjawab semua pertanyaan yang datang.


Apakah pelacur? asap-asap yang terbang hanya bergoyang didepan wajah-wajah tak kukenal. Lalu membludak di atas kepala, tak ada kata-kata, rajam , kata-kata merajam.

Ah pelacur yang kental , bau yang runyam. Aku membuang  sejarahmu di peradaban kali mati. Aku luap, lelap pun hanya ungkapan.
Ah aku kira ini hanya ungkapan yang membuat orang-orang berusaha untuk selalu tegar. Keranda-keranda siapa ini?mata siapa ini?

Aku menghardik dengan  ruas yang berupa -rupa. Pelacur, bakar diri aku melacur untuk diri , bakar -bakar perkamen usang. Tak ada yang meluap, Ketika perbincangan basi tergantikan dengan tundukan kepala. Bualan penduduk tentang anak asam yang terbang.  Apakah kamu bisa  menghentikan darahmu sendiri? apakah kamu bisa?

Aku pelacur, aku bisa. 

Kata yang tertuang hanyalah onggokan sepi, lalu hanyut di ruas kali, yang ada hanya gertakan. Redam kaki ini, melangkah pun ternyata hanya bualan. Mimpi mana yang ingin kau bakar? darah mana yang ingin kauhentikan?
tubuh meringkuk di tanah lelah, diinjak-injak pun hanya terjadi bualan ungkapan. oh dunia, dunia yang terkepal di dada. Kamu mau kemana?

Aku  merias wajah dengan ruang-ruang tua, dunia melebar sekujur tubuhnya. Malam yang garang, aku melalui dunia, tubuh hanyalah terkenang didalam dada. Perkamen usang merapuh. apakah kamu tahu dimana tempatku berada?

tanya siapa? tanyakan kepada siapa?

Wajah-wajah lalu lalang membungkamku, didekat pintu, ketokan berjuta kali tak mampu mengulang sejarah yang lalu. aku lupa, tiada tubuhku , siapa yang akan membungkam dengan seribu tanya tertangkap, lelap pun melahap ketukan yang hanya  tertuang di luapan dada.Kain terurai tak ada tanda baca yang tersaji di meja makan, aku membungkam tubuh-tubuh, melepas satu persatu  lekukan yang tertahan di dada. apakah kamu ingin menjarahku?

katakan itu, jangan malu, jangan menguntitku. Lupakan senja, lupakan kitab suci yang tertuang di dada, lupakan rahasia, mari tubuhku.

Aku melahap gertak malam , tak ada bahasa yang kau inginkan, terbang tertuang , lagi-lagi terbang ya terbang begitu saja.

Tubuh yang retak. entah kata siapa yang hanya nyanyian kepala  telah lewat sekelibat melahap hanya bungkam yang telat. Ah rasa apa ini tubuh? yang hanya kejap dan sekejap. Lalu hanya ada kamu. 

Aku ingin meniduri riwayat yang teracak di jalan-jalan, kali bau mati dan usang wajah yang hanya terlahap dipikiran. Maukah kamu menemuiku? 



Terimakasih semesta atas perjalanan ini

18.10.10

Mencari harmoni

Ada apa dengan harmoni? Kenapa harus dicari?  Dunia semakin dipadati ironi, inspirasi ini digambarkan dalam pertunjukan tari yang digagas oleh koreografer muda, Dwi Windarti. Pertunjukan tari yang digelar 2 hari  dibulan ke-9 ini menampilkan 7 penari dengan warna yang berbeda. Saya teringat 7 hari menuju semesta, riuh yang menggelora didada, gerak tubuh yang memutar ingatan-ingatan di kepala. 
Awalnya seperti gerak yang gelap, lelap, ketakutan muncul begitu adanya. Tentang memori-memori gambar kehidupan yang tertuang dalam layar, memudar, hambar lalu gelap, lalu terang naik menjadi semacam cerita dalam kehidupan, riuh, teracak, pulang menangkap tempat semestinya, begitu adanya saja.  Saya seperti menangkap ungkapan Kung Fu Tse jika tiap orang berada di tempat yang semestinya dan berperan sebagaimana mestinya, maka hidup dan segala hubungan hidup akan harmonis.
Dalam gerak, koreografer mencoba menceritakan liku-liku hidup seperti rotasi dunia. Kelahiran hari, bertemu fajar, cahaya menggenang, mendung, air mata semesta, darah, makhluk berwarna, lalu lelap begitu saja. Saya bergetar ketika mengamati gerak yang dikombinasikan dengan gerak patanjali yoga. Menurut saya, Yoga itu sebuah harmoni. Bergeraklah, rasakan riuh, tarik napas dan rasakan kesejukan masuk. Lalu buang napas, dan rasakan kehangatan keluar. Rasakan keheningan masuk ke hati. Sunyi dan sepi. Saya mencium aroma segar dalam pertunjukan tari ini. Alunan musik drum & bass seperti mendengar detak jantung. Lalu mengalir seperti adam dan hawa turun ke bumi, menyapa makhluk semesta lainnya, bergerak, menari dalam hari. Bergerak, lalu hanya waktu yang terbaca. 

Karya tari kontemporer  ini adalah hasil kerjasama antara koreografer, videografer, ilustrator, penata cahaya, penata musik, dan penata panggung yang mempunyai mimpi untuk keseimbangan harmoni. Di hari pertama, pertunjukan berjalan lancar, suara, gerak, gambar, cahaya sungguh pas menarik hati. Saya sungguh penasaran, apa yang akan terjadi di hari kedua?  Saya kembali, memasuki ruang itu dengan memori yang masih di hinggap kepala, gerakan berputar ulang, keganjilan suara pelan lalu keras dan beberapa noise muncul, penari bergerak sebagaimana semestinya, gambar dan cahaya sebagaimana semestinya. Entah kenapa, saya seperti mendapat gambaran noise yang datang adalah keasyikan tersendiri, bahwa menyadari noise, riuh, rusak sebagaimana adanya saja adalah kesadaran yang sebenarnya. Itulah keseimbangan.

Dwi Windarti  dan  timnya mampu menggambarkan sebuah kebutuhan dasar mencari harmoni, tak heran jika karya ini dipilih panel seleksi Hibah Seni Kelola – Hivos 2010 untuk kategori Karya Inovatif. Mencari harmoni mampu menggambarkan perbedaan peran di dunia ini, nyatanya perdamaian akan tercipta kalau manusia pun menari-nari dalam harmoni. 

Koreografer : Dwi windarti
Penari : Rani iswendar, Woro utaminingsih, Erika Dian, Rahma Putri Parimitha, Otnil tasman, Abimanyu Danang Ramadhan Artistik : Tatuk Marbudi, Taufik fatoni Videografer: Bjeou Nayaka Ilustrator : Taufik Fatoni Desainer grafis : Tatuk Marbudi  Penata cahaya : Joko sriyono Penata Musik  : Sigit pratama

Mencari Harmoni
Rabu - Kamis, 29 - 30 September 2010
Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir. Sutami no. 57, Solo, Jawa Tengah

Terimakasih semesta atas perjalanan ini

9.10.10

Dynamic duo

Hai Dynamic duo, Pasangan dinamis manis tahun ini. Terima kasih banyak untuk sahabat saya Ajie Whisnu Wardana dan Shasa Swastika Kusuma yang menggoreskan gambaran energi mimpikiri dalam sebuah gambar. Sangat menggembirakan hari. Ya benar, hari ini memang sangat membuat saya bernyanyi, karena hai kau dynamic duo :)

 Artwork by Ajie Whisnu Wardana

 Artwork by Shasa Swastika Kusuma

  photo courtesy of dynamic duo


Terimakasih semesta atas perjalanan ini