16.8.10

Perempuan penerus atmadja 2.1


Teduh meluap, tubuh lelap, aku memulai memutar waktu kesayanganku. Pagi yang rindang, ditemani dengan putaran emosi, apa yang diharapkan dengan dendang bahasa ribuan kali?
Lalu aku mengetuk pintu, tak ada jawaban disana, wajah yang tekuk , menenduk kalut. Aku menciumi aroma liburan, seharusnya kau ada disana? Dimana kamu? pintu tertutup, kunci pun berasyik sendiri dengan rimbunan rumput hijau disana, aku tak mau mengambilnya. Bolehkah aku duduk saja?

halaman rumah mati, aku menunggu sepi.

Dinding-dinding itu berbicara riuh sekali, oh kamu disitu? benarkah itu kamu? Aku melonjak, lari-lari kecil menghampirimu. Angin serak, jendela membuka telak.Tibalah waktunya untuk menyiasati aroma liburan ini menjadi begitu merah. Langkah-langkah kecil, lelap hangat tanganmu mendekat tubuhku. 





Resah daun, hari merah, aku membawa payung merah kesukaanku. Selanjutnya hanya bayang dua tubuh berlalu, melahap ombak pantai di belakang rumah. Aku ingin diam saja, tapi ternyata tidak, Pikiranku ramai, bergulung-gulung, ombak pun kalap.



Mungkinkah itu terjadi karena tidak ada bayang yang pasti, kenapa kamu mencoba menangkap bayang tubuhmu? 


Tarian dentang , jangan lara mampir kesini. 


Seperti apa yang kau harapkan? 


aku mencoba menghitung akar-akar pohon yang liar, yang ada hanya pikiran berserakan. Kenangan mampat, duka hambat. 

Tarian dentang , jangan lara mampir kesini. 








lagi,


Solo, 8 -8-2010 

Terimakasih semesta atas perjalanan ini

No comments: