29.8.10

Malaikat biru

   pic
Sore yang kesal ketika seorang teman memberitahu bahwa ban belakang motor si redo bocor, entah sore itu benar-benar menjadi terberat saya. Lalu saya berbincang dengan diri saya, oh ya setelah menyelesaikan artikel, saya harus mencari tempat tambal ban untuk si redo. Tak terasa, gelap sudah, malam belum punah. Saya menuntun si redo dari radio, dengan seluruh kekuatan dan kesal yang menumpuk dada, saya menuntun si redo. Baru seperempat perjalanan, saya merasakan keanehan luar biasa ditubuh saya, seperti pisau-pisau beterbangan menabrak dada saya, rasanya perih memang. Saya memutuskan untuk istirahat sebentar, berdiri mengatur napas, belum lepas. Lalu lalang motor di sekitar manahan sangat ramai, membuat pikiran saya memburai. Saya berjalan pelan, sangat pelan, karena saya  sangat susah menyadari kesakitan di dada, kecapekan di tubuh, dan nafas yang tersengal. Jadi saya mempunyai pilihan tempat tambal ban yang berjarak sekitar 200 meter dari radio, yaitu di pojok shelter manahan, seperti saya akan menggapai impian saya, merangkak, naik ke bukit, perlahan lagi sampai, berulang kali saya menguatkan kesadaran saya. Santailah tria, walaupun kondisi saya sangat buruk, seperti yang saya ceritakan tadi dada saya seperti teriris. Saya tahu, penyakit saya akan kambuh dalam gerak secepat kilat, saya tak tahu harus bagaimana. Berjarak sekitar 10 meter dari tempat tujuan tambal ban, saya tidak kuat, saya putus asa. 
Seperti dada yang tertusuk-tusuk, saya memutuskan untuk duduk di lantai trotoar shelter manahan, menunduk, meringkuk kaki saya, motor saya biarkan di pinggir jalan. Tiba-tiba penjual wedang ronde mendekati saya dan menanyakan keadaan saya. Saya bilang, saya akan menuju ke tempat tambal ban di pojok shelter, bapak tadi bilang kalau tempat tambal ban yang saya inginkan tutup, lampu gelap. Ah gusar saya, keputusan yang saya ambil sekarang adalah saya akan diam sebentar, merasakan kesakitan dada yang meluap, begitu sakitnya. Lalu bapak wedang ronde pergi, saya sendiri di pinggir jalan. Sekitar 10 menit saya beristirahat dan segera memutuskan untuk bangkit kembali, saya bertanya ke penjual shelter tempat tambal ban motor mana yang bisa saya tuju. Penjual shelter bilang saya harus menempuh kurang lebih 200 meter lagi untuk sampai kesana, tepatnya di samping SMU 4 Solo. Sudah, saya mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Berjalan pelan, dada berdetak cepat, kesadaran yang sakit. Saya akan menyelesaikan pelan-pelan saja, tiba-tiba saja ada seorang bapak biru dengan putrinya berkacamata menyapa saya, dan bertanya apakah saya mempunyai kesulitan. Saya berhenti sebentar, menjawab pertanyaan bapak kalau saya membutuhkan tempat tambal ban. Dengan senyumnya yang hangat, bapak tadi bilang kalau ada tempat tambal ban yang masih buka , yaitu disamping SMU 4 Solo. Iya saya mengangguk dan mengucapkan terimakasih, menuntun redo dengan menopang segala kesakitan di dada yang sungguh luar biasa, sangat perih. Yang ada dalam pikiran saya waktu itu adalah saya harus pulang, minum obat , tidur hangat. Tapi apa daya, saya harus menyelesaikan permasalahan dengan redo. Saya harus menyelesaikan, dengan sisa tenaga, saya pasti bisa. Saya gemetar menyebrang jalan, dada saya menjadi begitu perih. Lalu suara itu memanggil saya, suara yang hangat, bapak berbaju biru mendekati saya, dia bilang saya boleh memakai motornya untuk mencapai tempat tambal ban di dekat SMU 4 solo. Bapak tadi langsung mengambil si redo dan menuntunnya. Saya tidak bisa berkata apapun, hanya menurutinya saja. Sampailah saya di tempat tambal ban, saya mengucapkan terima kasih untuk bapak berbaju biru.  Bapak tadi menyentuh pundak saya dan menyarankan saya agar duduk di kursi panjang dekat tambal ban. Lalu saya bangkit, menjabat tangan si bapak, memastikan saya berbicara dengan bapak yang bernama siapa. Bapak berbaju biru, meluapkan senyum hangatnya, dan tidak menjawab pertanyaan saya. Lalu bapak tadi pamit, berlalu dari saya. Meledak saya, saya menatap ke langit, mengucapkan terimakasih untuk semesta, semesta mengirimkan malaikat biru untuk haru saya hari ini. Terima kasih atas kebaikan, terima kasih atas senyuman, terima kasih yang hangat. 

No comments: