4.8.10

catatan menstruasi 1.5

Senyum ruah di belakang rumah, kumpulan terbang menusuk bahasa, terbang aku diantara dekapan yang membual? 






     pic

Ketika tiba-tiba aku berulah dengan gundukan kekesalan, apa yang dipastikan dengan genggaman erat? 
Jadi begini, ketika aku membuka kitab suci, ada beberapa yang mengingatkan aku musti begini, aku musti begitu, kisah itu menggetarkan soreku. Merah darah mengalir resap dalam hirup udara kudus. Menikmati detak jantung, aku memutar membuka pintu-pintu berulangkali, tanpa desakan dari lipatan-lipatan genggaman yang membuat perempuan terlelap diam, terlelap begitu adanya. 


Tubuh hening di pembaringan kursi belakang rumah, pikir pun bergerak acak begitu adanya. Aku biarkan itu kitab suci terbuka dengan sendirinya, angin mendesaknya. Jangan sentuh itu, jangan sentuh itu, pikiranku mendesak-desak. Merah lelap tubuh darah mendekap pikiran-pikiran bergejolak, pikirku kitab suci itu.


Aku rapalkan doa berkali-kali, aku peluk merahku, aku peluk tubuhku, aku cium kitab suciku. Gerak-gerik pikiran menyerang , pikiran-pikiran garang. Peduli apa aku. Aku menyatu, darahku menyatu, rapal-rapal doa membumbung ke udara, merah luap, marah dada. Desis angin, semilir dingin, dekap perempuan ingin.







Solo, 26 Juli 2010
Terimakasih semesta atas perjalanan ini

No comments: