29.8.10

Malaikat biru

   pic
Sore yang kesal ketika seorang teman memberitahu bahwa ban belakang motor si redo bocor, entah sore itu benar-benar menjadi terberat saya. Lalu saya berbincang dengan diri saya, oh ya setelah menyelesaikan artikel, saya harus mencari tempat tambal ban untuk si redo. Tak terasa, gelap sudah, malam belum punah. Saya menuntun si redo dari radio, dengan seluruh kekuatan dan kesal yang menumpuk dada, saya menuntun si redo. Baru seperempat perjalanan, saya merasakan keanehan luar biasa ditubuh saya, seperti pisau-pisau beterbangan menabrak dada saya, rasanya perih memang. Saya memutuskan untuk istirahat sebentar, berdiri mengatur napas, belum lepas. Lalu lalang motor di sekitar manahan sangat ramai, membuat pikiran saya memburai. Saya berjalan pelan, sangat pelan, karena saya  sangat susah menyadari kesakitan di dada, kecapekan di tubuh, dan nafas yang tersengal. Jadi saya mempunyai pilihan tempat tambal ban yang berjarak sekitar 200 meter dari radio, yaitu di pojok shelter manahan, seperti saya akan menggapai impian saya, merangkak, naik ke bukit, perlahan lagi sampai, berulang kali saya menguatkan kesadaran saya. Santailah tria, walaupun kondisi saya sangat buruk, seperti yang saya ceritakan tadi dada saya seperti teriris. Saya tahu, penyakit saya akan kambuh dalam gerak secepat kilat, saya tak tahu harus bagaimana. Berjarak sekitar 10 meter dari tempat tujuan tambal ban, saya tidak kuat, saya putus asa. 
Seperti dada yang tertusuk-tusuk, saya memutuskan untuk duduk di lantai trotoar shelter manahan, menunduk, meringkuk kaki saya, motor saya biarkan di pinggir jalan. Tiba-tiba penjual wedang ronde mendekati saya dan menanyakan keadaan saya. Saya bilang, saya akan menuju ke tempat tambal ban di pojok shelter, bapak tadi bilang kalau tempat tambal ban yang saya inginkan tutup, lampu gelap. Ah gusar saya, keputusan yang saya ambil sekarang adalah saya akan diam sebentar, merasakan kesakitan dada yang meluap, begitu sakitnya. Lalu bapak wedang ronde pergi, saya sendiri di pinggir jalan. Sekitar 10 menit saya beristirahat dan segera memutuskan untuk bangkit kembali, saya bertanya ke penjual shelter tempat tambal ban motor mana yang bisa saya tuju. Penjual shelter bilang saya harus menempuh kurang lebih 200 meter lagi untuk sampai kesana, tepatnya di samping SMU 4 Solo. Sudah, saya mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Berjalan pelan, dada berdetak cepat, kesadaran yang sakit. Saya akan menyelesaikan pelan-pelan saja, tiba-tiba saja ada seorang bapak biru dengan putrinya berkacamata menyapa saya, dan bertanya apakah saya mempunyai kesulitan. Saya berhenti sebentar, menjawab pertanyaan bapak kalau saya membutuhkan tempat tambal ban. Dengan senyumnya yang hangat, bapak tadi bilang kalau ada tempat tambal ban yang masih buka , yaitu disamping SMU 4 Solo. Iya saya mengangguk dan mengucapkan terimakasih, menuntun redo dengan menopang segala kesakitan di dada yang sungguh luar biasa, sangat perih. Yang ada dalam pikiran saya waktu itu adalah saya harus pulang, minum obat , tidur hangat. Tapi apa daya, saya harus menyelesaikan permasalahan dengan redo. Saya harus menyelesaikan, dengan sisa tenaga, saya pasti bisa. Saya gemetar menyebrang jalan, dada saya menjadi begitu perih. Lalu suara itu memanggil saya, suara yang hangat, bapak berbaju biru mendekati saya, dia bilang saya boleh memakai motornya untuk mencapai tempat tambal ban di dekat SMU 4 solo. Bapak tadi langsung mengambil si redo dan menuntunnya. Saya tidak bisa berkata apapun, hanya menurutinya saja. Sampailah saya di tempat tambal ban, saya mengucapkan terima kasih untuk bapak berbaju biru.  Bapak tadi menyentuh pundak saya dan menyarankan saya agar duduk di kursi panjang dekat tambal ban. Lalu saya bangkit, menjabat tangan si bapak, memastikan saya berbicara dengan bapak yang bernama siapa. Bapak berbaju biru, meluapkan senyum hangatnya, dan tidak menjawab pertanyaan saya. Lalu bapak tadi pamit, berlalu dari saya. Meledak saya, saya menatap ke langit, mengucapkan terimakasih untuk semesta, semesta mengirimkan malaikat biru untuk haru saya hari ini. Terima kasih atas kebaikan, terima kasih atas senyuman, terima kasih yang hangat. 

26.8.10

Ngamen Puisi Wiji Thukul

Ngamen Puisi Wiji Thukul
Dibutuhkan relawan segala usia, apapun latar belakang, dimana pun berada, di atas apapun kini berpijak untuk ngamen puisi-puisi Wiji Thukul pada tanggal 28 dan 29 Agustus 2010. Ngamen ini untuk memperingati hari kelahiran Wiji yang jatuh pada 26 Agustus. Lokasi ngamen bebas, mau di terminal, di dalam bus, di emper mal, di tengah pasar, di manapun! Atau bila Anda malu ngamen di depan publik, silahkan membacakan puisi di depan orang terdekat atau keluarga. Waktu ngamen bebas! Boleh saat berangkat atau pulang kerja, di sela perjalanan, selepas ibadah di masjid, pura , vihara atau gereja, kapan pun!



  1. Daftarkan diri Anda ke: sahabatwijithukul@gmail.com  atau sms ke: 0899 839 3685
  2. Panitia akan mengirimkan bahan: puisi-puisi Wiji Thukul, profil penyair dan pamflet Peringatan Hari Penghilangan Paksa Internasional.
Beberapa hal yang harus diperhatikan:
  • Tak ada niat nyari duit apalagi memaksa, kalau publik mengapresiasi dengan memberi receh silahkan Anda sumbangkan untuk perjuangan para keluarga korban atau digunakan untuk keperluan baik-baik.
  • Respek terhadap rakyat yang diinjak oleh sepatu pembangunan (mengutip Iwan Fals).
  • Berlaku santun dan tidak mengganggu mereka yang tidak ingin diganggu pembacaan puisi.
  1. Kirimkan rekaman video/foto/audio dan kesan Anda selama ngamen ke: sahabatwijithukul@gmail.com.
  2. Kiriman Anda akan kami dokumentasikan dalam blog “Sahabat Wiji Thukul” yang segera online. Sebagai sahabat Wiji Thukul, Anda bebas mengirimkan bahan apa saja yang berkaitan dengan keresahan, kegamangan, protes, kemarahan, nasihat, atau apapun yang telah mencederai rasa keadilan dan kemanusiaan Anda.
Untuk Solo Ngamen puisi akan dilaksanakan hari Minggu (29/8/10)
bertempat di Balai Soedjatmoko jam 11.00 s/d 14.00
Koordinator Acara Pawon beserta Sekar Dewi dan GKS
Acara ini berlangsung serentak di beberapa kota.

CP: Fanny (0819.590.32929)
       Anna (0856.400.888.52)






 Terimakasih semesta atas perjalanan ini

25.8.10

Angka-angka berhamburan di udara
bunyi itu tidak menyambungkan aku kesana
Semesta kaukah mendengarnya ? 
Menggigil dingin berujar 
berusaha aku ketuk pintu
berulang kali. Tak ada ujar
aku mengejar, sadarkah aku ? 



Terimakasih semesta atas perjalanan ini

22.8.10

Soloveme

Tepat 20 Agustus 2010, jum'at malam yang hebat, komunitas lomonesia Solo tersenyum hangat atas pembukaan pameran SOLOVEME di Galeri Seni Rupa, Taman Budaya Surakarta (TBS). Pengunjung pameran pun antusias menikmati karya dari teman-teman komunitas Lomonesia Solo. Malam menjadi lekat dan hangat, pembukaan pameran dimeriahkan oleh band The partinies, band  dari teman-teman ISI Solo. Karya yang ditampilkan ada 46 foto dengan ukuran besar dan lebih dari 100 foto kecil yang ditempel di instalasi yang terbuat dari yellow board berbentuk tulisan SOLOMO. Aneka foto beragam cerita dengan benang merah SOLO membuat kita berimajinasi tentang ruang dan waktu yang berbeda, semua terbingkai indah dalam Soloveme Lomo exhibition. 

Dihari kedua pameran, 21 Agustus 2010, Diskusi santai tentang Lomo pun berjalan lancar. Banyak teman baru datang, obrolan yang menyenangkan, bertukar pikiran dan pengalaman membuat sabtu malam tidak kelam,malam yang akrab, hangat, penuh senyum membuat kita semakin betah untuk berada di pameran ini. Tidak hanya menikmati pameran saja, keesokan harinya, minggu sore, 22 agustus 2010, komunitas ini juga mengadakan hunting bareng di area TBS. Bahkan beberapa teman baru yang belum mengenal Lomo pun ikut mencoba kamera lomo yang sudah disiapkan panita, seru pastinya. Yeah, JUST SHOOT, DON"T THINK!. Oiya, acara hunting makin asyik, karena teman-teman lomonesia jogya dan  KLASTIC juga bergabung ikut ngeramein hunting bareng ini. Terima kasih teman-teman Lomonesia Jogya & KLASTIC :)

Nah, buat teman-teman yang belum sempat melihat pameran ini, dateng aja di Galeri Seni Rupa TBS. Pameran ini akan ditutup tgl 27 Agustus 2010. Selamat menikmati Soloveme Lomo Exhibition, Tiada kesan tanpa kehadiranmu kawan, Salam :)





 Terimakasih semesta atas perjalanan ini

31 : I’m humming : Y.O.U



1. Dia sangat sabar menghadapi kelakuan kelakuan ajaib tak terduga saya yang beralasan , tanpa alasan , baik pms ato ketika tidak pms.
2. Ketika perjalanan, Saya suka menyanyikan lagu “tender” dan dia mengikuti suara duanya.Come on, come on, come on Get through it Come on, come on, come on Loves the greatest thing
3. Dia suka sekali mengajak bermain tiga dengan menggambar di buku ajaibnya , saya selalu menang dan dia kalah, apakah dia pura pura mengalah ? hahaha
4. Saya suka sekali menuliskan namanya di buku harian, rasanya masih bergetar dalam.
5. Dia menggambar, saya menulis cerita.
6. Soto adalah pelipur lara
7. lelaki dengan mood berputar
8. Egonya yang sangat analog : ego saya tambah analog. 
9. lemari berisi penuh mainan dari jaman menangis meraung raung sampai jaman digital gaung.
10. Detail
11. Dia adalah bapak sekaligus ibu gomy
12. analog
13. Dia betah sekali di toko buku bekas : kelakuan saya juga tambah ajaib, besok bikin perpustakaan kecil berdua yah ?
14. manual
15. Dia tercengang ketika mengetahui isi lemari buku di rumah saya. Ooh jadi?
16. Dia tidak putus asa mencari agen majalah lama , berputar –putar kota, masuk agen majalah satu ke majalah lainnya, tanya kanan, tanya kiri, lurus ato belok. pokoknya harus ketemu, tak peduli hujan besar dan panas mengganas. Pokoknya !
17. Dia sering bilang tidak bisa menulis , jadi lebih suka menggambar . Tapi sssssttt…diam-diam saya menemukan tulisannya yang sangat analog dan mengagumkan. 
18. jika saya menggerutu, dia sering sekali menyentuh lembut atas kepala saya .
19. Kamarnya adalah gudang dunia
20. Saya sensitif, dia membuka kotak harta karun, dia mengijinkan saya untuk menelusuri kotak harta karun yang dia simpan bertahun-tahun lamanya. 
21. Dia pendiri prambanan records, dia membuat mixtape untuk pengiring tidur saya,
22. Dia membuat dongeng pangeran apel hijau, saya membuatnya menjadi kebun gogo wortel mematikan. 
23. Dia pencipta stella dan berry, Saya yang menulisnya.
24. Dia menyimpan surat-surat saya yang saya kirim lewat pos kedalam harta karun warisan untuk keturunan. 
25. Jika saya tidak mood dan tidak mau makan, dia mengambil kecap dan mencorat-coretnya ke dalam makanan, hingga saya melirik dan mengikutinya dan kemudian bernafsu makan lagi. 
26. Dia suka sekali memberikan kejutan, tiba-tiba datang tanpa kabar, tiba tiba mengirim hal –hal ajaib yang membuat saya tertawa girang.
27. Marah adalah dia suka diam, saya juga diam. Kemudian saya pulang, dia pulang, kemudian sunyi berapa lama, kemudian dia mengirimkan malaikat , menggetarkan perut, dia datang. Memeluk.
28. Jarak adalah dia menelpon, menonton acara tv yang sama , mendengarkan lagu yang sama , membaca buku yang sama, rasanya seperti berbincang dekat disampingnya lekat.
29. Dia suka sekali mengajak saya ke tempat tempat –tempat baru setiap harinya, antah berantah, sejarah, diskusi, merekah, redup, dia pejalan yang baik. 
30. oktober adalah hari raya bagi dia dan saya . Tentang pertemuan, tentang kelahiran , tentang mimpi dan tentang mengenggam. 
31. I’m humming : Y.O.U , I miss you


Terimakasih semesta atas perjalanan ini

Me time


Me time, sebuah waktu yang saya luangkan untuk  memanjakan diri, sendiri saja, tanpa siapapun. Saya sangat menyukai dan menghargai me time saya, hanya sendirian saja. Berjalan menyadari langkah kaki ini, menuju suatu tempat, bisa jadi ke taman, perpustakaan atau toko buku,  bisa jadi memberi makan ikan, menyapa rusa, kemudian meditasi. Lalu dimanakah tempat favorit saya?
Pukul 5 sore, saya sangat menyukai waktu ini saat bayang daun mulai lelap, senja menyapa asa, saya melangkahkan kaki ke taman balekambang, sebuah taman yang dekat dengan radio, tempat saya bekerja. Pohon rindang, rumput hijau, taman bunga, daun-daun tersenyum asyiknya, rusa lincah berlarian, merpati menarik hati, angsa berdansa ke kanan ke kiri, ah iya semuanya hanya di sebuah taman yang dahulunya bernama Partini Tuin ini. Pasti ada yang bertanya ya, siapakah Partini Tuin itu? Ok, jawabannya adalah seorang putri Mangkunegaran tertua. Tetapi saya kurang tahu, kapan tepatnya nama Partini Tuin berubah menjadi Taman Balekambang. 
Sekitar 10 menit lebih entah, saya berjalan kaki menuju taman, biasanya saya meditasi jalan kaki dari radio menuju taman. Sendiri, mengamati pikiran, sekitar dan langkah kaki. Rasanya semuanya riuh, ricuh, jalan kaki mendengar motor beradu, klakson menderu, pikiran seru. Sore yang lelap, jika orang-orang keluar taman untuk pulang, maka saya datang, pikiran dentang. Taman mulai sepi, pikiran beradu. Saya menjumpai rusa, lalu mengajak ngobrol sebentar. Berjalan kaki lagi, dengan bekal makanan ikan yang sebelumnya saya beli di pasar burung depok, saya menuju kolam Balekambang. Saya memberi makan ikan yang ada di kolam, rasanya sungguh bergetar. Sekali saya menabur makanan ikan, lalu ikan-ikan dengan cepat melahap cepat. Mereka menyerbu cepat, rasanya sedih ketika ikan-ikan itu harus saling menyenggol, berebut, melawan hanya untuk makan. Pernah terbayangkan, seolah-olah ikan itu adalah manusia-manusia yang berebut mencari makan, dengan segala cara sampai saling menjatuhkan hanya untuk makan. Pernah terbayangkan tidak ? Ternyata tuhan dan semesta mengharu biru, sedih melihat tingkah laku seperti itu. 

Setelah ritual memberi makan ikan, saya mencari tempat duduk kosong, merilekskan tubuh dan pikiran ini. Mata terpejam, kelam datang, cicit burung, desah angin, deru bis besar, motor, klakson, udara sejuk menggelayut, meditasi. Menyadari menjadi begitu riuh begitu adanya. Sampai suara adzan maghrib berbunyi,nyala lampu menyapa, saya memutuskan untuk berlalu, pulang. Menurut saya,  me time di taman balaikambang adalah seperti me time di surga yang diimpikan dalam kitab suci. 

Sebenarnya ada  kegiatan me time asyik lainnya yang biasa saya lakukan, seperti berburu buku bekas di sriwedari, menjelajahi toga mas dan gramedia, menuju surga stationary di swalayan, berburu kaset bekas, memasang playlist kesukaan, yoga, meditasi di vihara, meditasi di taman, meditasi di rumah, meditasi di jalan, meditasi dimana saja, ya itu semua adalah me time yang menyenangkan buat saya. Luangkan waktu untuk diri sendiri, selamat menyadari , Happy "me time" for yourself !





Terimakasih semesta atas perjalanan ini

21.8.10

Peron

Peron, sebuah tempat  transit penumpang kereta api, ada berbagai macam aktifitas di peron, energi haru, airmata,canda tawa, lamunan liar semua berputar di peron. 120 menit saya di peron stasiun lempuyangan, Yogyakarta,  menulis di buku catatan harian tentang perasaaan-perasaan, degup jantung yang melahap pikiran, mual.


Mata kereta
Perang mata-mata
diantara gegap kaca kereta
lalu aku menekukmu
menjadi mata-mata


Pulang (I)
Suara mesin, melahapku
Peron, tempat tunggu sayu
Gadis gaun hitam-hitam , layu
Seseorang menerjangnya dengan tanya besar
"Apakah kamu akan ke pemakaman?"


Sesudahnya, rel sepi, kelam


Pulang (II)
Kerikil diinjak setiap hari
itu kuasa kereta api
Tak mustahil dinjak pikiran sepi
itu kuasa pikiran berapi


Aku mengigil
tidak setegar kerikil 


Rel surga 
Bayangmu terbang 
kepulan asap kereta
Membawa tubuh melayang
Kita mau kemana ?


Ke surga, 


mari terbang, melayang..


ketok-ketok pintu gerbang !


Lalu lalang 
Yang ada lalu lalang, kereta api
melahap karma terbang ke udara
berulang kali kau bertanya, kamu mau kemana ?
Handphone berdering
aku mematikanmu
berulang kali, berulang kali, mati
Kau disana, bayangmu di ujung kereta
menerjang detik, semu
layu
kaku


Pisau (I)
Kamera menangkapku
dari kejauhan
Aku tulis dengan geram
Aku ambil pisauku, menusukmu 
sampai nafasmu habis
terkikis !
Lalu, aku lempar kameramu ke surga sana 
habis !
Aku terbahak,
duduk di kursu tunggu,
peron lucu
nerakaku!


Pisau (II)
Menunjuk hampir 12
Aku dilahap waktu
2 jam lekas
tak ada yang berubah
pikiran ini menerjang
ingin meracunimu
deritamu
lalu pelan-pelan
melahapmu, menuju
kematianmu


Perjalanan kereta 
Anjing-anjing berlalu membawa mataku
menuju pemakaman, dukaku ?
Tak ada, 
Selepasnya lolongannya menerkamku
Seperti ?
tak selesai, tak selesai
tak selesai, ketakukan adalah ketakutan
jangan pendam, jangan
redam, jangan
jangan


Stasiun lempuyangan,Yogyakarta
19 agustus 2010




Terimakasih semesta atas perjalanan ini

16.8.10

Telepati (II)



Baru saja saya mengirim sms ke lelaki , ketak ketik lalu kirim. Eh hp saya getar, itu artinya saya mendapat sms, kaget sekali saya mendapat sms dari si lelaki. Ya, kita berdua saling mengirim sms pada waktu yang sama. Sebenarnya kejadian ini sering terjadi,  pernah juga ketika saya ingin menelpon, eh dia sudah menelpon duluan. Saya hanya sadar saja, bahwa komunikasi alam bawah sadar kami dalam tahap gelombang yang sama lalu semesta mengirimkan sinyal-sinyal itu ke saya dan si lelaki. Maka, saya ngin mengucapkan terima kasih untuk si lelaki, juga semesta yang asyik sekali, mercy :)


Terimakasih semesta atas perjalanan ini

Telepati

Begini ceritanya, jam 16.17 WIB saya menguplod foto lelaki saya di blog, perasaan ketika saya menguplod fotonya adalah saya benar-benar ingin dekat dengannya, bercerita tentang apapun, lalu memeluknya. Ah sekarang tidak mungkin terjadi, 60 km menjadi jarak antara saya dan lelaki. Entah ya, saya membuka folder lama, lalu menemukan foto lampau, langsung saja saya menguplodnya di rumah mimpikiri ini. Rasanya deg-degan.
Setelah diuplod, saya hanya ingin browsing nama lelaki saya di google, diurutan pertama adalah facebooknya dia, saya klik. Ini kejutan, profil lelaki saya berbeda dengan profil facebooknya yang saya lihat tadi pagi. Dia mengubahnya dengan foto yang sama dengan foto yang saya uplod. Ah apakah ini kebetulan?
Saya sms lelaki, apakah dia sudah membaca blog saya? Jawabannya adalah dia belum membaca blog saya, hanya online sebentar, mengganti profil picture dan membalas pesan seorang teman. Ya, saya percaya dia. Lalu saya sadar, bahwa perasaan saya dan dia dalam tahap gelombang yang sama. Alam bawah sadar kami berbicara, semesta menangkapnya cepat, lalu terealisasikan dengan tindakan kami berdua, saya menyebutnya telepati. Walaupun berjarak 60 km, saya terasa dekat dengan lelaki. sungguh :)


Terimakasih semesta atas perjalanan ini


Melihat awan

    pic
Membaca sebuah brosur untuk hari peringatan sehari tanpa TV, tanggal 25 juli 2010, bibir pun mengembang hangat, kenapa eh kenapa ? 
Jadi saya membaca begini, selain menonton TV, ada kegiatan alternatif yang bisa dilakukan yaitu melihat awan. Ah tentu saja, ingatan saya mengembara gemerlap. Melihat awan, tentu saja tidak asing bagi saya. Ketika saya masih kecil, setiap sore ayah atau ibu saya mengajak jalan-jalan ke daerah persawahan dekat rumah. Ayah selalu meminta saya untuk melihat awan keatas, lalu kami bermain dengan awan-awan itu. Entah kenapa, suasana hati begitu mempengaruhi gerak-gerak awan itu. Hal-hal yang masih saya ingat sampai sekarang, pernah ketika saya dalam keadaan dendam, penuh amarah, saya melihat awan membentuk kepala raksasa yang seakan-akan membuka mulutnya untuk menerkam awan di depannya. Pernah juga dalam keadaan ceria berwarna, saya menemukan awan berbentuk muka tersenyum, bunga mekar, sapi dan masih banyak lainnya. Sampai sekarang saya percaya, semesta merasakan apa yang saya rasa. Kadang pun dalam keadaan datar , menyapa awan-awan yang terlahir berkali-kali, berurai membentuk segitiga, lingkaran, gelembung-gelembung lucu. Ah sungguh haru.
Oh ya, belum lama juga ya, ketika event SIEM di stadion sriwedari, ketika asyik menyapa langit dan mendengarkan musik yang dibawakan pipa woman dari cina di SIEM. Terkejut, senang dan entah saya melihat sekumpulan awan diatas membentuk seperti naga. Oh semesta, saya tahu semesta menikmati alunan musik di malam itu. Lalu perbincangan pun mengalir begitu saja, saya dan rekan kerja saya si tomi malah asyik mengamati tarian awan-awan di langit. 
Lalu, kejutan selanjutnya adalah ketika saya dan teman-teman asyik menikmati permainan Dewa Budjana di panggung, tiba-tiba saya mendongak keatas, rasanya dekat sekali, tepat diatas saya, awan membentuk simbol cinta ♥, oh tentu  semesta juga merasakan romansa malam yang sungguh indahnya. oh begitu.

pada awan gemawan, menatap awan, pada hari-hari yang sungguh begitu. 



*catatan harian bulan juli, baru bisa diuplod sekarang :)

Terimakasih semesta atas perjalanan ini

Perempuan penerus atmadja 2.1


Teduh meluap, tubuh lelap, aku memulai memutar waktu kesayanganku. Pagi yang rindang, ditemani dengan putaran emosi, apa yang diharapkan dengan dendang bahasa ribuan kali?
Lalu aku mengetuk pintu, tak ada jawaban disana, wajah yang tekuk , menenduk kalut. Aku menciumi aroma liburan, seharusnya kau ada disana? Dimana kamu? pintu tertutup, kunci pun berasyik sendiri dengan rimbunan rumput hijau disana, aku tak mau mengambilnya. Bolehkah aku duduk saja?

halaman rumah mati, aku menunggu sepi.

Dinding-dinding itu berbicara riuh sekali, oh kamu disitu? benarkah itu kamu? Aku melonjak, lari-lari kecil menghampirimu. Angin serak, jendela membuka telak.Tibalah waktunya untuk menyiasati aroma liburan ini menjadi begitu merah. Langkah-langkah kecil, lelap hangat tanganmu mendekat tubuhku. 





Resah daun, hari merah, aku membawa payung merah kesukaanku. Selanjutnya hanya bayang dua tubuh berlalu, melahap ombak pantai di belakang rumah. Aku ingin diam saja, tapi ternyata tidak, Pikiranku ramai, bergulung-gulung, ombak pun kalap.



Mungkinkah itu terjadi karena tidak ada bayang yang pasti, kenapa kamu mencoba menangkap bayang tubuhmu? 


Tarian dentang , jangan lara mampir kesini. 


Seperti apa yang kau harapkan? 


aku mencoba menghitung akar-akar pohon yang liar, yang ada hanya pikiran berserakan. Kenangan mampat, duka hambat. 

Tarian dentang , jangan lara mampir kesini. 








lagi,


Solo, 8 -8-2010 

Terimakasih semesta atas perjalanan ini

Dia



Dia yang meniup jantungku menjadi bunga


Terimakasih semesta atas perjalanan ini




sidharta oh sidharta.dada sesak, menemukanmu di etalase toko-toko dan terbaca tempelan harga-harga memuncak. dada sesak memuncak. oh budha gautama, sabbe satta bhavantu sukhitatta .


photographed by me


Terimakasih semesta atas perjalanan ini

oh dada oh





Ini adalah sejarah yang tersisa di supermarket, kau bisa membawa pulang dengan recehan recehan .oh dada oh.

Photographed by me


Terimakasih semesta atas perjalanan ini

A Picture Worth A Thousand Words






Photographer by Agra Senopati Anand Prasetyo 


Terimakasih semesta atas perjalanan ini

15.8.10

fever,

This is story about the night, I feel that my subconscious was leap on my head. Is it okay ?
I don’t know. So , I open my window, speaks to you, universe. Remembering about pain that makes me so low, don’t feel the pain, don’t feel the pain, I scream out loud. No one hear me, I heard my self.
Then I feel like all of mouse in my house saw all I’ve done. Oh, God?
I speaks to you, with the left brain step up to the night, please hold me, I can’t get out of my mind. Some people feel that it’s crazy. Someday, I want to take the days as my own. Can get one?
The day goes by, I will do , I will do. Something that makes me feel so low, so lost. Night, I’m whispering something that makes me “don’t know”. My mom , take my lamp off, so i bring all my dream to the night, to the dark. I will follow you.
12.17 am

 Oh it’s morning, I want take my hands to the world upside and down. Nothing that I can say is wrong or right. I just want to live in my special moment conscious, then break it. Till’ I can laugh super duper rocks. Ah, please, if I can keep all my secret that fix my life up. I think, I don’t have to right decide something that don’t really no so bad. Be nice harmfull of the day, which I want to say, love , I will give it to the morning , it’s love wishing.


So, I don’t want to give you everything, it seem to be the morning do some works in the universe and listen, it’s live, its speaks, loudly, loudly, ahhhhhh imagine?


I love THIS MORNING! MY MOM IN HER DREAM, I SCREAM. IN THE DARK ROOM, WITHOUT LAMP, NO NEED LAMP. Sure, it’s not stupid things.
12.27 AM

Holding your picture in the morning , I’m wishing to the universe : “hi, I feel there’s something trouble in head, the wrong system in my mind, ah, am I okay ?”


Then, I can’ get the answer. Flying in small square with the bustle mind. I will take the risk , my left brain said that I had big roll to love unordinary speaks to another ,Ha? Oh brain, how am i?
12.41 AM

Hello little girl, came on please open your window. It’s dark outside, crack inside. Don’t think that the words “help” Is difficult to find. Ah, I see, I will go the dark, then I light my life with tears that I get from “help”. Hahahaha, it’s like you do the wrong demanding of your head, c’mon little girl, you have to realize the moment.


So, how about life ? is it okay if I go to the another choice? I mean to the sharp of lonely . See? don’t you thing that you can get out your self? Ah , then I just want to say, I will light the night, with all of trying dumb fucking luck. Ah it’s funny, don’t you think, hunny?
01.03 AM


What happen to me ? can you see? My software brain give another effect to walks another choice . Please, i need rest, realize my worry hurry mind . So give me time, to manage all of surprising moments and I realize to be something. Now, I know, universe hold my life with all the effect, sssssst, I will meditate. It’s time to close my window, holding my dreaming in me. So, trouble, thanks for wondering me surprising realize time in the wishing morning. I’m speaking to you ……universe :)
01.13 AM



August, 15th, 2010 

Terimakasih semesta atas perjalanan ini

5.8.10

3a


My deepest thanks to my life partner, Alfonsus Lisnanto Gathi 

Terimakasih semesta atas perjalanan ini





4.8.10

catatan menstruasi 1.5

Senyum ruah di belakang rumah, kumpulan terbang menusuk bahasa, terbang aku diantara dekapan yang membual? 






     pic

Ketika tiba-tiba aku berulah dengan gundukan kekesalan, apa yang dipastikan dengan genggaman erat? 
Jadi begini, ketika aku membuka kitab suci, ada beberapa yang mengingatkan aku musti begini, aku musti begitu, kisah itu menggetarkan soreku. Merah darah mengalir resap dalam hirup udara kudus. Menikmati detak jantung, aku memutar membuka pintu-pintu berulangkali, tanpa desakan dari lipatan-lipatan genggaman yang membuat perempuan terlelap diam, terlelap begitu adanya. 


Tubuh hening di pembaringan kursi belakang rumah, pikir pun bergerak acak begitu adanya. Aku biarkan itu kitab suci terbuka dengan sendirinya, angin mendesaknya. Jangan sentuh itu, jangan sentuh itu, pikiranku mendesak-desak. Merah lelap tubuh darah mendekap pikiran-pikiran bergejolak, pikirku kitab suci itu.


Aku rapalkan doa berkali-kali, aku peluk merahku, aku peluk tubuhku, aku cium kitab suciku. Gerak-gerik pikiran menyerang , pikiran-pikiran garang. Peduli apa aku. Aku menyatu, darahku menyatu, rapal-rapal doa membumbung ke udara, merah luap, marah dada. Desis angin, semilir dingin, dekap perempuan ingin.







Solo, 26 Juli 2010
Terimakasih semesta atas perjalanan ini