14.7.10

Purwodadi secret massacre


Degup jantung pohon jati membisikan ke udara-udara, duka lelap membuka , dia yang bernama kepala membuntuti jalan dengan kepalan, aku lelap merah bersimbah. Kata-kata tak bisa aku lepas, kerikil resap, air kalap, raya kalap. Seperti itukah mimpi yang berujar?
Kepala-kepala, kulit-kulit , jari-jari berjejal sendiri. Matanya semalam kelam, aku menelpon kegusaran. Pukulan berkali-kali, aku berlari, jalan panjang melahapku habis seperti seonggok bibir yang ricuh. Dua tubuhku tergantung dengan dunia yang mampu aku ciptakan. Luap semua, jalan kalap, mata gagak melukai jantungku, mata jati menerkamku, mata mahoni merabaku. 
Aku teriakan jesus berkali-kali, aku teriakan muhammad berkali-kali, aku teriakan budha berkali-kali, aku teriakan maria berkali-kali, aku puja-puji . Malam menerkamku kelam . Tusukan berkali-kali, aku berlari, jalan panjang melahapku habis seperti seonggok bibir yang ricuh. Luap semua, jalan kalap, mata gagak melukai jantungku, mata jati menerkamku, mata mahoni merabaku. Jalan pedas, kecil kerikil menderuku, semesta mata-mata, jati, mahoni, ricuh riuh, dia yang bernama kepala membuntuti jalan dengan kepalan, aku lelap merah bersimbah. Kata-kata tak bisa aku lepas, kerikil resap, air kalap, raya kalap. Pukulan berkali-kali, aku berlari, jalan panjang semesta bunyi mendengung awal yang agung.


22 juni 2010

Terimakasih semesta atas perjalanan ini




No comments: