14.7.10

Purwodadi secret massacre


Degup jantung pohon jati membisikan ke udara-udara, duka lelap membuka , dia yang bernama kepala membuntuti jalan dengan kepalan, aku lelap merah bersimbah. Kata-kata tak bisa aku lepas, kerikil resap, air kalap, raya kalap. Seperti itukah mimpi yang berujar?
Kepala-kepala, kulit-kulit , jari-jari berjejal sendiri. Matanya semalam kelam, aku menelpon kegusaran. Pukulan berkali-kali, aku berlari, jalan panjang melahapku habis seperti seonggok bibir yang ricuh. Dua tubuhku tergantung dengan dunia yang mampu aku ciptakan. Luap semua, jalan kalap, mata gagak melukai jantungku, mata jati menerkamku, mata mahoni merabaku. 
Aku teriakan jesus berkali-kali, aku teriakan muhammad berkali-kali, aku teriakan budha berkali-kali, aku teriakan maria berkali-kali, aku puja-puji . Malam menerkamku kelam . Tusukan berkali-kali, aku berlari, jalan panjang melahapku habis seperti seonggok bibir yang ricuh. Luap semua, jalan kalap, mata gagak melukai jantungku, mata jati menerkamku, mata mahoni merabaku. Jalan pedas, kecil kerikil menderuku, semesta mata-mata, jati, mahoni, ricuh riuh, dia yang bernama kepala membuntuti jalan dengan kepalan, aku lelap merah bersimbah. Kata-kata tak bisa aku lepas, kerikil resap, air kalap, raya kalap. Pukulan berkali-kali, aku berlari, jalan panjang semesta bunyi mendengung awal yang agung.


22 juni 2010

Terimakasih semesta atas perjalanan ini




Aku percaya semesta mendengar



Hari jum'at , 10 juni 2010, ayah mengirimkan sebuah pesan pendek untukku , isinya begini : "nanti, minta tolong beliin tabloid pulsa terbaru, terima kasih :)" . Maka baru saja sampai kantor, aku keluar menuju tempat jual koran dan tabloid di samping poltabes SKA. Ternyata tempat itu tutup, maka aku mencari ke alfamart di manahan. Ternyata tabloid yang aku harapkan habis. Waktu pun berlalu, aku mengerjakan beberapa tugas di kantor.


Malamnya , temanku tomi mentraktir nasi padang di shelter manahan. Sehabis makan , aku mengajak dia ke indomaret daerah sambeng. Sampai tujuan, ternyata tabloid yang aku inginkan sudah habis. Kemudian aku menuju alfamart , tak jauh dari indomaret sebelumnya. Hasilnya sama, tabloid yang aku inginkan habis juga. Sepulang dari alfamart aku pasrah, aku bilang ke tomi , " yasudah tom, besok aja aku cari lagi aja . Selama perjalanan menuju radio, aku berbicara dengan batinku, melihat gelap kalap langit diatas , semesta aku tidak ingin mengecewakan ayahku hari ini, terima kasih semesta.


Sampai kantor, aku berkemas, pulanglah aku , entah di jalan pikiranku kemana itu, tiba-tiba ada klakson mobil keras sekali di belakangku, aku kaget berhenti pas di depan Indomaret Adi Sucipto. Aku jadi teringat tabloid , pesanan ayah. Lalu aku putuskan saja masuk ke indomaret, mencari tabloid pulsa yang terbaru di rak toko itu. Jadi aku ambil, bayar dan pulang dengan senyuman, terima kasih semesta :)


Terimakasih semesta atas perjalanan ini




Perbincangan selasa pagi dengan lelaki




Selasa itu terjadi, seminggu yang lalu , lelaki menelponku , dia mengucapkan selamat memperingati hari lahir untukku , begini percakapannya :

lelaki : Selamat memperingati hari lahir ya, sudah pagi segera istirahatlah..
saya : Aku sudah tua, usiaku menipis, mendekati kematian, bagaimana jika besok aku tidak bangun lagi?
lelaki : Aku merinding
saya : Aku pasti mati, entah kapan itu terjadi.
lelaki : Aku pasti sedih
saya : Aku entah apa rasanya nanti, aku sadar kematian itu.


.....
suara jangkrik kebun belakang rumah menggetarkan jantungku



JUNI 2010



Terimakasih semesta atas perjalanan ini

tentang menikah





Pertanyaan ini terjadi ketika makan mie ayam di KUA Laweyan.

Ayu gayatri  : Mbak , kamu akan menikah ?

Saya : Entah, masih lama sepertinya
Ayu gayatri  : tepatnya?
Saya : Mungkin ketika usiaku 30 aku masih single, Jika aku tidak menikah juga tak mengapa
Ayu gayatri : kenapa begitu?

Saya : karena menikah itu pilihan, bukan kewajiban



..............

tersenyum

13 juni 2010  


















.

Seseorang yang tidak menganut sebuah agama tetapi memiliki Cinta Tuhan di hatinya adalah lebih baik daripada seseorang yang menganut sebuah agama tetapi tidak memiliki Cinta Tuhan (Riaz Ahmed Gohar Shahi)

Perempuan Penerus Atmadja 1





Perempuan Penerus atmadja !

Menjadi dua.

 Saturday, February 6, 2010 at 3:05pm

Perempuan Penerus atmadja  1.1

Bertemu rusa di gereja.


Sunday, February 7, 2010 at 7:30pm 

Perempuan Penerus atmadja  1.2

Dia membalikkan badan, menuju kearahku.

rahayu, rahayu, rahayu.

 Monday, February 8, 2010 at 10:42am

Perempuan Penerus atmadja  1.3

Membaur ke utara dengan ribu halang dalam genggam, kau mau kemana? 

Aku mencium tubuhmu sebelum senja, aku tidak mempermasalahkan terang bulan, hingga kau bisa bercermin di kali. Memutuskan untuk kembali ke jalan-jalan, asap menguap memasuki jalur udara yang kau janjikan dalam genggaman di bulan ketiga. Sebentar lagi katamu. Lalu Pertanyaan yang menggelegar tentang konsep di pikiran, bualan yang memuakkan, ilmu ilmu imitasi berhamburan . Tak ada apa-apa. Abu yang lalu menguap di jalur udara pintu lorong rumahku.

 Thursday, February 11, 2010 at 10:49am

Perempuan Penerus atmadja  1.4

Ilalang panjang didekat rumah, membuat kakiku berjungkit. Ibu sibuk di dapur lusuh, setiap kali ibu berkaca di lemari makan pecahan, pisau bau anyir tergeletak di dekat api menyala. Aku bermain ilalang di belakang rumah. Dulu aku memulainya dengan lingkaran kecil yang aku ciptakan di belakang rumah, aku masuk ke lingkaran itu. duduk menunduk, merasa aroma dapur ibu. Leher resap dengan gangguan aroma , aku berjingkat-jingkat sendiri. Hal pertama yang aku genggam adalah buku harian, itu adalah kitab suci yang aku bawa kemana-mana. aku bisa menceritakan tentang dunia yang aku temui dalam gambar-gambar dari sekeliling rumah. Suatu pagi, aku bangun demam melihat wajah yesus di dekat api,  aku demam tinggi, aku bilang ke ibu, aku bertemu yesus, ibu memelukku, ibu bilang aku mengada-ada. Aku demam.

Ilalang melahapku di dekat lingkaran yang aku ciptakan, sebuah pesta aku ciptakan sebelum senja. Aku duduk menunduk, melihat titik titik kaki tanah, mata pejam teringat siang di supermarket bersama ibu. Hari besar untuk membeli pembalut untuk aku. Hari itu aku menstruasi untuk pertama kalinya. Aku menangis entah itu apa. Aku demam, aku tergeletak entah di lingkaran yang aku ciptakan, kaki sebelah kiriku mencuat keluar lingkaran. Darah-darah segar menetes. Aku demam.

Lingkaran-lingkaran kecil bertambah banyak, wajah-wajah merapal merujuk kaki kaki, menginjak titik-titik di tanah . aku ingin kembali ke lingkaran itu.
Melihat ilalang saja. ya hanya itu saja. 

 Friday, February 12, 2010 at 11:51am

Perempuan Penerus atmadja  1.5

Satu jam yang lalu, tiba di vihara ini begitu sepi, nyenyat! hujan begitu deras, petir datang menyapa, aku merinding sepi adanya disini. Lalu aku duduk saja di kursi kayu tua, sambil membaca Alice in wonderland kesukaanku. Hujan masih begitu deras, setengah jam kemudian, datanglah sesosok wajah senja, dia menghampiriku, duduk disampingku, menyalakan rokok , asapnya terbang, kesana. Tiba-tiba lelaki dengan mata sayu, bertanya kepadaku : kau beragama apa? aku menjawab : bagaimana ceritanya anda bisa bertanya begitu ?

lelaki itu menghisap rokok ,kerap. dia menjulurkan sebungkus kepadaku, perbincangan selanjutnya tidak ada, asap terbang kesana (surga, pikirku).
Lalu hanya ada perbincangan antara asap asap, kami terdiam, kemudian masuk ke ruangan meditasi, pikiran begitu riuh, begitu.


 Friday, February 12, 2010 at 8:39pm

Perempuan Penerus atmadja 1.6

Di hari ketigabelas, aku menerima pesan dari seorang lelaki bernama gabriel, memuncak arupa dalam kesadaran senja. Aku membaca gabriel, gabriel membaca aku. 

Sebuah pesan dari gabriel "Ketika Mimpiku Berada di Kiri" :

Tak banyak hal yang bisa ku ingat ketika mataku terpejam. Tak banyak memori yang ku ingat terhadap mimpi-mimpiku. Lain ketika hari menjelang 11. Ketika tidurku lebih larut. Mataku terpejam. Aku berada dalam sebuah lorong. Gelap. Terkawal polisi berkepala banteng. Suara jeritan menggema dalam lorong itu. Riuh ricuh tapi arupa. Tak ada yg bisa kulihat. Semuanya dalam keadaan superposisi dan aku hanya bisa menarik kemungkinan. Aku menuju sebuah ruang dengan cahaya redup. Ku yakini itu adalah sel penjara. Tuan-tuan polisi berkepala banteng mendorongku masuk ke dalamnya. Aku terjatuh. Darah di bibirku. Aku tak tahu salahku apa. Sejenak aku terbaring di lantai. Menyadari rasa sakit di atas debu.

Ku lihat di pojok ruangan sesosok manusia terdiam. Pakaiannya hitam-hitam. Sesaat aku tak bisa melihat siapakah ia. Ketika lampu ruang sedikit bergoyang,beradu dengan gelap,ku dapat melihat sosoknya..Aku kenal dia. Tria Nin. Aku memandanginya. Dia terdiam penuh tenang tanpa rasa takut. Meditasi. Sejenak aku merasa berputar-putar di tengah ruangan. Aku merasa takut. Aku tak tahu apa yang akan terjadi. Aku tak tahu mengapa ku dipenjara. Aku kalut. Pikiranku serasa remuk. Sejenak ku pandangi lagi Tria Nin yang bermeditasi. Tenang. Ku ikuti dia.. Aku mencoba untuk bermeditasi. Sejenak ku dengar mantra dari mulutnya. Tapi memoriku tak sanggup mengingat mantra itu. Ku ikuti meditasinya. Dia berada di kiriku. Bersama mimpiku terhadap pembebasan. Hening. Tanpa kata. Aku hilang. Aku hilang. Hampa. Manifestasi runtuh. Semua menjadi arupa. Tak ada lagi yang bisa ku ingat. dan aku terbangun. di hari kesebelas..

gabriel, 11 Februari 2010

 Saturday, February 13, 2010 at 5:40p

Perempuan Penerus atmadja 1.7

Aku membungkam, di suatu sore jari jariku membuka, aku menunduk tapi tak tahu harus bagaimana. Ibu bilang itu berdoa. Kemudian semua asa tergeletak dalam atap-atap, yang aku lakukan melirik ibu yang menunduk , merapalkan beberapa yang entah. Sore itu kalut. Dan dentang pun mengaum dalam kelam .

Aku bernomor 9, kata ibu usiaku 9. Entah apakah ini keputusasaan yang aku ungkapkan, yang aku tahu, aku mengeluarkan apa yang kurasakan. Di usia 9 tahun ketika aku masih rajin minum susu kaleng, aku mampu membuat ibu menggeleng. 

Bibirku dingin, aku merasuk ke ibu, mendekat ke tubuhnya. Aku bilang ke ibu : "ibu, aku mau ganti agama. aku susah harus menghapal ini itu".

Ibu meresap, tubuhku dan tubuh ibuku merekat dekat. Aku tahu, resapan basah itu dari ibu. Ibu menggeleng, membisik ke telingaku : "jangan , jangan sekarang, nak."

waktu itu aku berusia 9 tahun resah, soreku pecah.

Saturday, February 20, 2010 at 4:56pm


Perempuan Penerus atmadja  1.8

aku limbung!

 Saturday, February 20, 2010 at 9:21pm 

Perempuan Penerus atmadja  1.9

Karena dua merupakan perpaduan yang membuat tubuhku menjadi abu, aku berjalan-jalan di pagi api. Lalu tubuh tubuh riuh mengendap jalan-jalan yang lalu. Ada apa dengan sesuatu itu? Rupanya aku tidak bermimpi,Aku mengintip pagi api yang membuat tubuhku limbung. Siapakah wajah-wajah di belakang? 

Tentang ketuhanan yang dibicarakan ibu ibu di pasar, pagi api meredam kemarahanku. Bagaimana tidak? lalu aku memukul seribu tanya, apakah aku benar-benar terlihat di pagi ini?
Senyum senyum hambar mengumbar, aku tidak memperdulikan lagi apa itu palsu atau tidak. Sesak meresap dalam kesederhanaan. Semacam aku menghibur aku sendiri. Oh rupanya, wajah-wajah menggeliat , aku lekat. Siapa yang memainkan semua ini ? Aku resap, dentang berulang kali, aku lusuh di pagi lusuh. Tidak akan melupakan apa-apa, berjalan begitu adanya. Dadaku sesak, apa yang harus diungkapkan lagi. Semua melaluiku dalam tubuh tubuh pagi api. Di redup sinar wajahmu, aku berhenti di rel panjang, melekat ketidakhadiranmu.
Aku terlelap dalam, perjalanan panjang, dalam wajahmu melekat.

 Sunday, February 21, 2010 at 6:30am




Perempuan Penerus atmadja 1.10

Kemudian dia menjadi abu, aku mengkhawatirkan segala macam pertanda yang mampir dalam hariku. 

Di jalan-jalan meluap tentang kamu. Sesuatu itu bergelimang dalam dunia luap. Siapa yang hendak menerkam? aku merupa, kamu merupa. Rupa rupa itu berada dalam keengganan yang luar biasa. Jalan-jalan masih sama, pikiran-pikiran menjadi entah sama. Lalu genggaman yang rekat meluap, apakah ini menjadi pertanda?

Tentang dendam di belakang rumah, aku memperbincangkan denganmu di sudut rumah. Kamu enggan, aku menatap mata-mata. Kedua yang aku hirup adalah tentang asap-asap tembakan yang meluncur di udara. Kepala berserakan didepan pintu, aku enggan membuka. Dunia penuh tembakan, aku melaluinya dengan gertakan. Semuanya indah, kata-kata penyemangat atau apalah inspirasi berjejalan di kepala. Ah, akhhirnya hanya menjadi sampah pikiran. 

Analisa analisa yang runyam , melambung diudara, menghirup asap-asap tembakan seperti aku menjadi dendam. Siapa yang melaluinya? Dengan jalan-jalan yang luap , aku tidak tahu apakah kamu memperbincangkan tentang dendang yang mematikan . Oh iya, di sudut jalan rumah yang sering kita lalui itu berupa menjadi runyam. Jalan-jalan menjadi dinding yang begitu terbaca tanda-tanda. Ah siapa yang entah?

Kamu menjadi bayangku, di sepertiga malam aku meramu semacam rumus-rumus tubuhmu. Apakah kita melaluinya dengan gertakan? aku mencium asap-asap dimana-mana, mereka berteriak-teriak menawarkanku tempat yang indah. apakah itu surga ? lagi -lagi pikiran ini menjadi pergolakan, apakah aku harus mengucapkan ini produk? Gumam yang panjang melewati jalan-jalan, dan aku melihat ribuan entah mengelilingiku, dia membawaku ke tempat indah.




Ah, ternyata hanya menjadi sampah.

 Sunday, February 21, 2010 at 8:19am 



Perempuan Penerus atmadja 1.11

Rapal sebelas,

Orang-orang mulai berdatangan, mendekati pagar berwarna biru, disitu ada pintu ,
menuju : PEMAKAMAN.

Sebuah rumah di pinggiran solo, 3 november 2009

Aku menemuimu kembali dalam malam di ruang utama keluarga, aku menemuimu, tubuhmu melebur dalam gelap, tubuh tubuh ini benar-benar entah. Aku mencium berulang kali, liontin kalung kepala rusa yang tertinggal di laci kayu penuh debu.
Tangan-tangan ini mengendap-ngendap mencium setiap lekuk aromamu, angin memburu , aku redup. Menyentuh gelap, lahap . Aku tidak akan membersihkan resapan tumpahan kopi di meja kayu itu , lalu. 

Monday, March 1, 2010 at 1:56pm

Perempuan Penerus atmadja 1.12

Bersama semua yang melintang di jalan-jalan, tubuh-tubuh sakit berputar di pikiran. Aku tidak melawannya. Karena sakit begitu adanya, sakit adalah sakit. Semuanya berputar acak. Aku merayap gelap dalam gerak. Apapun itu, disebut waktu.

 Thursday, March 4, 2010 at 8:22pm

Perempuan Penerus atmadja 1.13

Putar dadu, aku teringat kamu. Dua-dua yang bergerak hebat, jalang menelanjang. Seterusnya sampai tidak ada tersisa. Dan kitab pun mulai dibuka, sesuai keinginanmu bukan? ah entah, apa yang akan dibaca. Jika semua ini hanyalah pikiran-pikiran dalam kepala. Sore itu kita habiskan dengan perbincangan empat mata. Kau bilang pembunuhan yang terjadi di sore hari, tas-tas dibakar, kau kehilangan catatan harian, seseorang membuntuti.








ini bukan masalah tampar-menampar, sayang.

Thursday, March 4, 2010 at 8:30pm


Perempuan Penerus atmadja 1.14

Suatu saat nanti aku ingin ke luang prabang ,

 Thursday, March 4, 2010 at 8:42pm 


Perempuan Penerus atmadja 1.15

Kupu-kupu berjalan melintasi dengan gugup jantung detak yang menggali waktuku. Suatu hari aku bertemu dengan sosok mematikan. Kami memperbincangkan tentang dapur yang dentang ! Dua-dua itu merekam perbincangan, bumbu-bumbu terkungkung di kotak panas. Kami tidak bisa meredam. Panas, lelap di perapian. Kami mendekat, dalam dapur tanpa keharusan. 

Seperti apa itu yang disebut dengan luka, kamu membuat tubuhku menjadi geram. Seperti apa yang aku bilang tentang kenangan dan tubuhku rupa menjadi anyam gelap. Apakah kamu membuatkan teh untuk tubuh? atau pikiran ? kami melahap risau, gulana bercampur bumbu dalam perapian.

Monday, March 8, 2010 at 11:15am

Perempuan Penerus atmadja 1.16

Jangan-jangan itu semua memang hanya kesadaran palsu..

 Monday, March 8, 2010 at 11:31am



Perempuan Penerus atmadja 1.17

Di taman belakang, aku memungut namamu di dahan kering perbincangan , melewati namamu terasa asing di timbunan keakuan. Aku meluap diantara dahan lahap kenangan. Sepertinya malam-malam yang lalu gugur diantara nama-nama, tersungkur pekiknya. Ah.aku kira hanya kata-kata saja. 

Menimbun luang diantara peluang. Aku memberimu beberapa yang bertambah saja. Ah apakah kau tahu tentang keengganan yang mati ini. Luar biasa bukan? Setidaknya dalam produk yang aku buat di taman belakang. Kaki-kaki mengayuh, keakuan menjadi gelagat , ah apakah ini yang dinamakan tentang musim ?

Musim permen ini aku bersembunyi , melenggak lenggok kaki , aku hujan itu sendiri. Ribuan angka berhamburan diudara. Mana mukamu? muka -muka rasa bercampur dalam olahan sore bernama permen. Musim permen aku buka dengan jari-jari. Lantas, apa yang ingin kau genggam lagi ?

Perbincangan kesekian kali membaur di udara, itu angka-angka. Aku lupa akan sesuatu. Ah apakah aku benar-benar lupa? Dimana keengganan yang berlalu itu? Harmonika redup di perjalanan , aku mengandung kamu, mengandung musim di dalam olahan permen. Aku mengajakmu ke angkasa bersama. Siapa yang akan menghubungimu ? 
Aku jawab angka-angka itu, dalam tubuhku, membaur tubuh untuk luruh. Dia berkali-kali , diatas nama-nama yang hilang. 


Wednesday, May 5, 2010 at 1:17pm


Perempuan Penerus atmadja 1.18

Kemudian berhala berputar seperti yang kamu mau, aku tidak akan memaksa jaring-jaring laba menerkam kamu. Kamu berada di puncak kesenangan yang luar biasa, aku nelangsa. Redam remuk itu kembali diputar seperti dadu. aku berhamburan dengan tubuh tubuh yang lahap, tubuhmu melahap gerak. gerak itu waktu. Bergerak seperti anyaman yang kita ciptakan dalam kelambu petang. Selamat jalan petang. aku akan berbisik merangkul tubuh tubuh kesiangan.

lalu beradu dengan kelaparan, siapa yang akan melahap tubuh ini? pertanyaan yang kesekian kali ? 

aku lalu beradu dalam waktu, siapa yang menggertak, kamu berupaya untuk melunasi hutang peradaban. Aku tak mengerti , jalan apa yang akan kita lalui, kemudian melacur dalam gerak, waktu itu gerak, kami berpikiran secuil peluh secuil, berkumpul menjadi kumpulan cuil. Lalu apakah kamu ingin menggertakku, tanda tanya dimana? Aku kehilangan, umpan yang kita jala lalu, petang berhamburan, semacam perbatasan, berulang kali kamu bilang, aku tak mengerti kata-katamu, aku lalu, aku tak memaksamu untuk mengerti abjad abjad berhamburan, kemudian semuanya berputar, senyuman yang menghilang,. Pikiran. Aku tak bisa apa-apa, siapa aku ? tubuh ini melaju dengan genggam, lalu pertanyaan selanjutnya? apakah kamu mengerti semuanya? diam itu berbahasa, redam itu seperti lingkaran yang menjerat tubuhku. Aku tak mengerti, kenapa kamu memilih jalan yang lingkar. Di perpaduan malam, aku tak ingin haru, kamu mulai memasang badan, apakah kamu tahu? Siapa yang hilang, perbincangan di pikiran, ketika anak berlari berhamburan jejak jejak sepatu malu tubuh, aku ingin mengeluarkan semuanya, coklat manis mengepung teka teki di sore ini.
Kamu kata, kata kamu lalu aku mendahui sejuta asa yang kembali berhamburan, apakah kamu ingin mencuri tubuh ini? Dimana aku bisa mendapatkannya? mendapatkan berarti membeli, mengeluarkan titik basah tubuh untuk mengeja kamu. Semacam itu yang aku harapkan, tak ada tanda yang ingin keluar, kamu bisa membaca, kataku. Aku sedang merah, merah itu berhamburan, aku tak mengerti kamu, ketika delapan belas menjadi resap dalam tubuh yang berarti hai atau hello , kamu gusar, aku gusar, itu . 

Thursday, May 6, 2010 at 6:55pm 






Perempuan Penerus atmadja 1.19

karena remah coklat mencium kulit tubuh , percik air mengambang gelap. Semesta menelpon tubuhku , kerlap kerlip jatuh kaku. sofa abu, sora

 Saturday, May 22, 2010 at 4:37pm


Perempuan Penerus atmadja 1.20

Beberapa jam melewati rel angkuh, dua per dua aku melewati tubuh kaku, ketika itu kamu terlelap ...

Saturday, June 26, 2010 at 6:46pm



Perempuan Penerus atmadja 1.21

aku ingin pulang ke tanah , entah senyuman entah tangisan










Lalu menelpon ibuku, 

ibu, mawar merah depan rumah, aku curi untuk lelah 

aku begitu

Saturday, June 26, 2010 at 10:52pm





Perempuan Penerus atmadja 1.22

Aku menemukanmu dalam jalan yang lelap, tiba-tiba tersedak di penghujung jarum gerak penunjuk angka, oh itu waktu, gerak yang melahap tubuh. Tubuh yang tangis, dilahap kelam, mata-mata sekelam malam. Apakah tindakan yang tepat untuk tubuh yang memainkan kretek dalam kamar, radio tua menyala, desis angin kebun belakang rumah horor dalam kepala, Nyanyian kebun strawberry mengalun dari radioku, setelahnya mati. Gelombang yang berdesis, aku suka malam-malam begini, desis angin hebat.
Kenapa tidak kamu muntahkan saja pikiranmu?

Tidak usah dipaksa atau memaksa untuk mengurainya, biarkan begitu saja, seperti desis angin belakang rumah yang hebat, desis gelombang radio , gerak jarum bernama waktu melewati dendamku. Dingin pun sergap, suara pesawat yang berat mengawang dari atas rumahku,aku ingin tinggi ke arah situ. dunia menabrak pikirku. Lalu Gelombang menyentuh tanganku . Aku berputar dalam lingkaran ungu, oh kaki-kaki ini layang-layang, menabrak gelombang. 

Aku ingin memberikan sesuatu, di pojok tua kamar aku bersandar. Kamu mau menari? 
Tubuhku diam, aku lenyap menari dalam kebun berwarna ungu, resap desis gelombang radio tua, desis kebun belakang rumah, kretek-kretek bercahaya, terbang, melayang , lalu mati...

Ke surga..

Aku memasuki gelombang keluarga atmadja, melalui desis gelombang radio tua, alunan the beatles yang menabrak dada, desis angin belakang rumah menyeruak dunia, baru aku sadar, ini tulisan kedua puluh dua. 

 Monday, july, 12, 2010 at 9:24pm






-Sampai jumpa lagi-

8610

Beberapa jam sebelum 8 Juni 2010, Semesta menyapaku lewat angka 8610 ini, saya menemukan angka ini secara tidak sengaja di depan radio tempat saya bekerja, 
Hai semesta :)

Kemudian keesokan harinya, 

8 Juni 2010, 8610, di suatu pagi, lelaki saya membawa saya ke tempat ini, di sebuah jalan dekat abu bakar ali. Tidak sampai 24 jam dia menyelesaikan mural ini sendiri.Sebuah kenangan untuk peringatan hari lahir saya tahun ini.



Terima kasih lelaki, terima kasih semesta atas perjalanan ini, 
Semoga berbahagia dan semua makhluk berbahagia