31.1.10

turun dalam rupa cahaya


Tulisan ini mengalir begitu saja ketika aku resap mendengarkan satu album airport radio-turun dalam rupa cahaya. terima kasih aira. salam hangat :)


photographed by Alfonsus lisnanto gathi


Preambule


Lambat, di antara bentangan yang menghitam di sekitar tubuhku. Kakiku mulai merangkak hangat di dekat . Semua berbalik menggertak tubuh-tubuh di kegelapan dan bertanya tanya tentang tubuh di dalam kotak . Aku mencium tubuhku sendiri, tanpa berujar siapa kamu atau aku. Rahasia rahasia yang terbongkar lebar di depan mata hanyalah lalu lalang menyerang rekam kotak kotak abjad, gambar, aliran-aliran renyah darah. Perbincangan pikiran dimulai melalui kaku. Kutukan kutukan dan perbincangan yang datang menyerang aku, aku tidak terlalu kaget tentang segala sesuatu yang bernama keajaiban. Duniaku semakin rapuh, kaki kaki berjejal melewati masa masa rekam. Pohon pohon bicara mengetukan cara melarikan beberapa rekam-rekam aliran, kalender hilang dan detak jantung di dalam batang. Aku menghardikmu dengan cepat. Tubuhmu berkelebat. Keengganan yang luar biasa, rintih tubuh menggeliat. Aku melipat. Itu dunia? Lalu semacam kegetiran yang berasal dari peluang. Peluang lalu lalang , dalam aliran menggertak tubuh-tubuh.


Jalur gaza


Kaki kaki lari mengelilingi kamp, dentuman senjata hebat menguak. Aku mulai lamban , pikiran enggan. Semua riuh, dunia gemuruh. Tenda lirih, titik titik merah meluap melewati perbatasan . Aku menggigit luapan ketakutan. Sendiri. Aku melewati batas yang tak terlihat. Ada apa diantara genggam seribu doa ?
Kekuatan apa yang menghancurkan rintihan. Dunia mulai melihat keabadian adalah perang yang darah, dalam otak mulai gertak. Kitab-kitab berceceran dimana-mana.
Aku menghamba pada siapa ? konflik merekat dalam sepatu sepatu kaki kaki lari mengelilingi kamp. Aku meringkuk, menggenggam kedua jari, merapal mantra-mantra dalam dongeng-dongeng yang aku dengar. Aku melakukan ibadahku sendiri, tersenyum sendiri. Semuanya mulai melihat setiap lekuk rumah langit. Apakah orang-orang akan terus berlari mengelilingi batas imitasi? Apakah orang-orang akan menggertak sepatunya dengan kekuatan doa dari tuhan ? Senjata-senjata menjadi mainan hebat ,aku kuat. Menggengam kedua tangan, meringkuk tubuh .



pengantar pesan mimpi


Mata-mata memuncak memasuki labirin, aku entah, aku masuk dalam sejarah aib yang mulai menarik tanganku untuk membuka beberapa catatan-catatan usang. Sirna dia dalam kedip ketiga. Mata mata meluapkan lusuh. Lusuh yang menghambat perulangan. Aku mulai enggan dengan semuanya.

Perkembangan macam apa yang kau inginkan, hingga kuku ini menjadi berwarna hitam dalam hitungan sekian detik. aku menatap lukamu yang basah, dari balik jendela. Diluar hujan, aku tahu kau datang bersama peri yang dikirimkan seorang suci dirumah kedua. aku menyebutnya mara. Apa saja yang kau hendaki jika belantara yang kedua itu adalah semacam warni yang terus saja menginjak. Pura-pura aku tidur, diendapkan, kau cium dahi, berlalu. Ribuan yang berhati adalah jika kau mulai menaikkan pertanyaan basi berulangkali, mengetik ke alamat sama dalam waktu sekian detik, aku mendelik, habis.
Ribuan karma menghambur diudara, aku bertemu anjing yang melonglong, aku gedor pintu, aku ludahi lantai, pukul dua puluh tiga lebih seperempat. Duduk menggigil dengan rokok basah terkena hujan, kunyalakan berulang-ulang. Aku menepi di tembok, mendengar batuk batuk wajah tua di ranjang reot, wajahmu aku memelukmu. Aku tahu, kau mencari ibuku.
Lalu pertengahan malam, aku memulai janji dengan mara, aku mencari peri santa yang katanya selalu menyentuh kedua bahuku. Jadi ada perbincangan dengan rindu, dia beranjak meninggalkan ruangan seperempat kotak, pagi itu, tanah basah setelah hujan, aku mengintipmu. tembok mengais rembesan basah hujan. aku lepas sandal, aku duduk di tanah basah, dinginnya tak terkira. aku mara.



turun dalam rupa cahaya


Lingkaran lingkaran membuyar di kepalaku, menebak jalan-jalan yang bisa kita lalui, apakah aku memerlukan peta untuk membuatmu utuh? Kaki melangkah dengan kekuatan entah.Dia adalah nama-nama yang memuncak , dua bernama angka, lalu kita berani untuk mengungkapkan kesetaraan. Aku entah, mendalam hebat, siapa yang akan menangkap beberapa rahasia ? apakah kita akan memecahkan bersama? Kita duduk jarak tujuh kaki, senyummu mengambang. Kamu tidak disini. Aku rasa begitu. Ribuan aroma yang terbang hinggap di kepala-kepala . kupu-kupu mengintip perbincangan kedua tubuh sepi, pikiran membabi buta. Jari-jariku meregang, aku menangkap hentakan sinarmu , dalam jarak tujuh kaki. Aku menciummu, aroma sirnamu.Kau berulang kali menyanyikan ketakutan-ketakutan. Aku ingin memelukmu, lingkaran-lingkaran kecil mengelilingmu. Beberapa yang harus kita pecahkan diantara kedua. Lingkaran- lingkaran kecil membuyar dalam jalan-jalan. Jari-jari merekat.


lonely when I’m better


Peninggalan adalah ketika beberapa episode yang kita lalui mulai membayang dalam jawaban-jawaban di kota kota, wajah lipat, aku dentang. Aku mulai masuk kedunia yang beradu, lalu tak ada yang mengerti, mengapa kita harus melalui jalan-jalan ini sendiri ? Di jalan-jalan jejak kita, aku menemukan cerita tentang mencium kedua tubuh terjaga. Apakah aku harus membungkam beberapa yang membuat kita tak berwarna ? Aku rasa itu tidak perlu. Kesendirian yang datang adalah pikiran yang bertepuk tangan. Kita akan melaluinya dengan gejolak dan gelak. Semuanya membuat kita menjadi langkah. wajah-wajah berhamburan, aku menemukanmu dimana-mana. Tubuhmu tidak disini. Aku tahu itu. Aku sendiri , pikiranku membelah diri.


kupu-kupu besi


Getaran itu membuat wajah bergeliat , aku memuncak. Ribuan kata tak diam di dalam kepala. Aku kalap. Kau lelap. Didekat ranjang, rima rima tak beraturan menangkap perbincangan tubuh kita.



noise never end


Kesenangan hinggap di perjamuan malam kita, tubuh tubuh satu tubuh. Lampu lampu pijar di tengah pesta membungkam keraguan rasa yang rancau. Rapuh itu melalu perbincangan yang kesekian kali kita lakukan. Ini tentang hantam, dendam, lebam. Aku memulainya dengan jeda. Kau bisa melanjutkannya sendiri. Keriuhan berbicara siulan yang menentang . Tubuh tubuh tergeletak , angkasa menertawai jingga. Sedalam apa yang harus kita ketahui tentang kata-kata yang kita umbar, senja itu. Kursi mati adalah teman yang akrab, kami pulang dengan tangan dendam, Riuh muncul bermacam keriuhan melempar ribuan utuh . aku mulai bermasalah dengan perjanjian yang kita buat. Keriuhan apa ini ? berganti-ganti meluap , kita tersedak. Kita tersedak. Apa yang harus kita lalui ? Semu membayang obralan macam-macam di kursi kursi kayu coklat, di depan altar memperbincangkan keriuhan pikiran. Tubuhku diam, pikiran bergerak banyak. Hantam.



Ray manzarek


thewhiskyagogothewhiskyagogothewhiskyagogothewhiskyagogothewhiskyagogothewhiskyagogo thewhiskyagogothewhiskyagogo



thewhiskyagogo




From the eye


Kalenderku hilang satu dimakan tikus rakus, aku tersedu meratap nasib tikus yang rakus. Malam legam aku lalui di kamar sempit bergumul dengan kalender –kalender usang. Seringkali aku mulai upacara sendiri. Perbincangan yang malam , lebih entah aku ketahui .Semacam harapan yang gelagap. Sakit-sakit yang lalu membayang kelu. Aku meredam. Perbicangan sontak. Angka-angka berhamburan menyerangku, tanggal tanggal telanjang menyerang tubuhku. Angka-angka berhamburan , tanggal tanggal telanjang mendekam dendam. Aku terhimpit sempit. Jalan-jalan yang kita lalui, senyum-senyum di jalan hambar, meringis palsu, aroma kota , bangunan romansa , angka –angka berhamburan menyerang tubuhku. Kalenderku hilang satu, kesakitan tumbuh kelu. Aku tidak pergi kemana-mana, sakit itu dalam tubuhku. Sakit-sakit yang lalu membayang kelu. Angka-angka berhamburan menyerangku, tanggal tanggal telanjang menyerang tubuhku. Kalenderku hilang satu, kesakitan tumbuh kelu. Aku tidak pergi kemana-mana, sakit itu dalam tubuhku. Aku tidak kemana-mana, menyadari sakitku sebagai adanya. Malam legam aku lalui di kamar sempit bergumul dengan kalender –kalender usang.Gelap sontak menjadi benderang.


Solving Labyrinth


Aku kembali melalui jalan-jalan yang sering kita lalui, jalan jalan penuh himpitan dan senyum senyum redam muram, mengenakan gaun ungu kesayanganku, menyala rokok menghisap kerap, asap-asap terbang. Kemana ?





Ke surga, pikirku.


Asmarandhana


Permainan di dalam dadu yang kita putar melesap hebat di kepala-kepala. Aku mulai hanyut di beberapa kartu , melaluinya dengan hangat. Semuanya merayap melesat di etalase. Pintu itu merah, kita gelisah. Duniaku terbelah lelah. Konsep-konsep berputar di sekeliling riang. Pengumuman dipasang hilang. Dimulainya senyuman, perbincangan mata-mata, jari-jari merekat, tawa candu, risau suara, tali mati.
Aku menghilang tanpa melupakan yang ada bayang. Kami mulai berjejalan dengan lipatan-lipatan ayat. Perbincangan mata-mata merapal tubuh, hangat malam, luapan-luapan yang berujar. Permainan dimulai, dadu dadu merayap hebat di kepala-kepala. Lalu kita melaju. Tak ada akhir cerita ini, kau bisa meneruskan sendiri.



artwork by anang saptoto