27.1.10

Catatan tentang Rabu : Meditasi, yoga dan diskusi belajar pluralisme dari Yoga.

Selamat pagi, aku ucapkan untuk semesta, memasuki taman yang begitu sejuk di balekambang. Segera saja aku menyiapkan matras di sudut taman dengan beberapa teman, Rabu pagi ini dimulai dengan meditasi. Duduk sidhasana , mata terpejam, pikiran memuncak begitu adanya , sangat riuh tentunya. Inilah kesadaran yang nyata ,menyadari kesakitan itu sebagai kesakitan begitu adanya. Menyadari berbagai macam pikiran yang lalu lalang begitu adanya. Entah, ketika kita mulai berkeinginan kosong atau tidak berkeinginan pun itu hanyalah pikiran. Pikiran ini melesat dengan cepat. Aku menyadari saja. Entah , ketika kita ingin tenang. Itu hanyalah pikiran saja. Pikiran-pikiran, produk pikiran yang imitasi saja, aku tidak melawannya, hanya menyadari saja begitu adanya.Sadari keriuhan itu menjadi keriuhan , perlahan akan diam dengan sendirinya. Ya, pada umumnya , orang-orang yang sedang dalam kondisii tidak enak, putus asa, menyerah, sakit hati akan bertindak dengan bersenang-senang, jalan-jalan atau mencari kesenangan lainnya. Rasa sakit hilang , tapi itu imitasi. Sakit-sakit itu akan datang dengan cepat lagi, dimanapun kapanpun itu ketika kita melawannya dengan senang-senang. Aku lebih nyaman bermeditasi, ketika menyadari kesakitan itu adalah kesakitan, yang aku rasakan adalah sakit luar biasa, dan aku menyadarinya itu sakit. Meditasi pagi hari ini sangat riuh, sakit, aku tahu itu. Udara yang begitu sejuk, kicauan burung yang berpesta, semut-semut kecil yang mulai merayap di kakiku, aku sadari itu sebagai adanya. Aku tidak melawannya untuk berpindah tempat. Karena begitu adanya.


Setelah 30 menit bermeditasi, aku gosokkan kedua tangan. Tanganku menjadi hangat, aku usapkan saja ke muka, seperti aku bersentuhan dengan energi semesta, pagi ini hangat. Rileks tubuh ini melakukan pemanasan dengan meregangkan otot dan seluruh persendian, seperti leher, tangan, bahu, pinggang, dan kaki. Kemudian melakukan pranayama , yaitu semacam pernapasan untuk mendetok racun yang ada di dalam tubuh. Pranayama hari ini adalah so hum. Merilekskan tubuh, duduk sidhasana (sila) atau bisa juga dengan duduk Bajrasana (bersimpuh) kemudian SO tarik napas, kedua tangan mengepal tarik atas, HUM (baca ham) keluarkan napas, kedua tangan mengepal tarik kebawah. Lakukan ini serileks mungkin, jika capek. Istirahatlah. Karena di dalam yoga tidak ada paksaan apapun. Kita bisa melakukan ini sesuai dengan kemampuan tubuh sendiri-sendiri. Sohum adalah bahasa sansekerta yang maknanya adalah "saya adalah" , getaran sohum merujuk diri pribadi yang paling dalam, lewat napas mengenali tubuh sendiri.


Pranayama selanjutnya yaitu Anulom Vilom atau Nadi Shodhan, melakukan ini dengan duduk brajasana, tariklah napas melalui lubang hidung kanan. Lalu tutup lubang ini, dan hembuskan napas melalui lubang hidung kiri. Teruskanlah bernapas dengan perlahan-lahan dan stabil melalui lubang hidung kiri dan kanan secara bergantian. Tetap gunakan ibu jari dan jari kelingking untuk menutup lubang hidung. Pernapasan melalui lubang hidung kanan adalah matahari sedang dari lubang kiri adalah bulan, keduanya memiliki pengaruh dominan atas keseluruhan kehidupan.Menarik oksigen lebih banyak dan mengeluarkan karbon dioksida lebih banyak. Terapi ini baik sekali untuk kesehatan.



Tubuh rileks, menyadari sejuknya udara pagi di taman, aku dan beberapa teman melakukan beberapa asana kucing, kobra, setengah pohon dan suryanamaskara. Kenapa para yogi menamai asana-asana ini sesuai dengan nama binatang atau tumbuhan ?. Beberapa ribuan tahun yang lalu para yogi ini bertapa, menyadari kehidupan di sekitar gunung-gunung Himalaya. Para yogi menemukan bagaimana berbagai binatang secara instingtif menyembuhkan diri mereka sendiri, rileks, tidur dan tetap terjaga. Yogi-yogi ini bereksperimen dengan postur-postur hewan pada tubuh mereka sendiri dan setelah melalui banyak penyesuaian kembali melalui intuisi yang dalam, mereka akhirnya menciptakan sebuah rangkaian latihan fisik yang sistimatis yang dinamakan “Asana”.



Yoga ditutup dengan savasana, tubuh terlentang, tangan terbuka keatas, menyadari pernapasan, menyadari anggota tubuh dengan sangat rileks. Savasana ini untuk merilekskan sekujur tubuh dan memberinya waktu untuk memperbaiki sel-sel yang rusak. Hasilnya, bisa meredakan beberapa gangguan seperti sakit kepala dan kelelahan. Savasana juga bisa membantu menormalkan tekanan darah, detak jantung dan mengatasi sulit tidur.

Yoga hari ini membuat tubuh dan jiwaku segar, setelah beryoga aku bertemu dengan Bapak imron, beliau adalah dosen filsafat Psikologi UMS, kami berdiskusi tentang belajar pluralisme dari Yoga. Kami beryoga bersama tanpa memusingkan latar belakang agama, paham, idealisme yang berbeda-beda. Kami tidak memusingkan sekelompok yang mengharamkan Yoga. Pesan yang dibawa yoga sifatnya universal, tidak membedakan agama, gender, ras, golongan, usia, status sosial atau label-label lainnya.Semua dapat berlatih yoga. Semua punya hak untuk merasakan manfaat yoga. Ya , yoga adalah karunia bagi alam semesta dengan segenap isinya. Yoga dapat menjadi sarana berlatih menjadi manusia bebas namun tetap dalam koridor demokrasi tanpa melupakan kodrat perbedaan semua. Selamat beryoga, salam :)

NB :
Untuk teman-teman yang tertarik ikut yoga bersama, bisa bergabung di taman balekambang Solo, Setiap Rabu jam 06.00-07.00 Wib dan Sabtu jam 07.00-08.00 WIB.


Photographed by Adia prabowo