18.12.10

Marni menari

Karena tubuh melupakan tubuh, aku bertebaran pada malam yang dingin, Kampung kecil meninggalkan karma bagi penduduknya, kampung koma melupakan terusan yang hinggap, terusik ah wajah renta menunggu suasana terungkap di dunia. Karena yang ada hanya dentang terungkap, ah hanya kalimat pembunuhan yang menerka, akankah ada yang terungkap setelah ini, yang ada hanya usikan dan getaran kaki yang menggugat kepala, bermula dari semua yang menampung semua bergemuruh pada dada, pada wajah bernama marni, perempuan tindas mengepulkan sayap dari dapur reotnya. Aku menemukannya, ketika senja mencolek mata-mata ini berkeliaran liar, di ujung kampung, Koma.
ah apa ini , terungkap tertunduk, "Apakah kamu Marni ?".
Ketukan wajahnya terbawa suasana detak udara membuyar, tak ada huruf berkelebatan dari mulutnya, tapi wajahnya mendesakku untuk mendekatinya. Gerak semakin cepat, lelap terlelap. Pertemuan pertama kali , tertinggal kenang di sudut kampung, keluhan kucing kampung yang lewat menghantam dada ini, keluar semuanya.
Aku meninggalkan dia lalu bergumul dengan peraturan-peraturan kampung yang tidak memperbolehkan perempuan menari ketika purnama. Tak ada yang terusik dengan itu, bagaimana dengan aku? aku meluap, ingin mendobrak terang, melahap senyum yang kandas di sudut jalan. 
Maka ketika kokok jago membangunkan perempuan penggengam lesung itu, marni mulai menyiapkan semua keperluan untuk lelakinya, lalu bercumbu sebentar di ruang penuh asap, di dapur reot. Lalu seperti tidak pernah terjadi apa-apa, lalu pergi tanpa ciuman di dahi. Deru kakinya buyar , terbakar . Ritual ini terjadi setiap hari.
Pada suatu pagi, marni menemuiku,  aku genggam tangannya, hanya ada permainan kenangan yang menghantam dadanya, aku peluk dia. Aku sentuh pundaknya, "purnama nanti kita menari, persetan dengan peraturan kampung ini". 
Matanya membara, ada sesuatu yang terlewat, apa itu? aku tidak mau menggalinya. Mungkin semacam energi baru , seperti berkata, aku ingin menari sepuasku, menyetubuhi purnama denganmu. ya , aku seperti membaca pikiran itu di matanya. Mungkin begitu.
Kalender mencuri perhatianku, aku pergi ke meja kecil samping ranjang. Ah ini purnama, aku melingkarinya. Tertahan dalam kepala, marni mari menari, mari menyetubuhi purnama. Seperti jelas sekali, aku mendengar napasku sendiri, aku mendengar seperti ada makhluk-makhluk kecil bergejolak dalam tubuhku, seperti aliran listrik seperti berbincang, lekas purnama segera datang.
Rupa itu jelas sekali, mata itu menabrak, wajah lusuh, keluh menabrak purnama. "Aku lupa bagaimana caranya menari", Marni menantang mataku. Aku genggam tangannya, aku dan marni duduk di tanah , meyakinkan marni yang lelah .

"Kita duduk-duduk , apakah kita menari?" 

"Menari"

"Benarkah?"

"Lihat purnama itu, pikiran kita menari".

Lalu menari, alangkah indahnya malam ini. Tak ada penduduk yang tahu kami menari. Mendekat pada tubuh marni, aku terbang ke atas sana, semuanya terpecah lelah. Luapan bergemuruh pada purnama, udara semesta menyelimuti aku dan marni, pada malam bulan mengembang.
Terusik sendiri, datang berjejalan suara-suara disana, perlahan lekat mendekat.  Aku menari, Marni menari. Suara -suara semakin mendekat, sumpah serapah mengepung aku dan marni. Lalu yang ada hanya seperti gejolak dan teriakan. Aku mendengar marni, aku mendengar marni. Aku teriakan berkali-kali, jangan hiraukan, kamu menari marni. Menarilah sepuasnya. Tangan-tangan tak ada hentinya membuat gugur jantung, risih dada mengeringkan mata. Aku tersungkur  mendekati marni. Mencium senyumnya, dadaku tercekat, penduduk setan memotong payudara marni.Tertawa besar penduduk setan, meninggalkan aku dan marni, sendiri.

Solo, 11 -12-2010

17.12.10

semoga cepat sembuh

Kepala sebelah kiri saya sangat kaku, perih luar biasa, seperti di depan saya semua terbalik. Saya tahu penyakit itu kembali lagi, seminggu ini saya benar-benar lemah, walaupun semua usaha sudah saya lakukan. Yoga rutin setiap hari, pola makan sehat, meditasi, sudah saya lakukan. Hal-hal baik yang saya lakukan berbanding terbalik dengan keadaan tubuh saya sekarang ini. Kesalahan apa yang saya perbuat ?
Ingatan ketika usia belasan hinggap, beberapa tahun yang lalu di suatu sore hari,  menyapa  jendela, saya terdiam lama. Entah apa, saya berteriak keras seperti ada tembakan mengenai kepala saya, sakit sekali, seperti sayatan pisau mengiris-iris kepala. Setelah itu seperti semua terbalik, balon-balon datang berhamburan menyerang, menabrak tubuh, terbangun di ruang sempit dengan aroma obat dan infus menusuk tubuh. Lalu baik lalu runtuh, lalu baik, lalu tumbang lagi, begitu seterusnya. 
Malam yang geram, balon-balon hinggap, menyerang tubuh, kesadaran penuh merasakan betapa sakitnya. Ah kepala, kamu mau apa?
Maka boleh saya bilang, tadi malam adalah malam terberat, untung saja seorang teman lama menelpon, ia  menceritakan senja, saya pun redam. Pagi tiba, kira-kira jam 1 lebih entah, kami harus mengakhiri perbincangan. Mata pun tak bisa terbenam, jantung berdetak cepat, kepala sebelah kiri saya terbeku, kekuatan yang bisa saya keluarkan adalah menelpon lelaki, ya pagi yang ricuh, mendengarkan suaranya saja lalu cerita-cerita mengalun begitu saja, kabel hidup memasangkan jiwa kami. Karena saya bukan tuhan, saya tidak bisa menerka bagaimana tembakan mengenai kepala saya. Di tengah obrolan yang damai, pelan-pelan balon-balon itu menyerbu, seperti tubuhku menyusut, darah segar mengalir dari hidung, tidak mau berteriak, tidak mau. Merasakan sakit, menusuk. 

Terimakasih semesta atas perjalanan ini

11.12.10

10.12.10

Catatan Menstruasi 1.7

Jalan-jalan berjejalan, tubuh lusuh terbang ke sana kesini, lalu kesana lagi, tak tahu arah mana, jangan-jangan mati atau tertiup, lapuk. Karena angan yang memburai ke angkasa, mata-mata berjumpa di meja coklat, gerak bibir menjadi berani, tak ada kesakitan yang hancur. terlalu hancur,tak ada. Diawali dengan tertawa-tawa, tiga perempuan memulai pesta dengan kepal mantra di tangannya, meluap, mari meluap. Hujan luar luap, tubuh-tubuh meluap.
Perempuan pertama bungkam, matanya nyala, ke angkasa. Perempuan ke dua menghembuskan asap kretek, terbang kesana kemari, mungkin ke surga. Perempuan ketiga membelah dada, menghujam genderang pikirannya sendiri. Sendiri-sendiri dekat di meja, kata-kata terbang ke udara, berlarian kesana -kemari. Perbincangan merah, alur yang renyah. Seperti kupu-kupu menguntit perbincangan kami, lalu menjadi peri, melahap keterasingan, meja menjadi ramai, rami pikiran perempuan sendiri. 
Lalu seperti tubuh-tubuh terpotong-potong, terbang  lalu lalang, berjumpa menyapa perempuan satu, lalu tiga atau dua. Payudara indah tergeletak di meja, mata-mata menyala menjadi kunang-kunang indah, jemari menjadi peri, semuanya pesta melahap merah, melahap hari yang merah. Bibir gejolak, telinga dentang, pipi demam, merah menyala. Terbang lalu lalang di atas meja perjamuan perempuan, merayakan rentang panjang. 
Oh demam datang, demam tubuh sendiri, mengelupas sendiri, mengering sendiri, subur mengubur sendiri. Ah dunia, ini demam, tak juga berkesudahan. Aku melambung, dentuman semakin keras.Jalan-jalan berjejalan, memungkinkan perbincangan yang harus di meja ramai, Aku bisa jadi perempuan satu, dua, atau tiga. Atau Aku adalah ketiganya. Gelombang tutup mengatup, begitukah caranya? atau aku yang demam saja.
Hari yang merah, perjamuan yang marah, tak ada lagi srigala, yang ada hanya potongan-potongan tubuh saling menyapa, mengelupas, kering dengan sendirinya, begitu adanya saja. Tubuh utuh menyampaikan kesadaran yang luar biasa, ramai begitu adanya, merah begitu adanya, marah begitu adanya, begitu nyata, begitu saja. 

Catatan Menstruasi 1.6

Terbang mengembara melalui jalan-jalan terbuka dengan sendirinya, karena tubuh ini seperti mengintip beberapa hal yang tak terjamah oleh gerak, aku bersandar waktu tercipta, pikiran berkelebat hebat, aku berterus terang pada cuaca yang mulai merayu tubuhku, seperti ada teriakan di kanan kiri, sebentar lagi kau akan menjadi serigala, sebentar lagi kau akan menjadi serigala, lahap semua yang terbayang disisimu, itu semua, jangan sampai ketinggalan.Kerontang, demam tak berkesudahan, kursi pun tak lagi mampu menampung tubuhku, seperti pelan tubuh ini menjadi sesuatu yang lain, tubuhku menjadi semakin berat hebat, pikiran berkelebat cepat, suara kanan kiri, serigala-serigala menyatu, serigala kau serigala.
Tangisan tak menyelesaikan semua, seperti berderet pisau rapi menembak dengan kecepatan kilat, terkena rusuk, lalu yang ada merah, tak ada perih kataku, apakah aku cermin?
Cermin tak pernah berdusta, tak ada rangkaian yang lalu lalang , aku bergulung-gulung , yang ada hanya tanah dan merah, dimana cermin? apakah aku cermin? apakah aku benar-benar serigala ?
Duduk sendiri, bergemuruh sendiri diruang bergerak melewati yang tersisa, aku serigala, tak ada menerkam, tak ada diterkam. Serigala hanya ingin bergemuruh, sendiri.

3.11.10

Layang-layang ingin terbang

I.
tikus dimakan ratu hati diatap kerajaan merah, aku bersembunyi dibalik tembok-tembok sunyi itu. Menabrak malam, menyaksikan ritual ratu, diam-diam, oh tikus-tikus, oh ratu yang rakus

II.
Pagi hari aku terkubur di jerami gudang , ringkikan kuda menyerang telinga, ah aku butuh roti gandum segera, tubuhku menggeliat menyelinap gang kandang, jerami-jerami tak mau berpisah dari gaun unguku, jerami-jerami menari riang.

III.
Di dapur, aroma rempah-rempah membuat mataku menggeledah, aku sapa paman koki berwarna hijau. Senyumnya menggetarkan jantungku, aku jinjit meraih toples cantik berisi kue kering berwarna coklat, aku masukan kantong. Lalu lari memburu gogo temanku si wortel yang menepuk bahuku. Paman teriak-teriak , mengingatkan roti gandumku, aku menggeleng, aku lari-lari mengejar gogo si wortel.

IV
Gogo terbang ke angkasa, aku tepuk tangan, tepuk tangan, Gogo memanggil awannya, tapi tak kunjung datang juga. Wajah gogo berkerut cemberut, aku panggil si gogo, kami berbagi kue kering berwarna coklat, duduk di kursi tua,aku dan gogo bermain mata.

V
Layang-layang jatuh, perasaanku luluh, talinya putus, sarafnya putus. Aku mendekati layang-layang, menggulung talinya, menunjukkan ke gogo. Gogo ketakutan, ratu akan menghukum siapapun yang bermain layang-layang. lalu, aku bilang ke gogo :" meremas layang-layang  atau mencuri malam untuk layang-layang?", yang ada hanya tatapan mata, darah mendidih meluap ke udara.

VI
Senja menyapa, aku lari ke kandang kuda, gogo menyelinap ke dapur membuat minuman berwarna biru. Layang-layang kubawa, aku mengenalkan layang-layang ke jerami-jerami cantik , aha mereka sungguh senang berkawan dengan layang-layang. Leherku berat, gogo datang agak tersendat, setelah sekian gerak gogo membawa minuman berwarna biru untukku. Aku tidurkan layang-layang di jerami, minuman biru membuat kepala melayang. Gogo berisik disamping, menyapa tikus-tikus yang pening. Aku layang.

VII
Malam mencekikku, ringkikan kuda membuat bergidik, pelan-pelan menyelinap ke taman, Kerajaan memburai warnanya menjadi hitam. Aku hitung jari-jemariku, hari ini bertanggal ganjil. Ratu akan menjalankan ritualnya memakan tikus di atap kerajaan merah, lalu got-got penuh darah. Aku lelah. Ah, bagaimana dengan layang-layang? Bagaimana jika aku kacaukan ritual ratu ? Aku terbangkan layang-layang, tapi jiwaku terancam melayang. Aku diam, tikus-tikus terbang melayang.

12-09-10

Perempuan penerus Atmadja 2.2

Karena tubuhku terlelap panjang, lalu gemilang menantang. Yang ada hanya jalan-jalan dan ayat-ayat yang terbang. Oh dada yang terketuk api, aku meniduri pahit. Yang ada hanya kenang dan  lalu lalang. Seperti terbang, terbayang yang ada hanya kunci kali , tergerak lalu mati. Apakah mati yang sebenarnya? 
Tunggu sebentar, coba tengok catatan yang ada , mungkin kamu perlu merusak atau membakarnya. Senyum wajah berhamburan. Sore yang kering, kataku. Mata terpejam pun tak bisa terjelaskan dengan kata "mati". Obrolan kering bersama sore, perempuan aku, Tubuhku meletup tinggi. Ke angkasa, halaman kosong dan detak kata yang tak ada artinya. Itu kataku, tak ada artinya, itu kataku. 
Aku bisa, meracunimu dengan kapsul kelana, aku bisa melumpuhkanmu dengan mantra-mantraku. Tapi buat apa? buat apa?
Kering tersedak, hanya semacam perkembangan yang tak bisa diungkapkan. Ya begitu.


Rabu

Rabu pagi, pesan pendek menghubungiku, coba buka jendela, tatap tanah itu, ada apa?
Pesanmu membuyarkanku, kau benar-benar ingin tahu? ada apa di tanah itu?
Kepala meredam di jendela, kataku yang ada di tanah itu darah. Pesan tidak aku kirimkan kepadamu. Lalu beberapa gerak jarum jam menuntunmu untuk mengirim pesan ancaman, KAMU MATI !
Aku terbahak, telak !

FREE DOWNLOAD : Afiagummi-Purwodadi Secret Massacre (The Marching Requiem)

Afiagummi-Purwodadi Secret Massacre (The Marching Requiem)

Purwodadi secret massacre

Degup jantung pohon jati membisikan ke udara-udara, duka lelap membuka , dia yang bernama kepala membuntuti jalan dengan kepalan, aku lelap merah bersimbah. Kata-kata tak bisa aku lepas, kerikil resap, air kalap, raya kalap. Seperti itukah mimpi yang berujar? Kepala-kepala, kulit-kulit , jari-jari berjejal sendiri. Matanya semalam kelam, aku menelpon kegusaran. Pukulan berkali-kali, aku berlari, jalan panjang melahapku habis seperti seonggok bibir yang ricuh. Dua tubuhku tergantung dengan dunia yang mampu aku ciptakan. Luap semua, jalan kalap, mata gagak melukai jantungku, mata jati menerkamku, mata mahoni merabaku.  Aku teriakan jesus berkali-kali, aku teriakan muhammad berkali-kali, aku teriakan budha berkali-kali, aku teriakan maria berkali-kali, aku puja-puji . Malam menerkamku kelam . Tusukan berkali-kali, aku berlari, jalan panjang melahapku habis seperti seonggok bibir yang ricuh. Luap semua, jalan kalap, mata gagak melukai jantungku, mata jati menerkamku, mata mahoni merabaku. Jalan pedas, kecil kerikil menderuku, semesta mata-mata, jati, mahoni, ricuh riuh, dia yang bernama kepala membuntuti jalan dengan kepalan, aku lelap merah bersimbah. Kata-kata tak bisa aku lepas, kerikil resap, air kalap, raya kalap. Pukulan berkali-kali, aku berlari, jalan panjang semesta bunyi mendengung awal yang agung.


Afiagummi are  TRia Nin & Gabriel achille. We come from a boisterous party minds.We loved sitting in the garden behind the house, aware of noisy, We liked the old records, a diary, meditation, realized the beauty of dusk, realized the music of nature, realize the universe. This is a record entry in our minds, hopefully you can enjoy it. big thanks. sabbe satta bhavantu sukhitatta.



Jarum

Tertahan dengan tanya yang luar biasa, tanda tanya kali mati menyerang jantungku. Tak ada gurauan atau ricaun, semua tertahan di kepala. Kemana ia pergi, membayang terang terungkap dibenakku. Aku ingin berlari saja, melupakan semua, oh tidak segampang itu. Lupa menerkam bencana, orang-orang disekitarmu membelenggu. Tangisanku berhari-hari, semesta memeluk perih tiada tara. Aku terjang, hadapi ini semua. Lipatan yang menggelombang, tak ada ruang, semua terbakar begitu saja. Aku bertahan, kataku. Membumbung tinggi di angkasa, ketakutan ini menyerangku. Lalu yang ada hanya jalan-jalan terkenang, isakan beribu basah yang mendekam sejarah usang. Aku ingin memelukmu erat dekap lelap tertelan di  dalam bahasa. Tubuh ini tak kuasa membendung itu semua. Ketakutan, kekhawatiran berhari-hari menerkam. Buat apa aku melalui ini semua? aku sungguh tersungkur di dalam kelam. Tak ada lari atau detak-detak itu. Setiap malam aku memandangimu tertidur, perih luar biasa, kepala mencekat . Aku bilang harapan-harapan menumpuk di dada, aku tak sendiri disini. Lalu yang ada hanya sepi dan lamunan yang panjang. Ketakutan datang atau jangan-jangan aku belum siap untuk semua ini. Bibirku mencoba mengeja tandamu, itu tuhan, itu tuhan, Tak ada senyum lagi dirumah ini , yang ada hanya isakan, kekhawatiran dan ketakutan. Aku diam, tak tahu lagi bagaimana menangis dirumah ini. Sesak menyergap. Setiap jalan pulang selalu sesak. Malam itu, kamu bertanya apa itu batin ? Aku tersontak membaca matamu. Diam melekat itu saja. 
Keluar rumah ini, diam-diam aku mencuri untuk menangis di perjalanan, meraung-raung sendiri diantara suara-suara klakson menderu, di jalanan, aku tidak bersama siapa-siapa, roda berputar, isakan aku dengarkan sendiri. Ya, paling tidak begitulah caraku menangis.
Sebuah pesan terkirim, segera pulang, segera pulang, jantungku berdetak kencang, kesakitan itu tertancap.

Terimakasih semesta atas perjalanan ini


28.10.10

The Lumbini affair is not over yet !



Judul/ title : Lumbini 
Penulis/Author : Kris Budiman
Tahun terbit : 2006
Jumlah halaman : 114 halaman
Penerbit/Publisher: Jalasutra

Kecantikan dan kesederhanaan buku ini menyapa saya, kain berwarna oranye yang dijahit di tengah-tengah sampul depan seperti warna kuil Ratu Maya Devi di Lumbini.  Saya mencium energi  keseimbangan, kehangatan, warna yang identik dengan musim gugur. Bermain ke lumbini, itulah kesadaran yang saya resapi, di sebuah sore saya mengetuk pintu, disebuah ruang. Membaca lumbini seperti memasuki aliran sungai yang datar dan tenang , tetapi ketika saya berenang semakin ke dalam sungai saya menemukan kedalaman filosofis hidup , simbol-simbol eksotisme Kathmandu Nepal . 

Novel tipis berisi 114 halaman ini berkisah tentang  cerita yang tebal tentang perjumpaan lelaki dan perempuan di sebuah kedai the pipe house di kathmandu. Kedai ini berada di lorong bernama aneh. Semesta berbicara menyatukan perempuan bernama Ratna Adiprana dan lelaki bernama Nikaya Suttomo.

Seorang arsitek lulusan dari UGM bernama Ratna adalah tokoh sentral dari cerita Lumbini. Energi muda, perempuan eksotik, kaya cerita, suka berpetualang menjelajahi dunia nyata dan pikiran.  Sosok perempuan ini mirip dengan Lara croft seperti yang diperankan Aktris Angelina Jolie dalam  Tomb Raider. Karena kejenuhan dan kebosanan menyerang, Ratna  ingin menikmati hidup di suatu tempat hening dan asing, dimana  tidak ada satu orang pun yang mengenalnya.  Hatinya memilih  Kathmandu, Nepal. Ratna tinggal sendiri di sebuah penginapan kecil. Menyepi, berkontemplasi,  Ratna juga mulai belajar yoga dan meditasi.

Lorong bernama aneh membawa Ratna ke sebuah kedai the pipe house. Hingga akhirnya perempuan ini berjumpa dengan seorang lelaki bernama Nikaya Suttomo. Seorang arkeolog  yang ternyata satu almamater dengan Ratna ini kerap dipanggil Niko. Lelaki ini sedang menjadi sukarelawan pada sebuah proyek World Heritage Sites di Lembah Kathmandu.

Perjumpaan Ratna dan Niko bukanlah kebetulan, saya yakin dzat , harapan, keinginan yang selaras mempertemukan mereka. Percakapan demi percakapan , peristiwa demi peristiwa adalah petualangan pikiran yang mengasyikan. Niko mengajak Ratna ke taman Lumbini, tempat kelahiran Siddharta , Ratna tergetar ketika di depan relief Dewi Maya ia memperoleh pengalaman mengagumkan. Ketika Niko sedang asyik memotret relief, Ratna  bertemu dengan seorang  Bhikku yang mengajaknya masuk ke sebuah vihara. Di sana Ratna melihat gambaran tentang peristiwa kelahiran Sang Budhha. Dari perjumpaan misterius itu, Bhikku  mengajak Ratna bertemu kembali di Candi Mendut, saat Waisak.  Ada sesuatu di perjumpaan itu.

Novel  yang mendapat Penghargaan Buku Sastra Indonesia –Yogyakarta 2007  ini benar-benar mengugurkan jantung. Seperti dalam paragraf yang saya uraikan disini :  Langit di luar tampak cerah, tapi tidak langit di badanku. Pesawat telah lepas-landas semenjak beberapa menit yang lalu, meninggalkan Bandara Tribhuvan yang tidak pernah sempat menghela napas sedetik pun lantaran kesibukannya. Aku pulang, Nik. Meninggalkanmu, sebagian dari diriku. Sambil memandangi gumpal-gumpal kapas putih yang bergulung-gulung menebal di kaki Pegunungan Himalaya, aku duduk termangu di sisi jendela pesawat. Ruang kepala terasa kosong dalam pendar-pendar warna monokromatik. Hitam, putih, dan kelabu. Ngelangut sekali, serasa ada yang hilang dari sisi. Di atas pangkuanku masih terbaca jejak-jejak goresanmu pada secarik tissue putih : “...manakah yang lebih banyak, air yang ada di dalam keempat samudera atau air yang kau tumpahkan ketika tersesat dan bertualang dalam ziarah panjang ini, sebab yang menjadi bagianmu adalah yang tidak kaucintai, dan yang kaucintai tidak menjadi bagianmu?” ((Kris  Budiman, Lumbini, hal. 105)

Membaca lumbini, seperti saya bermeditasi menyadari gerak pikiran yang riuh, datar, tenang, riak lagi, bosan, riuh begitu adanya. Berawal dari bermain, bersenang-senang menjadi awal petualangan yang bermakna. Saat musim gugur menyapa kita, jangan terburu-buru berharap agar musim semi segera menyapa. Berilah  waktu, agar musim dingin menjadi jeda. Seperti tertulis pesan terakhir ratna : Dear Niko, the Lumbini Affair is not over yet!
*Tulisan ini dimuat di buletin sastra pawon edisi #31 /2010
 Terimakasih semesta atas perjalanan ini

25.10.10

Riwayat pelacur 1.1

Ruang-ruang terbakar, dentuman menyerang beribu kali. Ada apa ini? menghentak tanpa tanya yang panjang. Keranda diturunkan, yang ada hanya lekukan tubuh terbungkam kain putih . Aku menjawab semua pertanyaan yang datang.


Apakah pelacur? asap-asap yang terbang hanya bergoyang didepan wajah-wajah tak kukenal. Lalu membludak di atas kepala, tak ada kata-kata, rajam , kata-kata merajam.

Ah pelacur yang kental , bau yang runyam. Aku membuang  sejarahmu di peradaban kali mati. Aku luap, lelap pun hanya ungkapan.
Ah aku kira ini hanya ungkapan yang membuat orang-orang berusaha untuk selalu tegar. Keranda-keranda siapa ini?mata siapa ini?

Aku menghardik dengan  ruas yang berupa -rupa. Pelacur, bakar diri aku melacur untuk diri , bakar -bakar perkamen usang. Tak ada yang meluap, Ketika perbincangan basi tergantikan dengan tundukan kepala. Bualan penduduk tentang anak asam yang terbang.  Apakah kamu bisa  menghentikan darahmu sendiri? apakah kamu bisa?

Aku pelacur, aku bisa. 

Kata yang tertuang hanyalah onggokan sepi, lalu hanyut di ruas kali, yang ada hanya gertakan. Redam kaki ini, melangkah pun ternyata hanya bualan. Mimpi mana yang ingin kau bakar? darah mana yang ingin kauhentikan?
tubuh meringkuk di tanah lelah, diinjak-injak pun hanya terjadi bualan ungkapan. oh dunia, dunia yang terkepal di dada. Kamu mau kemana?

Aku  merias wajah dengan ruang-ruang tua, dunia melebar sekujur tubuhnya. Malam yang garang, aku melalui dunia, tubuh hanyalah terkenang didalam dada. Perkamen usang merapuh. apakah kamu tahu dimana tempatku berada?

tanya siapa? tanyakan kepada siapa?

Wajah-wajah lalu lalang membungkamku, didekat pintu, ketokan berjuta kali tak mampu mengulang sejarah yang lalu. aku lupa, tiada tubuhku , siapa yang akan membungkam dengan seribu tanya tertangkap, lelap pun melahap ketukan yang hanya  tertuang di luapan dada.Kain terurai tak ada tanda baca yang tersaji di meja makan, aku membungkam tubuh-tubuh, melepas satu persatu  lekukan yang tertahan di dada. apakah kamu ingin menjarahku?

katakan itu, jangan malu, jangan menguntitku. Lupakan senja, lupakan kitab suci yang tertuang di dada, lupakan rahasia, mari tubuhku.

Aku melahap gertak malam , tak ada bahasa yang kau inginkan, terbang tertuang , lagi-lagi terbang ya terbang begitu saja.

Tubuh yang retak. entah kata siapa yang hanya nyanyian kepala  telah lewat sekelibat melahap hanya bungkam yang telat. Ah rasa apa ini tubuh? yang hanya kejap dan sekejap. Lalu hanya ada kamu. 

Aku ingin meniduri riwayat yang teracak di jalan-jalan, kali bau mati dan usang wajah yang hanya terlahap dipikiran. Maukah kamu menemuiku? 



Terimakasih semesta atas perjalanan ini

18.10.10

Mencari harmoni

Ada apa dengan harmoni? Kenapa harus dicari?  Dunia semakin dipadati ironi, inspirasi ini digambarkan dalam pertunjukan tari yang digagas oleh koreografer muda, Dwi Windarti. Pertunjukan tari yang digelar 2 hari  dibulan ke-9 ini menampilkan 7 penari dengan warna yang berbeda. Saya teringat 7 hari menuju semesta, riuh yang menggelora didada, gerak tubuh yang memutar ingatan-ingatan di kepala. 
Awalnya seperti gerak yang gelap, lelap, ketakutan muncul begitu adanya. Tentang memori-memori gambar kehidupan yang tertuang dalam layar, memudar, hambar lalu gelap, lalu terang naik menjadi semacam cerita dalam kehidupan, riuh, teracak, pulang menangkap tempat semestinya, begitu adanya saja.  Saya seperti menangkap ungkapan Kung Fu Tse jika tiap orang berada di tempat yang semestinya dan berperan sebagaimana mestinya, maka hidup dan segala hubungan hidup akan harmonis.
Dalam gerak, koreografer mencoba menceritakan liku-liku hidup seperti rotasi dunia. Kelahiran hari, bertemu fajar, cahaya menggenang, mendung, air mata semesta, darah, makhluk berwarna, lalu lelap begitu saja. Saya bergetar ketika mengamati gerak yang dikombinasikan dengan gerak patanjali yoga. Menurut saya, Yoga itu sebuah harmoni. Bergeraklah, rasakan riuh, tarik napas dan rasakan kesejukan masuk. Lalu buang napas, dan rasakan kehangatan keluar. Rasakan keheningan masuk ke hati. Sunyi dan sepi. Saya mencium aroma segar dalam pertunjukan tari ini. Alunan musik drum & bass seperti mendengar detak jantung. Lalu mengalir seperti adam dan hawa turun ke bumi, menyapa makhluk semesta lainnya, bergerak, menari dalam hari. Bergerak, lalu hanya waktu yang terbaca. 

Karya tari kontemporer  ini adalah hasil kerjasama antara koreografer, videografer, ilustrator, penata cahaya, penata musik, dan penata panggung yang mempunyai mimpi untuk keseimbangan harmoni. Di hari pertama, pertunjukan berjalan lancar, suara, gerak, gambar, cahaya sungguh pas menarik hati. Saya sungguh penasaran, apa yang akan terjadi di hari kedua?  Saya kembali, memasuki ruang itu dengan memori yang masih di hinggap kepala, gerakan berputar ulang, keganjilan suara pelan lalu keras dan beberapa noise muncul, penari bergerak sebagaimana semestinya, gambar dan cahaya sebagaimana semestinya. Entah kenapa, saya seperti mendapat gambaran noise yang datang adalah keasyikan tersendiri, bahwa menyadari noise, riuh, rusak sebagaimana adanya saja adalah kesadaran yang sebenarnya. Itulah keseimbangan.

Dwi Windarti  dan  timnya mampu menggambarkan sebuah kebutuhan dasar mencari harmoni, tak heran jika karya ini dipilih panel seleksi Hibah Seni Kelola – Hivos 2010 untuk kategori Karya Inovatif. Mencari harmoni mampu menggambarkan perbedaan peran di dunia ini, nyatanya perdamaian akan tercipta kalau manusia pun menari-nari dalam harmoni. 

Koreografer : Dwi windarti
Penari : Rani iswendar, Woro utaminingsih, Erika Dian, Rahma Putri Parimitha, Otnil tasman, Abimanyu Danang Ramadhan Artistik : Tatuk Marbudi, Taufik fatoni Videografer: Bjeou Nayaka Ilustrator : Taufik Fatoni Desainer grafis : Tatuk Marbudi  Penata cahaya : Joko sriyono Penata Musik  : Sigit pratama

Mencari Harmoni
Rabu - Kamis, 29 - 30 September 2010
Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah
Jl. Ir. Sutami no. 57, Solo, Jawa Tengah

Terimakasih semesta atas perjalanan ini

9.10.10

Dynamic duo

Hai Dynamic duo, Pasangan dinamis manis tahun ini. Terima kasih banyak untuk sahabat saya Ajie Whisnu Wardana dan Shasa Swastika Kusuma yang menggoreskan gambaran energi mimpikiri dalam sebuah gambar. Sangat menggembirakan hari. Ya benar, hari ini memang sangat membuat saya bernyanyi, karena hai kau dynamic duo :)

 Artwork by Ajie Whisnu Wardana

 Artwork by Shasa Swastika Kusuma

  photo courtesy of dynamic duo


Terimakasih semesta atas perjalanan ini

30.9.10

huffmagazine

hello huffmagazine , I just wanted to thank you for interviewing me. 
And friends, you can download it here : http://www.huffmagazine.com/, thanks :)


Thanks universe 

16.9.10

Heaven Park


The green grass, give me smile in the afternoon life, I will take my medicine first. Then I will lay down on the green grass, see the blue sky that make my  eyes so bright. In the ordinary life, sometimes I see many hopes flying in the sky. I can’t catch up. Oh then I realize, I’m not god.
I don’t have best way to give the result of human’s hope. Really supposed I can’t hold on, oh im’in the heaven park. Fruits and colourful vegetable talks about the rules in the park. Ah my heavy head, I feel it’s not good condition when I’m in big rules, like in this park. So, can I live here?
All the number flying in the sky, I can’t cath up. My mind’s out, so noisy busy , then I  scream out loud. Ah park, bring me to the high sky, then I will take my favourite number. Could you?
Ah, it would be interesting, if I can dream like I can scream.
  

Thanks universe 

10.9.10

DREAMER

Isu atau informasi tentang global warming, isu tentang pertanda perubahan jaman, isu tentang hama, isu tentang penyakit, isu tentang kerukunan berbangsa, beragama dan banyak isu lainnya yang sering menjadi masalah yang meresahkan dan sulit untuk berbuat masa bodo untuk tidak ikut memikirkan. Pada tingkatan tertentu isu permasalahan itu mempengaruhi jalan pikiran orang-orang untuk berbuat sesuatu. Salah satunya adalah menjadi seorang pengkayal atau mimpi. DREAMER. 


DREAMER adalah tajuk pertunjukan yang dipilih dan dipersiapkan untuk mewadahi tiga pertunjukan hasil karya Yasmita D.N dengan judul "Kaki jerami". Heri suwanto dengan judul "Scents" dan Djarot B darsono dengan judul "Menanti hasrat untuk mengharap". Karya-karya tersebut adalah visualisasi mimpi mimpi koreografer yang menyoal tentang hubungan personal manusia dengan manusia, manusia dengan alam lingkungan. Kalau melihat kedalam lagi "nuansa kering atau kekeringan" menjadi metafora yang mewarnai tiga garapan tersebut.

"Scents" karya Hery suwanto, karya ini terinspirasi dari suasana kerinduan terhadap kampung halaman yang terletak di pesisir pantai utara jawa, khususnya di desa bernama Wirodesa, Wonokerto Kulon Kabupaten Pekalongan. Kehidupan nelayan yang keras, dan gemuruhnya ombak menghepas ke karang yang keras, desauan angin. Harapan-harapan keluarga nelayan terhadap samudra biru adalah suasana yang mewarnai garapan ini.

Sementara daratan menunggu
menanti penuh harap
kamipun hanya bisa berdoa

"Kaki jerami" karya Yasinta DN, karya ini mencoba untuk mengeksploitasi suasana-suasana alam pedesaan beserta sawahnya yang konon diceritakan sangat melimpah dengan hasil. Konon untuk hasil melimpah tersebut, petani mempunyai ritual-ritual untuk menanam, untuk mengusir hama, salah satunya dengan cara selalu mengganti jenis tanaman palawija dalam sekian musim, dan cara mengusir burung, yang semua itu menjadi rangkain sistem kerja bersawah dan berladang. Tetapi di era pergeseran sistem dan cara, gaya hidup sekarang ini harus bagaimana? 
Berpancatan dari masalah tersebut garapan ini mencoba untuk mengeksploitasi keberadaan orang-orangan yang terbuat dari jerami dan dipasang ditengah sawah, digunakan untuk mengusir burung. Orang-orangan tersebut diharapkan bisa menjadi sebuah metafora perubahan dari sistem, gaya, cara dan sistem hidup.

Saat padi mulai menguning
Dengan ritual aku hadirkan
tubuhku membantu sang petani
mengusir burung
Hamparan sawah menjadi halaman bermainku
Kini halamanku mulai menghilang
hama tak hanya burung

Aku sudah tidak menakutkan lagi, Kehadiranku sia-sia

Dimanakah tempatku kini
Tergusur sudah hadirku


"Menanti hasrat untuk mengharap" Karya Djarot B. Darsono, Gerimis yang hanya sebentar dan tak mungkin mampu menyiram tanah untuk menjadi basah, setelah hampir sekian puluh tahun kering. Tetapi bau tanah yang sedikit basah memberi harapan seorang tua si tukang jahit. Dia duduk dibawah pohon yang kering, matanya memandang tajam jauh kedepan. Bibirnya bergerak seperti berbisik atau membacakan mantra-mantra.." tubuhku sudah mampu berpikir karena sarat dengan pengalaman masa lalu yang tidak bisa disebut sebuah panorama yang menyenangkan dan indah yang sekarang terbentang dibelakangku, sedangkan jarum dan benang yang kubawa ini akan kuberikan kepada siapa ?. Mungkin masih sekian puluh tahun lagi jarum dan benang ini bersamaku. Dengan ujungnya yang tajam ini dia masih mampu untuk mencari dan menunjukan kepadaku pegunungan, perbukitan dan lembah-lembah yang menyimpan makna. Akan kutempuh bila aku ingin.






Aku juga sangat menyesal mengapa aku juga harus menyaksikan masa lalu yang runtuh ketika aku berjalan ke depan, tetapi aku sedikit lega dan merasakan bahagia setelah aku melihat warna warni reruntuhan itu, kuanggap berwarna kelabu. Sebenarnya, karena aku tidak mau dimanjakan oleh masa silam, dan pada saat yang sama ini diusiaku yang sekarang aku juga tidak mau dicemasakan oleh masa depanku.


PERFORMANCE STUDIO TAKSU in Dreamer

Teater Arena Taman budaya Jawa tengah surakarta
23-24 agustus 2010

Thanks to : diah apriliani

Terimakasih semesta atas perjalanan ini