2.11.09

Upacara pemakaman : bunyi

Orang-orang berdatangan di dekat pagar, aku di berdiri tak jauh dari itu, mengenakan gaun merah , dengan kalung kepala rusa, jika aku resah, aku akan menyentuh kepala rusa itu , sentuh saja. Berulang kali. Upacara pemakaman dan gaun merahku, aku berjalan pelan mendekati tembok coklat, dulu ibuku suka menyuapi didekat itu, di suatu sore.
Orang-orang berdatangan, menyalami ibuku, wajah wajah yang ditekuk duduk duduk di kursi menunduk. Orang-orang berdatangan, menyalami ibuku di awal bulan juni kelahiranku.
Aku menarik kepala rusa kedekat jantungku. Aku detak. Melanglang buana dengan dugaan yang lalu lalang di kepala. Pertanyaan yang tak perlu dijawab, datang menyapu angin mukaku. Lalu aku mulai bergandengan tangan, aku belajar mengenai menunduk di acara pemakaman rumahku. Hari itu adalah upacara pemakaman kedua yang aku tahu dirumahku.
Dinding yang mulai basah dengan dugaan, cerita adalah tentang khawatir . menyeruak dinding. Aku turun dengan kepalan , merah gaunku, merah pikirku. Duduk duduk aku tak mau menunduk. Lonceng yang lama menghilang, kembali dibunyikan, diambil dari gudang gelap rumah. Lagu sembilan puluhan diputar diruamh berulangkali, aku jatuh cinta dengan romansa.
Beberapa adalah tentang yang bernama dukungan yang membuat hati ini berbicara banyak. Kau tahu, dimana letaknya hati? aku entah. Aku berjalan mendekati tembok coklat, dimana aibuku suka menyuapi aku ketika kecil. Aku merengek meminta kecap coklat untuk nasi putih diatasnya.
Aku pura-pura suka bayangan, aku tertawa didepan cermin, lugu. aku tahu itu setan. Setan yang berhamburan dalam kalap. Aku menawar dengan ragu berulangkali. Apa yang akan dikatakan hatiku? hati tidak terletak didada, hati terletak menyatu disemuanya. Perbincangan yang berhati-hati adalah palsu, aku mulai tahu tentang luka yang ditorehkan dalam lonceng yang diambil mendadak dari gudang rumah, yang sebelumnya tergeletak entah dalam gelap.


BUNYI

Bunyi itu lalu lalang, menelponku. Berulangkali menanyakan apakah aku siap atau tidak ? aku menyatu kataku. Dua diantaranya adalah aku melaju dengan sadarku.

Solo, 2 November 2009

No comments: