28.11.09

Perundingan Babak Kedua


Merapal mantra di dapur, mengumpulkan daging reruntuhan, tanpa mata aku mengambil kenangan aroma lelaki yang aku persiapkan. Lelaki lelaki hidup kembali. Tentang rintihan yang gelegar . Kau berkumandang mengucapkan salam kehormatan, menjunjung agama rekat yang katanya kau simpan rekat, kantong kantong bergetar. Itu tandanya luka belum begitu sembuh betul.Lalu aku menyiapkan minuman, di dapur. Tubuh tubuh lelaki di masukkan dalam kotak, darah berceceran. Teringat tentang perjanjian yang diucapkan di depan altar. silam.
Kelembutan memuncak dengan waktu yang selalu dipertanyakan. Semakin riuh. Perundingan ini seperti kedipan mata yang entah terhitung, meleleh dalam kecupan berjuta resahan minuman basi yang kau simpan di kolong tempat tidur. Aku melumat jari-jari , aku merekammu dalam lusuh pertama, tentang detik hambur, siulan kabur, dendang liur. Jari melumat jari melumat tubuh rekaman yang menjalar cepat ke jantung, aku berbincang dengan cakra-cakra bersemayam lama .Aku menepi, bersandar jendela yang membuka cakra. Duniaku speerti memasuki lingkaran lingkaran berulang-ulang, apa itu labirin? aku hanya membaca seperti pengulangan bualan .
Kotak-kotak aku buka dari mesin pendingin, merah daging lelaki yang aku simpan di kotak-kotak berteriak, darah darah menetes merambat ke jari-jariku yang telah aku lumat. Merekam kenangan, perundingan akan dimulai, melekat aku mempersiapkan peralatan -peralatan, bukan untuk membunuhmu sayang, aku ingin memasakmu. ini kesenanganku, bukan kewajibanku. Aku dengar rintihanmu di kotak itu, tetes tetes merah ke jari jari , setelah aku lumat. Aku siap untuk perundingan selanjutnya , sayang.
buka kotak-kotak dengan doa yang terpejam, aku tidak tahu berdoa kepada siapa, aku diam saja, pura pura menggenggam tangan, mengusap kemuka. Aku buka kotak kotak berisi daging daging lelaki, aku memasak, aku ingin memasak kesenangan.
Sayup suara menghujat jemari jemari yang aku lumat, aku bunyi sendiri, siulan kabur, mulai menghambur. Pertama, kedua, ketiga, keempat, keentah yang keberapa aku mulai merapal mantra di dapur, mengumpulkan daging reruntuhan, tanpa mata aku mengambil kenangan aroma lelaki yang aku persiapkan. Lelaki lelaki hidup kembali. Tentang rintihan yang gelegar . Kau berkumandang mengucapkan salam kehormatan, menjunjung agama rekat yang katanya kau simpan rekat, kantong kantong bergetar. Itu tandanya luka belum begitu sembuh betul.Lalu siap aku dengar petualangan yang kesekian kali, bualan kesekian kali, kitab kesekian kali. Aku berdoa, berpura-pura menutup mata, entah berdoa kepada siapa, lalu mengusapkan ke muka.

Solo, 23 November 2009

No comments: