5.11.09

Perjanjian pensil


Menyukai pensil untuk menulis di kertas yang kadang tidak putih, kertas bekas nota belanja, kertas kertas yang tercecer di sampah dapur ibuku, aku ambil aku coret dengan pensil kesukaanku. Pensil berwarna coklat, tidak runcing dan tidak ada motif apapun. Pensil itu suka sekali meminta senyuman dari orang-orang baru yang aku temui, kalau tidak dia akan mengutuk aku menjadi bola bola yang memutar di atas genting, melapisi rumah, tak bisa kembali ke peradaban pensil yang ia ciptakan dalam pesta lembayung tahun lalu. Jadi pesta itu semacam aku memojok diruang seperti gudang dirumah, aku kumpulkan kertas kertas tercecer , aku membuat perjanjian dengan pensil itu. Jika aku tak menuliskannya, aku akan menjadi bola bola kecil memutar seperti ketika aku sedang pening.
Kemudian lambat laun aku mulai membuat perjanjian dengan pensil, ketika aku mengenal wajah rusa di kebun rusa mati dekat kampungku, aku mulai mengambil kertas dan akumenulis beberapa kata untuk rusa itu, aku membuat perjanjian terbatas dengan rusa, pensil dan kertas.Aku pulang meletakkannya dirumah, beberapa tahun kemudian aku tak tahu dimana gambar-gambar itu, aku dipanggil rusa dimalam hari. Seperti diketuk ketuk kulitku. Jadi aku berbincang dengan saudara perempuan tentang rusa sebelum menghadiri pernikahan seorang temannya di ruang gereja, aku mencarinya diruang itu. Aku putus asa, sempat patah dengan janji pensil, kertas dan rusa, aku patah. Begitu saja.Meninggalkan ruang dengan detak jantung luar biasa, dia menyentuhku, dia muncul dalam liotin kalung ibu berwajah entah. Oh itu, aku tahu perjanjian pensilku tidak terpatahkan sampai sekarang. Aku tidak heran.
Perjanjian pensil yang kedua adalah ketika ayahku mengajakku ke ladang dekat rumah, dia mengenalkanku dengan jagung ketika aku berusia entah, aku belum bersekolah. Aku jatuh cinta dengan jagung. Aku pulang mengambil pensil di saku tas, aku menggambar jagung dikertas bekas nota belanja ibu, aku menaruh dirumah, beberapa tahun kemudian aku lupa entah. Aku terlupa dengan jagung, ketika seorang teman perempuan yang mencintaiku mengirimkan surat , aku lupa kata-kata , seperti aku tak bisa membaca, aku merayap gambar kartun jagung kuning di suratnya, sejak itu aku ingat dengan perjanjian pensil, kertas dan jagung.
Perjanjian pensil yang ketiga adalah dengan angka-angka, ketika sore hari, aku kelas tiga SD, ayahku mengajar matematika, aku menangis, aku tak suka matematika. Ayahku mengambil lidi dan mulai mendongeng tentang lidi cacingan, aku mendengarkan, aku suka dengan cerita itu. Baru aku sadar, dulu ayahku menyisipkan hitungan hitungan angka dalam dongennya. Aku jatuuh cinta dengan angka-angka, sampai sekarang angka-angka menyapaku dimana-mana, seperti menyapa, menguak kenangan lamaku.
Perjanjian pensil ini tersimpan dalam tubuhku, aku menyukai pensil untuk menulis di kertas yang kadang tidak putih, kertas bekas nota belanja, kertas kertas yang tercecer di sampah dapur ibuku, aku ambil aku coret dengan pensil kesukaanku.

Tria Nin, 5 November 2009

No comments: