29.11.09

Beberapa ingatan : jalan-jalan


beberapa ingatan datang melayang , duduk di meja kerja seorang teman , lagu lagu yang sama terulang beberapa kali, aku menggigil dengan sedikit geram teringat jalan jalan yang sering aku lalui ketika kecil. Aku akan menyisihkan beberapa gambaran pikiran yang ada sekarang. Setelah semalam menempuh jalan menuju tempat aku meditasi, aku datang dengan kemalasan luar biasa, film film tertahan di komputer mati. aku lalui jalan jalan, coklat basah habis hujan. Pikiranku sibuk dengan aroma di sekeliling pecinan, tubuh babi gurih, aku lahap dipikiran. aku lurus saja, pikirku. Tadi malam.
Pukul tujuh malam lebih entah aku sampai di depan vihara, aku menepi . Merekatkan kedua tangan membentuk segitiga, aku tersenyum menemui beberapa teman. Perbincangan senyuman datang , aku duduk sebentar. Mudra jari jari rahasia terekat diatas dua kaki sila. Mata terpejam, tubuh tubuh mulai bicara tentang jalan jalan, kebingungan, kesal .Ini sakit.
Film dimulai, kakiku menginjak jalan tanah penuh rumput hijau, sebelah barat aku bersekolah dasar. Aku memakai topi lingkaran berwarna hitam, topi dari ibu ketika aku berusia 9 tahun. Aku suka sekali jalan-jalan di tanah barat itu, basah rumput aku bermain dengan topi. Menangkap bayang-bayang di jalan, sampai sore . Oh itu matahari membentuk lingkaran topi topi bayang. Aku teringat suryanamaskara yang aku lakukan di kamar kecilku , tanpa jendela. Hanya dua lobang persegi panjang di dinding kamar, aku dengar lenguhan kebun mati , tumbuhan liar yang beradu padu pada sore hari. Gelap jalan merayap, jalan jalan kedua yang aku lalui adalah di pemberhentian bis dekat rumah, aku menunggu berjam-jam , aku terburu-buru, wajah garang sopir berkumis tebal menarik mataku membaca kerut dahi senyum tebal, aku di pagi itu jalan-jalan.
Jalan-jalan aroma keringat , membaur dalam perjalananku bertemu dengan orang-orang yang sama di setiap harinya, di bis, angkutan yang sama jam yang sama. Tanpa aku tahu namanya. Kami berbincang dengan tubuh tubuh anggukan, senyuman entah murni atau palsu. Aku tidak bisa mengartikan. Semesta di pulung hati ketiga mengajak aku jalan jalan mengunjungi pekat gelap pemakaman nenek, aku sembunyi di dekat pohon pohon besar, ayah berdoa disana, ibu sibuk dengan bunga-bunga. Aku mengintip, ayah memanggil, aku menggigil.
aku remaja, jatuh cinta dengan jalan jalan besar, seribu perak mengantarkan aku ke jalan-jalan yang aku mau. Aku naik bis tingkat kota, aku naik ke atas sendiri, lelaki perempuan berkasih sayang, bermanjaan, aku duduk menepi, melihat langit dari bis tingkat jinjit. Berulang-ulang kali aku lakukan, aku bertemu kekasih kekasih haus , bapak bapak dahi berkerut, ibu tersenyum harum, tubuh tubuh berbicara , energi energi bicara. Aku suka perjalanan ini melebihi apapun, lebih baik seperti ini daripada reuni dengan perbincangan basa basi.
jalan-jalan, pengamen pengamen muka sama, muka berbeda berlalu lalang.Terayun kaki dengan berat badan ringan, haus pupus keringat asinku. Bibir kelu, lampu lampu tiga warna yang menguntit sejarah perbandingan. Aku tidak sudi berhenti, mana kuda kuda? .Aku menerjang jalang. Jalan jalan membungkus aroma, keringat , kata-kata, pikiran-pikiran. Melingkar lingkar seperti topi kesukaanku, melingkar lingkar menuju pertemuan yang entah keberapa. Film hidup dengan sendirinya di dalam kepala. Sudah berapa lama entah, malam bertemu jalan jalan melingkar, tubuh tubuh dzat yang terungkap, film memutar sendiri . beberapa ingatan datang melayang, Merekatkan kedua tangan membentuk segitiga, aku tersenyum menemui beberapa teman. Perbincangan senyuman datang , aku duduk sebentar. Mudra jari jari rahasia terekat diatas dua kaki sila. Mata terpejam, tubuh tubuh mulai bicara tentang jalan jalan, kebingungan, kesal .Ini sakit.Beberapa ingatan datang sampai mendekati pukul sembilan. Seperti lingkaran topi dari ibu ketika aku berusia sembilan.

Solo, 28 november 2009

No comments: