5.11.09

Anjingku berpesta di belakang rumah


Aku membasuh mukaku, setelah melaksanakan pertemuan dengan anjing anjing yang lucu di kebun belakang rumah. Riuh kawin menggesek kulit pohon kerontang , remahnya membaur udara sore. Langit tidak selalu biru, aku mencium keluguan bau tubuhmu jauh dari jarak yang ditawarkan oleh tubuhmu. Kopi hitam ditangan, rapal mantra di dada. Aku tertawa merayap sore ini dengan merestui anjing di kebun belakang untuk pesta tubuh .Oh ini tidak ada surat ribet apapun untuk mengesahkan pesta tubuh untuk itu. Aku tersenyum, mengulum kopi hitam, dada oh dada. Dada berjalan dimana-mana.
Hidungku kelayapan, menikmati remah coklat tanah, kulit anjing coklat, cium kopi hitam, cium udara rapal energi yang begitu rayu . Aku melakukannya sendiri. Aku tidak perlu mendekat untuk menciummu, aku terpejam, merapikan restu, merapalkan energi itu. Aku di tubuhmu. Sementara yang lain berjejalan dengan hukum-hukum yang tak tahu rimbanya, bagaimana kalau kita mencipta etika di kebun belakang rumahku ?
Menyaksikan anjing pesta tubuh, menggesek kulitnya di tubuh pohon kuning kerontang, pohon tidak selamanya hijau, sayang. Dia menari, aku berapi dalam genggaman rapal. Aku menyebutnya penyatuan energi.
Kau tertawa, aku tak peduli, aku ambil kitabku sendiri dari lemari coklat usiaku yang membelah dadamu, dalam lingkaran pali. Aku merayumu , tidak perlu mendekatimu, menyentuh kulitmu. Kau tahu ? aku mampu melakukannya sendiri dengan perbincangan dan ciuman udara dada di kebun belakang rumah, di iringi lolongan anjing yang menggertak duniamu.Aku membaca kitabku sendiri, aku menyanyi sendiri, aku merapal sendiri. Aku bisa saja menciptakan konsep lelah atau tidak lelah. Tapi aku tak pernah membutuhkan itu.
Yang aku butuhkan adalah mencium kopi hitam, seperti aku mencolek tubuhmu untuk secangkir bir hitam untuk upacara soreku. Lalu dadaku menggetak riuh, gaun kesayanganku menari sendiri, tubuhku diam, gaunku tak mau layu. Upacara sore dengan diriku siap dimulai di kebun belakang rumah. Seperti aku menyaksikan pesta tubuh anjingku di kebun belakang, aku tidak tahan dengan kenangan yang memuncak. Aku siram kopi tubuhmu, anjing. Kau semakin bergejolak, aku teriak, aku tak bisa bungkam dengan kenangan yang bernomor 8, 11, lalu merapal dugaan untuk rumah.
Aku menoleh ke belakang, hidungku merayap bau kue kering dari dapur ibuku, Aku ingin lari saja dari upacara sore. Hai anjing, lanjutkan pesta tubuhmu, aku akan masuk kamar, kau tau ? aku tak perlu mendekat untuk menciummu.
Tiba-tiba kakiku seperti terikat kuat masuk ke dalam tanah, sedangkan anjing terus saja berpesta demi tubuhnya sendiri, aku mencium kue kering dari dapur ibu, bir hitam tak jauh dari rumah megah, ampas kopi hitam di tangan, bau anyir menstruasi tubuhku, remah coklat yang gurih di hidungku. Aku tak bisa masuk ke kamarku. aku pejam, atas langit semakin gelap, pertanda akan hujan ?
Oh ini yang diinginkan anjingku, pesta akan menjadi seru, dia akan bertemu dengan dewi dewi , merayap sayap-sayap, penciumanku dimulai, pikiran pikiran pesta, anjingku berpesta, tubuh coklat semakin riuh. Aku membasuh mukaku, setelah melaksanakan pertemuan dengan anjing anjing yang lucu di kebun belakang rumah.

Tria Nin, Solo, 5 November 2009

No comments: