29.11.09

Selasa setelah menara


Om Bhur Bhuvah Svah, Tat Savitur Varenyam, Bhargo Devasya Dhimahi, Dhiyo Yo Nah Prachodayat


Aku berbincang, mudra rahasia membuka lipatan lipatan kenangan dalam kesadaran senja



tanah , air, udara, api meresap dalam tubuh . sabbe satta bhavantu sukhitatta :)


Photographed by Alfonsus lisnanto gathi

The Solitaire Mystery



If just one of [those people] experiences life as a crazy adventure--and I mean that he, or she, experiences this every single day... Then he or she is a joker in a pack of cards.



As long as we are children, we have the ability to experience things around us - but then we grow used to the world. To grow up is to get drunk on sensual experience.

a sensation is always the same as a piece of news, and a piece of news never lives long.

inspirations from Jostein gaarder.
Photographed by Alfonsus Lisnanto gathi

Memilih tiga


Kami bisa saja menjadi lima, kami bisa saja menjadi empat, kami bisa saja menjadi satu,dua, ganjil atau genap.

Ini adalah keputusan dan kami memilih tiga. Dalam berbagai kasus dalam Alkitab, aku teringat seperti dalam menyatakan Allah Tritunggal yaitu Bapa, Putra dan Roh Kudus memiliki kaitan erat dengan angka tiga dimana angka tiga sendiri yang digunakan untuk menyatakan Allah Tritunggal.

Aku seperti bertemu tiga orang majus yang membawa tiga persembahan untuk bayi Yesus, Tuhan Yesus bangkit pada hari yang ketiga, pada waktu berdoa di taman getsemani Yesus membawa tiga orang murid-Nya (Petrus dan kedua anak Zebedeus) dan Yesus berdoa sebanyak tiga kali (Mat 26:36-46), Petrus menyangkal Yesus tiga kali sebelum ayam berkokok (Mat 26:34), Tuhan Yesus disalib bersama dua orang penyamun jadi pada waktu itu total ada tiga orang yang disalib, makhluk Sorgawi memuji Tuhan dengan tiga kali kata kudus yaitu "yang sudah ada, yang ada dan yang akan datang".Ya ya ya itu adalah semacamnya, Tiga adalah seperti minum obat tiga kali sehari, makan tiga kali sehari, sms tiga kali sehari, siaran tiga kali sehari, toilet tiga kali sehari atau atau atau kau bisa saja membuat cerita semacamnya yang serba tiga sesuai selera.

Beberapa ingatan : jalan-jalan


beberapa ingatan datang melayang , duduk di meja kerja seorang teman , lagu lagu yang sama terulang beberapa kali, aku menggigil dengan sedikit geram teringat jalan jalan yang sering aku lalui ketika kecil. Aku akan menyisihkan beberapa gambaran pikiran yang ada sekarang. Setelah semalam menempuh jalan menuju tempat aku meditasi, aku datang dengan kemalasan luar biasa, film film tertahan di komputer mati. aku lalui jalan jalan, coklat basah habis hujan. Pikiranku sibuk dengan aroma di sekeliling pecinan, tubuh babi gurih, aku lahap dipikiran. aku lurus saja, pikirku. Tadi malam.
Pukul tujuh malam lebih entah aku sampai di depan vihara, aku menepi . Merekatkan kedua tangan membentuk segitiga, aku tersenyum menemui beberapa teman. Perbincangan senyuman datang , aku duduk sebentar. Mudra jari jari rahasia terekat diatas dua kaki sila. Mata terpejam, tubuh tubuh mulai bicara tentang jalan jalan, kebingungan, kesal .Ini sakit.
Film dimulai, kakiku menginjak jalan tanah penuh rumput hijau, sebelah barat aku bersekolah dasar. Aku memakai topi lingkaran berwarna hitam, topi dari ibu ketika aku berusia 9 tahun. Aku suka sekali jalan-jalan di tanah barat itu, basah rumput aku bermain dengan topi. Menangkap bayang-bayang di jalan, sampai sore . Oh itu matahari membentuk lingkaran topi topi bayang. Aku teringat suryanamaskara yang aku lakukan di kamar kecilku , tanpa jendela. Hanya dua lobang persegi panjang di dinding kamar, aku dengar lenguhan kebun mati , tumbuhan liar yang beradu padu pada sore hari. Gelap jalan merayap, jalan jalan kedua yang aku lalui adalah di pemberhentian bis dekat rumah, aku menunggu berjam-jam , aku terburu-buru, wajah garang sopir berkumis tebal menarik mataku membaca kerut dahi senyum tebal, aku di pagi itu jalan-jalan.
Jalan-jalan aroma keringat , membaur dalam perjalananku bertemu dengan orang-orang yang sama di setiap harinya, di bis, angkutan yang sama jam yang sama. Tanpa aku tahu namanya. Kami berbincang dengan tubuh tubuh anggukan, senyuman entah murni atau palsu. Aku tidak bisa mengartikan. Semesta di pulung hati ketiga mengajak aku jalan jalan mengunjungi pekat gelap pemakaman nenek, aku sembunyi di dekat pohon pohon besar, ayah berdoa disana, ibu sibuk dengan bunga-bunga. Aku mengintip, ayah memanggil, aku menggigil.
aku remaja, jatuh cinta dengan jalan jalan besar, seribu perak mengantarkan aku ke jalan-jalan yang aku mau. Aku naik bis tingkat kota, aku naik ke atas sendiri, lelaki perempuan berkasih sayang, bermanjaan, aku duduk menepi, melihat langit dari bis tingkat jinjit. Berulang-ulang kali aku lakukan, aku bertemu kekasih kekasih haus , bapak bapak dahi berkerut, ibu tersenyum harum, tubuh tubuh berbicara , energi energi bicara. Aku suka perjalanan ini melebihi apapun, lebih baik seperti ini daripada reuni dengan perbincangan basa basi.
jalan-jalan, pengamen pengamen muka sama, muka berbeda berlalu lalang.Terayun kaki dengan berat badan ringan, haus pupus keringat asinku. Bibir kelu, lampu lampu tiga warna yang menguntit sejarah perbandingan. Aku tidak sudi berhenti, mana kuda kuda? .Aku menerjang jalang. Jalan jalan membungkus aroma, keringat , kata-kata, pikiran-pikiran. Melingkar lingkar seperti topi kesukaanku, melingkar lingkar menuju pertemuan yang entah keberapa. Film hidup dengan sendirinya di dalam kepala. Sudah berapa lama entah, malam bertemu jalan jalan melingkar, tubuh tubuh dzat yang terungkap, film memutar sendiri . beberapa ingatan datang melayang, Merekatkan kedua tangan membentuk segitiga, aku tersenyum menemui beberapa teman. Perbincangan senyuman datang , aku duduk sebentar. Mudra jari jari rahasia terekat diatas dua kaki sila. Mata terpejam, tubuh tubuh mulai bicara tentang jalan jalan, kebingungan, kesal .Ini sakit.Beberapa ingatan datang sampai mendekati pukul sembilan. Seperti lingkaran topi dari ibu ketika aku berusia sembilan.

Solo, 28 november 2009

28.11.09

Perundingan Babak Kedua


Merapal mantra di dapur, mengumpulkan daging reruntuhan, tanpa mata aku mengambil kenangan aroma lelaki yang aku persiapkan. Lelaki lelaki hidup kembali. Tentang rintihan yang gelegar . Kau berkumandang mengucapkan salam kehormatan, menjunjung agama rekat yang katanya kau simpan rekat, kantong kantong bergetar. Itu tandanya luka belum begitu sembuh betul.Lalu aku menyiapkan minuman, di dapur. Tubuh tubuh lelaki di masukkan dalam kotak, darah berceceran. Teringat tentang perjanjian yang diucapkan di depan altar. silam.
Kelembutan memuncak dengan waktu yang selalu dipertanyakan. Semakin riuh. Perundingan ini seperti kedipan mata yang entah terhitung, meleleh dalam kecupan berjuta resahan minuman basi yang kau simpan di kolong tempat tidur. Aku melumat jari-jari , aku merekammu dalam lusuh pertama, tentang detik hambur, siulan kabur, dendang liur. Jari melumat jari melumat tubuh rekaman yang menjalar cepat ke jantung, aku berbincang dengan cakra-cakra bersemayam lama .Aku menepi, bersandar jendela yang membuka cakra. Duniaku speerti memasuki lingkaran lingkaran berulang-ulang, apa itu labirin? aku hanya membaca seperti pengulangan bualan .
Kotak-kotak aku buka dari mesin pendingin, merah daging lelaki yang aku simpan di kotak-kotak berteriak, darah darah menetes merambat ke jari-jariku yang telah aku lumat. Merekam kenangan, perundingan akan dimulai, melekat aku mempersiapkan peralatan -peralatan, bukan untuk membunuhmu sayang, aku ingin memasakmu. ini kesenanganku, bukan kewajibanku. Aku dengar rintihanmu di kotak itu, tetes tetes merah ke jari jari , setelah aku lumat. Aku siap untuk perundingan selanjutnya , sayang.
buka kotak-kotak dengan doa yang terpejam, aku tidak tahu berdoa kepada siapa, aku diam saja, pura pura menggenggam tangan, mengusap kemuka. Aku buka kotak kotak berisi daging daging lelaki, aku memasak, aku ingin memasak kesenangan.
Sayup suara menghujat jemari jemari yang aku lumat, aku bunyi sendiri, siulan kabur, mulai menghambur. Pertama, kedua, ketiga, keempat, keentah yang keberapa aku mulai merapal mantra di dapur, mengumpulkan daging reruntuhan, tanpa mata aku mengambil kenangan aroma lelaki yang aku persiapkan. Lelaki lelaki hidup kembali. Tentang rintihan yang gelegar . Kau berkumandang mengucapkan salam kehormatan, menjunjung agama rekat yang katanya kau simpan rekat, kantong kantong bergetar. Itu tandanya luka belum begitu sembuh betul.Lalu siap aku dengar petualangan yang kesekian kali, bualan kesekian kali, kitab kesekian kali. Aku berdoa, berpura-pura menutup mata, entah berdoa kepada siapa, lalu mengusapkan ke muka.

Solo, 23 November 2009

teror perempuan


Bukankah orang-orang mulai menghertakmu dengan tanda tanya yang biasa saja, kenapa kamu menghertak dengan taring yang luluh, seakan akan apelmu dihilang oleh makhluk asing jahat. aku di halaman menciptakan kota kota , menjalar dalam kenang. Aku tahu itu hanyalah sepasang mata mata yang siap kamu pasang di rentetan kitab. Aku ingat tentang kesepakatan kitab yang kau tawarkan di sore mendung bernama . kau tahu? aku tidak tertarik sama sekali. Luluh jalan petang menghambat , lajang selangkangan dunia , menghidupkan udara yang begitu penuh. Aku diam diam mencium kulitmu, lewat udara. Aku bersaksi, kamu bisa tuli.Walaupun aku diam luruh. Duniaku membuka, rangsang tentang jala-jala liar yang aku ciptakan dihalaman bernama. Suasana petang yang ingin kau tawarkan tidak menarik perhatianku untuk melalui jembatan itu, Kau tahu. aku belum benar beranjak, menelpon gusar pun aku anggap aja isapan tentang mata-mata. Jadi kau mata-mata? aku tidak setuju. pohon mata-mata, jala mata-mata, rumput pun juga tidak bergoyang. Riang, perlahan aku mengalihkan perhatian dengan ribuan ciuman yang kita ciptakan di jalan, di dapur , di perempatan jalan, di gedung gedung bertingkat yang membuat kita berjingkat. Kau sesak, aku telak. Aku menghujam tubuhmu , mulut rumah yang kalam. Lama sekali perbandingan ini. Keinginan-keinginan yang orang-orang menyebut sampah, tentang persepsi siapa ? , Di suatu sore, kau mengenggam tangan, aku telak, aku membuka dada. karma-karma beterbangan menghujam luka, aku menelpon kegusaranmu, Sore, mendung, senja bukan yang aku harapkan. Mata sayu, perempuan dengan dada penuh karma berlalu, mengenggam lukamu. mencium kepastian tak terelakkan. Kitab-kitab tergeletak pekat di dapur, aku menghujam pisau untukmu, kulempar tepat di pintumu. Dada terbuka, karma terbuka. Darah bersama. Siapa yang berjumpa dengan titik yang berjumpa dengan luapan lenguhan yang panjang, di jantung malam, Dalam suka yang berkelebat bayang. Kematian-kematian itu berjalan pelan , lekat dengan duduk yang peluh. Bahkan mata mata itu membungkam, dada karma raga rapuh, langit tak lagi berwarna yang kau inginkan. Ragu-ragu bermula dari isapan jempol yang membuat duniamu menjadi batu. Perempuan perempuan dengan pisau dimata, diam mengenggam bergumam bodhisatva , Katakanlah jika itu adalah halaman yang terciptakan dengan peluh. She's boddhisatva .

5.11.09

Perjanjian pensil


Menyukai pensil untuk menulis di kertas yang kadang tidak putih, kertas bekas nota belanja, kertas kertas yang tercecer di sampah dapur ibuku, aku ambil aku coret dengan pensil kesukaanku. Pensil berwarna coklat, tidak runcing dan tidak ada motif apapun. Pensil itu suka sekali meminta senyuman dari orang-orang baru yang aku temui, kalau tidak dia akan mengutuk aku menjadi bola bola yang memutar di atas genting, melapisi rumah, tak bisa kembali ke peradaban pensil yang ia ciptakan dalam pesta lembayung tahun lalu. Jadi pesta itu semacam aku memojok diruang seperti gudang dirumah, aku kumpulkan kertas kertas tercecer , aku membuat perjanjian dengan pensil itu. Jika aku tak menuliskannya, aku akan menjadi bola bola kecil memutar seperti ketika aku sedang pening.
Kemudian lambat laun aku mulai membuat perjanjian dengan pensil, ketika aku mengenal wajah rusa di kebun rusa mati dekat kampungku, aku mulai mengambil kertas dan akumenulis beberapa kata untuk rusa itu, aku membuat perjanjian terbatas dengan rusa, pensil dan kertas.Aku pulang meletakkannya dirumah, beberapa tahun kemudian aku tak tahu dimana gambar-gambar itu, aku dipanggil rusa dimalam hari. Seperti diketuk ketuk kulitku. Jadi aku berbincang dengan saudara perempuan tentang rusa sebelum menghadiri pernikahan seorang temannya di ruang gereja, aku mencarinya diruang itu. Aku putus asa, sempat patah dengan janji pensil, kertas dan rusa, aku patah. Begitu saja.Meninggalkan ruang dengan detak jantung luar biasa, dia menyentuhku, dia muncul dalam liotin kalung ibu berwajah entah. Oh itu, aku tahu perjanjian pensilku tidak terpatahkan sampai sekarang. Aku tidak heran.
Perjanjian pensil yang kedua adalah ketika ayahku mengajakku ke ladang dekat rumah, dia mengenalkanku dengan jagung ketika aku berusia entah, aku belum bersekolah. Aku jatuh cinta dengan jagung. Aku pulang mengambil pensil di saku tas, aku menggambar jagung dikertas bekas nota belanja ibu, aku menaruh dirumah, beberapa tahun kemudian aku lupa entah. Aku terlupa dengan jagung, ketika seorang teman perempuan yang mencintaiku mengirimkan surat , aku lupa kata-kata , seperti aku tak bisa membaca, aku merayap gambar kartun jagung kuning di suratnya, sejak itu aku ingat dengan perjanjian pensil, kertas dan jagung.
Perjanjian pensil yang ketiga adalah dengan angka-angka, ketika sore hari, aku kelas tiga SD, ayahku mengajar matematika, aku menangis, aku tak suka matematika. Ayahku mengambil lidi dan mulai mendongeng tentang lidi cacingan, aku mendengarkan, aku suka dengan cerita itu. Baru aku sadar, dulu ayahku menyisipkan hitungan hitungan angka dalam dongennya. Aku jatuuh cinta dengan angka-angka, sampai sekarang angka-angka menyapaku dimana-mana, seperti menyapa, menguak kenangan lamaku.
Perjanjian pensil ini tersimpan dalam tubuhku, aku menyukai pensil untuk menulis di kertas yang kadang tidak putih, kertas bekas nota belanja, kertas kertas yang tercecer di sampah dapur ibuku, aku ambil aku coret dengan pensil kesukaanku.

Tria Nin, 5 November 2009

Anjingku berpesta di belakang rumah


Aku membasuh mukaku, setelah melaksanakan pertemuan dengan anjing anjing yang lucu di kebun belakang rumah. Riuh kawin menggesek kulit pohon kerontang , remahnya membaur udara sore. Langit tidak selalu biru, aku mencium keluguan bau tubuhmu jauh dari jarak yang ditawarkan oleh tubuhmu. Kopi hitam ditangan, rapal mantra di dada. Aku tertawa merayap sore ini dengan merestui anjing di kebun belakang untuk pesta tubuh .Oh ini tidak ada surat ribet apapun untuk mengesahkan pesta tubuh untuk itu. Aku tersenyum, mengulum kopi hitam, dada oh dada. Dada berjalan dimana-mana.
Hidungku kelayapan, menikmati remah coklat tanah, kulit anjing coklat, cium kopi hitam, cium udara rapal energi yang begitu rayu . Aku melakukannya sendiri. Aku tidak perlu mendekat untuk menciummu, aku terpejam, merapikan restu, merapalkan energi itu. Aku di tubuhmu. Sementara yang lain berjejalan dengan hukum-hukum yang tak tahu rimbanya, bagaimana kalau kita mencipta etika di kebun belakang rumahku ?
Menyaksikan anjing pesta tubuh, menggesek kulitnya di tubuh pohon kuning kerontang, pohon tidak selamanya hijau, sayang. Dia menari, aku berapi dalam genggaman rapal. Aku menyebutnya penyatuan energi.
Kau tertawa, aku tak peduli, aku ambil kitabku sendiri dari lemari coklat usiaku yang membelah dadamu, dalam lingkaran pali. Aku merayumu , tidak perlu mendekatimu, menyentuh kulitmu. Kau tahu ? aku mampu melakukannya sendiri dengan perbincangan dan ciuman udara dada di kebun belakang rumah, di iringi lolongan anjing yang menggertak duniamu.Aku membaca kitabku sendiri, aku menyanyi sendiri, aku merapal sendiri. Aku bisa saja menciptakan konsep lelah atau tidak lelah. Tapi aku tak pernah membutuhkan itu.
Yang aku butuhkan adalah mencium kopi hitam, seperti aku mencolek tubuhmu untuk secangkir bir hitam untuk upacara soreku. Lalu dadaku menggetak riuh, gaun kesayanganku menari sendiri, tubuhku diam, gaunku tak mau layu. Upacara sore dengan diriku siap dimulai di kebun belakang rumah. Seperti aku menyaksikan pesta tubuh anjingku di kebun belakang, aku tidak tahan dengan kenangan yang memuncak. Aku siram kopi tubuhmu, anjing. Kau semakin bergejolak, aku teriak, aku tak bisa bungkam dengan kenangan yang bernomor 8, 11, lalu merapal dugaan untuk rumah.
Aku menoleh ke belakang, hidungku merayap bau kue kering dari dapur ibuku, Aku ingin lari saja dari upacara sore. Hai anjing, lanjutkan pesta tubuhmu, aku akan masuk kamar, kau tau ? aku tak perlu mendekat untuk menciummu.
Tiba-tiba kakiku seperti terikat kuat masuk ke dalam tanah, sedangkan anjing terus saja berpesta demi tubuhnya sendiri, aku mencium kue kering dari dapur ibu, bir hitam tak jauh dari rumah megah, ampas kopi hitam di tangan, bau anyir menstruasi tubuhku, remah coklat yang gurih di hidungku. Aku tak bisa masuk ke kamarku. aku pejam, atas langit semakin gelap, pertanda akan hujan ?
Oh ini yang diinginkan anjingku, pesta akan menjadi seru, dia akan bertemu dengan dewi dewi , merayap sayap-sayap, penciumanku dimulai, pikiran pikiran pesta, anjingku berpesta, tubuh coklat semakin riuh. Aku membasuh mukaku, setelah melaksanakan pertemuan dengan anjing anjing yang lucu di kebun belakang rumah.

Tria Nin, Solo, 5 November 2009

2.11.09

Upacara pemakaman : bunyi

Orang-orang berdatangan di dekat pagar, aku di berdiri tak jauh dari itu, mengenakan gaun merah , dengan kalung kepala rusa, jika aku resah, aku akan menyentuh kepala rusa itu , sentuh saja. Berulang kali. Upacara pemakaman dan gaun merahku, aku berjalan pelan mendekati tembok coklat, dulu ibuku suka menyuapi didekat itu, di suatu sore.
Orang-orang berdatangan, menyalami ibuku, wajah wajah yang ditekuk duduk duduk di kursi menunduk. Orang-orang berdatangan, menyalami ibuku di awal bulan juni kelahiranku.
Aku menarik kepala rusa kedekat jantungku. Aku detak. Melanglang buana dengan dugaan yang lalu lalang di kepala. Pertanyaan yang tak perlu dijawab, datang menyapu angin mukaku. Lalu aku mulai bergandengan tangan, aku belajar mengenai menunduk di acara pemakaman rumahku. Hari itu adalah upacara pemakaman kedua yang aku tahu dirumahku.
Dinding yang mulai basah dengan dugaan, cerita adalah tentang khawatir . menyeruak dinding. Aku turun dengan kepalan , merah gaunku, merah pikirku. Duduk duduk aku tak mau menunduk. Lonceng yang lama menghilang, kembali dibunyikan, diambil dari gudang gelap rumah. Lagu sembilan puluhan diputar diruamh berulangkali, aku jatuh cinta dengan romansa.
Beberapa adalah tentang yang bernama dukungan yang membuat hati ini berbicara banyak. Kau tahu, dimana letaknya hati? aku entah. Aku berjalan mendekati tembok coklat, dimana aibuku suka menyuapi aku ketika kecil. Aku merengek meminta kecap coklat untuk nasi putih diatasnya.
Aku pura-pura suka bayangan, aku tertawa didepan cermin, lugu. aku tahu itu setan. Setan yang berhamburan dalam kalap. Aku menawar dengan ragu berulangkali. Apa yang akan dikatakan hatiku? hati tidak terletak didada, hati terletak menyatu disemuanya. Perbincangan yang berhati-hati adalah palsu, aku mulai tahu tentang luka yang ditorehkan dalam lonceng yang diambil mendadak dari gudang rumah, yang sebelumnya tergeletak entah dalam gelap.


BUNYI

Bunyi itu lalu lalang, menelponku. Berulangkali menanyakan apakah aku siap atau tidak ? aku menyatu kataku. Dua diantaranya adalah aku melaju dengan sadarku.

Solo, 2 November 2009