10.10.09

Sacramentum (untuk rusa)

Menghadiri pernikahan di gereja pinggir kota

Aku mulai menuju gereja di pinggir kota, aku bersama kakakku yang perempuan berjalan menuju kesana. Kami memilih pelan, lalu lintas padat membuat pening kepala. Kami berbincang tiada henti, di luar pesta motor mobil klakson bersahutan.


AKU

Kakak memilih pelan, perjalanan padat merayap, kami pelan, Aku teringat rusa tertempel di dinding gereja, pikiran ini merayap. Apa yang harus aku katakan, jika nanti aku bertemu rusa, aku bermain di buku catatan harian, aku keluarkan dari tas hitam. Aku mulai menggambar rusa. Disini dunia meninggi, pelan, klakson yang berhamburan. Kakakku masih sibuk dengan pikiran dan jalanan. Jika nanti aku ketemu rusa, senang sekali rasanya. Aku lupa membawa oleh-oleh. Jadi aku mulai corat coret disini, kakak bilang buat saja puisi untuk rusa. Aku tak tahu menulis puisi apa, karena dalam pikiran hanya terbaca rusa rusa rusa, aku lupa membawa oleh-oleh, rusa rusa rusa , oleh oleh ada dalam tubuhku, kau bisa menciumku.


KAKAK

Menyalakan rokok Dji sam soe kesukaanku, membuka jendela , ini meditasi , aku bisa bermeditasi dimana saja, di jalanan ditengah klakson gempar, di tengah orang-orang lupa akan berjalan. Aku menghisap asap ini , resap ini. Kesadaran apa yang kau inginkan? Jangan kau timbun , keinginan-keinginan itu dalam pikiran. Pikiran membusuk. Orang-orang berkumpul di tempat hening spiritual, berkeinginan kosong. Aku tidak menyalahkan, tetapi sadarkah ketika mereka ingin kosong dan tenang ? ingin-ingin itu hanya pikiran. Aku lebur dalam asap. Kota panas yang menyerbu kulitku. Bagaimana berkeinginan?


SACRAMENTUM

Jalan-jalan menuju pinggir kota, satu persatu bis lalu lalang antar kota menyalip, klakson panjang , telinga garang. Aku hanya tersenyum dan kakak tertawa terbahak-bahak. Sudah berapa asap yang dia ciptakan, entah. Kakak bilang : dear, kita telat datang ke acara pernikahan. Parkir pun penuh. Kami berhenti agak jauh dari gereja.
Kami jalan kaki, dia bilang gincuku mulai lusuh, aku lusuh. Aku bilang, bedaknya mulai menipis. Miris. Kami tertawa nyaring di pinggir jalan . Siang panas membuat percakapan ini menjadi riang. Kami memasuki gereja , bernyanyi mereka. Aku masuk.kakak masuk aku membisikkan ke telinga kakak, aku tidak melihat rusa disini, dia dipindah kemana. Aku mencari-cari rusa, kakak sibuk di pikiran menyaksikan sakramen. Aku mencari rusa itu, dimana, dinding mana?
Aku duduk saja, mengikuti upacara, mata ini berpetualang kemana-mana. Janji janji entah menyerang kepala, tangis anak kecil anak siapa terdengar ngiang di telinga, orang-orang mulai berdoa. Aku berdoa : hai rusa, aku datang, kau berpindah tempat, dimana? Terakhir kali aku melihatmu di dinding sebelah utara. Jadi kau dimana? Sekarang dinding putih. Aku berdoa : hai rusa, aku datang.
Upacara pernikahan lelaki dan perempuan, tangisan , doa menyatu , keluarga berkumpul jadi satu. Aku sibuk melihat dinding-dinding. Sekarang menjadi polos, tidak seperti 3 tahun yang lalu, rusa itu hilang entah kemana. Aku bersakramen sendiri : hai rusa, aku disini, mari bertemu, aku bacakan puisi untukmu.
Orang orang mulai bersalaman, kakakku sibuk dengan teman-temannya, aku bersalaman dengan orang-orang , sebagian aku kenal, sebagian tidak. Aku sendu, rusa menghilang. Orang-orang bersalam damai, aku damai sadarku. Aku meninggalkan pesan : hai rusa, aku datang kesini, ini puisi.
Aku dan kakak meninggalkan gereja, kakak menepuk bahuku tiga kali, dia bilang rusa sedang terbang, ke seluruh semesta, dia ada didekatmu. Aku meninggalkan gereja, berjalan pelan, diantara puluhan orang sesak ingin keluar gereja. Aku pelan, semua sesak, aku pelan , semua sesak, semuanya ingin keluar gereja. Aku tersenyum ketika seorang ibu berwajah senja entah disampingku, dia bilang hati-hati, aku tersenyum. Entah apa yang menarikku untuk menoleh lagi ke ibu itu, oh aku meresap. Aku tersenyum , melihat rusa di liontin kalung ibu itu. Hai rusa rusa rusa rusa, aku datang kesini ini puisi. Aku sesak di puluhan orang sesak, pelan menyadarimu, aku temukan rusa itu di liontin kalung ibu senja entah aku tak tahu.salam hangat :)

Solo, 10 oktober 2009

2 comments:

paryo said...

kalo dit4ku rusanya dh pada g ada habis hutane dah jd lapangan sih.

Tria nin said...

tempatmu di daerah mana mas paryo?
sebenarnya rusa dimana mana kok :)