28.10.09

menciummu : kue pertama yang kau sisakan untuk aku, kering di meja kamar.

kue pertama yang kau sisakan untuk aku, kering di meja kamar. Aku menciumnya berkali-kali hingga hari bertambah entah. Untuk melahapnya pun , aku resah. Aku tak ingin menghabiskan kesukaanku dalam waktu sedetik lewat, mampir masuk ke perut, bergelayut, mengkerut kemudian larut kedalam tanah. Malam pertama , ketika kau melirik mataku, memberikan sepiring kue berbentuk segitiga, warnanya coklat, aku senang. Aku bilang aku akan segera melahapnya, aku melahapnya dalam pikiran berhari-hari, dan membiarkan mengering di meja kamar, mencium baunya , remahnya, rindunya, seperti aku mencium tanganmu.

Nenek berasa ungu (pertemuan pertama )

aku mengenalmu di vihara, udara lembab, mataku pekat. Kau datang menanyakan kabarku, meggenggam hangat. Sore itu, aku menyapu pekat, bersamau. Undakan keentah aku berbincang mengalir tentang kitab-kitab tersebar didunia yang mulai merayap menjadi dusta, konsep yang meluap seperti sampah. Kau menyentuh dadaku, kau bilang sederhana sekali, rasakan detak jantungmu, nak.itu pertemuan pertama.


Nenek berasa kuning (pertemuan kedua)

aku mencium tanganmu, katanya kau haru. Sudah lama tangan itu kering dan pekat. malam itu hangat. aku tersenyum, entah semacam aku menyerap energi semangat dari cium tanganmu. Aku diam, kau tertawa hening, bercerita tentang masakan-masakan yangs eringkali kau buat, tapi entah tak ada yang merasa, aku bilang, aku mau merasa, kau tertawa girang, kuning benderang dalam pertemuan kedua.


Nenek berasa putih (pertemuan ketiga)

aku suka hari jum'at, itu artinya aku akan menyiapkan diriku untuk bertemu denganmu. Aku pelan-pelan melihatmu, menyiapkan dupa, kau duduk dan berdoa khitmat. entah rapal apa yang kau ucap. Dadaku perih seperti tersayat pisau berkali-kali. aku datang sesenggukan, kau mengusap pelan nadi sebelah kiriku , gejolak remas hingga butir butir putih mengembang membaur ke angkasa.


Nenek berasa aku (pertemuan -pertemuan berulangkali)

Aku mendapat telepon,aku harus datang menemuimu , di dekat jembatan pinggir kota. Kau mengeluarkan bungkusan berwarna kertas abu, katanya aku harus membukanya dirumah. Kau memeluk hangat tubuhku, dadaku basah, mataku lembab. Aku tahu pertanda itu.


kue pertama yang kau sisakan untuk aku, kering di meja kamar. Aku menciumnya berkali-kali hingga hari bertambah entah. Untuk melahapnya pun , aku resah. Aku tak ingin menghabiskan kesukaanku dalam waktu sedetik lewat, mampir masuk ke perut, bergelayut, mengkerut kemudian larut kedalam tanah. Malam pertama , ketika kau melirik mataku, memberikan sepiring kue berbentuk segitiga, warnanya coklat, aku senang. Aku bilang aku akan segera melahapnya, aku melahapnya dalam pikiran berhari-hari, dan membiarkan mengering di meja kamar, mencium baunya , remahnya, rindunya, seperti aku mencium tanganmu.

Solo, 28 oktober 2009

No comments: